Way Of Me

Way Of Me
Part 15



Waktu terus berlalu, Zoey semakin sibuk dengan pekerjaannya. Begitu pun juga aku. Akan tetapi walaupun sama-sama sibuk, kami selalu menjaga komunikasi dengan baik. Kami tahu kebanyakan hubungan bermasalah diakibatkan oleh komunikasi yang tidak baik sehingga menimbulkan kesalah pahaman dan kami tidak ingin hal itu terjadi.


Siang itu, aku baru saja selesai beristirahat. Lantas datang beberapa pria dengan mengenakan jas dan berpenampilan rapi ke dalam kedai kopi tempatku bekerja. Mereka memesan beberapa minuman kopi


Setelah selesai, mereka memintaku agar bisa bertemu dengan pemilik kedai. Langsung saja, aku memanggil Tuan Kean. Rupanya mereka menginginkan kedai kami menjadi penyedia minuman dalam acara pertemuan para pengusaha.


Tentu saja Tuan Kean menerimanya, bagaimanapun ini akan berakibat sangat baik terhadap kemajuan kedai kedepannya.


" Dave, apa kau akan ikut menghadiri acara pertemuan itu ? " tanya Kean.


" Iya, Tuan. Saya harus membantu anda dan yang lain " jawab Dave.


" Tapi Dave, disana pasti istri dan ayah mertuamu hadir. Apa mereka tidak keberatan ? " tanya Kean lagi.


Dave menghela nafasnya panjang.


" Mereka tidak akan keberatan Tuan. Lagi pula besar kemungkinan jika saya tidak akan bertemu mereka. Selain itu, orang-orang tidak tahu jika saya adalah suami dari Zoey dan menantu Tuan Rick karena pernikahan kami belum dipublikasikan " jelas Dave.


" Entahlah Dave, aku merasa ini bukan hal yang baik. Apa aku tolak saja tawaran mereka " tukas Kean.


" Tuan, anda harus menerimanya. Tentu saja hal ini akan memberikan keuntungan yang baik untuk kedai ini. Anda jangan melewatkan kesempatan besar ini " timpal Dave.


" Jika anda khawatir karena keberadaan saya, saya tidak akan ikut serta " tambah Dave kemudian.


" Tidak Dave, bukan itu mauku. Aku hanya inhin kau bisa menjadi lebih baik. Kau sudah banyak berkorban. Dave, apa kau tidak ingin mencari tahu dimana keluargamu ? Mungkin saja mereka bisa membantumu " ucap Kean sengaja memancing reaksi Dave.


" Saya tidak ingin lagi mencarinya. Saya hanya berusaha untuk melanjutkan hidup, memandang ke depan. Yang saya tahu keluarga saya hanyalah Zoey, ibu dan adik-adik di panti " jawab Dave.


" Seandainya takdir membuatmu bertemu dengan keluarga aslimu. Apa yang akan kau lakukan ? Bisa saja mereka juga mencarimu " ucap Kean lagi.


" Entahlah, Tuan. Saya tidak tahu. Yang pasti, saya akan sangat bahagia jika memiliki kesempatan untuk bertemu keluarga saya. Walaupun saya tahu mungkin itu hanyalah mimpi saja " sahut Dave.


Itu bukan mimpi, Dave. Karena kau adalah seorang Tuan muda. Dan aku berjanji, demi ayah dan ibuku bahwa aku akan selalu menjagamu !


" Tuan, ada lagi yang ingin anda bicarakan ? " tanya Dave saat melihat Kean tertegun.


" Tidak Dave, aku sudah selesai bicara " jawab Kean sambil menatap Dave.


" Kalau begitu, saya permisi kembali ke tempat saya Tuan " pamit Dave.


" Ya, tentu saja " sahut Kean.


Selesai bekerja, aku bergegas pulang ke rumah. Belakangan ini, Zoey selalu pulang malam hari. Ia bilang banyak sekali pekerjaan yang harus ia kerjakan, mengingat kini ia sudah menggantikan posisi Tuan Rick.


Aku sangat ingin membantunya, tapi aku tidak bisa pergi menemaninya di perusahaan. Apa yang akan dikatakan oleh para pegawainya jika melihat pria buruk rupa sepertiku berada di sisi wanita cantik dengan karir cemerlang seperti Zoey. Bisa-bisa, kehadiranku justru membuat harga dirinya turun dan aku tak ingin hal itu terjadi.


Saat memasuki area depan mansion, aku melihat mobil Zoey baru memasuki gerbang mansion. Aku yang semula akan masuk, lantas menunggu di depan pintu.


Pintu mobilnya terbuka, namun aku melihat Jackson yang keluar dari dalam mobil. Ia berjalan mengitari mobil lalu membuka pintu samping mobil.


Tangannya terulur membantu seseorang yang aku yakini adalah istriku. Ia terlihat membujuknya agar bisa membantu. Aku berjalan mendekati mereka dan aku melihat Zoey terduduk di jok dengan wajah pucat.


" Zoey... " ucapku.


Zoey lantas menoleh ke arahku, ia merentangkan tangannya kepadaku. Jackson menggeser posisinya sehingga aku bisa mendekati Zoey. Sekilas aku bisa melihat kekesalan di wajahnya tapi aku tidak memedulikannya. Yang aku pikirkan saat ini hanyalah keadaan Zoey.


Aku memapahnya, namun karena ia begitu lemas maka aku berinisiatif untuk menggendongnya menuju ke kamar kami.


Jackson berjalan mengikuti hingga menuju kamar kami.


" Terima kasih sudah mengantarkan Zoey " ucapku saat sampai di depan kamar.


" Ya, kau jagalah dia dengan baik. Jika kau tidak mampu, maka biarkan aku yang menjaganya " ucap Jackson provokatif.


Tunggu saja ! Nikmati waktumu bersamanya saat ini, karena akan kupastikan ini adalah saat-saat terakhirmu disisinya


Jackson lantas berjalan meninggalkan kamar Zoey. Ia berjalan ke ruang kerja untuk menemui Tuan Rick.


Aku membaringkan Zoey di atas kasur perlahan.


" Kau baik-baik saja, honey ? " tanyaku khawatir.


Ia hanya mengangguk pelan, kemudian memelukku.


" Dave, peluk aku ! Jangan tinggalkan aku ! " serunya lirih.


" Hei, aku disini. Aku tidak akan meninggalkanmu. Ada apa honey ? " tanyaku sambil menatap wajahnya yang terlihat pucat dan lesu.


" Kau sakit ? Kita ke dokter ya sekarang " seruku.


" Tidak, aku tidak perlu dokter. Aku hanya butuh dirimu " sahut Zoey lalu menarik tubuhku fan memelukku erat.


" Honey, aku baru pulang kerja. Bau keringat " ucapku sambil mengelus punggung Zoey.


" Begini saja dulu, Dave. Aku suka baumu " ucap Zoey sambil mengenduskan wajahnya di dadaku.


Aku tersenyum simpul.


" Aku mandi dulu, ya ! Supaya kau lebih nyaman lagi memelukku " ucapku.


" Mandi ? Kalau begitu, ayo kita mandi bersama ! Sudah lama kita tidak mandi bersama kan " ungkap Zoey sambil melepas pelukannya. Ia menatap wajahku.


" Hei, bukankah kau sedang sakit hem ? " tanyaku sambil mencubit hidungnya.


" Aku sudah sembuh karena aku sudah bertemu obatnya " jawab Zoey manja.


" Oh jadi kau sakit karena merindukanku ya "


Zoey mengangguk dengan wajah merona.


" Baiklah, ayo kita mandi bersama ! " ucapku lalu menggendongnya ke dalam kamar mandi.


Selesai mandi dan berkegiatan panas saat mandi, akhirnya kami berbaring di atas tempat tidur. Melakukan pillow talk untuk bercerita kegiatan apa yang sudah kami lakukan siang tadi. Zoey nampaknya sudah jauh lebih baik. Ia hanya beralasan jika kelelahan karena terlalu banyak pekerjaan dan telat makan sehingga membuat kondisi tubuhnya kurang fit.


Zoey memperhatikanku sambil mengusap-usap rambutku.


" Kenapa honey ? Kau masih mau ? " candaku dan ia hanya mencubit perutku.


" Aku mencintaimu Dave " ucap Zoey.


" Aku juga, honey. Aku sangat mencintaimu " ucapku sambil mengecup keningnya.


" Dave... "


" Hem... "


" Terima kasih sudah hadir di hidupku "


" Ya, honey. Hoaahm " aku menguap karena merasakan kelopak mataku begitu berat. Dan selanjutnya aku tidak tahu apa yang Zoey katakan. Yang aku ingat, ia hanya membawa tanganku ke atas perutnya.


" Dave... Sepertinya kita akan segera memiliki bayi. Disini... Ada anak kita. Aku yakin kehadirannya akan semakin membuat kita bahagia " ucap Zoey kemudian menatapku yang sudah tertidur.


Zoey tersenyum lantas mengecup keningku.


Selamat tidur, daddy Dave. Setelah memeriksakan diri ke dokter, aku akan segera memberitahu kabar baik ini !