
Setelah mempersilakan kami untuk duduk,Tuan Luke terus memperhatikanku, membuatku merasa bingung.
Astaga ! Apa ada yang salah dengan penampilanku ?
Aku bertanya pada diriku sendiri sambil memperhatikan penampilanku.
Sepertinya tidak ada yang salah dengan penampilanku. Namun mengapa Tuan Luke menatapku seperti itu.
" Maaf Tuan, apakah ada yang salah dengan saya ? "
Aku mencoba bertanya karena penasaran dengan arti tatapannya.
Zoey menatapku kemudian menatap Tuan Luke yang terlihat kaget dengan pertanyaan yang ku ajukan.
" Tidak, tidak ada yang salah. Hanya saja... Saya seperti pernah melihat anda. Maaf, boleh saya tahu siapa orang tua anda ? " tanya Tuan Luke balas bertanya.
Aku menghela nafas lebih dulu sebelum menjawab pertanyaannya.
" Saya tidak punya orang tua. Sejak kecil, saya dibesarkan di panti asuhan " jawabku.
Tuan Luke nampak terkejut.
" Maaf... Maafkan saya ! Karena telah mengingatkan tentang masa lalu anda " sesalnya.
" Tidak apa, Tuan. I'm ok " sahutku tersenyum tipis.
Tuan Luke mengangguk, lalu memanggil pelayan untuk membawakan makanan yang telah dipesannya.
Kami makan sambil berbincang ringan. Membicarakan tentang keluarga, pekerjaan, juga sedikit menceritakan masa lalu.
Hingga akhirnya, kami pun harus berpisah.
" Maaf Tuan, apa saya boleh menemui Tuan Max ? " tanyaku sebelum kami benar-benar berpisah.
" Tentu saja. Tuan Max pasti akan sangat senang bertemu dengan anda " jawab Tuan Luke.
" Setelah keadaannya membaik, saya akan menghubungi anda untuk bertemu dengan Tuan Max " ucap Tuan Luke lagi.
" Ah, baiklah. Terima kasih banyak dan tolong sampaikan salam saya untuk Tuan Max " ucapku lalu kami pun berpisah.
Aku menggandeng tangan Zoey dengan mesra.
" Apa kau tidak merasa heran ? Tuan Luke sepertinya ingin tahu banyak tentangmu " ucap Zoey.
" Hem... Aku juga merasa begitu. Tapi, sudahlah... Mungkin itu dilakukannya karena ingin melindungi Tuan Max. Setelah kejadian tadi, tentunya ia tidak ingin terjadi hal buruk lagi kepada Tuan Max " jawabku.
Tiba-tiba Tuan Luke memanggilku, ia setengah berlari menghampiriku.
" Tuan Dave, tunggu ! " serunya.
Aku dan Zoey berbalik lalu melihatnya berada di belakang kami.
" Tuan Luke ? Ada perlu apa ? " tanyaku heran.
" Ah, maaf Tuan Dave. Tapi bisakah saya meminta bantuan anda lagi " pintanya.
Aku menautkan kedua alisku.
" Jika ada yang bisa saya bantu, saya bersedia membantu " jawabku.
" Maaf, saya baru saja menerima kabar jika Tuan Max membutuhkan transfusi darah lagi. Bisakah anda mendonorkan darah anda kembali ? " Tuan Luke bertanya penuh harap.
" Tentu saja, saya bersedia mendonorkan darah saya jika itu dapat menolong Tuan Max " aku menjawab dengan sangat yakin.
" Terima kasih atas bantuan anda. Kami berhutang banyak kepada anda " sahut Tuan Luke.
" Tidak perlu sungkan. Jika memang saya bisa membantu, saya akan membantu " timpalku.
" Baiklah, terima kasih banyak ! Kalau begitu, kita bisa pergi ke rumah sakit sekarang " serunya.
Kami pun berangkat menuju rumah sakit untuk melakukan pendonoran darah.
" Sekali lagi saya ucapkan terima kasih. Berkat bantuan anda, Tuan Max pasti akan segera pulih " ucap Tuan Luke.
" Saya senang bisa menolong anda dan Tuan Max " jawabku tulus.
" Ya, saya yakin beliau akan segera pulih. Dan tentu saja beliau akan sangat bahagia jika bertemu dengan kalian " sahut Tuan Luke antusias.
" Kalau begitu, kami permisi Tuan Luke ! Jika ada yang bisa saya bantu lagi, jangan sungkan untuk menghubungi saya " ucapku yang dibalas anggukan oleh Tuan Luke.
" Ah iya, ini ada vitamin untuk mengembalikan kesegaran dan meningkatkan daya tahan tubuh Tuan Dave " ucap Tuan Luke lalu memberikan bungkusan obat kepada Zoey.
Setelah memgucapkan terima kasih, kami pun pamit kepada Tuan Luke. Mengingat hari yang sudah semakin malam.
Aku dan Zoey, segera kembali ke mansion.
Tuan Luke masih berada di rumah sakit. Ia tengah berbicara dengan seorang dokter yang merupakan dokter kepercayaannya.
" Kau periksa sample darahnya, dan aku mau hasilnya sesegera mungkin. Dalam 1 x 24 jam, hasil tesnya harus sudah keluar ! Dan ingat, tidak ada yang boleh mengetahui hal ini. Apa kau paham ! " titah Tuan Luke.
" Baik, Tuan ! Saya akan segera memeriksanya dan saya pastikan besok, hasilnya sudah bisa didapatkan " sahut dokter Richard.
" Bagus ! Aku menunggu kabar darimu " ucap Tuan Luke lalu meninggalkan dokter Richard.
Tuan Max ... Semoga saja, firasatku ini benar.
Aku dan Zoey baru saja sampai di mansion. Kami berjalan sambil bergandengan tangan.
" Hubby... Mengapa aku merasa ada yang aneh dengan Tuan Luke " ucap Zoey.
" Maksudmu ? " aku menaikkan sebelah alisku.
" Entahlah... Aku merasa ada yang dia sembunyikan " jawab Zoey sambil mengangkat bahunya.
Aku mencubit dagunya lalu mencolek ujung hidungnya.
" Jangan berpikiran buruk, honey ! Kurasa Tuan Luke orang yang baik. Justru yang aku khawatirkan itu Jackson " ucapku.
Zoey menatap ke arahku.
" Ya, aku juga merasa khawatir dengan hal itu. Apalagi sekarang dia sudah menjadi investor di perusahaan daddy. Aku merasa ada yang tidak beres dengan ini semua " tambah Zoey.
Aku menghela nafas panjang.
" Semoga saja semua berjalan dengan baik dan tidak akan ada masalah ke depannya " tukasku.
Kami baru saja memasuki mansion dan begitu terkejut saat melihat Tuan Rick duduk tumpang kaki di sofa.
" Daddy... " sapa Zoey kepada sang ayah.
Tuan Rick hanya mengangguk.
" Dari mana saja kalian ? " tanya Tuan Rick.
" Ma af, dad... Tadi kami menjenguk kenalan Dave di rumah sakit lalu makan malam " jawab Zoey jujur.
" Jadi kalian sudah makan malam ? " Tuan Rick kembali bertanya sambil memandangi anak dan menantunya.
Zoey mengangguk.
" Ya sudah kalau begitu. Besok Jackson mengundang kita makan siang dan kau harus ikut bersama daddy. Karena bagaimanapun juga, kau adalah calon pengganti daddy, Zoey " seru Tuan Rick.
" Aku tidak mau, dad " Zoey menentang ucapan Tuan Rick.
" Tolong Zoey ! Daddy bisa mengerti kalau kamu masih membenci Jackson karena perbuatannya dulu. Tapi daddy yakin dia sudah banyak berubah. Lagi pula ini hanyalah makan siang bisnis. Kau bisa mengajak Dave untuk ikut bersamamu besok " ucap Tuan Rick lagi.
" Honey... Sepertinya apa yang dikatakan oleh daddy tidak salah. Kalian kan akan bekerja sama, jadi kurasa tidak masalah pergi makan siang bersamanya " bisik Dave.
" Apa ? Kamu mendukung daddy ? " tanya Zoey tak percaya.
" Bukan begitu, honey. Apa yang dikatakan daddy itu benar. Ini makan siang bisnis, ya hitung-hitung ucapan terima kasih kepadanya karena sudah membantu perusahaan kalian " jawab Dave.
Zoey memutar bola matanya dengan malas.
" Jadi bagaimana, sweet heart ? " tanya Tuan Rick penuh harap.
" Baiklah, aku akan ikut besok. Tapi aku juga harus membawa Dave ikut bersama kita " jawab Zoey dengan penekanan.
" Tentu saja, Dave bisa menemanimu. Terima kasih sudah mempertimbangkan untuk ikut " ucap Tuan Rick begitu semangat.