
Setibanya di sekolah Riana dikejutkan dengan kedatangan mobil polisi di sekolahnya.
Beberapa orang polisi segera turun dan berlarian menuju ruang kelas.
Karena penasaran Riana mengikuti mereka untuk melihat apa yang terjadi.
Gadis itu begitu terus saat melihat seluruh siswa di kelasnya tergeletak di lantai bersimbah darah.
Ia segera menghampiri Angel yang terkapar dengan luka sayatan di lehernya.
Saat ia hendak menyentuhnya seorang polisi langsung mencegahnya.
"Jangan sentuh!" seru seorang polisi membuat Riana langsung menjauhi Angel
Bu Widya seketika mengumpulkan semua siswa di ruang aula dan memulangkan mereka demi kepentingan penyidikan polisi.
Wanita itu tampak pucat dan begitu ketakutan. Ia kemudian segera menemui seorang polisi yang sudah menunggunya di ruangannya.
"Bisa anda ceritakan kronologi kejadiannya?" tanya pria itu
"Aku tidak tahu pasti pak, karena aku juga belum sempat masuk ke kelas. Seperti biasa aku dan guru lainnya sibuk dengan persiapan mengajar jadi tidak bisa mengontrol kelas saat pagi hari, tidak lama saat saya masuk kelas saya mendengar suara teriakan anak-anak. Saya langsung berlari menuju ke ruang kelas yang memang tidak jauh dari ruangan saya, namun hanya dalam hitungan menit suara teriakan itu sekejap menghilang dan saat saya ke kelas mereka semua sudah tewas," jawab Bu Widya
"Sayang sekali di sekolah ini tidak dilengkapi CCTV di setiap ruang kelasnya jadi ini sedikit menyulitkan kami untuk menemukan jejak pembunuhnya,"
"Tapi pak yang membuat saya heran kenapa pembunuh itu sangat cepat sekali mengeksekusi siswa yang jumlahnya tidak sedikit itu. Meskipun ia seorang pembunuh profesional setidaknya ia memerlukan waktu satu jam atau lebih untuk mengeksekusi 35 orang siswa, apalagi sebagian siswa laki-laki jadi mustahil mereka tidak melawan juga bukan?" imbuh Widya
"Benar, baiklah untuk sementara hanya itu saja yang saya tanyakan. Tapi lain waktu aku akan meminta informasi lagi dari anda," sang polisi kemudian menuju ke ruang kelas ditemani oleh Bu Widya
Sementara itu Riana masih menyusuri seluruh ruang kelas untuk mencari barang bukti yang ditinggalkan oleh pelaku pembunuhan.
Ia bahkan memasuki gudang sekolah yang dulu di jadikan markas sekte pemuja iblis.
"Andai saja aku bisa menyentuh salah satu dari mereka aku pasti bisa mengetahui siapa pelakunya," ucap Riana
*Grep!!
Seketika Riana langsung menoleh saat seseorang menyentuh bahunya.
"Harusnya semua ini tidak akan pernah terjadi jika kau tidak datang ke sekolah ini," ucap Bu Warni menatap nyalang kearah Riana
"Apa kau menuduh jika aku penyebab semua ini?" jawab Riana sinis
"Tentu saja, karena aku tahu Iblis-iblis itu hanya mengincar dirimu. Andai kau tidak keras kepala semua ini pasti tidak akan pernah terjadi," tutur Warni kemudian bergegas meninggalkannya
"Seorang manusia biasa mustahil mengetahui semua ini, siapa sebenarnya dirimu?" tanya Riana menggadang wanita itu
Seketika bola mata Warni berubah memerah membuat Riana langsung mundur beberapa langkah darinya.
"Jadi kau juga seorang Iblis!" pekiknya tak percaya saat mengetahui jika Bu Warni adalah seorang Iblis
Wanita itu kemudian bergegas pergi meninggalkan Riana.
"Katakan padaku siapa pelakunya?" tanya Riana
Namun Warni tak bergeming dan terus melangkah meninggalkannya.
"Hanya seorang Iblis yang mampu mengendus kehadiran Iblis lainnya kau pasti tahu siapa pelakunya. Jadi tolong kasih tahu aku agar aku bisa membalas kematian teman-teman ku," ucap Riana mengulangi pertanyaannya
"Bukankah kau memiliki Indra keenam untuk menerawang apa yang terjadi dengan sentuhan tanganmu, lalu kenapa kau tidak menyentuh salah seorang dari mereka?" jawab Warni
"Tapi para polisi itu melarang ku dan membawa mereka pergi," jawab Riana
"Apa kau tiba-tiba menjadi bodoh karena berpisah dengan kekasih mu, ck, ck, ck!"
"Benar juga, apa benar aku sekarang menjadi bodoh karena terlalu merindukan Gagah, ah kenapa rasanya tak bisa berpikir kalau aku mengingat dia. Rasanya aku ingin memeluknya dan bilang kalau aku sangat merindukannya, aarrgghhh!!" pekik Riana kemudian menendang pintu gudang sekolah
"Siapa itu!" seru seorang penjaga sekolah yang sedang membersihkan toilet di sampingnya.
Riana segera berlari meninggalkan tempat itu saat melihat Pak Kasno keluar dari toilet sambil mengacung-acungkan pelan kearahnya.
"Fiuh, hampir saja ketahuan Pak Kasno," ucap Riana mengusap dadanya
Saat ia melihat sebuah mobil ambulance membawa jenazah Angela ia kemudian memesan ojek online untuk mengejarnya.
Ia segera menuju ruang UGD untuk mencari keberadaan Angel. Saat di UGD ia melihat seorang suster memindahkan Angel ke ruangan ICU.
Dua orang polisi tampak menjaganya dan mengikuti kemana suster itu memindahkan Angel.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Bu Widya yang tiba-tiba mendatangi tempat itu
Intan segera mencari tempat yang cocok untuk bersembunyi dan menguping pembicaraan mereka.
"Dia masih hidup hanya saja kondisinya sangat kritis karena lukanya yang sangat parah, pihak polisi masih merahasiakan hal ini untuk menghindari sang pembunuh mencarinya, jadi tolong Ibu agar bisa menjaga rahasia ini," ucap seorang komisaris polisi
"Baik Pak," jawab Widya
"Jadi Angel masih hidup," Riana segera masuk ke ruangan sebelah saat melihat Widya berjalan kearahnya.
*Grepp!!
Seketika wajah gadis itu pucat pasi saat melihat Aryo Zagan di hadapannya.
Pria itu tersenyum nakal dan menariknya kedalam pelukannya saat seorang dokter memasuki ruangan itu.
Seketika Riana merasakan sesuatu menembus tubuhnya. Netranya seketika membulat saat seorang dokter berjalan menembus tubuhnya.
Belum hilang rasa herannya tiba-tiba ia melihat sebuah pemandangan yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Sebuah pemandangan yang sangat Indah, dimana terdapat sebuah air terjun dengan ribuan bunga-bunga terhampar di depannya.
"Dimana kita?" tanyanya menatap lekat pemuda di depannya
"Nirwana," jawab Aryo menunjuk ke sebuah danau yang airnya sangat putih seperti susu.
Ia benar-benar tak tahu dimana ia sekarang, yang jelas Riana merasa dirinya sedang berada di dunia berbeda.
"Apa ini dunia paralel atau benar aku sedang berada di Nirwana?" tanyanya
Ia kemudian menyentuh bunga-bunga yang ada di sana dan memetiknya.
Namun seketika matanya membelalak saat ia mendapatkan sebuah visi saat menyentuh bunga-bunga itu.
Terdengar jerit para siswa ketakutan, dan mencoba berlarian meninggalkan ruang kelasnya. Namun sebuah kekuatan besar menghantam tubuh mereka hingga semuanya tewas seketika.
*Grep!!
Ia seketika tersadar saat seseorang menyentuh bahunya. Riana yang kesal karena Zagan berusaha mengganggunya langsung mendorong pria itu hingga ia terjerembab ke tanah.
"Hahahaha!!" terdengar tawa Zagan membuat Riana langsung menutup telinganya dengan head set.
Ia kembali menyentuh bunga-bunga itu, namun ia tidak lagi bisa menerawang saat menyentuh bunga-bunga itu.
"Kenapa bisa begini!" ucap Riana terkejut