
"Astaga! Apa yang sudah terjadi dengan ekspresi wajahmu, Alana? Kenapa sepagi ini, kamu sudah memasang wajah semuram itu, dan kenapa lagi ada kantung hitam dibawah kedua matamu?!" cerocos Nadira heboh, saat melihat kondisi Alana.
"Menurutmu, ini karna siapa?"
"Karna siapa?"
"Yah tentu saja karna dirimu Nadira! Kondisi mata dam ekspresi wajahku yang suram ini, semuanya karna dirimu!"
"Karna aku? Sebentar, sebentar, jangan bilang kalau semalam setelah kita selesai berbicara ditelepon, kamu tidak bisa tidur sampai pagi karna terus memikirkan ucapanku?" tebak Nadira, tepat sasaran.
"Memangnya kalau itu kamu, apa kamu tetap bisa tidur nyenyak? Setelah sahabatmu bilang kalau kamu sedang jatuh cinta pada seorang pria, yang padahal kamu sendiri tidak sadar akan perasaanmu itu!"
"Emm, tidak juga sih. Tapi tidak sampai tidak tidur semalaman sepertimu juga, lagipula itu kan bukan sesuatu yang luar biasa sekali. Ayolah, itu hanyalah jatuh cinta biasa, yang sudah sewajarnya terjadi dalam kehidupan seorang remaja seperti kita"
"Seperti kita? Maaf, apakah aku salah dengar? Sepertinya kamu harus menambahkan garis bawah pada kata kita itu, karna sudah pasti aku tidak termaksud di dalamnya" jawab Alana merasa keberatan.
"Ah iya, benar juga. Kamu kan adalah gadis remaja yang bagaikan sebuah barang antik mahal, karna tidak pernah merasakan rasanya pacaran meskipun sekali saja"
"Meskipun sedikit tidak setuju disamakan dengan barang antik, tapi ucapanmu barusan ada benarnya juga. Jadi apa sekarang kamu sudah mengerti, kenapa ini luar biasa sekali bagiku kan?"
"Sudah, aku mengerti sekali. Karna ini adalah pertama kalinya kamu merasakan rasa jatuh cinta pada seorang pria, jadi wajar saja kalau kamu bertingkah berlebihan"
"Jatuh cinta? Siapa yang sedang jatuh cinta? Astaga, jangan bilang kalau itu adalah kamu Nadira? Pria malang mana lagi yang ketiban sial, disukai olehmu?!" tanya Mike, tiba-tiba muncul dan ikut nimbrung saja.
"Aduh, kenapa sih aku tiap hari harus bertemu dengan makhluk yang sangat mengesalkan sepertimu? Sepertinya kesialan yang ada di seluruh hidupku sudah dipakai semuanya, ya itu bertemu denganmu!"
"Lihat lah Alana! Lihat, bagaimana kasarnya mulut sahabatmu itu! Sebaiknya, kamu jangan berteman lagi dengannya, kalau kamu tidak mau nasib mulutmu nantinya akan berubah sama seperti punyanya!"
Dan kejadian yang terjadi selanjutnya, sudah dapat terprediksi oleh semua orang yang ada di kelas. Yaitu bahwa kedua orang yang kini berada disamping kiri dan kanan Alana, mulai beradu mulut untuk saling menghina tanpa ada satu pun yang ingin berhenti.
Sedang Alana yang merasa sudah terbiasa sekali dengan keadaan Nadira yang selalu bertengkar jika bertemu dengan Mike, hanya bisa menghela nafas pasrah.
Gadis itu mulai mengeluarkan satu persatu buku tulis dan juga buku paket pelajaran yang akan dipelajari hari itu, dari dalam tasnya. Dan Sambil menunggu bel tanda masuk kelas berbunyi, Alana sibuk memperhatikan para murid yang masih berkeliaran diluar kelas.
Namun melihat keadaan diluar sana mulai berubah gaduh, membuat Alana menjadi sedikit penasaran. Ternyata kegaduhan itu disebabkan oleh sosok Luke, yang masih saja dikagumi oleh para gadis.
"Dia lagi, dia lagi. Baru juga ganteng sedikit saja diatasku, sudah bertingkah sampai membuat satu sekolah heboh. Dasar lebay!"
"Halah! Bilang saja kalau kamu iri kan, melihat Luke berhasil mengambil alih posisimu di sekolah ini, dan dikelilingi oleh para gadis yang dulunya mengejarmu"
"Siapa juga yang iri, memangnya gadis-gadis itu ada yang secantik dan sebaik Alana? Tidak ada kan, jadi buat apa aku iri. Kalau Alana yang suka sama Luke, baru beda ceritanya! Iya kan Alana?"
"Hahahaha, hahahaha, makan tuh! Sekarang kamu lihat sendiri kan, kalau Alana juga bisa terpana oleh ketampanan Luke. Bagaimana, sudah merasa iri atau belum?" ejek Nadira senang.
Pasalnya, kini tatapan Alana berfokus pada sosok Luke yang masih berada dipintu masuk kelas, dan mulai dikerumuni oleh para gadis dari berbagai kelas atau pun tingkatan.
Seketika itu juga muncul rasa cemburu dihati Mike, dan tanpa bekata apa-apa lagi, pria itu langsung menuju ke arah kerumunan yang menghalangi jalan.
Menggunakan semua tenaganya dan dengan sengaja, Mike menyenggol tubuh Luke hingga harus maju beberapa langkah ke depan.
"Astaga, apa-apaan sih! Siapa yang beraninya mendorong Luke hingga hampir jatuh seperti ini?! Sudah gila yah!" teriak seorang gadis, yang terlihat dari seragamnya seperti kakak kelas Mike.
"Kak Clara? Ya ampun maafkan aku kak, aku tidak lihat sama sekali kalau ternyata ada kakak juga disini. Tadi aku sedang buru-buru, jadinya tidak melihat jalan. Sekali lagi maaf yah kak"
"Hiii, apa yang sedang dilakukan pria gila itu disana? Dan lagi, kenapa dia bertingkah aneh sampai menebar senyuman segala!" tanya Nadira bergidik ngeri.
Bagaimana Nadira tidak berekspresi seperti itu, karna Mike adalah sosok pria tampan tapi terkenal dingin dan selalu berekspresi tanpa senyum, yang menjadi idola satu sekolah.
Tentunya melihat sebuah senyuman lebar diwajah pria kulkas itu, membuat Nadira dan bahkan semua gadis yang ada disana merasa terkejut.
"Ah, ternyata kamu Mike. Maaf karna tadi aku sudah marah-marah lebih dulu padamu, kamu baik-baik saja bukan?"
"Aku baik-baik saja kok kak. Tapi kalau boleh tahu, apa yang sedang kak Clara dan juga yang lainnya lakukan di depan kelasku?"
"Ah itu, i_itu, kami ingin bertemu denganmu! Iyakan teman-teman?"
"Iya, iya, benar!" seru semua gadis lainnya dengan kompak.
"Loh, aku pikir kakak dan yang lainnya datang untuk bertemu denganku, soalnya sedari tadi kalian terus saja mengajukan pertanyaan mengenai diriku tampa henti. Ternyata bukan yah? Kalau begitu, aku masuk kelas saja"
"Eh, tu_tunggu Luke" tahan Clara, merasa tak rela jika harus membiarkan Luke pergi.
"Tidak apa-apa kak, kakak dan yang lainnya bisa menghabiskan waktu kalian dengan Mike saja, karna dia sepertinya sedang luang sekali. Kalau aku kan harus mengejar materi pelajaran yang terlambat bersama Alana!"
"Apa-apaan, kenapa kamu harus belajar bersama Alana? Memangnya tidak ada orang lain yang bisa mengajarimu, sampai harus mengganggu waktu Alana yang berharga?!" bantah Mike tak terima.
"Suka-suka aku dong, mau minta tolong pada siapa untuk mengajariku. Lagian wali kelas kita sendiri, yang merekomendasikan Alana untuk mengajariku!"
"Tidak, tidak bisa! Pokoknya kamu belajar dengan orang lain saja, jangan dengan Alana. Alana itu sangat sibuk, waktunya tidak bisa dipakai untuk mengajari orang bodoh sepertimu!"
"Aku rasa, itu adalah keputusan Alana dan bukan keputusanmu, jadi sudah seharusnya aku bertanya langsung pada Alana"
Baru saja Luke berbalik dan melangkahkan kakinya beberapa langkah masuk ke dalam kelas, saat Mike dengan gesit menerjang ke arah pria itu dan merobohkannya.
Mendapat perlakuan seperti itu, Luke yang awalnya bersikap dewasa, malah ikut-ikutan bertingkah seperti anak kecil dan mulai membalas perbuatan Mike.
"Sepertinya, kamu harus mulai memikirkan kembali perasaanmu pada Luke. Karna pada kenyataannya, dia juga bisa bertingkah sama seperti Mike. Ckckck" ucap Nadira, merasa prihatin.
Bersambung...