
"Kau bahkan diam-diam menemuinya di penjara dan berusaha mengeluarkannya. Kenapa kau melakukannya?. Apa kau menyukainya?" tanya Angel membuat Aleta terdiam seribu bahasa
Angel mendongakkan wajah gadis itu saat ia tak menjawab pertanyaannya, "Ayo jawab!" hardiknya dengan suara tinggi, membuat Garnis langsung menutup telinganya
"Apa aku salah kalau menyukainya?" jawab Aleta membuat Angel kembali menamparnya
*Plaakkk!
"Tentu saja, kau tahu kan hanya Angel yang boleh menjadi kekasih Gagah. Tapi itu dulu, sekarang aku sudah tak tertarik lagi dengannya karena ia bukan seorang manusia. Tentu saja aku tidak akan jatuh cinta kepada seorang vampire bukan?"
"Sudahlah Angel, kau tidak boleh menyiksanya lagi. Bukankah kita adalah teman, seorang teman tidak boleh saling menyakiti," tutur Garnis berusaha melerai mereka
"Dia bukan Vampire!" jawab Aleta membuat Angel terkesiap Mendengarnya
"Bagaimana kau bisa yakin kalau dia bukan seorang vampire?" tanya Angel
"Karena aku adalah adiknya," jawab Aleta membuat Angel benar-benar dibuat terkejut dengan jawabannya
Wanita itu tersenyum kecut menanggapi ucapan Aleta.
"Kalau kau benar-benar adiknya berarti kau juga seorang vampire?"
Angel kemudian mengambil salib yang terpasang di dinding ruang tamu dan menempelkannya di kening Aleta.
"Mari kita buktikan apa benar dia seorang vampire atau bukan," tukas Angel ia kemudian mengikat Aleta di kursi dan mengalungkan bawang putih ke lehernya.
Ia bahkan mencari tahu di internet cara untuk melihat wujud asli seorang vampire.
Ia kemudian menyayat lengannya hingga berdarah dan mendekatkan kepada Aleta.
"Sudah ku bilang aku dan kakakku bukan Vampire jadi apapun yang kau lakukan untuk membuktikan aku adalah Vampire itu sia-sia saja," ucap Aleta
Sebenarnya Aleta sudah tak bisa menahan naluri vampire nya saat melihat darah Angel menetes.
Namun gadis itu berusaha menahannya meskipun ia merasa seperti orang yang akan mati hanya agar identitasnya tak di ketahui oleh sahabatnya tersebut.
Melihat wajah pucat pasi Aleta membuat Garnis meminta Angel untuk melepaskannya.
"Lepaskan dia An, kasian Aleta dia hampir mati karena dehidrasi," ucap Garnis membuat Angel tertawa
"Mana ada Vampire dehidrasi emangnya dia diare?" jawab Angel
"Eh salah ya," ujar Garnis menahan tawanya
"Aku heran kenapa aku bisa berteman dengan siswa bodoh seperti mu Garnis," tutur Angel
"Itu karena aku baik hati dan tidak sombong," jawab Garnis sukses membuat Angel dan Aleta tertawa
"Kau benar Garnis, diantar kita bertiga hanya kamu yang paling baik," sahut Aleta
"Dan kau yang paling jahat!" timpal Angel
"Terserah apa yang kau katakan, asal kau tahu aku menjadi jahat demi membelamu," jawab Aleta
"Itu benar, selama ini Aleta selalu membelamu bahkan ia selalu merundung Riana agar gadis itu tak mendekati Gagah, karena Aleta hanya setuju jika Gagah menjadi kekasih mu," bela Garnis
"Percuma saja kau menjelaskannya Garnis, karena otak batu Sepertinya tidak akan mau mendengarkan orang lain," jawab Aleta
Mendengar penjelasan Garnis, Angel kemudian melepaskan ikatan Aleta.
"Sorry, gue hanya berusaha menjaga diri saja, aku tidak mau menjadi korban keganasan vampire seperti teman-teman kita yang sudah tewas menjadi korbannya," tutur Angel
"Waspada boleh, tapi bukan seperti ini caranya, cari informasi lebih dulu baru menjudge, bukan sebaliknya!" cibir Aleta begitu kesal
Gadis itu bahkan hampir jatuh saat berdiri beruntung Garnis langsung menahannya.
"Hati-hati Al," ucap Garnis kemudian memapahnya
"Thanks, btw aku bisa jalan sendiri kok," jawab Aleta kemudian meninggalkan kediaman Angel.
Pagi harinya, Kepala sekolah memberikan penghargaan kepada Rania karena berhasil menangkap seorang pembunuh saat upacara Bendera.
Siapa yang mengira jika Riana kembali menerima visi saat menyentuh plakat penghargaan dari Bu Widya.
Gadis itu melihat sebuah petunjuk tentang si pembunuh.
Semua siswa terlihat memberikan tepuk tangan yang meriah saat Widya memberikan plakat kepada gadis itu.
Kini semua siswa tak lagi memandang Riana sebelah mata setelah ia berhasil menangkap Gagah dan memenjarakannya.
Namun semua siswa begitu tercengang saat melihat kedatangan Gagah ke sekolah.
Semua siswa tampak lari ketakutan, namun tidak dengan Riana.
Gadis itu tetap diam di tempatnya meskipun Gagah mendekatinya.
"Apa sekarang kau puas?" tanya pemuda itu menatapnya tajam
"Tentu saja tidak, aku hanya puas jika aku berhasil menemukan siapa pelaku pembunuhan berantai di sekolah ini," jawab Riana
Ia kemudian berlalu pergi meninggalkan Gagah, namun pria itu langsung menghadangnya.
"Kalau kau ingin tahu pelakunya, ikutlah denganku," gagah menarik Riana ke ruang Osis
Lelaki itu kemudian menunjukkan sketsa wajah vampire pembunuh Nala kepada Riana.
"Kau juga pernah melihatnya bukan?' tanya Gagah
Riana mengangguk,
"Asal kau tahu yang membunuh Nala dan Sifa bukanlah seorang vampire," terang Gagah
"Bagaimana kau bisa yakin?" tanya Riana penasaran
"Lihatlah dia menggunakan topeng, dan semua korban bukan hanya di gigit lehernya. Tapi mereka tewas karena tubuhnya dicabik-cabik oleh senjata tajam," Gagah memperlihatkan foto korban kepada Riana
"Bangsa vampire membunuh mangsanya dengan gigitan saja. Mereka tidak akan mencabik-cabik tubuhnya apalagi mengambil alat vitalnya," imbuh Gagah
Pria itu kemudian menunjukkan foto Sifa yang kehilangan organ jantungnya.
"Aku yakin pelakunya adalah manusia,"
"Hmm, sepertinya kau benar. Karena hanya bangsa vampire yang mengetahui bagaimana mereka menghabisi mangsanya," jawab Riana
"apa kau masih mengira aku seorang vampire?" tanya Gagah
"Tentu saja, semua orang boleh percaya kalau kau bukan seorang vampire tapi tidak denganku," jawab Riana
Tidak lama seorang siswa memasuki ruangan itu dan memberitahu Gagah jika ia harus menemui Kepala Sekolah.
"Jangan kemana-mana, aku akan memberitahukan mu sesuatu yang penting," pesan Pria itu sebelum meninggalkan Riana
Gadis itu kemudian meninggalkan ruang osis dan mendatangi gudang tempat ia dikurung.
Benar saja, seperti dalam visinya, Riana melihat melihat bekas pemujaan di sana.
Gadis itu teringat ucapan Gagah yang mengatakan pelakunya adalah manusia.
"Sepertinya memang pelakunya manusia, jika benar pelakunya manusia. Aku tinggal tanyakan kepada Gege. Aku yakin dia pasti tahu siapa manusia yang sudah melakukan pemujaan di sekolah,"
Riana kemudian memanggil Gege, mahluk gaib yang selalu melindunginya.
"Gege!"
Namun berkali-kali ia memanggilnya makhluk itu tak kunjung muncul membuat gadis itu murka.
Ia kemudian mengambil sebuah batu akik dari saku celananya dan menggosoknya.
Tiba-tiba sesosok mahluk tinggi besar muncul di depannya.
Riana tampak shock saat melihat Gege terluka parah dan terlihat begitu ketakutan.
"Siapa yang melakukan semua ini padamu?" tanya Riana
Gege tak menjawab, makhluk itu terus menutupi wajahnya.
"Sebaiknya jangan berurusan dengannya, karena kau bisa celaka," jawab Gege
"Sejak kapan Riana memiliki rasa takut. Selama aku masih bernafas dan jantung ini masih berdetak, maka tidak ada satupun makhluk di dunia ini yang aku takuti," ucap Riana membuat Gagah seketika mundur menjauhi gadis itu.