Way Of Me

Way Of Me
Part 10



Hari berlalu, aku cukup kesulitan untuk mendapatkan tempat usahaku. Setiap aku menemukan tempat yang cocok selalu saja berakhir dengan pembatalan. Sepertinya ada yang sengaja menghalangi niatku.


Aku berpikir jika itu adalah perbuatan Jackson. Tapi entahlah, aku sendiri tidak bisa menemukan jawabannya.


Hingga akhirnya, aku memutuskan untuk kembali ke kota tempat tinggal kami dulu untuk melanjutkan usaha kami disana.


Tentu saja mendengar rencanaku ini, Zoey menolak. Ia tidak ingin kami menjalani long distance relationship. Akan tetapi, sebagai seorang suami, tentu saja aku harus bertanggung jawab kepada keluarga kecil kami.


Ya meski harus kuakui jika Zoey tidak mempermasalahkannya. Bahkan ia juga memintaku untuk bekerja di perusahaan milik ayahnya, tapi aku tentu menolak.


Aku tidak ingin dianggap sebagai laki-laki yang hanya bisa menumpang hidup kepada pasangannya. Aku ingin berdiri dengan kemampuanku sendiri. Bagiku akan lebih membanggakan jika aku bisa maju karena jerih payahku.


" Jadi kau benar-benar akan meninggalkanku ? " Zoey merajuk saat aku menceritakan rencanaku untuk kembali membuka kantor di rumah kami.


" No honey... Aku tidak meninggalkanmu, aku hanya melanjutkan apa yang sudah kita bangun " jawabku sambil mengelus pipinya.


" Kalau begitu, aku akan ikut bersamamu " sahut Zoey sambil menatapku.


Aku menghela nafas.


" Honey... Bukankah kau ingin membantu ayahmu disini ? " tanyaku.


Zoey menganggukkan kepalanya.


" Tapi aku ingin bersamamu, aku tidak mau jauh darimu " ucap Zoey manja.


Ia menduselkan wajahnya ke dadaku lalu memelukku dengan erat.


Tanganku bergerak mengelus punggungnya. Ku gerakkan tanganku naik turun perlahan, sambil mengecupi pucuk kepalanya.


" Ini tidak akan lama... Percayalah, walaupun kita harus berpisah tetapi kita akan tetap bersama " ucapku.


" Tapi... "


" Zoey, honey... Mungkin ini jalan yang harus kita lalui. Kita tidak bisa, aku tidak bisa terus diam sementara kau sibuk membantu ayahmu di perusahaan. Aku ini laki-laki, suamimu. Dan aku berkewajiban untuk mencari nafkah " ucapku memotong ucapan Zoey.


" Tapi kau pun ikut membantuku menyelesaikan masalah perusahaan. Bagaimanapun, aku tidak bisa melakukannya tanpa bantuanmu " sahut Zoey menatapku dengan tatapan sendu.


Aku merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.


" Hei, aku hanya membantumu sedikit saja. Selebihnya adalah kemampuanmu sendiri. Kau memang berbakat dalam mengurus perusahaan " pujiku sambil tersenyum.


" Aku tidak akan mampu melakukannya tanpa dirimu " ucap Zoey lagi.


" Honey, dengarkan aku. Anggaplah ini perjuangan panjang kita. Menempuh jalan berkelok untuk sampai di akhir cerita kita. Kita akan bahagia bersama keluarga kecil kita " sahutku.


Zoey menundukkan wajahnya, ia menggeleng singkat.


" Aku tidak bisa... Aku tidak ingin terpisah darimu. Bagaimana jika kau bekerja saja bersamaku di perusahaan daddy ? " ungkap Zoey mengutarakan idenya.


" No, honey.... Aku tidak bisa dan aku tidak ingin bergantung pada orang lain "


" Tapi, daddy bukan orang lain. Dia ayahku, ayahmu juga " sebut Zoey.


" Aku tahu itu, dan aku tidak ingin memanfaatkan istri juga ayah mertuaku. Aku ingin membangun impianku sendiri. Dan aku juga ingin menunjukkan pada dunia jika aku bisa. Membuat ayahmu bangga dan benar-benar mempercayakanmu kepadaku " tukasku.


" Oke, kalau itu keinginanmu. Tapi aku juga punya keinginan agar selalu bersamamu. Setelah kondisi perusahaan daddy membaik sepenuhnya, maka aku akan segera kembali bersamamu " tegas Zoey.


" Baiklah, aku setuju. Kita sama-sama berjuang ya ! " seruku sambil mengelus pipinya.


Aku membawa Zoey menuju ranjang tanpa melepaskan pagutan kami. Selanjutnya kami merengkuh kenikmatan bersama-sama. Menghabiskan malam panjang hanya berdua.


...----------------...


Ayah mertuaku tidak keberatan sama sekali saat aku meminta ijin untuk kembali melanjutkan usaha yang telah aku rintis selama ini.


Gurat kesedihan hanya terlihat dari wajah cantik Zoey, istriku. Walaupun Tuan Rick berusaha menenangkan Zoey, tapi aku rasa dia senang dengan kepergianku.


Aku menepiskan rasa yang sempat singgah dalam pikiranku. Mungkin saja dia ingin mengganti waktu yang hilang saat berpisah dengan putri satu-satunya itu dan itu tidak akan terwujud jika aku masih ada disana. Aku mencoba berpikir positif.


Kini aku telah kembali lagi di kota asalku. Membuka kembali usahaku yang beberapa waktu yang lalu terpaksa aku tutup. Meskipun aku merasa ada yang kurang dalam hidupku karena harus berjauhan dengan belahan jiwaku.


Meskipun begitu, kami tak pernah putus berkomunikasi. Aku juga tak merasa kesepian karena ada ibu panti dan adik-adik panti yang selalu menemani.


Hingga kemudian, selama beberapa hari aku tidak bisa menghubungi istri tercintaku. Sebelumnya, ia mengatakan jika ia harus melakukan perjalanan bisnis bersama dengan ayahnya dan juga Jackson. Ya, bersama laki-laki itu karena Jackson merupakan partner bisnis mereka kini.


Ada rasa khawatir menyeruak dalam hatiku, namun aku percaya sepenuhnya kepada istriku.


Karena tak bisa menghubungi Zoey, akhirnya aku putuskan untuk mengunjungi panti dan menginap disana. Di panti aku bisa membunuh rasa sepiku, meskipun tak bisa menghilangkan rasa rinduku kepada Zoey.


Selepas makan malam, aku beserta adik-adik panti bercengkrama di ruang tengah. Setelah puas bersenda gurau, ibu panti menyuruh adik-adik untuk segera tidur karena waktu sudah larut malam.


" Dave, kamu belum tidur nak ? " tanya Bu Linda, ibu panti.


Aku menggeleng pelan.


" Masih memikirkan Zoey ? " tanya Bu Linda lagi, ia sangat paham dengan perasaanku.


Aku hanya tersenyum,


" Aku akan tidur setelah menelpon Zoey. Ibu pergilah tidur " jawabku.


" Baiklah. Ingat jangan tidur terlalu larut ya ! " Bu Linda mengingatkanku kemudian berlalu menuju kamar tidurnya.


Aku mencoba menghubungi ponsel Zoey. Sesaat tidak ada sahutan. Hanya nada dering yang tidak diangkat. Aku kembali mencoba menghubunginya lagi dan kali ini terdengar jawaban.


" Hubby... Kamu dimana ? Aku sudah ada di rumah " ucap Zoey.


Aku mengerjapkan mataku, mencoba menajamkan pendengaranku.


" Di rumah mana, honey ? " tanyaku.


" Tentu saja di rumah kita " jawabnya.


" Kamu di rumah kita ? " tanyaku meminta kejelasan dari ucapannya.


" Tentu saja. Aku baru saja sampai, aku ingin memberi kejutan untukmu tapi justru aku yang terkejut karena tak menemukanmu. Kamu tahu aku sengaja tidak menghubungimu supaya kau terkejut dengan kedatanganku " ceroscos Zoey.


" Sorry, honey ! Aku ada di panti. Aku akan pulang sekarang juga " ucapku


" Ok, I'm waiting for you ! I love you " ucap Zoey sebelum memutus panggilan.


Aku segera menyambar jaketku dan memakainya tergesa. Tak lupa aku pun mengetuk kamar ibu panti untuk berpamitan. Setelahnya, aku segera mengendarai motorku membelah jalanan menuju tempat tinggalku. Rasanya tak sabar untuk segera memeluk istri tercintaku itu.


Sekitar 15 menit kemudian, aku tiba di kediamanku. Akan tetapi aku dikejutkan dengan kobaran api yang telah berkobar melahap sebagian tempat tinggalku.


Astaga, Zoey !