Way Of Me

Way Of Me
Part 13



Tuan Luke membuka ikatan pada tangan dan kaki Kean. Ia juga membantu anaknya itu untuk berdiri.


Setelah menelaah apa yang diucapkan oleh Tuan Max, ia akhirnya menyadari jika selama ini apa yang dilakukan oleh Kean semata hanya untuk menarik perhatiannya.


Luke memang begitu setia kepada Tuan Max, ia harus berterima kasih dengan membaktikan dirinya kepada pria itu. Pria yang telah memberinya kehidupan kedua yang lebih baik. Bahkan pria itu pula yang menyelamatkannya dari kematian. Oleh karena itu, Luke berjanji untuk mengorbankan jiwa dan raganya kepada Tuan Max.


Tuan Luke mengulurkan tangannya kepada sang anak yang awalnya terlihat enggan untuk menyambutnya.


Namun akhirnya Kean membalas uluran tangan itu. Uluran tangan yang sudah sejak lama dirindukannya. Sejak kecil, Kean jarang bertemu dengan sang ayah. Luke hanya datang di akhir pekan, bahkan terkadang ia tak datang karena harus menemani Tuan Max.


Bahkan Luke tidak ada bersama Kean saat sang ibu sakit keras dan akhirnya meninggal dunia. Luke hanya datang untuk memakamkan sang istri dan sehari setelahnya ia kembali ke sisi Tuan Max. Kean kecil diserahkan ke pengasuh lalu Kean dimasukkan ke sekolah asrama.


Kean tidak pernah kekurangan dalam memenuhi segala keperluan sekolahnya. Urusan pendidikannya sudah terjamin dimana ia disekolahkan di sekolah terbaik. Fasilitas pun ia selalu mendapatkan yang terbaik. Dalam hal harta, Kean pun tak pernah kekurangan.


Hanya saja, dalam hal kasih sayang ia tak mendapatkannya. Saat kunjungan orang tua di asrama, Luke tak pernah bisa datang. Ia selalu meminta anak buahnya untuk mengunjungi Kean, kemudian melapor kepadanya.


Hal inilah yang membuat Kean merasa dibuang sehingga menimbulkan bibit kebencian kepada Tuan Max. Ia merasa Tuan Max telah merampas miliknya, padahal semua fasilitas yang didapatnya adalah pemberian Tuan Max.


Luke dan Kean duduk berhadapan. Luke menyisir luka lebam di wajah sang putra. Putranya yang kini disadari Luke sudah beranjak dewasa. Sudah lama ia tidak melihat wajah sang anak.


Hening, baik Luke maupun Kean tak ada yang mengeluarkan suara. Dan akhirnya, Luke berdehem untuk memulai pembicaraannya.


" Maaf... " ucap Luke sambil berusaha menyentuh wajah Kean.


Namun Kean justru menghindar sehingga membuat tangan Luke menggantung di udara dan ia menariknya kembali.


" Aku tahu kau pasti kecewa. Tapi kau harus tahu, semua yang aku lakukan ini untuk kebaikanmu " ucap Luke sambil menatap Kean lamat-lamat.


Melihat luka di wajah sang anak membuatnya sangat menyesal. Entah apa yang akan terjadi seandainya saja Tuan Max tadi tidak mencegahnya, mungkin Kean sudah terbunuh dan ia akan menyesali perbuatannya seumur hidup dan tidak akan memaafkan dirinya sendiri.


Kean tersenyum remeh.


" Kebaikanku ? Kebaikanku atau kebaikan anda sendiri ? " sinis Kean.


" Masa depanku ? Apa anda pikir aku masih punya masa depan ? Aku ini tak lebih seperti anak buangan. Aku masih memiliki seorang ayah tapi aku merasa yatim piatu " jawab Kean yang membuat hati Luke seperti tertusuk.


" Maaf ! Ayah minta maaf setelah semua yang terjadi. Ayah tahu mungkin ini terlambat, tapi percayalah ayah hanya ingin melihatmu menjadi orang yang berhasil " ucap Luke dengan nada suara rendah, penuh penyesalan.


Kean memalingkan wajahnya, setitik air mata jatuh dari sudut matanya namun segera ia menyekanya.


" Wah, wah... Rupanya Tuan Luke yang terhormat ini bisa meminta maaf juga ya " ucap Kean mencemooh ucapan Luke guna mengalihkan pembicaraan.


" Kean... "


" Pergilah kepada Tuanmu itu. Orang yang selalu kau nomor satukan. Bahkan kesetiaanmu padanya lebih besar dibanding kesetiaanmu kepada keluargamu sendiri " ucap Kean kesal.


" Jika kau tahu, apa yang telah dilakukannya mungkin kau akan mengubah cara pandangmu terhadapnya. Bahkan kau akan memintaku untuk selalu bersamanya hingga akhir hidupku "


Alis Kean terangkat, sudah lama ia ingin tahu alasan mengapa sang ayah begitu setia kepada tuannya itu. Dan sepertinya ini adalah waktu yang tepat untuk meminta penjelasan mengapa ia begitu setia dan sang ibu pun tak mempermasalahkannya sama sekali.


Luke menarik nafasnya dalam-dalam. Akhirnya ia harus menceritakan semuanya kepada sang anak tentang masa lalu kelamnya.


" Dulu, aku hanyalah orang miskin. Preman jalanan, penjahat kampung. Beruntung, ibumu mau aku nikahi. Dia wanita yang cantik dan baik hati. Meskipun aku pria brengsek, tapi ia tak pernah menganggapku pria brengsek. Ia selalu berharap agar aku berada di jalan kebaikan. Dan itu berhasil, setelah mengetahui jika ibumu mengandungmu, aku berhenti menjadi orang jahat. Aku berupaya untuk menjadi pria baik " jelas Luke.


" Dan kau tahu, ternyata menjadi orang baik itu tidak mudah. Sekali dicap penjahat selamanya dicap penjahat. Sampai akhirnya aku bertemu Tuan Max dan anaknya. Saat itu, mereka dihadang oleh komplotan perampok saat akan pulang ke kota. Aku kemudian menolong mereka hingga para penjahat itu berhasil dikalahkan. Alhasil, aku ditawari pekerjaan sebagai body guard mereka " tambah Luke lagi.


" Waktu berlalu, Tuan Max dan anaknya sangat mempercayaiku sehingga aku menjadi orang kepercayaan mereka. Sayangnya, teman-temanku di masa lalu muncul. Mereka tidak suka, aku memiliki kehidupan yang baik. Bagi mereka aku adalah aset berharga yang selalu membuat aksi kejahatan mereka berhasil. Karenanya mereka menculik ibumu dan memintaku untuk membantu mereka merampok kembali. Jika aku menolak ibumu dan dirimu yang masih dalam kandungan akan mereka lenyapkan. Tentu saja, aku tidak ingin terjadi hal buruk kepada kalian. Oleh karena itu, aku menyetujui permintaan mereka. Akhirnya, aku membantu mereka melancarkan aksinya. Dan itu berhasil, sampai akhirnya aksi kami diketahui "


" Kami semua kocar kacir menyelamatkan diri, bahkan aku tertembak di dada dan nyaris tertangkap dan mati jika saja Tuan Max tidak datang menyelamatkanku dengan membiarkanku masuk ke dalam mobilnya. Aku koma selama satu minggu dan saat sadar aku sudah melihat ibumu dan dirimu duduk di samping brangkar ditemani oleh Tuan Max beserta anaknya. Rupanya selama ini mereka mengawasiku dan mengetahui apa yang terjadi kepadaku. Mereka benar-benar orang baik. Mereka menyelamatkan ibumu dan juga aku. Sayangnya, dari semua gerombolan itu pimpinan mereka berhasil melarikan diri. Dia berpikir jika aku dan Tuan Max bekerja sama sehingga ia membuat kecelakaan pada mobil anak dan menantu Tuan Max untuk membalas dendam. Kecelakaan itu menyebabkan Tuan Max kehilangan anak, menantu, juga cucunya. Anak dan menantunya meninggal, sedangkan cucunya hilang entah kemana " tutur Luke panjang lebar.


" Karena itulah, ayah berikrar untuk membaktikan diri ayah kepada Tuan Max. Karena kebaikannya kepada kita, ia justru harus kehilangan keluarganya. Kita berhutang banyak kepada Tuan Max, bahkan nyawa saja tidak cukup untuk membalas kebaikannya. Kau mengerti kan ? Mengapa ayahmu ini sangat setia kepada Tuan Max ? "


Kean mengangguk. Akhirnya ia mengerti atas sikap sang ayah selama ini. Pantas saja, sang ibu tidak mempermasalahkan sikap ayahnya itu. Dan kini, Kean malu sendiri atas sikapnya.


" Maafkan aku, ayah ! Maaf aku selama ini egois. Aku tidak pernah mau tahu apa yang membuatmu bersikap seperti ini. Ayah, antarkan aku menemui Tuan Max, aku harus meminta maaf kepadanya. Aku sudah banyak melakukan kesalahan kepadanya " ucap Kean, bergerak mendekati Luke, lalu memeluknya.