
"Alana, coba lihat kesini!" teriak Luke, sambil mengarahkan kameranya ke arah Alana yang sedang berdiri di pesisir pantai.
Alana yang tidak mengira akan difoto oleh Luke, berbalik dengan tatapan bingung, dan saat itu juga Luke menekan tombol jepret pada kamera.
"Jangan bilang kalau kamu tadi baru saja memfoto diriku?"
"Iya, memangnya kenapa? Apa tidak boleh?" tanya Luke tertawa kecil, sambil menarik keluar hasil fotonya.
"Ya ampun Luke, aku kan belum siap sama sekali! Mukaku pasti kelihatan jelek sekali di foto itu, bukan?"
"Sekalipun jelek difoto, yang penting aslinya tetap cantik kan? Itu yang paling penting, foto kan hanya sebuah media untuk menyimpan kenangan indah, tapi keindahan yang asli adalah kamu"
"Pertama kali melihatmu masuk ke dalam kelas dan juga saat kamu memperkenalkan dirimu, aku pikir kamu adalah seorang pria yang datar dan bicara seadanya. Tapi pada kenyataannya, kamu bisa juga mengatakan sesuatu yang puitis"
"Tunggu, sekarang aku harus bilang apa? Apa aku harus bilang terima kasih, itu pastinya adalah sebuah pujian kan?"
"Terserah sebutan apa yang ingin kamu beri padanya. Coba berikan fotonya padaku, aku ingin melihat hasilnya sejelek apa"
"Eh, tidak boleh! Karna aku yang bekerja keras untuk memfotonya, maka harus akulah yang menjadi orang pertama melihat fotonya"
"Luke, cepat berikan padaku!"
Luke yang memang sengaja ingin menjahili Alana, berusaha menghindar dengan gerakan sesantai mungkin, tapi tetap membuat Alana menjadi kewalahan.
Setelah merasa tidak sanggup lagi, Alana pun menyerah dan kemudian mendudukan dirinya begitu saja diatas pasir pantai yang berwarna putih bersih. Luke yang melihat kesempatan untuk berada di dekat Alana, segera ikut berbaring disamping tepat gadis itu duduk.
"Kenapa berhenti kejarnya? Padahal tadi lagi seru-serunya, kamu malah berhenti tanpa pemberitahuan, dasar curang!"
"Aku cape Luke, aku paling payah kalau sudah urusan olahraga dan melakukan hal-hal berat lainnya. Kalau terlalu dipaksakan, nanti yang ada dadaku sakit, yang lebih parah aku bisa kesulitan bernafas" jelas Alana serius.
"Yang benar? Memangnya kamu punya sakit apa yang diderita saat ini? Maaf yah aku tidak tahu, dan malah mengajakmu lari-larian"
"Aku juga tidak tahu nama penyakitnya apa, dan tidak ingin mencari tahu juga. Karna aku rasa selama aktifitas yang ku lakukan tidak terlalu berlebihan, maka efeknya juga tidak akan muncul"
"Em, tapi aku rasa lebih baik diperiksakan, supaya kamu bisa tahu pasti sakit apa yang sedang kamu hadapi" usul Luke bijak.
"Ah sudah, berhentilah membicarakan tentang diriku. Lebih baik, kita mulai tentukan tempat selanjutnya yang ingin kita datangi, karna foto yang kita dapatkan di pantai ini sudah lebih dari cukup"
"Bagaimana kalau ke taman hiburan saja? Aku rasa itu juga adalah salah satu tempat yang wajib didatangi untuk mengambil foto yang bagus"
"Setuju! Kalau begitu ayo kita cepat berangkat sekarang juga, waktunya juga sudah hampir sore, kalau sampai malam aku pasti akan ditelpon dan dicari sama ibuku"
"Baiklah, ayo!"
Karna saking semangatnya, Luke tanpa sadar malah meraih sebelah tangan Alana untuk digenggam. Keduanya pun berjalan ke arah tempat dimana motor Luke terparkir.
Tapi sepanjang perjalanan ke motor, tatapan Alana juga tak lepas sedetik pun dari tangan Luke yang menggenggam tangannya erat. Itu adalah pertama kali tangannya disentuh oleh pria lain selain Mike.
Dan entah mengapa, jatung Alana berdebar tak karuan, dan dadanya serasa sesak seolah ada sesuatu yang sedang memenuhinya. Tak hanya itu saja, wajah gadis cantik itu juga berubah warna menjadi semerah tomat.
Merasa sedikit kecewa, Alana hanya bisa menerima helm pemberian Luke dalam diam. Tapi sedetik kemudian, Alana mengutuk diri sendiri dalam hatinya karna sudah merasakan perasaan yang aneh terhadap Luke.
Seperti orang yan tak punya pendirian sama sekali, pada akhirnya Alana kembali terseyum senang, saat Luke menarik tangannya untuk melingkar pada pinggang pria itu seperti kali pertama.
Keduanya tak butuh waktu lama untuk bisa sampai di tamab hiburan, karna kecepatan Luke mengendarai motornya berada diatas rata-rata, bahkan sampai membuat Alana harus lebih mengeratkan lagi pelukannya.
"Permisi, aku ingin beli tiket masuknya untuk dua orang. Tolong diproses, pembayarannya lewat kartu ini saja"
"Eh, kenapa jadi kamu yang belikan tiket masukknya? Biar aku saja, ini kan rencanaku yang mengajak datang kesini" protes Alana.
"Tidak apa-apa Alana, lagian aku juga ingin mencoba beberapa wahana yang ada disini, jadi kamu tidak usah merasa tidak enakan seperti itu"
"Kalau begitu, untuk makanan dan minuman yang akan kita beli di dalam, biarkan aku yang akan membayarnya"
"Baiklah, baiklah, kamu yang akan membayar semuanya. Kalau begitu ayo kita langsung masuk ke dalam" ajak Luke, setelah menerima dua buah tiket masuk.
Alana yang baru pertama kali datang secara langsung ke taman hiburan, seketika merasa sangat takjud dengan segala yang kini ada dihadapannya.
Wahana-wahana berukuran raksasa, puluhan stand makanan dan juga minuman, stand berbagai pakaian dan aksesoris lucu hingga yang aneh, terlihat memenuhi taman hiburan tersebut.
Alana seketika menjadi kebingungan sendiri, harus memfoto yang mana duluan untuk ditunjukkan pada Alina. Saat tangannya ingin mengeluarkan kamera dari dalam tas, tangan Luke tiba-tiba menghentikannya.
"Ada apa?"
"Foto-foto pemandangan taman hiburannya nanti saja, sekrang yang harus kita lakukan adalah mencoba semua permainan yang ada disini!" ajak Luke antusias.
"Tapi aku takut naiknya Luke, lihat saja ada lebih banyak orang yang muntah setelah bermain dari pada tertawa senang"
"Astaga, kamu tidak perlu takut Alana, kan ada aku yang akan menjagamu. Aku sudah sering sekali menaiki semua wahana yang ada disini jadi tidak usah cemas"
"Kamu yakin tidak akan muntah, atau yang lainnya jika menaiki semua wahana itu? Apa kamu tidak takut sama sekali, Luke?" tanya Alana sekali lagi, terlihat sedikit ragu.
"Tentu saja tidak akan!"
Namun yang terjadi sepuluh menit kemudian malah berbanding terbalik dari apa yang dibangga-banggkan Luke diawal. Pria itu kini harus terduduk lemas di salah satu bangku yang ada di taman hiburan, setelah beberapa kali mengeluarkan semua isi perutnya.
"Ckckck. Katanya tidak takut, memang benar sih tidak takut, tapi yang terjadi malah lebih parah dari rasa takut" sindir Alana jahil.
"Aku muntah, karna si petugasnya yang salah memutar wahana terlalu kencang. Padahal biasanya tidak pernah sekencang ini, dan aku juga tidak pernah sekali pun muntah"
"Iya, iya, percaya, percaya sekali aku. Kalau begitu, selamat berjuang disini untuk kembali memuntahkan semua isi perutmu. Aku ingin berkeliling dulu sebentar untuk mengambil foto yang bagus supaya bisa diberikan pada kembaranku"
"A_Alana, ummhpf, tunggu aku, huekk"
Bersambung...