
Aku kembali menatap ke arah Zoey saat Tuan Rick meninggalkanku. Kulihat ia menatap ke arahku lalu tersenyum sampai akhirnya ia kembali mengalihkan pandangannya saat ada seseorang yang mengajaknya kembali berbincang.
Jackson dengan setia menemani Zoey disana. Entahlah, aku merasa jika dia lebih berhak atas Zoey dibanding diriku. Mereka memang terlihat sangat serasi. Sampai-sampai sejak tadi semua orang membicarakan jika mereka harus kembali menjadi pasangan.
Aku merasa semakin rendah diri.
Ya Tuhan... Apakah aku harus meninggalkannya ?
Tidak, pertanyaan yang benar adalah apakah aku sanggup meninggalkannya ?
Aku menuruni tangga menuju pintu keluar gedung. Rasa-rasanya aku harus menenangkan diri terlebih dahulu. Tapi, baru saja aku mencapai pintu, Tuan Kean sudah menungguku disana.
" Maaf Tuan, saya ijin beristirahat sebentar " ucapku meminta ijin kepadanya.
" Beristirahatlah lebih dulu. Aku tahu kau perlu menenangkan dirimu setelah apa yang ayah mertuamu katakan " ucapnya yang membuatku terperangah.
Bagaimana bisa Tuan Kean mengetahuinya ?
" Mengapa kau melihatku seperti itu ? Ah, kau pasti ingin tahu mengapa aku bisa mengetahuinya kan ? " ucapnya menebak jalan pikiranku.
Akhirnya aku dan Tuan Kean berjalan menuju tempat yang sepi. Tempat dimana tidak terlalu banyak orang berlalu-lalang.
" Aku tadi mendengar pembicaraan kalian secara tidak sengaja " ucap Tuan Kean mengawali pembicaraan kami.
Sepertinya ia tidak ingin aku penasaran dari mana ia mengetahuinya.
Aku mengangguk mengerti.
" Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang ? " Tuan Kean bertanya sambil memperhatikanku.
" Entahlah Tuan... Saya tidak tahu harus berbuat apa. Saya sangat mencintai istri saya, tapi saya juga tidak bisa membuatnya terus terjebak bersama saya " jawabku.
" Jadi kau bersedia menuruti permintaan ayah mertuamu ? " tanya Tuan Kean lagi.
Aku menghela nafas panjang.
" Kau bisa meminta bantuan kepada Tuan Max dan ayahku. Aku yakin mereka akan dengan senang hati membantumu " ucap Tuan Kean lagi. Ia memberikan jalan keluar, namun aku tidak ingin menyusahkan orang lain.
" Tidak, Tuan... Saya tidak ingin menyusahkan siapa pun dalam permasalahanku. Biar saya saja yang menyelesaikannya. Lagi pula saya sudah terbiasa bergelut dengan masalah selama ini " aku menolak tawaran Tuan Kean.
Dia menghela nafasnya, lalu memperhatikanku. Mungkin dia berpikir jika aku ini bodoh dan keras kepala. Tapi aku memang tidak ingin menyusahkan siapapun. Biarlah semuanya ku tanggung sendiri.
" Dave... Sebenarnya kau tak perlu sungkan kepada Tuan Max. Tuan Max benar-benar ingin membantumu... "
" Maaf Tuan, saya tahu jika Tuan Max itu orang yang sangat baik. Ia pastinya merasa berhutang budi karena saya sudah menolongnya. Tapi saya tidak ingin menjadi orang yang aji mumpung. Saya bersumpah jika saya tulus menolong Tuan Max. Lagi pula dengan diterima bekerja bersama anda saja, saya sudah merasa terbantu " jelasku.
" Dave, ada hal yang seharusnya kau tahu. Sebenarnya Tuan Max itu adalah... "
" Hubby, rupanya kau disini ? Aku mencarimu sejak tadi " ucap seseorang yang dari suaranya saja aku mengenalnya dengan sangat baik. Itu adalah suara Zoey. Dan ia kini berjalan menuju ke arah aku dan Tuan Kean.
" Nona Zoey... Selamat atas penghargaan yang anda terima " ucap Tuan Kean kepada Zoey.
" Terima kasih, Tuan Kean... " sahut Zoey sambil tersenyum ramah.
" Kalau begitu, saya permisi ! Sepertinya kalian butuh waktu untuk berdua " ucap Tuan Kean kemudian permisi meninggalkan kami.
" Ah, iya Dave... Kau boleh pulang lebih dulu bersama dengan istrimu " seru Tuan Kean sebelum pergi dari hadapanku dan Zoey.
Zoey lantas memelukku dengan erat.
" Zoey, apa yang kau lakukan ? Nanti ada yang melihat kita " ucapku berusaha melepaska pelukannya.
Namun Zoey tak mengindahkan ucapakanku. Ia justru semakin erat memelukku.
" Biarkan begini Dave ! Sejak tadi aku menunggu waktu untuk bisa berdua bersamamu " ucap Zoey sambil menempelkan pipinya di dadaku.
Akhirnya aku pun membalas pelukan Zoey. Tak bisa kupungkiri, jika aku pun sangat menginginkan untuk memeluknya seperti ini.
" Seharusnya yang terus berada di sampingku itu kamu, Dave. Bukan Jack ! " ucap Zoey kesal.
Aku mengelus punggungnya, mencoba menenangkan dirinya.
" Kenapa kita harus menyembunyikan perbikahan kita, Dave. Bukankah lebih baik jika aku mengakuimu sebagai suamiku, jadi tidak akan ada orang yang merendahkanmu " ucap Zoey lagi, kemudian mengangkat wajahnya dan menatapku.
" Tidak apa, honey. Biar saja mereka menganggapku rendah, selama kau tidak berpikir seperti itu, aku tak mengapa. Bagiku yang paling penting adalah kebahagiaanmu " sahutku menatap manik matanya yang terlihat sendu.
" Ah, iya. Selamat atas penghargaan yang telah kau raih. Kau tahu, sejak tadi aku ingin memelukmu dan memberimu ucapan selamat " ucapku mencoba mengalihkan topik bahasan.
" Kalau begitu, sekarang kau harus memberiku hadiah karena sudah mendapatkan penghargaan. Lalu apa yang akan kau berikan padaku ? " tanya Zoey dengan tatapan menggoda.
" Bagaimana kalau ini ? " ucapku kemudian meraup bibir Zoey dan memagutnya dengan lembut.
Bisa kurasakan jika Zoey melingkarkan tangannya di leherku dan ia pun membalas pagutanku. Pagutan yang semula lembut, kini berubah menuntut. Jika diteruskan, mungkin akan terjadi hal yang lebih panas dari ini. Jadi sebisa mungkin aku segera menghentikan kegiatan kami.
" Hei, ada apa ? " tanya Zoey tak terima saat aku melepaskan tautan bibir kami.
" Jangan disini, honey. Terlalu beresiko ! Nanti kita teruskan saja di rumah " jawabku sambil mengelus wajahnya.
" Baiklah, kalau begitu ayo kita pulang ! " sahut Zoey sambil menarik tanganku.
" Tidak, Zoey... Kau harus pulang bersama dengan Jackson dan ayahmu " timpalku.
" Ck, aku tidak mau ! Apa kau tidak marah melihat Jack selalu mengikutiku. Kau tahu, aku sampai harus melarikan diri darinya hanya agar bisa bertemu denganmu. Memangnya dia siapa ? Seharusnya yang selalu bersamaku itu dirimu, karena kau adalah suamiku " papar Zoey.
Aku mengelus wajahnya, lalu mengusap kepalanya.
" Kau pikir, aku tidak kesal ? Aku marah, aku cemburu melihatmu bersamanya. Jika bisa aku ongin menggantikannya untuk bisa selalu bersamamu.Tapi aku tahan karena tak ingin mempermalukanmu. Aku tak ingin orang memandang rendah dirimu hanya karena melihatku sebagai suamimu " jelasku.
" Tapi sampai kapan kita seperti ini ? " tanya Zoey dengan wajah memelas.
" Tunggu sampai aku bisa membuatmu bangga. Sampai aku memiliki kekuatan dan kekuasaan untuk melindungimu. Aku yakin semua akan indah pada waktunya, meskipun kita harus melewati jalan berliku untuk menghadapinya " jawabku mencoba meyakinkan Zoey.
" Baiklah, aku akan selalu menantikan saat itu. Ah iya, ada hal penting yang ingin aku sampaikan padamu " ucap Zoey. Ia terlihat sangat antusias untuk mengatakannya.
" Apa itu ? " aku bertanya dengan penuh rasa ingin tahu.
" Menurutku ini adalah kabar yang sangat baik karena bisa membuat hubungan kita semakin tak terpisahkan " jawab Zoey dengan pandangan mata berbinar.
" Benarkah ? Apa itu honey ? " tanyaku semakin penasaran karena kulihat Zoey begitu bersemangat untuk mengatakannya.
" Dave, sebenarnya aku... "