
Alina yang terkurung dalam kamarnya selama belasan tahun, untuk pertama kalinya berada dengan bebas dari ruangan tersebut.
Gadis itu memandang sekelilingnya dengan tatapan penuh rasa ingin tahu. Meskipun saat dirinya kecil pernah keluar sekali dari kamar, tapi rasanya jauh berbeda dengan kali ini.
Karna sekarang, Alina keluar dari dalam sana dengan terencana dan juga sudah mendapat ijin dari Alice.
"Ada apa Alina? Kenapa kamu tiba-tiba diam seperti itu, apa ada sesuatu yang salah? Atau kamu merasa kurang nyaman diluar dan ingin kembali masuk ke dalam kamarmu lagi?"
"Tidak bu, Alina baik-baik saja. Alina sempat terdiam beberapa saat tadi, karna sedikit merasa tak percaya akhirnya bisa diijinkan untuk keluar dari kamar. Rasanya seperti aku sedang bermimpi, terima kasih yah bu" ucap Alina berhampur ke dalam pelukan Alice.
Alice yang biasanya jarang melakukan kontak fisik secara berlebihan dengan Alina, menjadi sedikit terkejut dan terdiam sesaat ketika mendapat pelukan dari sang putri bungsunya.
Tapi demi menjaga perasaan bahagian gadis itu, Alice berusaha menutupi perasaan takut serta cemasnya, dengan cara berpura-pura bersiap seperti biasa.
"Iya sama-sama nak, ibu ikut senang kalau tahu kamu juga senang. Tapi kamu harus tetap ingat, jangan terlalu lama berada diluar, karna sebentar lagi ayahmu akan pulang"
"Iya bu, Alina mengerti"
"Anak pintar. Apa kamu ingin ibu temani untuk pergi mengelilingi rumah, serta melihat-lihat isinya? Kamu juga bisa melihat kamar ibu dan juga kakakmu" ajak Alice bersemangat.
"Tidak perlu repot-repot bu, Alina juga bisa melakukannya sendiri. Jadi ibu santai saja disini, dan nikmati teh hangatnya. Biar Alina pergi sendiri, oke?"
"Ba_baiklah. Tapi kamu janji harus hati-hati, jangan sampai kelihatan oleh Alana atau pun oleh teman-temannya"
"Iya bu, aku janji"
Meskipun cemas dan merasa takut, namun Alice mencoba untuk memberikan membuat dirinya untuk bisa percaya pada ucapan Alina. Apalagi, gadis itu sekarang sudah dewasa dan bukannya seorang anak kecil lagi.
Alice yakin, Alina tidak mungkin mengulangi kesalahan yang dulu sempat diperbuatnya di masa lalu. Malihat dari punggung anaknya yang menjauh dengan langkah anggunnya, Alice menjadi semakin percaya diri dengan tindakannya mengeluarkan Alina.
Di ruang tamu, tempat Alana dan yang lainnya sedang fokus belajar:
"Bagaimana dengan soal ini Alana? Aku rasa kurang memahaminya, karna bersangkutan dengan bahasa indonesia yang baku, sedang aku bukan orang asli indonesia" tanya Luke, ketika menemukan kesulitan.
"Tidak apa Luke, itu sangat wajar terjadi. Aku juga dulu awalnya seperti dirimu, sangat sulit memahaminya. Tapi setelah belajar secara perlahan-lahan, akhirnya aku bisa menguasai pelajaran itu dengan baik"
"Wah, berarti rumor yang dibicarakan oleh anak-anak di sekolahan kita itu benar dong"
"Rumor apa?"
"Rumor kalau kamu itu adalah murid yang paling pintar di sekolah kita, karna menguasai semua mata pelajaran. Katanya, nilai-nilaimu juga selalu mendapat nilai sempurna, dan tidak ada sedikit pun cacatnya"
"Ya ampun, rumor dari mana lagi yang telah kamu dengar itu? Mereka sepertinya terlalu melebih-lebihkan cerita sebenarnya, aku tidak sesempurna itu dalam dunia persekolahan kita Luke" bantah Alana, terlihat malu.
"Tapi menurutku, rumor itu sama sekali tidak terlalu berlebihan deh. Karna kamu memang terlihat sangat sempurna dimataku, dan pasti ini bukan kali pertama kamu mendengar pujian semacam itu kan?"
Blush!
Seketika itu juga wajah Alana yang putih mulus berubah warnanya menjadi semerah tomat masak karna tersipu malu.
Bagaimana wajah Alana tidak bereaksi seperti itu, Luke yang tampan itu sedang menatapnya dengan jarak yang sangat dekat dan juga dengan senyuman yang mungkin bisa membuat para wanita meleleh saat melihatnya.
Sedang Mike dan Nadira yang juga berada disitu, langsung menunjukkan ekspresi jijik dengan berpura-pura muntah saat mendengar gombalan Luke.
"A_apaan sih Luke, kamu lagi-lagi mengatakan sesuatu yang bisa membuat orang salah paham! Sebaiknya, kamu tida melakukannya lagi lain kali"
"Loh, kenapa? Apa kamu tidak suka? Aku kan hanya mengatakan apa yang sebenarnya ada di dalam hati dan juga pikiranku saja tentang dirimu, masa begitu tidak boleh?"
"Bukannya tidak boleh, Luke. Hanya saja aku agak risih mendengarnya, dan orang juga bisa salah paham padamu dan juga padaku. Jadi alangkah lebih baiknya, kalau kamu tidak lagi mengatakan hal-hal seperti itu"
"Hahahaha, hahahaha, maka tuh! Tau rasa kan, ditolak sama Alana? Siapa suruh sok-sok kegantengan, pake acara gombalin Alana lagi. Basi banget sih cara pendekatanmu!" ejek Mike, senang melihat Luke ditolak.
"Gimana, gimana, tadi Mike?"
"Kamyu, terlihot, sempyurna, dimatoko kyok Alana. Dan puastinya, ini byukan, pertamo kalinyo, kamyu, mendengor, pyuji-pyujian ini khan?!" ucap Mike, menirukan perkataan Luke dengan gaya yang gemulai.
"Hahahaha! Hahahaha! Aduh, perutku sakit! Jujur yah, ini tuh pertama kalinya aku sejijik ini mendengar kata-kata gombalan dari pria yang menyukai Alana. Sampai buluk kudukku rasanya ingin merinding disko!" timpal Nadira tertawa heboh.
"Dasar manusia-manusia tulang sirik! Kenapa sih, Alana yang cantik seperti malaikat bisa punya teman segila mereka berdua? Mukanya sih oke-oke saja, tapi otaknya kayak habis diserempet ban truk. Kemiringannya terlalu kelewat batas!"
"Apa kamu bilang barusan, otak kita miring? Jadi maksudmu, aku dan juga Nadira gila begitu? Wah! Ini nih, anak yang perlu diberi sedikit pelajaran"
"Hajar dia, Mike!"
Seketika itu juga, ruanga tamu rumah Alana yang awalnya bersuasana tenang dan damai layaknya sedang dipakai untuk acara belajar bersama yang normal, berubah menjadi ajang bergulat Luke dan juga Mike.
Disamping kedua pria itu, Nadira yang juga bersorak untuk memberikan semangat pada Mike, tak kalah hebohnya, sampai membuat Alana pusinh sendiri.
"Ya tuhan, apa yang harus aku lakukan dengan ketiga makhluk liar yang menjelma menjadi manusia ini? Harusnya aku berbaik hati, dan mengembalikan mereka ke habitat masing-masing? Berikan petunjukmu tuhan" ucap Alana dalam hati.
Saat masih diam memandangi tingkah super aneh milik ketiga temannya itu, tatapan Alana tanpa sengaja teralih pada pintu ruang tengah yang menyambungkan antara ruang tamu dan jalan menuju ke kamarnya.
Disana, Alana seperti melihat ada sesosok bayangan orang yang secara diam-diam sedang ikut memperhatikan keempatnya, dan sosok itu terlihat memiliki postur seperti Alana.
Dengan penasaran, Alana berjalan mendekat ke arah bayangan yang tertutup oleh kain pintu itu secara perlahan. Tapi ketika dibuka, Alana tidak menemukan ada siapa pun disana.
"DOR!"
"Astaga! Nadira, kamu kenapa bikin kaget aku sih, kalau aku jantungan bagaimana? Mau kamu tanggung jawab?!" marah Alana, pada Nadira yang mengkangetnya barusan.
"Hehehe, maaf. Habisnya kamu lagi apa sih sendirian disini, mana tadi aku lihat jalanmu juga pake mengendap-endap segala. Ada apa sih, ada yang lagi kamu cari yah?"
"Tidak ada. Aku tadi cuman melihat seperti ada seseorang yang berdiri dibalik kain pintu ini, dan sedang memperhatikan kita berempat secara diam-diam"
"Hah? Yang benar kamu? Jangan bikin aku takut dong! Atau mungkin yang kamu lihat itu, sosok bayangan ibumu sendiri. Kan bisa saja dia merasa penasaran dengan apa yang kita lakukan, makanya datang mengintip secara diam-diam"
"Aku rasa bukan ibuku deh. Soalnya, postur tubuhnya tidak mirip dengan ibuku"
"Lalu siapa dong?"
"Tidak. Tidak mungkin dia kan? Dia mana bisa tiba-tiba berada di luar kamarnya, kan ibu selalu menguncinya setiap saat. Ayah juga sudah melarang ibu demga tegas, untuk tidak mengeluarkannya dari sana. Jadi yang aku lihat barusan tidak mungkin dia!"
"Alana? Alana, apa kamu bisa mendengarku? Ya ampun, apa yang suda terjadi padanya sekarang. Alana! Hei!"
"Ah, iya. Ada apa Nadira?"
"Ada apa? Harusnya aku yang bertanya begitu padamu, ada apa sampai kamu tiba-tiba saja terdiam dan melamun seperti itu?"
"Aku melamun yah barusan? Maaf, aku tidak sadar sama sekalk kalau sedamg melamun"
"Sudahlah, lupakan saja. Lebih baik sekarang kita lanjutkan lagi belajarnya, Luke dan Mike juga sudah kembali tenang" ajak Nadira.
"Iya, ayo kita belajar lagi"
Bersambung....