
Aku berusaha membuka mataku yang terasa begitu berat. Tidak hanya mataku yang sulit untuk kugerakkan, bahkan tanganku pun begitu sulit kugerakkan. Tapi aku coba untuk menggerakkannya. Mula-mula kugerakkan jari-jariku dengan perlahan. Dan akhirnya, aku pun bisa sedikit menggerakkannya.
Aku merasakan ada gerakan dari samping ranjangku. Ku lirik, ternyata itu adalah Zoey. Sepertinya ia merasakan jika aku bergerak.
" Hubby, kau sudah sadar ? " ucapnya begitu bahagia.
Aku hanya bisa mengangguk lemah, entah ia bisa melihatnya atau tidak karena yang aku rasakan sebagian wajahku terbebat oleh kain kasa.
Zoey lekas memanggil dokter dan perawat. Tak lama kemudian datang dokter dan perawat untuk memeriksa keadaanku.
Hari pun bergulir.
Keadaanku berangsur membaik. Hanya saja sebelah wajahku kemungkinan mengalami cacat akibat luka bakar yang terjadi saat kebakaran itu. Untuk menyembunyikan luka itu, aku terpaksa harus menggunakan topeng. Sebuah topeng yang menutupi sebelah wajahku yang terbakar. Aku tidak ingin orang ketakutan saat melihat luka yang ada di wajahku.
Zoey kini sudah kembali ke perusahaan. Sementara aku hanya bisa tinggal di dalam rumah. Tak ada kegiatan, karena aku masih belum bisa membuka lagi kantorku yang baru.
Belum lagi hampir semua clientku beralih pada pihak lain dikarenakan aku yang cukup lama melakukan perawatan. Bagiku tak masalah, mereka punya hak untuk beralih. Lagi pula aku bisa mengerti atas sikap mereka. Mereka juga harus terus membuat perusahaan mereka berjalan toh konsultan keuangan bukan hanya aku.
Aku mencoba untuk tidak terpuruk, karena aku masih mempunyai istri yang sangat mencintaiku. Zoey tidak pernah mempermasalahkan apa yang terjadi padaku. Bahkan ia bertekad untuk bekerja keras mengumpulkan uang agar aku bisa operasi untuk memperbaiki wajahku kembali.
Aku terkadang merasa rendah diri, saat ini jika aku bersanding dengan Zoey ibarat Beauty and the Beast. Zoey yang begitu cantik harus bersanding denganku yang buruk rupa. Tetapi Zoey selalu menguatkanku. Ia selalu mengatakan jika dirinya tak hanya mencintai rupaku saja, tapi juga mencintai sikapku. Dengan mengingat hal itu, rasanya aku kembali bersemangat untuk melanjutkan hidup.
Sayangnya, itu tidak berlaku untuk ayah mertuaku yang sejak awal tidak menyetujui hubunganku dengan Zoey. Tuan Rick bersikap baik kepadaku, mungkin sebagai balas jasa karena aku sudah menyelamatkan putrinya.
Sebenarnya ia selalu memberi dukungan kepada Jackson untuk kembali bersama Zoey terlebih lagi setelah melihat kondisi fisikku. Sebelum wajahku rusak saja, ia tak ingin memperkenalkanku sebagai menantunya.
Apalagi sekarang, setelah wajahku cacat. Ia selalu mengatakan jika Zoey masih single di depan partner bisnisnya. Bahkan tanpa memikirkan perasaanku, ia juga mengatakan jika Jackson adalah calon menantu idamannya.
Bagiku itu bukan masalah besar, lagi pula aku tahu jika hati Zoey hanyalah untukku.
Untuk menghilangkan rasa bosan, aku kini bekerja di sebuah kedai minuman sebagai pelayan seperti yang kulakukan saat aku masih kuliah dulu.
Kedai minuman itu milik Tuan Kean, anak dari Tuan Luke. Ya, akhirnya aku bisa bertemu kembali dengan Tuan Luke, bahkan aku pun diajak bertemu dengan Tuan Max.
Tuan Max merasa bahagia bisa bertemu denganku, tapi aku bisa merasakan jika ia juga merasakan kepedihan mendalam saat melihat keadaanku. Entah mengapa rasanya berbeda saat bersama dengan Tuan Max. Seolah kami sudah saling mengenal lama.
Berkali-kali Tuan Max mengajukan tawaran untuk membantuku tetapi aku selalu menolaknya. Kendati, ia menganggapnya sebagai rasa terima kasih kepadaku karena telah menyelamatkannya. Bagiku, menolong itu tidak perlu pamrih. Jika aku bisa, aku akan menolong meskipun itu harus mengorbankan nyawaku sendiri.
Oleh karena itu, Tuan Luke meminta anaknya Tuan Kean untuk mempekerjakan aku di kedai minuman yang dikelolanya. Tentu saja, aku tidak menolaknya.
Malam itu, aku baru saja pulang bekerja dari kedai. Kulihat banyak kendaraan terparkir di halaman depan kediaman Tuan Rick. Nampaknya, ada pesta disana. Mungkin juga ayah mertuaku itu sedang mengadakan jamuan makan malam.
Aku masuk ke dalam rumah melalui pintu belakang, bermaksud untuk menghindari keramaian. Bagaimanapun juga aku tak ingin para tamu itu melihatku. Sayangnya, ternyata mereka mengadakan jamuan di taman belakang hingga akhirnya aku justru terjebak di keramaian.
Beberapa tamu sibuk menatapku dan aku juga mendengar bisik-bisik mempertanyakan keberadaanku.
" Tuan Rick, siapa dia ? " tanya seorang tamu yang tengah berbincang dengan ayah mertuaku.
" Dia itu... "
" Dia hanyalah salah satu pelayan di rumah kami. Kebetulan ia mengalami kecelakaan karena menyelamatkan Zoey. Oleh karena itu aku memberinya pekerjaan disini sebagai pelayan kami " Tuan Rick memotong ucapan yang akan disampaikan oleh Zoey.
" Dia bukan pelayan, dia itu... "
" Dia adalah orang kepercayaan Zoey "
Kali ini Jackson yang menyela ucapan Zoey.
Zoey berdecak kesal lalu menatap ke arahku. Aku tersenyum tipis sambil mengangguk, memberi tahu jika aku baik-baik saja.
" Kau, pergilah ! " usir Tuan Rick kepadaku.
Aku menundukkan kepalaku, lantas segera menjauh dari sana.
Samar-samar aku bisa mendengar jika mereka menjodoh-jodohkan Jackson dengan Zoey. Mereka mengatakan jika hubungan antara Zoey dan Jackson yang sempat putus harus dirajut ulang dan tentu saja baik ayah mertuaku maupun Jackson mengamininya.
Aku bergegas berjalan menuju ke kamar kami. Setelag seharian ini sibuk melayani pelanggan, rasanya aku ingin segera merebahkan diri di atas kasur.
Aku merebahkan diri, setelah membersihkan diri. Rasanya begitu segar dan nyaman.
Ceklek
Pintu kamar terbuka dan aku melihat Zoey masuk ke dalam kamar. Aku segera mengangkat tubuhku kemudian duduk. Zoey menghambur ke dalam pelukanku. Aku tersenyum kecil dengan tingkah yang diberikan istriku itu.
" Ada apa ? Acaranya sudah selesai ? " tanyaku pada Zoey yang masih betah berada dalam dekapanku.
" Belum, tapi aku ingin bersamamu " jawab Zoey sambil menduselkan wajahnya di dadaku.
Aku mengusap rambut panjangnya dengan lembut dan penuh cinta.
" Pergilah. Tidak baik meninggalkan tamu. Apa yang akan mereka katakan jika tahu kau justru menghilang " ucapku.
" Biar saja, aku tak peduli ! Aku tidak tahan mendengar ucapan mereka tentangmu. Seharusnya aku katakan saja jika kau adalah suamiku agar bisa membungkam mulut mereka " sahut Zoey kesal.
" Sudahlah, honey. Tidak apa, yang penting kamu tetap mencintaiku " ucapku lagi.
" Ya, aku sangat mencintaimu. Aku tak peduli apa pendapat orang tentangmu. Bagiku dirimu adalah yang terbaik dan sekarang aku sudah siap untuk memiliki anak denganmu " sahut Zoey yakin.
" Kau yakin dengan ucapanmu itu ? " aku beryanya untuk meyakinkan kembali maksud Zoey.
" Ya, sangat yakin " tegas Zoey.
" Tidak Zoey ! Aku belum ingin memiliki anak saat ini " tolakku membuat Zoey langsung mengangkat wajahnya dan melihat tajam kepadaku.
" Apa ? Tapi kenapa Dave ? Bukankah kau sangat menginginkan anak dariku ? Sekarang aku siap " ungkap Zoey mempertanyakan keputusanku.
" Zoey, aku sangat ingin memiliki anak darimu. Tapi saat ini, aku memikirkan masa depannya. Aku ini bukan ayah yang sempurna. Wajahku cacat, bahkan aku tidak memiliki pekerjaan yang baik. Aku tidak ingin membuat anakku malu memiliki ayah seperti aku. Jadi, kita masih bisa menunda memiliki anak sampai beberapa tahun lagi " jelasku.
Aku melihat rasa kecewa dari sorot mata Zoey. Tapi, kurasa ini adalah keputusan terbaik. Sampai akhirnya, Zoey pun mengangguk setuju dengan permintaanku.
Maafkan aku Dave ! Aku akan melepas alat kontrasepsiku. Aku ingin segera mengandung anak kita, karena dengan kehadiran seorang anak diantara kita, aku yakin Daddy dan Jackson akan berhenti mencari jalan untuk memisahkan kita.