
Pada malam hari, setelah Alana mengantar kepergian Luke bersama Mike dan juga Nadira, gadis itu pun langsung menuju ke arah kamar kembarannya.
Sebenarnya Alana merasa sangat ingin berjalan ke arah kamarnya sendiri, untuk segera beristirahat. Entah mengapa, badan Alana terasa sangat lelah.
Mungkin karna sejak pagi ia sudah mulai sibuk mengerjakan pekerjaan rumah sendiri, dan kemudian dilanjutkan dengan acara belajar bersama hingga malam.
Tapi demi Alina yang sudah memintanya datang, setelah teman-temannya pergi karna ada sesuatu yang ingin dibicarakannya, mau tidak mau Alana harus datang.
Tok..Tok..Tok..
Alana mengetuk pintu kamar Alina beberapa kali dengan perlahan, untuk menandakan kehadiran dirinya disana.
"Alana? Kamu kah itu?" tanya Alina dari dalam kamar, dengan suara riang.
"Iya ini aku Alina. Aku harap kamu tidak sedang tidur, saat aku mengetuk pintu tadi, karna aku tidak ingin mengganggu waktu istirahatmu"
"Kamu tidak mengganggu sama sekali Alana, karna aku juga belum tidur. Aku sedari tadi terus menunggu kedatanganmu, apa semua temanmu sudah pulang?"
"Iya, mereka badu saja pulang. Aku harap kamu tidak marah karna menunggu terlalu lama, soalnya teman-temanku agak sedikit banyak tingkahnya tadi" ucap Alana sambil tertawa kecil, mengingat tingkah lucu ketiga orang itu.
"Hmm, begitu rupanya. Dari suaramu, kamu sepertinya sangat bahagia sekali menikmati setiap waktu yang kamu habiskan bersama dengan mereka yah"
"Eh, memangnya kedengaran seperti itu? Aku juga tidak sadar kalau suaraku terdengar sangat senang, tapi aku juga bahagia saat menghabiskan waktuku bersamamu, Alina"
Entah mengapa, Alana merasa ada yang salah dari nada bicara Alina setelah dirinya bicara tentang tingkah ketiga temannya.
Suara kembarannya yang awalnya terdengar sangat riang, tiba-tiba berubah menjadi suram dan juga sinis secara bersamaan, membuat Alana merasa tak nyaman.
"Yang benar? Tapi kenapa sekaranh kamu malah sangat jaranh berada di depan kamar ini lagi, untuk bercerita selama berjam-jam denganku? Apa posisiku sudah digantikan oleh mereka bertiga?"
"Ka_kamu bicara apa, Alina? Siapa yang akan mengantikan siapa coba, kamu itu saudara kembarku, mana bisa ku gantikan dengan orang-orang yang baru ku kenal selama satu atau dua tahun di hidupku"
"Yah mungkin saja. Apalagi aku yang adalah saudara kembarmu ini, hanya bisa terkurung seumur hidupnya di dalam kamar, sedangkan ketiga orang itu, selalu berada bersama denganmu diluar sana setiap saat"
"Alina, mungkin apa yang kamu katakan barusan ada benarnya. Tapi sebanyak apa pun waktu yang ku habiskan dengan mereka, tidak akan bisa membuatku mengantikan dirimu dengan mereka. Kamu adalah kamu, yang berharga bagiku, sedang mereka adalah mereka. Jadi jangan coba berpikir yang tidak-tidak!" jelas Alana, sedikit tersinggung.
"Maaf Alana. Hanya saja, aku merasa waktu milikmu yang kamu habiskan denganku, semakin kurang. Itulah mengapa aku jadinya berpikiran aneh" jawab Alina dengan suara yang terdengar seperti sedang menangis.
"Alina? Kamu menangis? Astaga, apa aku terlalu kasar tadi? Aku sama sekali tidak bermaksud kasar, aku hanya merasa sedikit kecewa karna kamu mengira aku akan melakukan hal seperti itu"
"Tidak Alana, aku menangis bukan karna merasa sedih dengan ucapanmu. Sebaliknya, aku merasa sangat bahagia, karna ternyata pemikiranku tadi salah"
"Astaga, aku pikir kamu menangis kenapa. Sudah jangan menangis lagi Alina, aku janji akan lebih banyak meluangkan waktuku untuk bisa bersama denganmu. Oke?"
"Benarkah? Kamu tidak hanya sekedar ingin membuatku bahagia sesaat kan, tapi kamu bersungguh-sungguh bukan?"
"Iya Alina, aku bersungguh-sungguh. Kalau tidak percaya, kamu bisa memegang janjiku ini mulai dari sekarang" jawab Alana yakin.
"Baiklah, aku akan memegang janjimu. Kalau begitu, apa mulai besok kamu juga akan berhenti pergi sekolah dan tinggal seharian terus di rumah bersama denganku?"
Mendengar pertanyaan Alina, Alana secara spontan langsung mengerutkan keningnya karna merasa heran.
"Bukan seperti itu yang aku maksudkan tadi Alina, aku tidak mungkin berhenti sekolah hanya karna ingin menghabiskan waktu lebih banyak denganmu"
"Loh, kenapa? Bukannya kalau kamu berhenti sekolah dan berada di rumah seharian, kita akan lebih banyak menghabiskan waktu bersama? Bukannya itu adalah pilihan yang sangat tepat?" tanya Alina enteng.
"Tidak semudah itu Alina. Aku bersekolah, karna ada hal yang ingin aku raih untuk masa depanku nanti. Kalau aku tidak sekolah lagi, bagaimana caranya aku bisa meraih hal tersebut?"
"Apa yang ingin kamu raih? Apa tidak bisa kamu meraihnya bersamaku di dalam rumah ini saja, dan bukannya di sekolah itu? Kata ibu kamu pintar, jadi tidak perlu sekolah juga tidak masalah kan?"
"Aku memag pintar dalam pelajaran, tapi bukan berarti aku tidak perlu datang sekolah lagi. Pengetahuanku masih sangat sedikit untuk meraih apa yang aku inginkan, Alina. Itulah mengapa aku harus tetap sekolah"
"Alasan! Kamu pasti hanya ingin terlepas dari terkurung bersamaku di rumah ini bukan? Kamu memang lebih bahagia menghabiskan waktumu bersama dengan orang-orang asing yang baru kamu kenal itu!" ucap Alina marah.
"Bukan begitu, Alina. Aku benar-benar butuh untuk pergi ke sekolah, dan kamu tidak akan bisa mengerti itu. Dunia kita terlalu jauh berbeda"
Plok... Plok... Plok..
Suara tepukan tangan yang keras bergema di dalam kamar Alina hingga keluar. Sambil tertawa, Alina terus saja bertepuk tangan ria tanpa henti.
Alana yang berdiri diluar kamar gadis itu, tanpa sadar merasa ngeri saat mendengar suara tawa saudara kembarnya, yang lebih terdengar seperti tawa hantu dari pada tawa seorang manusia
Entah mengapa, tawa itu membawa sebuah perasaan dingin yang bisa membuat semua bulu kuduk di tubuh Alana seketika merinding hebat.
"Hebat kamu Alana, hebat sekali! Setelah sekian lama berbaur dengan manusia lainnya, kamu sudah mulai berani menaruh batasan bahwa dunia kita berbeda. Kalau memang kamu akhirnya ingin membedaan dunia kita berdua, harusnya kamu tidak usah mendekati diriku lagi dulu! Ada baiknya kita tidak dekat lagi, hingga salah satu dari kita mati duluan!"
"Alina, bukan seperti itu maksudku. Hanya saja aku____. Hahhhhh, lupakan. Baiklah aku mengaku salah, maaf karna tadi sudah bicara seperti itu padamu. Aku janji, meskipun masih tetap harus pergi ke sekolah, tapi diluar waktu sekolahku, aku akan berada bersama denganmu di rumah. Bagaimana?"
"Hahahaha. Ini dia! Perkataan inilah yang sudah aku tunggu-tunggu keluar dari dalam mulutmu sejak tadi Alana. Meskipun aku juga menginginkan kamu berhenti sekolah, tapi jika bisa memiliki lebih banyak waktumu di luar dari waktu sekolahmu, aku rasa tidak masalah sama sekali" batin Alina senang.
"Baiklah. Aku memaafkanmu, tapi hanya untuk kali ini saja! Kalau kamu melakukan lagi kesalahan yang sama, aku tidak akan mau memaafkanmu"
"Terima kasih Alina, aku janji tidak akan mengulanginya lagi"
"Umm. Tapi, apa besok kamu akan belajar bersama lagi di rumah kita seperti hari ini?"
"Aku rasa tidak. Memangnya kenapa? Apa kamu juga tidak suka jika aku menghabiskan waktuku dengan belajar bersama ketiga temanku itu?"
"Bisa dibilang begitu"
"Aku mengerti. Mulai besok, aku akan bilang pada Luke dan yang lainnya, bahwa aku berhenti dari kegiatan belajar bersama kami. Apa dengan begini, kamu sudah merasa lebih baikan?"
"Aku rasa sudah. Oh iya, ada satu hal lagi. Aku harap kamu bisa langsung pulang ke rumah, kalau kamu sudah selesai dengan semua pelajaran di sekolahmu. Apa bisa?"
"Akan ku usahakan" jawab Alana terpaksa.
"Terima kasih Alana! Perasaanku kini menjadi sangat bahagia berkat dirimu"
"Sama-sama Alina"
Bersambung...