Way Of Me

Way Of Me
Part 23



Sudah 3 hari Zoey berada di luar kota. Selama itu juga aku banyak berpikir mengenai hubungan kami ke depannya.


Aku sangat yakin dengan perasaannku, akan tetapi aku juga tak ingin egois. Aku ingin istriku itu sukses karena aku tahu jika Zoey memang sangat berbakat.


" Dave... Dave... " suara Tuan Kean membuatku tersadar.


" Kau baik-baik saja ? " tanya Tuan Kean sambil menelisik penampilanku.


" I, iya Tuan... Saya baik-baik saja " jawabku.


" Tapi dari yang kulihat sepertinya kau tidak baik-baik saja " terka Tuan Kean lantas duduk di sebelahku.


" Ada apa ? Apa kau ada masalah dengan istrimu ? " tanyanya lagi.


" Tidak, tidak ada masalah dengan istri saya. Hanya saja... " aku menghentikan ucapanku membuat Tuan Kean menatapku dengan heran.


" Ada masalah dengan mertuamu itu ? " tebak Tuan Kean.


Aku menghembus nafasku dengan kasar. Entahlah, aku tidak tahu apakah aku harus menceritakan masalah ini kepada Tuan Kean atau tidak.


" Ceritakan saja ! Kau tak perlu sungkan. Mungkin saja aku bisa memberimu jalan keluar " ucap Tuan Kean lagi.


" Saat ini, Zoey tengah melakukan pekerjaan terakhirnya di perusahaan. Dia akan meninggalkan perusahaan demi hidup bersamaku " jawab Dave.


" Bukankah itu bagus ? Itu berarti istrimu sangat mencintaimu sehingga ia bersedia meninggalkan semua yang ia miliki hanya agar bisa bersama denganmu " sahut Tuan Kean.


" Mengapa kamu terlihat tidak suka ? " tanya Tuan Kean kemudian.


" Saya sangat bahagia karena istri saya rela meninggalkan semua yang ia miliki hanya untuk hidup bersama dengan saya. Hanya saja, apakah saya bisa membahagiakannya setelah apa yang ia korbankan. Jujur saja, Tuan... Melihat keadaan saya sekarang ini, saya justru pesimis bisa membahagiakannya " jawab Dave apa adanya.


" Apakah selama ini istrimu menuntut banyak hal kepadamu ? " tanya Tuan Kean.


Dave menjawab dengan gelengan kepala.


" Dave, seharusnya kamu bersyukur karena memiliki istri yang sangat mencintaimu bahkan rela kehilangan apa yang ia miliki hanya agar bisa bersamamu " ucap Tuan Kean.


" Saya tahu, Tuan ! Yang saya takutkan, ia akan menyesali keputusannya itu di masa depan " sahut Dave.


" Dave... Percayalah kepada istrimu ! Aku yakin ia sudah memikirkan banyak hal sebelum akhirnya memutuskan hal itu " timpal Tuan Kean.


" Kau tidak perlu khawatir Dave. Aku, ayahku, dan Tuan Max dengan senang hati membantumu " tambah Tuan Kean lagi.


" Baik, Tuan. Terima kasih " ucapku.


Tuan Kean menepuk bahuku lantas meninggalkanku.


Aku masih belum beranjak dari tempatku duduk. Aku melihat ke arah luar dari kaca jendela kedai kopi. Jalanan sudah basah diguyur hujan, sedikit lengang karena orang-orang memilih menepi agar tidak basah kuyup. Nampak pula sebagian orang yang masih berlalu lalang dengan mengenakan payung atau menggunakan jas hujan.


Hari yang cerah bisa berubah menjadi kelabu saat awan mendung tiba dan kemudian akan segera mengeluarkan rintik air yang cepat lambat menjadi deras. Lantas apakah setelahnya, akan datang pelangi menghiasi langit ?


Aku segera kembali ke posisiku setelah ada beberapa pelanggan yang masuk dan memesan kopi.


Baru saja selesai melayani pelanggan, ponselku tiba-tiba berbunyi. Kulihat dari nomer tak dikenal. Sempat ragu untuk mengangkatnya, namun akhirnya aku mengangkat panggilan itu.


Rupanya itu adalah Jackson. Ia mendapatkan nomer ponselku dari Tuan Rick. Jackson memberitahu jika Zoey kini berada di rumah sakit akibat terjatuh dari tangga. Dan saat ini, Tuan Rick tengah bersama dengan Zoey. Ia juga memberitahu jika kemungkinan besar Zoey akan kehilangan bayinya.


Seketika tubuhku merasa lemas, tak bertenaga. Aku baru mengetahui, jika ternyata istriku itu tengah mengandung. Mungkin ini yang dikatakan oleh Zoey mengenai kejutan spesial.


Ya, aku memang terkejut karena mendapat kabar gembira sekaligus kabar menyedihkan.


" Ada apa denganmu, Dave ? " tanya Tuan Kean.


" Tu, Tuan... " ucapku dengan terbata.


Sepertinya Tuan Kean terkejut melihat keadaanku yang nampak seperti orang linglung.


Ia segera meraih ponselku yang terjatuh di lantai.


" Halo... " Tuan Kean meneruskan panggilan.


" Dave, datanglah ke RS xxx di kota A. Zoey dirawat disana " ucap Jack lantas menutup panggilan.


" Tuan... Zoey, dia... Dia jatuh dari tangga dan besar kemungkinan dia kehilangan bayinya " ucapku putus asa.


" Saya, saya harus segera pergi menemuinya. Dia pasti sangat kesakitan sekarang " ucapku panik.


" Dave, tenangkan dirimu ! Kau tidak bisa pergi dalam keadaan panik seperti ini " sahut Tuan Kean.


" Saya harus pergi secepatnya, Tuan ! " ucapku memohon.


" Baiklah, aku akan mengantarkanmu kesana " sahut Tuan Kean.


" Tidak perlu, Tuan ! Saya tidak ingin merepotkan anda. Lagipula, ini urusan pribadi saya " tolakku.


" Jangan menolak Dave ! Aku tidak akan membiarkan terjadi apapun kepadamu " tukas Tuan Kean.


Aku sedikit heran dengan ucapannya, tapi segera kutepiskan. Bagiku yang paling penting saat ini adalah segera menemui Zoey.


" Aku akan meminta sopir untuk mengantarmu ke bandara. Disana, aku juga akan meminta orang untuk menjemput dan mengantarmu ke Rumah Sakit tempat istrimu dirawat " seru Tuan Kean lagi.


" Tapi Tuan... "


" Tidak ada tapi-tapi, Dave. Ini sudah kewajibanku melindungimu " tegasnya.


Kembali aku merasa ada hal aneh dari ucapannya. Namun tak lagi kupikirkan, karena aku harus bergegas.


" Tenangkan dirimu ! Aku akan segera menyusulmu ke kota A " ucap Tuan Kean setelah aku masuk ke dalam mobil.


" Baik, terima kasih atas bantuan anda Tuan " jawabku.


" Berhati-hatilah, tetap waspada " ucap Tuan Kean kepada supir yang akan membawaku ke bandara.


Entah apa maksud dari ucapannya tadi. Mungkin dia hanya khawatir saja dengan keadaanku.


Tak lama, mobil pun melesat membelah jalanan kota menuju bandara. Aku tidak perlu khawatir, karena Tuan Kean sudah menyiapkan semuanya. Sungguh, aku tak tahu lagi bagaimana cara untuk berterima kasih kepadanya atas semua kebaikan yang dia lakukan untukku.


Kini aku telah berada di dalam pesawat menuju ke kota A. Kendati perjalanan hanya memakan waktu satu jam saja. Yang aku rasakan, perjalanan ini terasa begitu lama. Aku hanya berharap semoga Zoey dan juga calon anak dalam kandungannya baik-baik saja.


Ya Tuhan... Tolong, selamatkan istri dan anakku. Biarkan kami bersama selamanya


Aku terus melafalkan doa untuk keselamatan istri dan anakku. Jika saja sejak awal aku tahu jika Zoey tengah mengandung, maka aku akan melarangnya untuk bekerja keras.


Sungguh, aku merasa sangat bersalah dan merasa menjadi suami yang bodoh.


Di tempat lain, seseorang tengah melakukan panggilan.


" Dia sudah berangkat, Tuan " lapor seseorang.


" Bagus. Kerjakan serapi mungkin, usahakan dia tidak akan pernah bisa sampai di Rumah Sakit ! " titahnya.


" Baik, Tuan "


Dan sambungan telpon pun terputus.


Orang tersebut tersenyum licik.


Kau sudah merebut tempatku. Maka akan kupastikan, aku merebut tempatmu. Kau tidak akan pernah bisa bertemu dengan istri dan calon anakmu. Bahkan akan kupastikan jika kau tidak akan bertemu hari esok !