Way Of Me

Way Of Me
Part 7



Aku dan Zoey meninggalkan perusahaan, kemudian kami menuju sebuah restoran untuk makan siang.


" Maaf ya hubby, aku tidak tahu jika investor di perusahaan daddy itu Jackson. Aku sendiri baru tahu saat bertemu dengannya tadi " jujur Zoey.


Aku mengulum senyum melihatnya seperti itu. Terlihat ia begitu khawatir jika aku salah paham.


" It's ok honey. Aku percaya padamu " ucapku sambil mengelus punggung tangannya.


" Kenapa daddy bisa-bisanya menerima bantuan dari Jackson ? Aku takut jika ini hanyalah siasat Jackson saja. Aku takut ia akan melakukan sesuatu yang buruk " sahut Zoey.


Aku menghela nafas. Sejujurnya, aku pun memiliki kekhawatiran yang sama. Kami mengenal Jackson seperti apa. Dan wajar saja jika kami curiga dengan apa yang ia lakukan saat ini.


" Don't worry honey ! Semoga saja dia benar-benar sudah berubah sekarang. Sepertinya dia memang banyak belajar dari kesalahannya buktinya ia bisa menjadi pengusaha sukses seperti sekarang " ucapku menenangkan Zoey.


Padahal jauh di dalam hatiku, aku juga memiliki kekhawatiran yang sama. Bahkan kekhawatiranku lebih besar karena aku sangat yakin jika Jackson masih terobsesi kepada istriku.


" Oh iya, tadi kenapa kamu bilang pergi ke rumah sakit ? Ada apa ? Apa kamu sakit ? " tanya Zoey khawatir. Ia bahkan menyentuh keningku, memastikan jika aku baik-baik saja.


Aku tersenyum simpul lalu meraih tangan Zoey, menurunkannya lalu mengecup punggung tangannya.


" Aku baik-baik saja " jawabku diiringi senyuman tipis.


" Lalu mengapa pergi ke rumah sakit kalau kamu baik-baik saja ? " heran Zoey.


" Tadi aku membawa seorang pria yang mengalami kecelakaan, lebih tepatnya korban tabrak lari " jelasku.


" Astaga ! Kasihan sekali " ucap Zoey sambil menutup mulutnya.


" Hem... Dan apa kamu tahu, pria itu tidak membawa tanda pengenal sama sekali sehingga pihak rumah sakit tidak bisa menghubungi keluarganya. Oleh karena itu, aku yang menjadi penjaminnya " aku menambahkan penjelasan kembali.


" Lalu bagaimana keadaannya saat ini ? " tanya Zoey lagi.


" Tadi sempat kritis karena membutuhkan transfusi darah. Beruntung, golongan darah kami sama sehingga aku bisa mendonorkan darahku " jawabku.


" Benarkah ? Beruntung sekali, mengingat golongan darahmu itungolongan darah yang langka " sahut Zoey.


" Hem... Mungkin ini sudah jalan dari Tuhan " timpalku.


" Ya, sepertinya begitu. Aku sangat beruntung karena memiliki suami baik sepertimu " puji Zoey sambil bergelayut manja di lenganku.


" Setelah ini, kita pergi ke rumah sakit dulu ya. Aku ingin memastikan keadaan pria itu sekarang " ucapku.


Zoey menganggukkan kepalanya tanda setuju.


Setelah itu, kami berdua berangkat menuju rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, kami justru dikejutkan karena pria tersebut ternyata sudah dipindahkan oleh keluarganya.


Entah bagaimana keluarganya mengetahui berita kecelakaan itu. Karena setahuku, pria tersebut tidak membawa tanda pengenal sama sekali.


" Maaf Tuan, tadi keluarganya mengatakan akan menghubungi Tuan untuk menyampaikan rasa terima kasih atas pertolongan anda " ucap seorang perawat disana.


Aku saling bertatapan dengan Zoey.


" Apa dia baik-baik saja ? " aku bertanya kepada perawat tersebut.


" Ya, beliau sudah lebih baik berkat darah yang anda berikan " jawabnya.


" Syukurlah... Terima kasih untuk informasinya " ucapku lalu menggandeng Zoey untuk meninggalkan rumah sakit.


" Hubby, kenapa kamu terlihat sedih ? Apa kamu tidak suka mendengar berita tadi ? "


Zoey menatapku dengan heran karena melihatku tak bersemangat.


" Aku senang mendengarnya, hanya saja aku masih khawatir dengannya dan aku hanya ingin memastikan jika dia memang baik-baik saja " jawabku.


Zoey mengelus dadaku dengan lembut.


" Dia pasti baik-baik saja ! Bukankah perawat tadi mengatakan seperti itu " ucapnya.


" Ya, kuharap begitu "


" Maafkan saya, Tuan. Saya lalai menjaga anda " ucap seorang pria yang berjalan di sisi brankar sambil terus memandangi wajah tuannya tersebut.


" Saya akan mencari dan memberikan hukuman berat kepada pelakunya. Saya berjanji ! " ucapnya lagi.


Ia mengantarkan tuannya tersebut hingga ke dalam kamar.


" Berikan perawatan terbaik untuk Tuan besar " titahnya kepada dokter pribadi disana.


" Baik Tuan, saya akan mengerahkan segenap kemampuan saya untuk menyembuhkan Tuan besar " jawab sang dokter.


" Saya titip Tuan besar, ada hal yang harus saya lakukan lebih dulu " ucapnya kemudian meninggalkan kamar tersebut.


Luke berjalan meninggalkan mansion. Ia menuju kendaraannya, kemudian melajukan mobilnya. Ia mengambil kartu nama di dalam sakunya. Sebuah kartu nama yang didapatnya dari rumah sakit tempat tuan besarnya dirawat tadi setelah insiden tabrak lari.


Luke membacanya, kemudian menekan nomer yang tertera pada kartu nama tersebut.


Tuut... Tuut...


Lama panggilannya tak terhubung, hingga akhirnya ada sebuah suara mengangkat panggilan darinya.


" Selamat siang, bisa saya bicara dengan Tuan David Swift ? " ia bertanya dengan sopan.


" Ya, saya David. Maaf saya bicara dengan siapa ? " Aku bertanya kepada pria yang baru saja menghubungiku.


" Perkenalkan nama saya Luke Brighton. Saya merupakan asisten dari Tuan Max Anderson, pria yang tadi mengalami kecelakaan " jawabnya.


" Ah iya. Bagaimana dengan keadaannya ? Tadi saya pergi ke rumah sakit, tapi rupanya Tuan Max sudah dibawa pulang " sahutku.


" Tuan Max sudah lebih baik, berkat bantuan anda. Bisakah kita bertemu, saya ingin menyampaikan terima kasih secara langsung kepada anda " ucapnya lagi.


" Baiklah, dimana kita bisa bertemu ? " tanyaku.


" Kita bisa bertemu di restoran X nanti malam " jawabnya.


" Ok, saya akan datang nanti " sahutku.


" Saya akan menunggu anda. Terima kasih " timpalnya lalu mematikab sambungan telpon.


" Ada apa hubby ? Siapa yang menelpon ? " tanya Zoey saat melihatku menatap layar ponsel.


" Sepertinya, keluarga pria yang tadi kutolong " jawabku.


Zoey menautkan kedua alisnya.


" Mereka mau apa ? Tidak ada masalah kan ? " tanyanya penasaran.


" Hanya ingin mengucapkan terima kasih karena sudah menolong pria tadi. Ia mengajakku bertemu di restoran X nanti malam " jawabku.


" Oh begitu ya. Ya sudah, kamu temui saja nanti. Bukankah kamu juga ingin menanyakan kondisinya ? " ucap Zoey.


" Ya, dan aku ingin kamu menemaniku pergi ! " seruku sambil memeluk Zoey yang baru saja membersihkan diri dan mengganti pakaiannya.


" Tentu saja, aku akan menemanimu. Bagaimana mungkin aku membiarkan suamiku ini pergi sendiri " sahut Zoey sambil melingkarkan tangannya di leherku.


" Jangan nakal, honey ! Kalau mau bersikap nakal, nanti malam saja " ucapku sambil mencuil ujung hidung mancungnya.


Aku segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri juga.


Akhirnya, malam pun tiba. Aku dan Zoey bersiap pergi menuju restoran X untuk bertemu dengan Tuan Luke.


Luke sendiri, sudah berada di restoran lebih awal. Ia ingin menyambut orang yang sudah menyelamatkan nyawa tuan besarnya.


Aku dan Zoey tiba di restoran X, saat mengatakan janji dengan Tuan Luke, pelayan mengantarkan kami menuju ruang VIP yang telah dipesan.


Tuan Luke menyambut kedatangan kami, namun entah mengapa sepertinya dia merasa kaget saat bertemu denganku.