
Alana baru saja turun dari mobil ayahnya dan sedang berjalan menuju ke arah bangunan yang menjadi tempat lesnya.
Tapi dari kejauhan, Alana melihat sosok gadis yang terasa sangat familiar di ingatannya sedang melambai-lambaikan kedua tanganya dengan riang
"Alana! Akhirnya setelah menunggu selama berhari-hari, kamu datang juga ke tempat les!" sambut Nadira dengan wajah sumrigah.
"Nadira? Kenapa kamu bisa ada di depan tempat lesku, apa yang sedang kamu lakukan disini?" tanya Alana heran.
Pasalnya, sahabatnya itu memang tidak satu tempay les dengan dirinya. Jangankan satu tempat les dengannya, Nadira bahkan tidak mengikuti satu pun les yang diadakan diluar sekolah mereka seperti Alana.
Anehnya lagi, ada Mike dan juga Luke yang berdiri tak jauh dari tempat Nadira berada, sambil menatap Alana dengan senyuman khas keduanya.
"Hai Alana" sapa kedua pria itu bersamaan.
"Kalian berdua juga ada disini? Ada apa sih, kenapa kalian semua bisa ada di depan tempat lesku sih? Jangan bilang, kalau kalian juga ikut les disini?"
"Benar sekali! Dengan begini, kita berempat akan selalu bertemu baik di dalam sekolah, mau pun diluar sekolah sekali pun! Apa kamu punya rencana lain sehabis pulang les?" tanya Nadira antusias.
"Tidak ada. Sepulang les, aku mau langsung pulang ke rumah untuk membantu ibuku menyiapkan makan malam. Memangnya ada apa kamu bertanya?"
"Luke katanya ingin mentraktir kita bertiga karna sudah dengan suka rela, membantunya belajar tentang materi pelajaran yang telah diajarkan sebelum dia masuk ke sekolah kita. Kamu akan ikut kan?"
"Aku tidak bisa"
Hampir saja Alana mengatakan iya pada ajakan Nadira barusan. Karna sebenarnya, ia juga sangat ingin pergi keluar untuk bisa menghabiskan waktunya bersama dengan ketiga temannya itu.
Namun ingatannya kembali teringat akan janji yang sudah terlanjur dikatakannya pada Alina. Maka dengan terpaksa, Alana harus menolak ajakan Nadira.
"Loh, kenapa tidak bisa Alana? Apa diantara kami bertiga ada yang sudah berbuat salah padamu, sehingga membuatmu enggan untuk ikut pergi?" tanya Mike, kelihatan tak rela jika Alana tak ikut pergi.
"Bukan begitu Mike. Aku kan sudah bilang tadi, kalau aku harus membantu ibuku untuk menyiapkan makan malam setelah pulang dari tempat les"
"Tapi bukannya ibumu sudah sering untuk menyiapkan makan malam sendiri yah? Saat aku ikut makan malam di rumahmu, selalu ibumu saja yang menyiapkannya. Kenapa sekarang kamu juga ingin ikut-ikutan?"
"Memangnya ada larangannya yah kalau aku tidak boleh ikutan membantu orang tuaku untuk menyiapkan makan malam? Bukannya itu h yang bagus, sama saja dengan mencari pahala sambil berbakti pada orang tua"
"Hah, iyakan saja deh!" jawab Nadira pasrah.
Luke yang belum kebagian sesi untuk bisa bicara dengan Alana, baru saja membuka mulutnya untuk bicara pada gadis itu, ketika sang guru les menghampiri keempatnya.
Wanita yang terbilang masih cukup muda umurnya, menghampiri mereka untuk segera menyuruh mereka masuk ke dalam, karna les akan dimulai sebentar lagi.
Dengan terpaksa, Luke pun harus menelan kembali ucapan yang sudah berada diujung bibirnya itu, dan mengikuti langkah yang lainnya masuk ke dalam tempat les.
"Hai Alana. Akhirnya kamu datang juga ke tempat les setelah beberapa kali bolos untuk datang les" sapa sang guru.
"Maaf bu. Aku waktu itu punya hal terdesak yang tidak bisa aku tinggalkan, aku janji tidak akan mengulanginya lagi"
"Ah, terima kasih bu" jawab Alana, sambil tersenyum canggung karna merasa sangat bersalah sudah membohongi gurunya.
"Sama-sama Alana. Tapi yang seharusnya bilang terima kasih itu adalah ibu, karna kamu sudah berkerja keras membawa ketiga teman sekelasmu, untuk mau belajar di tempat les ibu. Terima kasih yah, Alana"
"Hahaha, itu bukan apa-apa bu" lagi-lagi hanya jawaban canggung yang bisa diberikan Alana pada wanita itu, karna sebenarnya ketiga orang itu datang bukan karna murni ingin ikut les di tempat itu.
Setelah selesai dengan perbincangan ringan, guru les Alana pun mulai menjadi serius membahas materi dan juga beberapa soal latihan untuk murid-muridnya.
Waktu dua jam yang tidak terlalu panjang, dihabiskan oleh Alana dan yang lainnya untuk serius memperhatikan pembelajaran yanh diberikan hingga selesai.
Meskipun hari itu fokus Alana sedikit tak terfokus dengan baik karna kehadiran Nadira yang tidak bisa diam disampingnya, tapi berada diluar dengan waktu yang singkat bisa membuat perasaan Alana sedikit membaik.
"Apa karna aku sudah terbiasa lebih banyak menghabiskan waktuku diluar rumah, pas sekalinya beberapa hari berada lebih banyak di dalam rumah, membuatku merasa sangat rindu dengan suasan diluar yah?" bantin Alana penasaran.
"Alana sayang, ayo kita pergi!" ajak Nadira tak ingin menyerah begitu saja, sambil merangkul sebelah tangan sahabatnya itu.
"Aku tidak bisa Nadira. Harus berapa kali aku katakan sih padamu, aku harus langsung pulang ke rumah begitu les selesai, karna aku harus menyiapkan makan malam bersama dengan ibuku"
"Aku rasa sekarang kamu tidak perlu lagi melakukannya, karna aku sudah meminta ijin pada om Wim supaya bisa membiarkanmu melewatkan acara berbakti lada orang tuanya untuk hari ini saja. Dan om Wim dengan baik hati, mengijinkannya" jawab Mike tersenyum puas, sambil memperlihatkan riwayat pesan di layar ponselnya dengan ayah Alana.
Alana yang sudah tidak tahu lagi harus memberikan alasan apa, hanya mendengus kesal sambil mengusap wajahnya kasar. Hati gadis iti seketika menjadi bimbang, antara ingin pergi atau tidak.
Dirinya takut jika memilih pergi, nantinya Alina yang kini sedang menunggu kepulangannya di rumah, malah akan kecewa dan berakhir marah padanya.
Tapi jika ia menolak ajakan ketiga temannya itu, Alana tidak tahu kapan lagi bisa mencari waktu yang tepat untuk bisa pergi keluar dan bersenang-senang.
"Nah, sekarang kamu sudah tidak bisa lagi beralasan untuk tidak ikut bukan? Bahkan ayahmu saja sudah memberikan ijin, jadi ayo kita semua pergi bersama sekarang!"
"Yah, Alana? Ikut yah, pliss?" mohon Mike, sambil menunjukkan wajah memelasnya.
"Aku juga sama ingin kamu pergi seperti Nadira dan juga Mike. Jadi aku juga akan memohon, supaya kamu bisa meluangkan waktumu sebentar saja. Aku janji acaranya tidak akan sampai larut malam, bagaimana?" timpal Luke, sama penuh harapnya dengan kedua temannya.
Tanpa menjawab permohonan ketiganya, Alana mulai terlihat sibuk membereskan semua buku dan peralatan tulisnya masuk ke dalam tas dan berjalan pergi dari sana.
Namun saat sampai di pintu keluar, gadis itu kembali menoleh ke arah ketiga orang yanh masih tetap menatapnya dengan penuh harap.
"Apa lagi yang kalian lakukan disitu? Katanya ingin pergi keluar dan mentraktirku makan, kenapa kalian tidak segera keluar?" tanya Alana pura-pura bingung.
"Yes!!!!" seru ketiganya bersamaan, dan berlari menuju ke arah Alana.
Keempat remaja itu pun berjalan menuju ke sebuah cafe yang berada tak jauh dari tempat les, untuk memulai acara bersenang-senang mereka.
Bersambung....