
Zoey melangkah memasuki rumah sakit. Ia berniat untuk memeriksakan dirinya ke dokter kandungan. Zoey ingin memastikan usia kandungannya karena setelah melakukan pengecekan menggunakan test pack, ia mendapatkan hasil positif.
Zoey sengaja tidak memberitahukan hal ini kepada Dave. Setelah ia mendapatkan pemeriksaan dari dokter barulah ia berencana memberitahukan Dave yang sebenarnya.
Zoey memasuki ruangan dokter setelah namanya dipanggil. Dokter kandungan yang bernama Maria itu menyambutnya dengan ramah. Dan setelah melakukan pemeriksaan, hasilnya kandungan Zoey kini berusia 3 minggu.
Zoey sangat bahagia, ia terus-menerus menatap foto usg dari janin dalam kandungannya.
" Ayahmu pasti sangat terkejut. Tapi mommy yakin, ia pasti akan sangat bahagia mengetahui kau sudah hadir disini " ucap Zoey sambil mengusap perutnya yang masih rata.
Zoey keluar dari rumah sakit, kemudian melajukan mobilnya menuju kedai kopi tempat Dave bekerja.
Sementara itu, di kedai kopi. Aku tengah sibuk mempersiapkan peralatan dan bahan yang akan kami bawa untuk acara.
" Hai, hubby... " sapa Zoey.
Aku terkejut saat melihat Zoey yang tiba-tiba sudah berada di depanku.
" Honey... Sedang apa kau disini ? " tanyaku heran.
" Kenapa ? Kau tidak suka melihatku datang ? " tanya Zoey sambil memasang wajah sedih.
" Tidak... Bukan begitu, hanya saja tidak biasanya kau datang di jam kantor. Kau tidak bekerja ? " tanyaku sambil mengajaknya duduk.
" Belum, tadi aku pergi ke rumah sakit " jawabnya.
" Rumah sakit ? Apa kau sakit ? Kenapa tidak mengatakannya kepadaku, aku kan bisa mengantarmu periksa " tanyaku khawatir.
Ya, aku memang melihat Zoey agak pucat dan lemas belakangan ini. Aku pikir dia hanya terlalu lelah bekerja.
" Aku baik-baik saja, hubby. Tidak usah khawatir !" ucapnya sambil tersenyum.
" Benarkah ? Tapi kau terlihat pucat dan... "
" Aku baik-baik saja. Malah sangat baik, aku datang untuk memberimu kejutan " sela Zoey antusias.
" Kejutan ? Kejutan apa ? " tanyaku penasaran.
Zoey bergerak membuka tasnya, namun tiba-tiba ponsel miliknya berdering.
" Sebentar ya " ucapnya lalu mengangkat panggilan.
" Yes, daddy " ucap Zoey saat panggilan telah terhubung.
Entah apa yang dibicarakan oleh Zoey, namun aku bisa melihat jika raut wajah Zoey nampak berubah setelah menerima panggilan telpon dari ayah mertuaku itu.
" Sorry, Dave. Aku harus pergi sekarang, ada rapat penting yang harus kuhadiri " ucap Zoey dengan kecewa.
" It's ok, honey. Kita bisa bicara di rumah nanti " sahutku sambil menggenggam jemarinya.
Zoey tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
" Aku pergi dulu, bye hubby " pamit Zoey lalu mengecup pipiku saat bangkit dari kursi. Ia melambaikan tangannya saat keluar dari pintu.
Beberapa pengunjung yang ada memperhatikanku sambil berbisik-bisik.
" Apa yang dia miliki sampai-sampai wanita cantik itu mau bersamanya ? Wajahnya saja memakai topeng, pasti dia cacat " bisik seorang pria yang tengah berbicara dengan temannya.
" Cih, seharusnya wanita itu mendapatkan pria yang lebih baik. Apa dia tidak punya mata ? " timpalnya.
" Hush... Tidak baik membicarakan orang lain mungkin saja dia jauh lebih baik darimu " tukas temannya lagi.
" Lebih baik ? Sepertinya kau harus memeriksakan matamu itu ! " ucapnya dengan sinis.
Aku hanya bisa menelan ludah dengan suka rela. Toh apa yang mereka katakan itu benar adanya. Saat ini, aku dan Zoey jauh berbeda. Si cantik dan si buruk rupa. Mungkin sebutan itulah yang menggambarkan keadaan kami. Meskipun Zoey tidak pernah mempermasalahkannya, tapi aku kini merasa telah membuat harga dirinya jatuh.
" Jangan dengarkan ucapan mereka. Yang penting, pandangan istrimu kepadamu. Jangan pedulikan pandangan orang lain " u Kean yang tiba-tiba berada disampingku.
" Iya, Tuan " ucapku singkat.
" Dave, aku, ayahku dan Tuan Max bersedia membantumu jika kau membutuhkan bantuan " sahut Kean lagi.
" Terima kasih atas perhatian anda semua. Tapi, sampai saat ini saya belum membutuhkan bantuan " tolakku lalu undur diri dari hadapan Kean.
" Dave, seandainya saja kau tahu kenyataan yang sebenarnya. Apa kau masih akan menolak bantuan kami ? " gumam Kean.
Akhirnya, hari besar itu tiba. Hari yang merupakan hari tempat berkumpulnya para pengusaha. Di acara tersebut juga akan diberikan penghargaan kepada pengusaha muda yang berprestasi.
Zoey sudah siap dengan mengenakan gaun berwarna hitam. Meskipun gaun itu tidak terbuka, namun tetap memperlihatkan lekuk tubuhnya yang sempurna. Belum lagi wajahnya yang terlihat begitu cantik. Ia sudah seperti bidadari yang turun dari langit.
" Hubby... Bagaimana penampilanku ? " tanya Zoey saat melihatku terpana melihatnya.
" Cantik, sangat cantik ! Semua orang pasti akan mengagumimu " aku memujinya.
" Sayang sekali kau tidak bisa ikut denganku " ucapnya kecewa.
" Hei, walau aku tidak ikut bersamamu tapi aku masih bisa melihatmu dari jauh. Apa kau lupa, kalau hari ini aku juga akan hadir disana " ucapku.
" Ya, tapi aku ingin kau hadir disampingku sebagai suamiku. Bukan sebagai pelayan disana " ucap Zoey menatapku dengan sendu.
" Sudah, tidak masalah bagiku honey. Yang terpenting, aku selalu ada di hatimu " sahutku sambil membalas tatapan Zoey.
" Kau selalu ada di hatiku. Setelah malam ini, aku akan memberitahukanmu kejutannya. Kau pasti akan sangat bahagia, karena kita akan mendapatkan anugrah yang paling berharga " ucap Zoey.
" Anugrah apa itu, honey ? " tanyaku penasaran.
" Aku akan memberitahunya nanti " jawab Zoey sambil merapikan dasi kupu-kupu yang melingkar di leherku.
Zoey menatap mataku dalam-dalam, kemudian ia mengecup bibirku.
" I love you, Dave ! Terima kasih sudah memberikan hal yang paling luar biasa dalam hidupku" ucap Zoey saat tautan bibir kami terlepas.
" Aku pergi dulu, ya ! " pamit Zoey sambil mengusap pipiku.
Ia kemudian berjalan keluar dari kamar. Aku berjalan menuju balkon dan kulihat Zoey berjalan bersama Jackson menuju ke mobil Jackson diikuti oleh Tuan Rick.
Kulihat Zoey sangat serasi bersama Jackson. Zoey yang begitu cantik dan anggun, berjalan berdampingan bersama Jackson yang gagah dan tampan.
Jackson membukakan pintu depan mobilnya untuk Zoey. Sesaat sebelum masuk ke dalam mobil, Zoey mendongakkan kepalanya dan melihat ke arahku yang tengah berdiri di atas balkon. Ia tersenyum lalu melambaikan tangannya kepadaku sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil. Ia duduk bersama dengan Jackson di depan, sementara Tuan Rick duduk di belakang. Mobil pun akhirnya melaju meninggalkan kediaman kami.
Ada sekelebat nyeri kurasakan di dalam hatiku, namun segera kutepis. Aku meyakinkan diriku jika Zoey tidak akan berpaling dariku. Ya, aku percaya... Aku harus percaya kepadanya !
Aku pun bergegas turun dan menuju tempat acara dilaksanakan. Aku mengenakan seragam pelayan, kemeja berwarna putih, celana hitam, serta rompi dan dasi kupu-kupu. Tak lupa aku juga memakai topeng putih yang biasa kukenakan. Aku tak ingin mempermalukan Tuan Kean disana. Oleh karena itu, aku berpenampilan sebaik dan serapi mungkin.