
Alana yang semalaman tak bisa tidur dengan lelap karna terus memikirkan seperti apa reaksi Alina yang ditinggalkannya kemarin, memilih untuk berbicara dengan adiknya itu di pagi hari sebelum berangkat ke sekolah.
Dengan perasaan resah dan juga bimbang, Alana berdiri di depan kamar Alina namun tak juga kunjung mengetuknya. Setelah beberapa saat berkutat dengan pikirannya, Alana pun memilih untuk pergi.
Belum juga ada dua langkah Alana berjalan menjauh dari kamar Alina, sebuah suara yang tiba-tiba saja masuk ke dalam gendang telinganya, membuat langkah Alana harus terhenti saat itu juga.
"Kenapa kamu malah berjalaj pergi, setelah menghabiskan waktumu cukup lama di depan pintu kamarku?" tanya Alina dari dalam kamar, yang ternyata mengetahui kehadiran saudara kembarnya.
"Alina? Bagaimana bisa kamu tahu kalau ada aku di depan pintu kamarmu? Apa tanpa sepengetahuanku, ibu melengkapi kamarmu dengan kamera cctv?"
"Mana ada yang seperti itu di dalam kamarku, bahkan untuk menonton acara televisi seperti yang biasa ditonton olehmu saja, aku tidak pernah bisa"
"Ah, maafkan aku. Aku pikir, mungkin saja hal seperti itu bisa ada di dalam kamarmu, karna kamu sering sekali tepat dalam menebak siapa yang ada di dekat kamarmu" ucap Alana menjelaskan.
"Yah, itu mungkin bisa dibilang adalah suatu kelebihan yang ku dapatkan saat terkurung di dalam ruangan ini selama bertahun-tahun. Meski tidak seluarbiasa dirimu, setidaknya itu bisa menjadi kebanggaanku tersendiri"
"Syukurlah kalau begitu"
"Iya. Lalu bagaimana denganmu, apa yang ingin kamu lakukan dengan berdiri selama itu di depan kamarku tadi?"
"Benar juga, aku hampir saja lupa kalau bukan diingatkan olehmu. Sebenarnya, aku ingin meminta maaf padamu atas kejadian kemarin saat aku pergi begitu saja meninggalkanmu sendirian dengan ibu di rumah" jawab Alana dengan nada suara yang agak canggung.
Setelah jawaban yang diberikan oleh Alana, entah mengapa Alina tak langsung bersuara lagi seperti sebelumnya dari dalam, seolah gadis itu sedang memikirkan jawaban atau respon seperti apa yang harus diberikannya pada Alana.
Sedang Alana yang merasa bersalah, menjadi semakin bersalah karna berpikir bahwa Alina berdiam diri dengan sengaja, karna memang memiliki kekecewaan dihatinya.
"Jadi, sedari tadi kamu membuang waktumu sebanyak itu, hanya untuk mengatakan maaf pada atas kejadian kemarin?" tanya Alina pada akhirnya bersuara juga.
"Iya. Aku sungguh merasa bersalah padamu Alina, padahal kemarin aku sudah berjanji untuk menemanimu seharian, dan tidak akan pergi kemana-mana. Tapi pada akhirnya, aku terpaksa harus pergi dan mengingkarinya"
"Astaga Alana, aku pikirnya ada apa sampai kamu bertingkah seperti itu. Padahal hanya karna hal sepele saja, harusnya kamu tidak perlu bereaksi berlebihan"
"Jadi kamu tidak marah sama sekali padaku dan kecewa atau semacamnya?" tanya Alana, merasa tak percaya.
"Tentu saja tidak Alana, karna ini kan baru pertama kalinya kamu mengingkari janjimu. Tapi kalau kali berikutnya diingkari lagi, bisa saja aku akan kecewa padamu"
"Aku janji, tidak akan mengingkari janjiku lagi seperti kemarin. Jadi kamu tenang saja, dan tidak usah merasa khawatir, oke?"
"Terima kasih Alana. Oh iya, jam berapa hari ini kamu akan pulang dari sekolah? Aku ingin bermain kartu bersamamu, sudah lama sekali dari terakhir kali kita memainkannya"
Alana yang mendengar pertanyaan dan juga keinginan Alina, sontak saja langsung terdiam membisu. Bukannya tidak ingin melakukan hal itu bersama Alina, tapi hari ini Alana telah mempunyai kegiatan lain yang tidak bisa dibatalkan.
Hari ini adalah hari yang sudah cukup lama dinantikan oleh Alana, yaitu hari dimana ia bersama semua murid dan para guru di sekolahnya, akan mengurus berbagai macam hal untuk melakukan kegiatan karyawisata.
Karyawisata kali ini yang akan diadakan dalam seminggu lagi, bertempat di sebuah penginapan yang letaknya dekat dengan sebuah pantai dan juga objek wisata lainnya.
Alana yang baru pertama kali bisa mengikuti karyawisata di tahun ini, karna tahun yang sebelumnya tidak bisa ikut dikarenakan harus mewakili sekolahnya dalam sebuah lomba, tentu saja lebih bersemangat dari semua murid lainnya.
"Ah, iya Alina. Aku masih ada disini kok, maaf tadi aku sempat terdiam sesaat karna sedang memikirkan sesuatu, yang berkaitan dengan sekolahku"
"Memikirkam sesuatu yang lain? Memangnya apa itu, apa lebih penting dariku? Kalau kamu memang tidak bisa fokus bicara dengarku sekarang, sebaiknya kita bicara lain kali saja"
"Bukan begitu Alina, hanya saja hal ini juga sama pentingnya bagiku. Hari ini sepulang sekolah nanti, aku dan semua murid lainnya, diharuskan untuk mengurus segala sesuatu yang berkaitan dengan karyawisata kami nanti" jelas Alana, berharap Alina bersedia mengerti akan keadaannya.
"Karyawisata? Bukannya tahun lalu kamu tidak mengikuti karyawisata yang diadakan oleh sekolahmu, kenapa tahun ini kamu juga ingin ikut pergi?"
"Tahun lalu aku memang tidak mengikutinya karna ada halangan, harus mengikuti lomba yang diadakan pada saat yang sama dengan karyawisata. Tapi kan tahun ini berbeda, aku tidak mengikuti lomba atau pun kegiatan penting lainnya, jadi aku memutuskan untuk ikut karyawisata"
Hening! Itulah suasana yang tercipta diantara kedua kakak beradik itu, setelah Alana selesai menjelaskan keinginannya untuk mengikuti karyawisata tahun ini.
Entah mengapa, ada perasaan tak suka dalam hati Alina saat mendengarnya. Ingin rasanya membujuk Alana untuk membatalkan semua keinginannya itu, dan tetap berada di rumah saat karyawisata sedang berlangsung.
Tapi Alina tahu, itu tidak akan mungkin bisa dituruti dengan mudah oleh saudaranya. Meskipun sudah memutar otaknya untuk menemukan ide yang sekiranya dapat dipakai untuk menahan Alana, Alina pada akhirnya harus menyerah juga.
"Kapan? Kapan karyawisata itu akan diadakan oleh pihak sekolahmu?" tanya Alina, mau tak mau merasa penasaran.
"Semiggu lagi. Bukannya itu waktu yang sudah sangat dekat kan? Hatiku bahkan selalu merasa tidak sabaran, tiap kali terpikir akan hal itu"
"Yah, memang sudah sangat dekat untukmu. Tapi bagiku, itu waktu yang lebih dari cukup untuk bisa menyabotasenya dengan mulus" gumam Alina pelan.
"Apa katamu barusan Alina? Aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas karna suaramu terlalu kecil. Apa ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan padaku?"
"Tidak ada Alana, tadi aku hanya sedang berbicara pada diriku sendiri, jadi tidak usah kamu pikirkan. Oh iya, bukannya sekarang sudah waktunya untukmu berangkat ke sekolah yah?"
Mendengar perkataan Alina, Alana pun segera mengalihkan tatapannya pada jam yang melingkar pada pergelangan tangannya. Dan benar saja, tinggal setengah jam lagi Alana akan sukses terlambat ke sekolahnya.
Ketika Alana sedang terkejut, gadis itu malah melihat pemandangan yang sama konyolnya, yaitu sang ayah yang juga terlambat bangun untuk pergi kerja.
"Ya ampun Alana, maafkan ayah. Ayah tak tahu kalau akan terlambat bangun sesiang ini untuk mengantarmu ke sekolah. Bagaimana kalau kita berangkat sekarang?" sapa Wim, merasa bersalah.
"Tidak apa ayah, aku juga yang salah karna tidak membangunkan ayah tadi. Aku bahkan tidak sadar sudah hampir terlambat, kalau bukan Alina yang mengingatkan"
"Yah, baguslah kalau begitu bukan ayah saja yang salah. Ayah akan pergi ke ruang kerja untuk mengambil beberapa barang, kamu tunggu saja di dalam mobil" pinta Wim berlalu pergi dari sana.
"Sudah mau pergi?" tanya Alina, kembali bersuara dari dalam kamarnya.
"Iya, ayah juga sudah siap"
Kalau begitu hati-hati di jalan, dan kembali lagi dalam keadaan selamat tanpa kurang suatu apa pun. Semoga urusanmu mengenai karyawisata berjalan lancar"
"Terima kasih banyak Alina, kamu memang saudara terbaik yang ku punya. Bye!" pamit Alana, lalu berjalan keluar dari rumah.
Bersambung...