
" Daddy sudah mendapatkan investor yang mau memberikan modal kepada perusahaan kita " ucap Tuan Rick saat kami selesai makan malam.
" Benarkah ? Syukurlah, aku senang mendengarnya " sahut Zoey dengan lega.
" Ya, besok daddy akan menemuinya. Kau mau menemani daddy ? " pinta Tuan Rick.
" Entahlah, dad... Lagi pula, aku baru saja sampai dan aku tidak paham seluk beluk perusahaan... "
" Kau harus belajar mulai dari sekarang. Karena kelak kamulah yang akan menjadi pengganti daddy. Kau tidak keberatan kan Dave jika istrimu ini bekerja membantu daddy ? "
Tuan Rick mengarahkan pandangannya kepadaku.
" Semua terserah Zoey saja, Tuan " jawabku yang masih merasa belum terbiasa untuk memanggil Tuan Rick dengan sebutan daddy.
" Mengapa kau memanggil daddy dengan sebutan Tuan lagi ? " Zoey tak percaya dengan apa yang baru saja aku ucapkan.
" Maaf, honey... Aku hanya belum terbiasa " jawabku beralasan.
" No, kau harus memanggilnya daddy. Kau itu suamiku, apa kata orang nanti jika kau memanggil Tuan kepada ayahku " sahut Zoey
" Sudah, yang diucapkan Dave tidak salah " ucap Tuan Rick menenangkan Zoey.
" Kau harus membiasakan diri memanggilku Daddy, Dave. Kecuali saat kita berada di perusahaan, kita harus profesional " seru Tuan Rick kemudian.
" Baiklah, D Dad... " sahutku.
Setelah selesai makan malam, kami kembali ke kamar. Disana kami membahas langkah apa yang akan diambil untuk mengembalikan perusahaan menjadi stabil. Dan langkah pertama, sepertinya kami harus menerima investasi dari investor untuk menjalankan kembali perusahaan.
Zoey terlihat sudah rapi dengan mengenakan blazer berwarna hitam dipadu rok span selutut dengan high heels. Rambutnya ia biarkan tergerai dihiasi jepitan rambut pada salah satu sisi rambutnya.
" Kau yakin tidak akan ikut bersama kami ? " tanya Zoey.
" Maaf honey... Aku harus mencari tempat untuk membuka kantor kita disini. Kau tahu kan, aku tidak mau mengandalkan ayahmu saja. Aku ingin membangun perusahaanku sendiri " jawabku.
" Aku ingin menemanimu, tapi aku juga harus menemani daddy " ucap Zoey bingung.
" It's ok, honey... Kau temani saja ayahmu, dia lebih membutuhkanmu saat ini " ucapku sambil membelai rambutnya.
" Baiklah, tapi nanti kita makan siang bersama ya ! Aku akan mengirimkan lokasi tempat kita makan nanti. Oh iya, nanti kau pakai saja mobil yang ada di garasi, daddy sudah memberikan ijin padaku tadi " seru Zoey sambil memelukku.
" Aku pergi dulu, ya ! I love you " pamit Zoey sambil mengecup bibirku.
" Love you more " ucapku dengan senyum mengembang.
Aku mengantarkan Zoey menuju pintu depan, dimana Tuan Rick sudah menunggu. Mereka pun segera berlalu. Aku pun segera bersiap untuk pergi.
Aku sudah mengincar beberapa lokasi untuk membuka kantor di kota ini. Aku beruntung, karena masih ada beberapa klien kami yang mempercayai kami dan tidak memutuskan kerja sama. Ya, meskipun itu berarti aku harus sering pulang pergi menemui klien. Tapi itu bukan masalah.
Akhirnya, aku menemukan tempat yang bisa ku sewa tentunya sesuai dengan budget yang kumiliki. Bukan di pusat kota, tapi lokasinya cukup strategis. Saat aku keluar dari tempat yang baru saja akan kusewa, aku melihat seorang pria paruh baya menyebrangi jalan.
Tanpa diduga sama sekali, dari arah lain muncul sebuah mobil dengan kecepatan tinggi dan menabrak pria tersebut. Melihat hal itu, aku segera keluar dari dalam mobil dan berlari ke arahnya.
Pria paruh baya itu mengeluarkan banyak darah di kepalanya. Aku segera meminta orang-orang untuk memasukkannya ke dalam mobilku. Bagaimanapun nyawanya harus segera diselamatkan. Aku yakin pria itu masih bisa bertahan.
Aku membawanya ke rumah sakit terdekat, dan ia langsung diberikan penanganan darurat. Ia masih ditangani oleh dokter. Karena tidak ada yang bisa dihubungi, aku menjaminkan diriku untuknya. Semua aku lakukan agar ia bisa segera mendapatkan penanganan.
Tidak ada tanda pengenal, dompet, bahkan ponsel pun pria tersebut tidak membawanya Hanya ada sebuah kartu nama yang berada di dalam saku jasnya dan aku segera mengambilnya untuk menghubungi nomer yang tertera disana.
Baru saja aku berniat menghubungi nomer tersebut, ponselku berdering dan kulihat istri cantikku yang menghubungi.
" Hubby, kamu ada dimana ? " Zoey bertanya kepadaku.
" Aku di rumah sakit, honey " jawabku.
" Apa kamu sakit ? " tanya Zoey khawatir.
" Tidak, tidak... Bukan aku ! Aku baik-baik saja honey. Tadi aku hanya menolong seseorang yang kecelakaan. Ah, bagaimana pertemuannya sukses ? " aku bertanya kepada Zoey.
" Hem... Ada yang harus aku bicarakan denganmu. Kau bisa menjemputku ? " pinta Zoey.
" Baiklah, aku akan menjemputmu ke perusahaan sekarang " jawabku.
" Ok, aku akan menunggu " sahut Zoey kemudian memutuskan sambungan telpon.
Baru saja aku akan pergi, seorang perawat menghampiriku. Ia menanyakan golongan darahku karena rupanya pria tadi harus segera diberikan transfusi darah, namun golongan darahnya adalah golongan darah AB negatif yang tergolong langka. Beruntung, aku juga memiliki golongan darah tersebut sehingga aku mendonorkan darahku untuknya.
Selesai mendonorkan darah, aku segera pergi dari rumah sakit menuju perusahaan Tuan Rick. Aku sudah memberitahukan nomer ponselku kepada pihak rumah sakit untuk mengabari kabar dari pria paruh baya itu. Entah mengapa, aku begitu peduli dengan pria yang sama sekali tak aku kenal itu. Tapi bagiku, rasa kemanusiaan itu jauh lebih penting dari apapun.
Aku segera menuju perusahaan. Aku yakin Zoey sudah menungguku disana. Aku mengendarai mobil cukup kencang karena aku tidak ingin Zoey menunggu terlalu lama. Sampai akhirnya, aku tiba di perusahaan.
Aku segera menaiki lift untuk menuju kantor tempat ayah mertuaku berada. Aku segera keluar dari lift begitu pintu terbuka. Aku menuju ruangan Tuan Rick dan mengetuk pintu. Sesaat kemudian, sekretaris Tuan Rick membukakan pintu dan mempersilakan aku untuk masuk.
Zoey segera menghampiriku saat melihatku berjalan di belakang sektetaris ayah mertuaku.
" Ah rupanya kau sudah datang. Aku sudah menunggumu sejak tadi. Akhirnya kita bertemu lagi, Dave " ucap seorang pria yang berdiri di samping Tuan Rick.
Ia tersenyum ke arahku, namun bisa kurasakan ada makna lain dari senyumannya itu. Dia adalah Jackskn, mantan tunangan Zoey dulu. Entah bagaimana ceritanya pria itu bisa berada di sini saat ini.
" Dave, perkenalkan ini Tuan Jackson. Dialah orang yang menjadi investor untuk perusahaan kita sekarang. Aku yakin kalian sudah saling mengenal sebelumnya " Tuan Rick memperkenalkan Jackson kepadaku.
Aku mengulurkan tanganku.
" Apa kabar anda Tuan Jack ? " aku berusaha bersikap profesional.
" Kabarku baik, Tuan Dave. Bahkan jauh lebih baik. Sepertinya apa yang terjadi di masa lalu membuatku menjadi orang yang lebih baik " sahut Jackson sambil menjabat tanganku.
Ya, bisa kulihat dari penampilannya jika ia memang jauh lebih baik. Tapi entahlah, aku hanya berharap kehadirannya tidak memberikan sesuatu yang buruk.
Semoga !!