
Pagi itu, Alana turun dari mobil Wim yang mengantarnya ke sekolah dengan perasaan senang, karna sudah berbaikan dengan Alina, dan juga sang ibu.
"Alana tunggu, ambil ini"
"Hmm? Bingkisan? Ah, jangan bilang kalau ini adalah hadiah ulang tahunku? Hari ini kan adalah hari ulang tahunku" tebak Alana tepat sasaran, dan kembali masuk ke dalam mobil.
"Iya benar, itu hadiah ulang tahun untukmu dari ayah. Semoga saja kamu suka dengan apa yang ada di dalamnya"
"Sejak kapan aku tidak suka dengan hadiah ulang tahun yang diberikan oleh ayah dan juga ibu? Kali ini, aku juga pasti akan sangat menyukainya, jadi aya tenang saja"
Wim langsung tersenyum senang mendengar jawaban Alana, yang selalu bisa menghargai apa pun yang diberikan olehnya dan juga Alice, sebagai hadiah ulang tahun.
Jauh berbeda dengan Alina yang selalu saja menolak hadiah yang mereka berikan setiap tahunnya, seolah itu bukanlah sesuatu yang diinginkan olehnya.
Kembali pada keadaan saat ini. Alana yang terlihat antusia, sedang berusaha membuka hadiahnya dengan hati-hati supaya tidak merusak bungkusannya.
Ternyata di dalamnya ada sebuah kamera berwarna merah muda, yang selalu menjadi keinginan Alana untuk bisa memilikinya. Tanpa berkata apa-apa lagi, Alan langsung saja berhambur memeluk tubuh Wim dengan penuh rasa sayang.
"Astaga, apa kamu sesenang itu mendapat sebuah kamera sebagai hadiah ulang tahun?" tanya Wim, terkekeh pelan.
"Tentu saja aku senang, sekali pun bukan kamera, aku pasti akan tetap senang. Tapi kali ini agak berbeda, karna rasa senangku jadi berlipat ganda"
"Berlipat ganda?"
"Jangan berpura-pura tidak tahu ayah. Ayah pasti sengaja membelikanku kamera ini karna sudah tahu, kalau memang sejak lama aku menginginkannya, bukan?"
"Ahahaha. Sepertinya rahasian yang selama ini ayah sembunyikan, sudah ketahuan. Apa kamu tahu, berapa lama ayah harus terus mengamatimu untuk tahu apa yang disukai oleh dirimu?"
"Apa sekarang ayah sedang mengakui kalau ayah adalah seorang penggemar, yang sering mengamati putrinya sendiri?" goda Alana, tersenyum jahil.
"Bisa dibilang begitu"
"Ahahaha, ayah ada-ada saja. Lalu bagaimana dengan hadiah Alina, apa ayah juga sudah menyiapkannya? Atau jangan bilang kalau ayah sudah memberikan hadiah Alina lebih dulu, sebelum memberikan hadiahku?"
Tawa dan senyuman Alana menghilang, saat dilihat sang ayah tidak bisa menjawab pertanyaannya, dan hanya tertunduk dalam diam.
"Apa ayah tidak menyiapkan hadiah untuk Alina? Tapi kenapa, ayah?" tanya Alana terlihat kecewa.
"Kamu kan juga tahu seperti apa sifat adikmu itu, dia tidak pernah mau menerima dan juga menghargai hadiah pemberian ayah dan juga ibumu. Keinginanya dari tahun ke tahun hanya ada satu, yaitu bisa keluar dari kamar dan menjalani kehidupan seperti manusia lainnya"
"Apa tidak bisa ayah mengabulkan keinginan Alina? Tidak perlu sampai menjalani hidup seperti kita, tapi cukup keluar dari kamarnya dan bisa berkeliling rumah sesuka hatinya"
"Tidak bisa Alana. Meskipun Alina adalah keluarga kita, dan dia adalah adik kembarmu, tapi itu semua tidak menutup kenyataan bahwa dirinya adalah seorang vampir yang sangat berbahaya"
"Aku dan ibu percaya kalau Alina mampu mengontrol dirinya, dan tidak akan pernah mencelakai kita semua. Bisakah ayah juga ikut mempercayai Alina?"
"Rasanya sangat sulit, sayang. Apa kamu tahu bagaimana perasaan ayah ketika melihat tubuh Albert yang berubah menjadi mayat karna perbuatan Alina? Saat itu di dalam otak ayah hanya terbayang satu hal, yaitu kamu dan ibumu yang berakhir sama seperti Albert. Ayah sangat takut Alana, ayah hanya ingin sebuah keluarga yang utuh dan normal, tapi kenapa semua itu terasa sangat sulit untuk digapai?" jelas Wim, dengan suara tercekat.
Melihat sosok ayahnya yang tampak begitu tersiksa dan juga penuh akan perasaan bersalah, Alana tidak tega untuk melanjutkan permintaannya.
Dengan lembut, Alana mengulurkan kedua tangannya untuk menggenggam tangan sang ayah. Seolah ingin memberikannya kekuatan untuk tetap kuat menjalani semua kenyataan yang ada dalam keluarga mereka.
"Maafkan Alana ayah. Seharusnya Alana bisa mengerti bagaimana perasaan ayah, dan juga harusnya Alana tidak memaksakan sesuatu yang ayah tidak sukai" Alana terlihat bersalah dan juga menyesal.
"Tidak apa-apa. Ayah mengerti kenapa kamu meminta hap seperti itu, kamu pastinya hanya ingin memberikan apa yang diinginkan oleh saudarimu. Tapi untuk sekarang, ayah belum sanggup"
"Kalau begitu, ayah bisa mempersiapkan diri ayah secara perlahan dan selama yang ayah butuhkan. Aku yakin, Alina pasti bisa sabar menunggu hari itu datang, sama sepertiku"
"Terima kasih, Alana. Kamu memang putri ayah, yang selalu bisa mengerti akan apa pun kondisi ayahmu ini" Wim mengelus puncak kepala Alana dengan sayang.
"Sama-sama ayah. Oh iya, aku tahu hadiah apa yang harus ayah berikan untuk Alina, dan pastinya akan sangat disukai olehnya"
"Apa itu?"
"Waktu kami berbaikan, Alina memintaku satu hal padaku, yaitu untuk memperlihatkan seperti apa keadaan dunia luar. Bagaimana kalau, saat ayah menjemputku sepulang dari sekolah nanti, kita sama-sama pergi mencari pemandangan yang bagus untuk difoto dan berikan pada Alina?" usul Alana antusias.
"Hmm, kedengarannya bagus juga idemu. Tapi ayah tidak bisa janji bisa melakukannya, karna ada banyak sekali pekerjaan yang harus dikerjakan ayah hari ini"
"Baiklah ayah, tidak masalah. Sekarang, ayah tenangkan diri dulu sebelum berangkat kerja. Alana akan turun duluan, karna sebentar lagi jam masuk kelas akan dimulai"
"Baiklah, sampai jumpa nanti"
"Sampai jumpa ayah"
Dengan lemas, Wim menyandarkan tubuhnya ke kursi kemudi lalu memejamkan kedua matanya sejenak, mencoba menetralisirkan perasaan yang tengah berkecamuk di dalam dadanya.
Wim menjadi dilema, antara harus mengikuti permintaan Alana untuk membiarkan Alina keluar dari kamar gadis itu, atau tetap pada pendiriannya untuk mengurung Alina seumur hidupnya.
"Aku harus bagaimana, dan apa yang harus aku lakukan sekarang? Kenapa tuhan tega memberikan malapetaka seberat ini ke dalam keluargaku?" batin Wim menangis.
*****
Alana baru saja duduk dibangkunya, saat seorang wanita paruh baya yang menjabat sebagai wali kelas mereka, berjalan masuk ke dalam kelas bersama dengan seorang pria.
Pria itu berwajah sangat tampan yang mampu membuat semua orang yang ada dikelas Alana menatapnya tanpa berkedip, termaksud Alana sendiri.
"Perkenalkan, ini adalah siswa baru yang akan menjadi teman kalian dan juga akan belajar bersama kalian mulai hari ini. Sebelumnya, silakan perkenalkan dirimu" pinta wali kelas pada pria tampan tersebut.
"Halo semuanya, perkenalkan namaku adalah Luke. Aku siswa pindahan dari luar negeri, yaitu dari Eropa"
"Wah, berarti sama dengan Alana dong. Kan Alana juga berasal dari Eropa, tapi apa negara mereka sama?" bisik salah satu teman kelas Alana, terlihat penasaran.
"Astaga, apa kalian semua tidak bisa tenang sedikit dan biarkan Luke menyelelesaikan perkenalan dirinya?!" marah wali kelas.
"Maaf bu" jawan anak-anak serempak.
"Baiklah, ibu akan maafkan kalian untuk kali ini saja. Silakan lanjutkan sesi perkenalanmu yang sempat tertunda, Luke"
"Aku mempunyai hobbi terhadap segala jenis olahraga, dan senang mengerjakan tugas matematika. Aku rasa cukup itu saja, semoga kita semua bisa berteman baik"
"Terima kasih untuk perkenalan dirinya Luke, kamu boleh duduk dibangku kosong yang ada dibelakang sana"
"Baik bu"
Luke pun berjalan menuju bangku yang di tunjukkan oleh sang wali kelas, dan ternyata bangku itu berada tepat dibelakang bangku yang ditempati oleh Alana.
Baru saja Luke duduk dibangku yang telah resmi menjadi bangku miliknya, saat para murid perempuan tanpa tahu malu sedikit pun segera menghampirinya.
Mereka mulai menanyakan segala sesuatu terkait kehidupan dan diri Luke, termaksud apakah Luke sudah mempunyai pacar atau belum. Alana bahkan harus memajukkan bangkunya sedikit lebih ke depan lagi, untuk menghindari kerumunan tersebut.
"Lihatlah para gadis tidak tahu malu itu, baru juga Luke duduk tapi mereka sudah langsung mengerumuninya seperti semut. Apa kalian tidak lihat, kalau ibu masih ada disini?!"
"Percuma saja bu, mereka tidak pasti bisa akan mau beranjak dari sana meskipun sudah ibu paksa sekuat tenaga" jawab Mike dengan dingin.
"Ya sudah kalau begitu. Tapi tolong suruh mereka kembali ke bangku masing-masing saat guru yang akan mengajar sudah datang yah, karna bisa-bisa ibu juga yang akan kena teguran"
"Baik bu"
Wali kelas Alana pun berjalan keluar dari kelas, tanpa mengomentari sikap para anak didiknya yang tidak mempunyai sopan satun sama sekali.
Berbeda dengan para gadis lain, Alana hanya tetap diam di bangkunya dan mulai membuka buku pelajaran dengan tenang. Meskipun Alana berusaha keras untuk fokus, tapi suara ribut itu langsung membuat konsentrasinya buyar seketika.
"Alana, bagaimana kalau kamu pindah saja duduknya disampingku? Kebetulan teman sebangkuku tidak masuk sekolah hari ini" tawar Mike, yang melihat Alana kesusahan.
"Ah, baiklah. Terima kasih mike"
Alana sedang membereskan buku-buku pelajarannya dan memasukkannya kembali ke dalam tas, ketika sebuah tangan menahan kursinya untuk tidak bisa digerakkan.
"Mau kemana?" tanya Luke, ternyata dialah orang yang menahan kursi Alana.
"Duduk di bangku depan, soalnya disini anak lainnya lagi pengen kenalan sama kamu. Jadi untuk sementara, aku pindah ke depan dulu sampai mereka selesai"
"Kenapa harus kamu yang pindah? Kan ini adalah tempat dudukmu, dan yang harusnya pergi dari sini kan mereka, bukan kamu"
"Tapi mereka mau kenalan sama kamu, masa diusir seperti itu? Lagian aku tidak masalah harus pindah sementara"
"Aku yang keberatan, kamu terpaksa harus pindah juga kan karna aku. Jadi, aku minta tolong sama kalian semua, untuk kembali ke tempat kalian masing-masing. Perkenalannya bisa kita lanjutkan nanti saat jam istirahat saja kan?"
Mendengar permintaan Luke, para gadis pun mau tidak mau hanya bisa menurutiny dan kembali ke tempat mereka. Namun tak sedikit yang juga terlihat sempat mencibir ke arah pria itu.
Bahkan Alana pun menjadi bahan lampiasan mereka. Bangku gadis itu ditendang beberapa kali oleh teman-teman sekelasnya dengan perasaan kesal, namun Alana enggan untuk mempermasalahkannya.
Bersambung...