
Sepuluh menit sudah berlalu sejak bel pulang berbunyi, dan mulai sejak itu Alana juga telah berdiri di gerbang sekolahnya untuk menanti kedatangan Wim yang akan menjemputnya.
Alana bahkan menolak tawaran Mike yang berulang kali mengajaknya pulang bersama menggunakan motor milik pria itu. Alana tak mau membuat ayahnya kecewa dengan harus pulang duluan, apalagi saat ini ponsel Wim tidak bisa dihubungi.
Tiba-tiba dari arah belakang, sebuah motor yang terlihat hampir sama persis dengan motor milik Mike dan hanya beda warna saja, berjalan dengan perlahan mendekat ke arah Alana.
Pip.. Pip.. Pip..
Pria yang mengendarai motor itu, beberapa kali membunyikan klakson hingga membuat Alana terkejut, dan terpaksa harus berbalik untuk melihat siapa orang tersebut.
"Maaf, kamu siapa yah?" tanya Alana bingung, karna sosok pria itu sedang memakai helm yang dilengkapi dengan kaca hitam yang tak tembus pandang.
"Ini aku, Luke" Luke pun menaikkan kaca helm supaya bisa berbicara dengan lebih leluasa pada Alana.
"Oh, hai Luke. Maaf tadi aku tidak mengenali, karna kamu memakai helm yang membuat wajahmu tidak kelihatan"
"Tidak masalah. Kenapa kamu masih berdiri disini, ini kan sudah lewat beberapa menit jam pulang sekolah? Apa kamu menunggu jemputanmu?"
"Iya, aku menunggu ayahku"
"Aku ingat, kamu mempunyai janji kencan dengan ayahmu hari ini bukan?"
"Apa kamu dengan sengaja telah menguping pembicaraan antara aku dan Mike?" tanya Alana curiga.
"Mana mungkin aku begitu. Meskipun aku tidak berniat menguping, tetap saja obrolan kalian akan terdengar olehku. Apa kamu lupa, kalau bangkuku tepat berada dibelakang bangkumu?"
"Benar juga, maaf Luke"
"Santai saja, aku tidak marah. Emm, apa kamu akan menunggu seorang diri disini sampai ayahmu datang?"
"Iya, memangnya ada apa? Jangan bilang, kalau habis ini kamu akan bertanya apa aku tidak takut menunggu sendiri, apalagi semua orang sudah pulang, kan bisa saja ada orang jahat yang datang dan ingin melakukan hal buruk padamu"
"Wah, bagaimana kamu bisa tahu kalau itu semua yang ingin aku katakan?" tanya Luke terlihat kagum.
"Karna sudah banyak pria di sekolah ini yang mengatakan hal serupa seperti itu padaku setiap harinya. Lagipula ini bukan lah pertama kalinya, aku mau tidak mau harus menunggu ayahku datang sedikit lebih lama"
"Kalau begitu, apa aku boleh ikut menunggu bersama denganmu? Karna rasanya aku tidak bisa meninggalkanmu seorang diri disini begitu saja"
"Kamu tidak perlu melakukan hal seperti itu Luke, aku bisa sendiri menunggu ayahku. Jadi sebaiknya kamu melanjutkan perjalananmu lagi, untuk pulang ke rumah"
"Tidak, aku ingin tetap menunggu bersama denganmu disini!"
Luke yang bersikeras untuk tetap menemani Alana, segera memarkirkan motornya di dekat gadis itu, lalu duduk dengan santai diatasnya. Posisi duduknya yang menghadap langsung ke arah Alana, membuat Luke bisa menatap wajah gadis itu sepuas yang diinginkannya.
Alana yang menyadari tatapan Luke terus mengarah padanya, seketika menjadi salah tingkah. Dengan canggung, Alana mengambil ponselnya dari dalam tas dan mencoba untuk menelpon Wim lagi.
"Ayah kemana yah, kenapa dari tadi ditelpon berulang kali tidak ada satu pun yang sempat diangkat. Tidak ada hal buruk yang terjadi pada ayah, bukan?" guman Alana pelan.
Tiba-tiba ponsel Alana bergetar menandakan ada sebuah panggilan masuk. Saat melihat nama sang penelpon, itu ternyata adalah Wim. Seketika wajah Alana berubah menjadi berseri-seri.
"Halo ayah, ayah dimana? Aku juga baru saja keluar dari kelas, aku tidak sabar lagi untuk bertemu ayah dan melakukan apa yang sudah kita bicara pagi tadi"
"Em,, maaf Alana. Tapi sepertinya ayah tidak bisa menjemputmu pulang sekolah siang ini, ayah juga tidak bisa ikut pergi mengambil foto untuk Alina bersamamu. Pekerjaan yang harus ayah kerjakan masih banyak sekali saat ini, bagaimana kalau rencananya kita lakukan dihari lain saja?"
"Ah, ternyata begitu. Kalau memang ayah masih memiliki banyak pekerjaan, tidak apa rencananya ditunda saja dulu. Kebetulan hari ini, aku juga punya jadwal les yang tidak bisa ditinggal" jawab Alana berbohong.
" Kamu tidak sedang berbohongkan pada ayah? Pasti saat ini kamu merasa sangat kecewa pada ayah. Maaf yah, ayah ternyata tidak bisa menepati janji"
"Terima kasih sayang, kamu memang anak ayah yang paling pengertian. Tapi, kamu akan pulang dengan siapa nanti? Apa perlu ayah telponkan Mike, untuk memberi tumpangan padamu?" tawar Wim, kasihan mengingat Alana harus pulang sendiri.
"Tidak perlu ayah. Lagipula Mikenya sudah pulang duluan ke rumah, karna takut ibu akan menunggu lama kedatangannya"
"Lalu, kamu pulang dengan siapa? Apa ayah tinggal pekerjaan ayah sebentar, dan datang menjemputmu?"
"Jangan, jangan ayah. Alana bisalah pulang sendiri, Alana kan bukan anak kecil lagi. Ayah fokus saja mengerjakan pekerjaannya"
"Tapi kamu janji harus hati-hati pulangnya, kalau ada apa-apa di jalan langsung telepon ayah" pesan Wim, terdengar cemas.
"Iya ayah, Alana janji. Bye ayah"
"Bye sayang"
Setelah sambungan telepon berakhir, raut wajah Alana yang tadinya dihiasi oleh seulas senyum manis yang terkesan sangat terpaksa pun perlahan mulai berubah sedih.
Luke yang melihat gadis dihadapannya itu tengah bersedih, tiba-tiba mendapat sebuah ide yang mungkin bisa membuat senyuman dan suasana hati Alana menjadi ceria kembali
Pria itu pun turun dari motornya, kemudian membuka jok motor untuk mengeluarkan sebuah helm warna biru laut dengan motif yang biasanya digemari oleh wanita.
"Hei Alana, tangkap ini!" pinta Luke, sambil melemparkan helm tersebut ke arah Alana.
Untung saja Alana mempunyai gerak refleks yang bagus, sehingga mampu menangkapnya dengan mulus.
"Apa ini? Kenapa tiba-tiba kamu memberikan helm ini padaku?" tanya Alana bingung.
"Tadi dari yang ku dengar, sepertinya ayahmu tidak bisa pergi kencan denganmu hari ini. Bagaimana kalau aku saja yang akan menjadi teman kencanmu, mengantikan ayahmu?"
"Kamu? Menggantikan ayahku, sebagai teman kencanku hari ini? Memangnya kamu tahu kemana tujuanku dan ayahku akan berkencan hari ini?"
"Tidak tahu, tapi kemana pun itu asalkan masih berada dalan bumi, aku pasti akan bisa menemani dan mengatarmu. Apa jawaban itu cukup untuk membuatmu menerima apa yang ku tawarkan barusan?"
Alana tampak berpikir sejenak, mendengar jawaban mengejutkan yang keluar dari mulut Luke. Awalnya Alana mengira pria itu hanya sedang bercanda untuk membuat suasana hatinya menjadi sedikit lebih baik.
Tapi saat melihat wajah dihadapannya itu sama sekali tidak terlihat seperti bercanda, Alana seketika sadar kalau pria itu benaran menawarkan diri untuk pergi berkencan dengannya.
"Sebelum aku menjawabnya, akan ku katakan apa rencana yang akan dilakukan hari ini dan kemana kita akan pergi. Kita akan pergi ke tempat-tempat yang menarik, dengan tujuan untuk mengambil gambar pemandangan yang ada disana"
"Tidak masalah, kebetulan aku juga suka mengambil gambar-gambar pemandangan seperti rencanamu itu. Jadi selain berguna sebagai ojek pribadimu, aku juga bisa jadi tukang foto"
"Ahahaha, dasar! Kalau begitu aku harus menerima tawaranmu, kalau tidak aku sendiri yang akan rugi!" canda Alana, mulai merasa nyaman berada dekat Luke.
"Silakan naik ke motor tuan putri"
Alana pun naik ke atas boncengan Luke, dan memegang erat jaket pria itu. Untung saja, Alana selalu memakai celana pendek dalam roknya, sehingga membuatnya tetap merasa nyaman meskipun harus naik motor besar seperti itu.
Tapi yang anehnya, Luke tak juga kunjung menghidupkan motornya dan segera pergi dari sana. Luke malah menarik kedua tangan Alana, dan menempatkannya untuk melingkar pada pinggangnya.
"Kalau hanya berpegangan pada jaketku, tak sampai hitungan menit kamu bisa-bisa sudah berada dibawah aspal jalan. Jadi kalau tidak ingim hal itu terjadi, sebaiknya berpegangan erat dipinggangku"
"Ah, baiklah. Maafkan aku" jawab Alana panik, dengan wajah yang sudah bersemu merah.
Bersambung..