Twins But Different

Twins But Different
Membujuk Alice



Alice memperhatikan tingkah putri sulungnya yang sedari pagi sudah sibuk membersihkan seluruh ruangan rumah, pada hari liburnya.


Bahkan semua pekerjaan lain juga dikerjakan oleh Alana sekaligus. Sehingga Alice bisa tinggal duduk bersantai dengan tenang, tanpa repot-repot dengan semua pekerjaan yang memang sudah menjadi kegiatan rutinnya setiap hari.


Kini gadis cantik itu sedang terlihat sangat sibuk dengan berbagai macam peralatan dapur untuk memasak makan siang. Sedang Alice, sibuk memperhatikan Alana sambil duduk di depan kamar Alina.


"Ada apa sih Alana, kenapa kamu mendadak jadi kelewat rajin sekali hari ini? Apa karna ada temanmu yang akan datang bertamu ke rumah kita?"


"Kok ibu bisa tahu?"


"Jadi benar, kalau nanti akan ada temanmu yang datanh bertamu kesini? Memangnya siapa mereka, kok tumben kamu ajak kenalan ke rumah?" Alice terlihat senang.


Karna memang Alana tidak pernah mengajak atau memperkenalkan temannya yang lain, selain Mike. Bahkan untuk bercerita tentang kehidupan pertemanannya saja, Alana tidak pernah melakukannya.


Padahal Alice sangat ingin mengetahui lebih jauh tentang kehidupan putri sulungnya itu. Karena berbeda dari Alina yang bisa terus diawasi olehnya, Alana berada diluar seorang diri, dan juga tanpa pengawasan.


Jadi wajar saja jika Alice ingin mencari tahu, apalagi Alana adalah seorang gadis yang sedang tumbuh. Sebagai seorang ibu, Alice harus lebih memperhatikan lingkup pergaulan gadis itu.


"Iya, benar bu. Hari ini ada dua orang lagi teman Alana yang datang bertamu di rumah kita, selain Mike. Mereka datang untuk bisa berlajar bersama"


"Belajar bersama? Setahu ibu bukannya musim ujian di sekolahmu, baru akan dimulai dalam dua minggu lagi? Kenapa kalian sudah belajar bersama saja dari sekarang?" tanya Alice bingung.


"Kami bukan belajar bersama untuk ujian bu. Tapi karna ingin membantu seorang anak yang baru saja pindah di kelas kami, mengejar materi beberapa mata pelajaran yang telah diajarkan sebelum dia pindah"


"Ternyata begitu. Kalau boleh ibu tahu, siapa nama kedua temanmu yang lain itu? Apa ibu boleh berkenalan juga dengan mereka?"


"Tentu saja boleh bu. Mereka berdua bernama Luke dan juga Nadira, kalau yang Nadira itu, adalah sahabat baikku di sekolah. Kalau Luke, dialah si murid barunya" Alana tersenyum senang, melihat tingkah ibunya yang terlihat bahagia.


"Ah, apa itu adalah Luke yang sama, yang sering diceritakan oleh Mike dengan wajah terlihat kesal? Katanya, murid baru itu seperti menyukaimu yah?"


"Me_menyukaiku? Yang benar saja bu, sekali pun dia berasal dari Eropa juga seperti kita, tapi dia belum tentu menyukai diriku. Ibu tidak perlu mendengat cerita aneh yang keluar dari mulut Mike, dia lebih sering menceritakan karangan bebas buatannya sendiri, dari pada bercerita yang sesuai fakta"


"Dia juga berasal dari Eropa? Wah, ibu tidak menyangka kalau ada orang Eropa lain selain kita yang menetap di negara ini. Ibu jadinya tidak sabar untuk bertemu dengan temanmu yang satu itu"


"Alana rasa ada banyak orang dari negara lain yang memutuskan untuk menetap di negara ini, bukan hanya oramg dari bagian Eropa saja. Bagaimana kalau ibu mulai keluar dari rumah sesekali, dan berbaur dengan orang lain juga?"


"Keluar, dan berbaur dengan orang lain? I_ibu rasa, itu bukanlah ide yang baik, mengingat bahwa sudah sangat lama sejak terakhir kali ibu melakukan hal itu"


"Ya ampun ibu, mau sekacau apa pun atau seaneh apa pun cara berbaur ibu, mereka tak akan mempermasalahkannya sama sekali. Dunia saat ini tidak sekaku dunia tempat ibu tumbuh dulu, percaya lah"


"Em, akan ibu pikirkan"


Alana terseyum saat mendengar jawaban Alice. Karna meskipun belum menentukan apa yang menjadi pilihannya, tapi setidaknya Alice berniat untuk memikirkan usul tersebut, dan itu sudah lebih dari cukup bagi Alana.


Tiba-tiba dari arah samping, terdengar suara langkah kaki seseorang yang membuat Alice dan Alana mengalihkan pandangannya ke arah tersebut dengan penasaran.


Ternyata yang muncul adalah sosok Mike, yang datang sambil membawa beberapa tas belanjaan dari supermarket.


"Halo tante, halo Alana"


"Halo juga Mike. Apa yang kamu bawa di tanganmu itu, dan kenapa terlihat ada banyak sekali tas belanjaannya?" tanya Alice semakin penasaran.


"Ini yang sekantong, adalah belanjaan yamg diminta tolong oleh Alana padaku untuk dibeli dan yang satu ini titipan Nadira untuk jatah kerja sama. Yang terakhir, tas belanjaan yang isinya untuk tante" Mike meletakkan satu persatu tas belanjaan ke atas meja makan.


"Untuk tante? Ya ampun, kamu baik sekali Mike. Kamu bahkan lebih perhatian dari anak kandung tante, yang tidak pernah membelikan sesuatu untuk tante dari luar. Terima kasih banyak yah nak"


"Sama-sama tante. Oh iya Alana, mana Nadira dan Luke? Apa mereka masih belum datang juga, ini kan sudah hampir jam janjian kita untuk mulai belajar"


"Sebentar lagi juga mereka datang, jadi kamu tenang saja. Tadi mereka juga sudah sempat mengirimkan pesan padaku, jadi dari pada kamu sibuk memikirkan kedatangan mereka, mending bantu aku menata cemilan dan juga minuman ini di ruang tamu saja"


Dengan malas, Mike mengikuti langkah Alana menuju ke ruang tamu sambil membawa dua tas belanja lain yang adalah milik gadis itu dan juga milik Nadira.


Setelah beres menyusun cemilan ke dalam beberapa toples kaca, dan menuangkan minuman ke dalam 3 gelas kaca besar, sosok Nadira dan Luke juga sampai di depan rumah Alana.


Tanpa membuang waktu lagi, keempat orang itu langsung saja menyibukkan diri dengan belajar bersama. Atau yang lebih tepatnya, hanya Alana, Mike, dan juga Luke yang belajar, sedang Nadira sibuk mengunyah habis cemilan yanb telah tersedia tanpa tahu malu.


*****


Di dalam kamar, Alina yang mendengar berita adanya kedatangan para teman Alana ke rumah, mau tidak mau menjadi penasaran untuk melihat wajah mereka.


Bahkan Mike yang selama ini bertugas untuk berjaga di depan pintu kamarnya saja, tidak pernah dilihat mukanya oleh Alina. Setelah beberapa saat memutar otak, satu-satunya jalan yang Alina dapatkan hanya lah dengan membujuk sang ibu.


Dengan hati-hati, Alina menggoyangkan tali yang ada di dalam kamarnya, yang terhubung langsung dengan sebuah lonceng kecil di luar kamar, untuk memanggil Alice.


"Alina, apa kamu barusan memanggil ibu nak? Apa ada sesuatu yang kamu butuhkan untuk diambilkan oleh ibu?" tanya Alice, dengan sigap mendekati kamar putri bungsunya itu.


"Ibu, dimana Alana?"


"Alana? Alana sekarang sedang berada di ruang tamu bersama dengan teman-teman sekolahnya, untuk belajar bersama. Ada apa, apa kamu ingin ibu memanggilkan Alana untukmu?"


"Tidak usah bu. Alina tidak ingin mengganggu waktu Alana bersama teman-temannya. Alina mencarinya tadi, karna mengira Alana sedang tidak sibuk sekarang"


"Apa kamu merasa kesepian lagi? Mau ibu ambilkan seekor binatang untuk menemani dirimu di dalam sana, sayang? Kebetulan, kemarin Mike membawakan seekor kelinci lagi untuk Alana"


"Aku bosan bermain dengan hewan yang sama terus setiap harinya bu, rasa bosannya sampai aku ingin mengakhiri hidupku sendiri! Coba saja kalau aku yang menjadi Alana, pasti hidupku tidak akan semenyedihkan ini" runtuk Alina, sambil berpura-pura terisak.


"Alina, jangan bicara seperti itu sayang. Kamu harus tetap sabar berada di dalam sana, ibu pasti akan melakukan yang terbaik supaya suatu saat nanti kamu bisa keluar dari kamar ini, dan melihat dunia luar"


"Suatu saat itu kapan bu? Apakah sampai aku menua, dan akhirnya tergeletak mati di dalam sini? Apa ibu ingin seperti itu?"


"Tidak Alina, tentu saja ibu tidak ingin seperti itu. Ibu mohon jangan lagi kamu bicara yang tidak-tidak, katakan lah apa yang bisa ibu lakukan supaya perasaanmu menjadi lebih baik lagi" bujuk Alice.


Mendengar bujukan itu, senyum di bibir Alina mengembang sempurna, karna apa yang di harapkannya dari sang ibu berjalan dengan sempurna.


"A_aku, aku ingin keluar bu"


"Apa, kamu ingin keluar? Alina, tolong jangan meminta hal yang kamu tahu kalau ibu tidak akan bisa mengabulkannya. Ibu bisa berada di posisi sulit, kalau sampai ayahmu tahu"


"Kalau begitu jangan sampai ketahuan oleh ayah dan juga Alana, cukup kita berdua saja yang tahu bu. Aku janji hanya akan berada di luar sebentar saja, lalu masuk kembali ke dalam kamar. Aku mohon bu"


"Kenapa kamu tiba-tiba bertingkah seperti ini Alina? Apa yang membuatmu sangat ingin keluar, hari ini?" tanya Alice, yang masih tetap tak ingin menuruti keinginan Alina.


"Se_sebenarnya, a_aku. Aku penasaran ingin melihat wajah teman-teman Alana secara langsung bu, apa tidak boleh? Aku janji hanya melihat sekilas saja, lalu masuk kembali"


Alice mengusap wajahnya kasar mendengar permintaan Alina. Wanita itu sadar bahwa puti bungsunya saat ini juga memiliki ketertarikan yang sama dengan dirinya, terhadap hidup Alana.


Apalagi Alina adalah kembaran Alana, jadi sudah pasti ketertarikannya jauh lebih besar dibandingkan dengan Alice yang adalah ibu kandung, kedua gadis itu.


Setelah bergulat dengam pikirannya, sambil memastikan bahwa Alana serta teman-teman sekelasnya masih berada di ruang tamu, Alice pun mengambil keputusan nekat kedua untuk Alina dalam hidupnya.


"Baiklah, kamu boleh keluar. Tapi ingat, hanya sebentar saja, karna ini sudah hampir jamnya ayahmu pulang dari bekerja"


"Iya bu, aku janji"


Dengan tangan yang sedikit gemetar, Alice memutar kunci yang tergantung pada pintu kamar Alina, dan membukanya lebar untuk membiarkan gadis itu keluar.


Bersambung....