
*Flashback Sebulan sebelumnya,
"Ayah aku pulang!" seru Gagah memasuki paviliun milik keluarganya.
Entah Kenapa suasana Istana LHC ditampak lengang tak seperti biasanya. Bahkan tidak ada seorang penjaga pun di paviliun itu.
Angin semilir berhembus menyapu daun-daun kering yang tampak memenuhi halaman paviliun.
"Ada yang tidak beres di sini," ucap Gagah
Pria itu kemudian meletakkan tubuh Aleta di lantai untuk melihat kearah jendela yang terus bergoyang-goyang padahal tidak ada mustahil angin semilir menggerakkan jendela yang terbuat dari besi itu.
*Tak, tak, tak!
Derap langkah kaki terdengar begitu nyaring padahal tidak ada seorangpun di sana.
Saat gagah menoleh ke belakang, tiba-tiba tubuhnya terhempas menghantam daun jendela.
Sebuah kekuatan besar berhasil membuat pemuda itu seketika menyemburkan darah segar dari mulutnya.
"Siapa kau sebenarnya?" Gagah tampak melihat sosok bayangan hitam menggerakkan kekuatannya untuk membuat ia kesulitan bergerak.
Ia berusaha menggunakan kekuatannya untuk membebaskan diri dari kekuatan ilmu hitam yang mengungkung tubuhnya.
*Arrghh!!
Gagah mengerang keras saat merasakan seseorang mencekik lehernya.
Ia kemudian menarik pedangnya dan menebaskannya tepat di hadapan wajahnya.
Seketika darah segar menyembur membasahi wajahnya.
Seorang pemuda tampan terlihat dihadapannya. Bukan hanya sang musuh yang tampak di hadapan namun seluruh keluarga dan bangsa vampire tampak mengambang seperti dan memegangi leher mereka.
"Siapa kau sebenarnya, kenapa kau menyiksa bangsa vampire!" seru Gagah
Pemuda itu menyeringai menatap nyalang kearah Gagah.
" Kau yang sudah menabuh genderang perang jadi jangan salahkan aku karena aku datang setelah mendengar genderang perang yang sudah kau tabuh," jawab lelaki itu begitu dingin
"Memangnya apa salahku!" seru Gagah
Seketika jawaban Gagah membuat rahang pria itu mengeras, matanya tiba-tiba berubah merah membuat wajah tampannya kini berubah menakutkan.
"Kau benar-benar vampire tak tahu diri, kau sudah membunuh ayahku tapi kau tidak mengakui perbuatan mu!" seru pria yang bernama Zagan itu.
"Jadi kau datang untuk membalas dendam atas kematian Raja Iblis?"
"Aku datang untuk membunuh mu dan semua bangsa vampire agar tak seorangpun dari kalian yang bisa hidup lagi,"
Zagan mengangkat tangannya dan sebuah bola kristal tampak berputar di atas telapak tangannya.
Saat ia melemparkan bola kristal itu tiba-tiba terjadi ledakan yang sangat dahsyat hingga membunuh semua bangsa vampire yang sudah ia tahan dalam pagar gaib.
"Tidak!!" seru Gagah saat melihat semua rakyatnya tewas dan menghilang dalam sekejap.
Saat Zagan hendak mengarahkan bola kristal kearah ayah dan ibunya Gagah segera melepaskan tendangan kearah pemuda itu. Namun hanya dengan satu pukulan pria itu langsung terhempas menghantam pagar gaib yang mengurung keluarganya.
Zagan mengambil pedang Gagah yang tergeletak dan menghunuskan kearah pria itu hingga Gagah jatuh tersungkur bersimbah darah.
Melihat Pemuda itu sekarat, Zagan segera melepaskan bola kristal kearahnya hingga tempat itu meledak dan rata dengan tanah.
*Duarr!!
Seketika Riana membuka matanya dan menatap nyalang pemuda di depannya.
"Aryo Zagan," ucap pemuda itu kemudian melepaskan tangannya
Ia kemudian duduk di samping gadis itu dan meletakan tas ranselnya.
Melihat Aryo sudah duduk Bu Warni kemudian mulai mengajar. Namun atensi Riana masih tak bisa berpaling dari pria tampan yang duduk di sampingnya.
Seolah mengetahui Riana terus memperhatikannya pemuda itu sengaja menatap gadis itu sembari tersenyum tipis kearahnya.
"Aku sudah tidak heran jika banyak gadis yang langsung terpikat padaku, tapi entah kenapa aku langsung suka saat pertama kali melihatmu," ucap Aryo
"Jangan salah sangka, tidak sedikitpun aku tertarik dengan parasmu. Aku hanya penasaran orang macam apa dirimu," jawab Riana kemudian mengalihkan pandangannya kearah Bu Warni yang sedang memelototinya.
"Riana!!" teriak Warni dengan wajah bengisnya
Seketika Riana langsung memusatkan perhatiannya kepada wanita itu.
*Kriiing!!
Beruntung bel istirahat langsung berdering membuat gadis itu terselamatkan dari hukuman sang guru killer tersebut.
Riana kemudian beranjak dari duduknya dan menuju ke kantin dan Aryo diam-diam mengikutinya. Saat ia menoleh kebelakang Aryo segera berhenti dan memalingkan wajahnya membuat Riana kembali berjalan menuju kantin.
Pria itu kembali mengikuti kemana Riana pergi. Ia bahkan sampai mengambil menu yang sama saat jajan di kantin.
Melihat seorang siswa hendak duduk di samping Riana pria itu kemudian menjentikkan jarinya membuat siswa itu terjatuh karena kursinya bergeser.
Saat melihat siswa itu pergi, ia segera duduk disamping Riana dan menikmati makanannya.
"Jadi begini rasanya makanan manusia?" ucap pemuda itu tersenyum menatap Riana yang begitu lahap menikmati makan siangnya
"Kalau kau tidak suka kenapa tidak membuangnya saja," tandas Riana begitu sinis
"Ck, aku sengaja mencobanya karena aku penasaran bagaimana rasanya makanan manusia," jawab Aryo kemudian menikmati mie ayamnya.
Seorang gadis cantik tampak berdiri dihadapan Riana dengan tatapan kesal memandangi Riana yang belum menyadari kedatangannya.
"Pantas saja aku tidak menemukan mu di kelas, ternyata kau malah makan siang dengan anak baru ini. Apa lau sudah melupakan Gagah!" cibir Angel kemudian duduk didepan Riana
"Sampai kapanpun aku tidak akan bisa melupakan Gagah, kau tahu kan hanya dia satu-satunya pria yang aku cintai di dunia ini," jawab Riana
"Cih dasar alay, btw kita belum kenalan, aku Angel," sapa gadis itu kemudian mengulurkan tangannya
Aryo segera menjabat tangan gadis itu, "Aryo Zagan, panggil saja Aryo," jawabnya singkat
"Kenapa tidak Zagan saja, bukankah itu lebih keren daripada Aryo," jawab Angel
"Karena aku ingin disukai oleh seorang wanita yang menyukai nama-nama Jawa," jawab Aryo melirik kearah Riana yang tak sedikitpun memperhatikannya
"Sepertinya aku sudah kenyang jadi aku harus kembali ke kelas," jawab Riana kemudian meninggalkan keduanya
Angel segera menahan Aryo saat pria itu hendak menyusul Riana.
"Jangan mengejarnya, cewek seperti dia justru akan semakin menjauh jika kau terus mengejarnya,"
Mendengar ucapan Angel Aryo seketika kembali duduk di samping Angel.
"Entah kenapa aku menyukainya sejak pertama kali bertemu dengannya, apa kau bisa membantuku agar bisa dekat dengannya?" tanya Aryo
Seketika Angel tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan pria itu.
"Wah kau benar-benar unik. Asal kau tahu di sekolah ini tak ada satupun orang yang menyukai Riana, karena sikapnya yang aneh. Tapi aku tak menyangka kau malah menyukainya. Benar-benar aneh, memangnya apa yang kau sukai dari dia?" tutur Angel
"Entahlah," jawab Aryo tampak mengepalkan tangannya saat melihat ekspresi wajah Angel
Ia kemudian menggerakkan tangannya untuk melukai gadis itu.
Aku tidak akan membiarkan siapapun yang menghina Riana hidup, apalagi tertawa di depanku.
Tidak lama Angel menerima pesan dari Riana.
*Ting!!
"Hati-hati dengan Aryo," seketika Angel langsung menoleh kearah pria itu setelah mendapatkan pesan dari Riana.