Way Of Me

Way Of Me
Part 21



Setelah hari itu, hubunganku dan Zoey seolah menjauh. Zoey selalu disibukkan dengan pekerjaannya di perusahaan. Bahkan tak jarang jika ia pun pergi ke luar kota. Tentu saja selalu ditemani oleh Jackson dan Tuan Rick.


Awalnya aku merasa tak keberatan, namun lambat laun aku merasa seolah tersingkirkan. Zoey tak lagi datang menemuiku di kedai kopi. Pulang pun selalu larut malam. Terkadang pikiran buruk datang ke dalam kepalaku.


Bayangan bahwa Zoey dan Jackson kini sudah memulai hubungan selalu menghantuiku. Namun dengan segera kutepiskan. Aku sangat yakin jika Zoey tak akan mungkin melakukan hal itu. Oleh karena itu, aku tak pernah melarangnya.


Tapi sepertinya apa yang kulakukan itu menjadi bumerang bagi diriku sendiri.


Semakin lama justru aku merasa Zoey dan Jackson semakin akrab. Beberapa waktu belakangan ini bahkan Zoey sudah tidak ditemani lagi oleh Tuan Rick jika bepergian dengan Jackson. Belum lagi, Jackson juga sudah mulai menjemput dan mengantarkan Zoey pulang.


" Zoey, bisakah kita bicara ? Aku merasa belakangan ini kau terlalu sibuk " ucapku saat Zoey baru saja masuk ke kamar.


Ya, semenjak tadi aku menunggunya pulang. Aku ingin menyampaikan apa yang selama ini mengganggu pikiranku.


" Nanti saja, aku lelah " jawab Zoey lantas berlalu menuju kamar mandi.


Aku bisa melihat gurat lelah di wajahnya yang nampak pucat.


Zoey keluar dari kamar mandi, wajahnya nampak lebih segar meskipun masih terlihat sedikit pucat.


" Apa kau sakit ? " selidikku saat ia bergerak naik ke atas tempat tidur.


Zoey menatapku, entah apa arti tatapannya itu. Tapi aku merasa ada yang dia sembunyikan dariku.


" Zoey... " aku menangkup pipinya dengan kedua tanganku.


" Dave, aku lelah. Aku ingin tidur " ucapnya sambil melepaskan kedua tanganku.


Zoey lantas merebahkan tubuhnya, kemudian dia berbalik membelakangiku.


Aku menatap punggungnya, lalu berbaring di sampingnya. Tanganku terulur memeluknya lalu entah mengapa aku justru mengusap perutnya.


Rasanya seolah ada tarikan untuk mengusap perutnya. Meskipun aku pernah mengatakan untuk menunda memiliki anak. Tetapi, harus aku akui jika aku juga sangat mendambakan kehadiran seorang anak dalam kehidupan kami.


" Maafkan aku... Maaf jika aku tidak bisa membantumu. Maaf, jika aku tidak bisa menjadi suami yang bisa kau banggakan. Aku harap kita akan terus bersama hingga nanti bersama anak-anak kita. I love you ! " ucapku sambil mengecup bahu Zoey.


Zoey tak merespon apapun. Mungkin dia memang lelah dan langsung tertidur. Aku mengerti hal itu, sangat sangat mengerti.


Bekerja sebagai pimpinan perusahaan tentunya menguras banyak tenaga dan pikirannya. Apalagi saat ini, Tuan Rick sudah melimpahkan semuanya kepada Zoey. Otomatis ia pun harus menjadi seorang pemimpin perusahaan yang baik untuk keberlangsungan hidup perusahaan yang bergantung kepadanya.


Aku melepaskan pelukanku dari perut Zoey, lantas berbaring membelakangi Zoey. Kami berbaring dengan saling membelakangi satu sama lain. Hingga kemudian aku pun mulai masuk ke alam mimpi.


Zoey membuka matanya, saat Dave menarik tangannya. Ia lantas menyentuh perutnya.


Sayang... Mommy tidak tahu sampai kapan merahasiakan hal ini dari daddymu ? Tunggu sebentar lagi ! Sampai mommy menyelesaikan pekerjaan terakhir ini, mommy akan segera memberitahu daddymu. Dan kita bertiga akan pergi dari sini.


Zoey berbicara dengan janin yang ada dalam rahimnya. Calon bayi yang sudah tumbuh dan berkembang dalam tubuhnya sejak 8 minggu yang lalu.


Awalnya Zoey akan menceritakannya kepada Dave saat pesta tempo hari. Namun melihat sikap Dave, Zoey mengurungkan niatnya karena khawatir jika Dave belum bisa menerima kenyataan jika ia tengah mengandung.


Apalagi sikap Dave yang seolah mendukung sang ayah dan Jackson untuk selalu dekat dengannya, membuat Zoey kesal dan berencana untuk membuat Dave menyesalinya.


Zoey memang sengaja mengerjakan banyak pekerjaan bersama Jackson. Hal itu dilakukannya untuk membuat Dave sadar jika pikirannya salah dan berharap agar Dave cemburu. Dan sepertinya, keinginannya itu sudah akan mendapatkan keberhasilan.


Zoey sudah mengatakan kepada Jackson dan sang ayah jika ia akan mengembalikan jabatan di perusahaan kepada sang ayah kembali. Oleh karena itu, selama ini dia bekerja keras untuk segera terlepas dari kondisi saat ini. Dan hal itu, membuatnya harus bekerja lebih keras dan selalu pergi bersama dengan Jackson.


Pagi sudah menyapa, Zoey sudah bersiap pergi dengan satu buah koper yang entah kapan disiapkannya.


Aku baru saja membuka mata saat melihat Zoey berdiri di samping ranjang. Ia menatapku dengan lekat.


" Zoey, honey... Kau akan pergi ? " tanyaku dengan segera mengangkat tubuhku untuk duduk.


Kali ini, ia meresponku dengan baik tidak lagi menghindar.


" Benarkah ? Mendadak sekali " ucapku.


" Tidak mendadak. Sebenarnya ini sudah direncanakan sejak pesta waktu itu. Kami bertemu klien dan mereka tertarik untuk bekerja sama. Karena itu, sekarang kami akan menindaklanjuti kerja sama kami " sahut Zoey.


" Maaf, aku tidak menceritakannya kepadamu. Selama ini aku terlalu sibuk... "


" Tidak apa, aku bisa mengerti " aku memotong ucapan Zoey.


" Berapa lama kau pergi ? " tanyaku sembari menatap wajahnya yang entah mengapa terlihat begitu cantik dengan aura yang begitu terpancar.


" Sepertinya agak lama, sekitar 2 minggu. Tetapi jika semuanya berjalan lancar, bisa saja sebelum itu sudah kembali " jawab Zoey.


Aku mengangguk paham.


" Aku pergi bersama Jackson. Kau tidak marah kan ? " jelasnya sambil menatapku.


Aku tersenyum tipis, lalu menggelengkan kepala.


" Aku tidak marah. Bukankah biasanya seperti itu. Hanya saja... Jangan terlalu dekat dengan Jackson, aku tidak ingin mereka berpikir jika kau adalah calon istrinya " ucapku.


" Hei, kau cemburu ? " tanya Zoey dengan seringai di wajahnya.


" Mana mungkin aku tidak cemburu tapi aku bukanlah siapa-siapa. Aku tidak memiliki kekuasaan, kekayaan, bahkan wajahnya pun kini jauh lebih tampan dariku. Aku merasa Jackson lebih segalanya dariku dan aku khawatir jika kau akan kembali bersamanya apalagi aku sangat tahu jika dia masih menginginkanmu " jawabku jujur.


Zoey menangkup wajahku dan menatapku lekat-lekat.


" Aku tak peduli apapun yang dimiliki oleh Jackson atau pria manapun. Aku hanya memilihmu dan selamanya akan begitu. Kelak setelah semuanya selesai, kita akan selalu bahagia bersama. Kau, aku, dan anak kita " ucap Zoey lalu meraih sebelah tanganku dan meletakkannya di atas perutnya.


Aku mengangguk dan mengelus perut Zoey.


Aku setuju dengan ucapannya. Aku yakin kelak aku, Zoey, dan anak-anak kami akan selalu bersama.


Aku menghentikan gerakan tanganku di atas perutnya saat terdengar ketukan pintu kamar kami.


" Zoey... Apa kau sudah siap ? "


Suara Tuan Rick, ayah mertuaku yang bertanya di depan kamar kami.


" Ya, sebentar dad. Nanti aku akan segera turun " sahut Zoey.


" Kau harus pergi. Tunggu, aku ke kamar mandi dulu. Setelahnya, aku akan mengantarmu turun " ucapku kemudian bangkit dan bergerak ke kamar mandi untuk menggosok gigi dan mencuci muka.


" Dave, jika aku hamil apa kau bahagia ? Kau tidak akan menolaknya kan ? " tanya Zoey saat aku memeluknya.


" Tentu saja aku bahagia. Mungkin aku memang belum siap, tetapi mana mungkin aku menolak buah hatiku sendiri " jawabku apa adanya.


" Apa disini sudah ada anak kita ? " tanyaku sambil mengelus perutnya yang masih rata.


 Entahlah, rasanya seperti ada magnet yang terus menarikku untuk terus menyentuh dan mengelus perut Zoey.


Zoey tersenyum penuh misteri.


" Sudah Dave, aku harus pergi sekarang. Setelah aku pulang nanti, kau boleh mengelusnya lagi " ucap Zoey.


Kami berdua pun segera keluar dari kamar menuju ke luar karena Tuan Rick dan juga Jackson sudah menunggu disana.