
"Syukurlah, kalau begitu aku bisa bernafas lega karena sekarang tugasku sudah selesai," jawab Gagah
"Maksudmu apa kau akan kembali ke kerajaan Vampire setelah tugas mu selesai?" tanya Riana
"Entahlah aku tidak tahu, yang jelas aku harus membawa jenazah Aleta menemui ayahku,"
"Maaf aku tidak bisa menyelamatkan adikmu,"
"Tidak apa-apa Ri, mungkin ini sudah menjadi takdirnya jadi jangan salahkan dirimu. Untuk beberapa hari ke depan aku akan pergi ke kerajaan Vampire, aku harap kau tidak melupakan aku," tutur Gagah
"Itu tidak akan pernah terjadi, kau tahu kan aku bahkan rela bereinkarnasi menjadi manusia hanya untuk bertemu denganmu di bumi ini, jadi aku pasti akan menunggumu sampai kau kembali,"
Malam itu juga Gagah pergi meninggalkan Riana. Ia membawa jenazah Aleta menuju ke kerajaan vampire.
Hari-hari Riana mulai terasa berat saat ia merindukan sang kekasih. Rasa rindunya semakin membuncah apalagi ia tidak bisa berkomunikasi dengannya saat mereka pergi.
Perbedaan dimensi, waktu, dan dunia membuat keduanya sulit untuk berkomunikasi.
Saat purnama tiba gadis itu selalu menunggu kedatangan Gagah di halaman belakang sekolah yang dipercaya sebagai portal gaib penghubung kerajaan dunia bawah dengan bumi.
Hari itu seperti biasa Gagah tak kunjung datang meski matahari sudah menampakkan wajahnya.
Dengan langkah gontai Riana meninggalkan tempat itu. Ia kemudian merebahkan kepalanya diatas meja dan memejamkan matanya.
Dalam mimpinya gadis itu melihat sang kekasih mengucapkan kata perpisahan membuat gadis itu begitu sedih hingga menangis tersedu-sedu.
Semua siswa tampak menoleh kearah Riana yang menangis tersedu-sedu.
Namun atensi semua siswa tiba-tiba teralihkan saat melihat Bu Warni memasuki ruang kelas bersama seorang siswa baru.
Melihat Riana tertidur di membuat guru yang terkenal killer itu langsung menggebrak meja Riana hingga ia langsung bangun dan menggosok-gosok matanya.
"Cepat cuci mukamu!" seru Bu Warni kepada Intan
Gadis itu segera beranjak dari duduknya dan keluar menuju ke toilet.
Saat ia kembali seorang pria duduk di sampingnya dan mengulurkan tangannya.
"Aryo," ucap lelaki itu
"Semuanya harap perhatikan ke depan, Riana!" seru Bu Warni melempar sebuah spidol kearahnya
Gadis itu langsung mengangkat kepalanya dan duduk tegak.
"Tidak bisakah kau duduk tegap dan tidak tidur saat jam pelajaran ku?" tanya Warni
"Bisa Bu," jawab Riana singkat
Gadis itu kemudian memperbaiki posisi duduknya dan menfokuskan pandangan matanya kearah sang guru.
Rasa ngantuk yang membuat gadis itu berusaha mencuri waktu untuk bisa memejamkan matanya.
Melihat Riana hampir terjatuh membuat pria itu langsung menahan tubuh gadis itu dan menyandarkan kepala Riana ke bahu.
Pria ia bahkan menutupi wajah Riana dengan saputanganya membuat siswa perempuan berdecak kagum padanya.
Riana perlahan membuka matanya dan begitu terkejut saat melihat semua kearahnya.
"Sebaiknya jangan pergi ditunggu dulu sampai mereka semuanya pergi.
Riana langsung mengambil tasnya dan berlari keluar kelas. Pria itu berusaha mengejarnya namun Riana sudah tak terlihat lagi.
Saat melihat banyaknya orang-orang yang terkesiap dengan Riana membuat gadis itu tak berkedip menatapnya.
"Siapa sebenarnya kamu?" tanya Riana
"Bukankah kau sudah mengenal ku, lalu untuk di apa kita berjabat tangan?"
"Supaya lebih afdol!" Riana langsung menjabat tangan pria itu.
Tanpa di duga gadis itu juga mendapatkan penerawangan saat menjabat tangan Riana.
Gadis itu tak percaya saat melihat Gagah berlumuran darah.
"Gagah!" serunya begitu terkejut.