Twins But Different

Twins But Different
Jatuh cinta



Alana menjatuhkan tubuhnya begitu saja ke atas kasur empuk yang ada di kamarnya, dan ingatan gadis itu pun kembali pada moment yang baru beberapa saat tadi dirasakannya.


Menghabiskan waktu berjam-jam dengan Luke, sosok pria yang baru sekali dikenalnya, entah mengapa membuat Alana merasa sangat nyaman.


Rasa nyaman itu bahkan terasa sedikit berbeda dari rasa nyaman yang sering dirasa oleh Alana dari keluarganya, atau pun dari kedua sahabatnya, yaitu Mike dan juga Nadira


Entah mengapa, rasanya sangat jauh lebih menyenangkan hingga membuatnya ingin sekali mengulangi saat itu lagi secepatnya.


Tanpa sadar, saat memikirkan hal itu, wajah Alana berubah menjadi semerah tomat masak dan udara disekitarnya menjadi sangat panas.


"Ya ampun, ada apa denganku malam ini? Apa tanpa aku sadari, aku sedang sakit atau demam dan semacamnya? Udaranya juga terasa panas sekali, padahal alat pendingin di kamarku sedang menyala" gumam Alana, bertanya-tanya dengan kebingungan pada dirinya sendiri.


Untuk mengalihkan pikirannya dari ingatan itu dan juga dari Luke, Alana memutuskan untuk mengerjakan tugas sekolah yang didapatnya dari gurunya, dan sekaligus belajar tentang materi pelajaran yang akan dibahas besok.


Hal itu awalnya memang berhasil, tapi setelah selesai belajar, pikirannya langsung kembali lagi kepada Luke, membuatnya sangat kesal dan tak tahu harus bagaimana selain memilih untuk tidur.


Alana menutup kedua matanya rapat dan berusaha tidur, namun beberapa saat terus berusaha, ia masih belum juga bisa tidur. Gadis itu hanya berbolak-balik kesana kemari seperti orang yang memiliki gangguan tidur.


"Argghhh! Tidak bisa begini! Kalau aku terus tidak bisa tidur seperti ini, bisa-bisa besok aku akan bangun terlambat ke sekolah!" gerutu Alana kesal.


Pilihan terakhir yang terlintas dipikirannya adalah menelpon sahabatnya Nadira untuk bisa meminta solusi pada gadis itu. Karna sejomblo-jomblonya Nadira, gadis itu punya banyak sekali pengetahuan mengenai hal lain selain pelajaran di sekolah mereka.


"Hai Alana. Tumben sekali kamu menelponku semalam ini? Biasanya jam segini kamu sudah terbang ke alam mimpi" sapa Nadira tanpa basa basi lagi.


"Entahlah, itu juga yang membuatku bingung. Kamu sedang apa sekarang Nadira? Apa aku mengganggu waktumu?"


"Santai saja Alana, karna aku sekarang sedang luang. Kebetulan restoran milik ayah dan ibuku tutup lebih awal hari ini"


"Syukurlah kalau begitu"


"Iya. Lalu, ada apa kamu menelponku? Tidak mungkin kan tidak ada apa-apa, tapi kamu sampai menelponku semalam ini"


"Memang ada sih. Tapi kalau aku disuruh harus menceritakannya, akan sedikit panjang ceritanya. Apa kamu tidak masalah untuk mendengarkannya?" tanya Alana, merasa tak enak hati harus mengganggu waktu Nadira.


"Sudah aku bilang kalau sekarang aku sedang luang Alana, jadi kamu bisa bercerita selama yang kamh mau padaku. Aku tidak masalah sama sekali, lagian kita ini kan sahabat, jadi tidak usah sungkan seperti itu padaku"


"Baiklah kalau kamu berkata seperti itu. Sebenarnya yang ingin ku ceritakan padamu, adalah tentang Luke"


"What? Luke? Apa maksudmu Luke itu adalah yang murid baru di kelad kita, pagi ini?" tanya Nadira heboh.


"Iya, Luke yang itu"


"Wow! Wow, Alana! Aku tidak menyangka sama sekali kalau ternyata kamu juga bisa berubah menjadi gadis yang seagresif itu! Kita bahkan belum ada seharinya mengenal siapa Luke, dan kamu sudah mendekatinya saja" goda Nadira, salah paham.


"Bukan seperti itu Nadira! Kamu saja bahkan belum mendengar ceritanya dariku, sudah asal menafsirkan. Setidaknya dengarkan dulu dong!" gerutu Alana kesal.


"Hahaha. Baiklah, aku akan mendengarkan ceritamu sekarang"


Meskipun merasa terkejut dengan hal tersebut tapi Nadira berusaha sekuat tenaga untuk tidak sekali pun menyela cerita sahabatnya itu. Karna Nadira sangat tahu tentang sifat Alana, yang tidak suka disela ucapannya.


Mau tidak mau, Nadira baru bisa berbicara setelah Alana selesai bercerita.


"Oke, aku sudah paham ceritamu. Tapi yang menjadi pertanyaannya sekarang, apa tujuan kamu menceritakan semua ini padaku? Karna aku rasa kamu bukan hanya sekedar bercerita saja, tapi masih ada sesuatu yang membuat dirimu gelisah"


"Entahlah, aku juga bingung harus bagaimana menjelaskannya. Yang pasti setelah pulang jalan-jalan bersama Luke, perasaanku agak sedikit aneh"


"Aneh? Aneh bagaimana?"


"Pokoknya aneh saja. Misalnya, seperti aku yang baru saja mengenal Luke hari ini, tapi sudah merasa nyaman saja bersama dengan dirinya selama berjam-jam. Dan lagi, rasa nyamannya sedikit berbeda dari rasa nyaman yang selama ini aku rasakan saat berada bersama keluargaku, atau bersamamu dan juga bersama Mike"


"Hmm. Kalau begitu, apa kamu juga merasa ingin cepat-cepat bertemu dengannya? Atau wajahnya selalu terbayang-bayang dalam ingatanmu?"


"Loh, kenapa kamu bisa tahu? Jangan-jangan, kamu punya indera keenam untuk membaca isi hati seseorang yah?" tanya Alana polos.


"Ya ampun Alana, kalau cuman menebak hal speerti itu mah hal yang sangat gampang buatku. Meskipun sudah lama berstatus tidak memiliki pacar, tapi jangan salah, malah aku ini yang punya banyak pengetahuan dalam dunia percintaan!"


"Dunia percintaan? Kenapa malah membahas dunia percintaan? Perasaan kita dari tadi membahas Luke, bukan cinta-cinta deh"


"Ini susahnya kalau bicara sama gadis polos yang belum pernah pacaran dan tidak punya pengetahuan sama sekai tentang dunia percintaan, dan yang diotaknya hanya ada pelajaran sekolah saja"


Mendengar ejekan Nadira, wajah Alana pun memberengut menahan kesal. Kalau dia tahu, tentang hal apa yang dirasakannya, pasti tidak akan mungkin dia bertanya pada Nadira.


Tapi bukanya mendapat jawaban, ia malah diejek oleh sahabatnya itu. Nadira diujung sana yanh seolah bisa merasakan apa yang dirasakan Alana, menjadi panik karna sadar dirinya sudah salah bicara.


"Ahahaha. Alana, jangan dimasukkan ke hati yah ucapanku barusan. Anggap saja itu hanya ucapan orang gila yang adalah kembaranku, oke?" bujuk Nadira, secara sembarangan.


"Hah, iyakan saja. Kalau begitu, coba katakan apa arti sebenarnya dari perasaan aneh yang sedang ku rasakan saat ini?"


"Hm. Dari ceritamu, sudah pasti kalau itu artinya kalau dirimu sedang dalam fase yang dinamakan jatuh cinta! Dan pria beruntung yang mendapatkan cintamu adalah Luke, karna wajahnya lah yang selalu terbayang di dalam pikiranmu"


"Ja_jatuh cinta? Pa_pada Luke? Yang benar saja Nadira! Kami kan baru saja berkenalan hari ini, dan berjalan-jalan selama beberapa jam saja, bagaimana bisa aku langsung jatuh cinta padanya?!"


"Kalau untuk yang satu itu, aku juga tidak tahu. Karna yang paling mengetahu tentang hal itu adalah hatimu sendiri, jadi coba kamu tanyakan saja padanya"


"Tanyakan pada hatiku?"


"Iya Alana, pada hatimu. Sudah dulu yah, aku sekarang. dipanggil ibuku, jadi harus segera mengakhiri pembicaraan kita. Pokoknya, apa yang aku katakan barusan itu adalah yang sebenarnya, oke? Bye" pamit Nadira tanpa menunggu tanggapan dari Alana, langsung mematikan sambungan telepon.


"Jatuh cinta? Aku? Hahaha, tidak mungkin, yang benar saja! Ta_tapi, bagaimana kalau apa yang dikatakan Nadira benar?"


Dan sepanjang malam itu, waktu Alana hanya dilakukan untuk memikirkan apa yang telah diucapkan oleh Nadira. Alhasil, gadis itu tertidur tanpa bisa mendapatkan hasil apa pun dari perasaan aneh yang ia rasakan.


Bersambung...