Twins But Different

Twins But Different
Kado untuk Alina



"Terima kasih karna sudah mau menemaniku berkeliling untuk mengumpulkan foto, supaya bisa diberikan pada kembaranku" ucap Alana, saat Luke mengantarnya pulang.


Keduanya sampai di depan rumah Alana tepat ketika jam menunjukkan pukul 7 malam. Luke sebenarnya masih ingin mencoba beberapa wahana lagi bersama Alana, tapi karna ponsel gadis itu terus berdering, terpaksa ia harus menunda niatnya itu.


"Iya, sama-sama. Oh iya, apakah dilain waktu kamu mau gantian menemaniku pergi kencan di tempat yang aku inginkan?"


"Um, akan aku pikirkan"


"Wah, kenapa terdengar sangat curang yah? Aku dengan senang hati menemanimu pergi kencam ke tempat yang kamu inginkan, tapi giliran aku yang meminta gantian, kamu tidak langsung menyetujuinya" protes Luke, sambil berpura-pura kesal.


"Masalahnya, aku harus sering berada di rumah untuk menemani kembaranku, dan lagi aku juga punya banyak jadwal les privat. Jadi agak sulit untuk bisa menentukan waktu yang pas, untuk pergi bermain"


"Kenapa kembaranmu harus ditemani? Apa dia tidak punya temannya sendiri untuk diajak pergi main? Oh iya, apa dia juga bersekolah di sekolah yang sama dengan kita?" tanya Luke penasaran.


"A_ah, i_itu, itu aku harus segera masuk! Iya, aku harus segera masuk ke rumah sekarang, jadi ceritanya dilanjutkan nanti saja yah"


"Oh, oke. Kalau begitu artinya, aku juga harus pamit pulang sekarang. Sampai bertemu lagi, besok di sekolah. Bye Alana"


"Bye too Luke"


Setelah berpamitan, Luke pun menghidupkan kembali motornya dan bergegas pergi dari sana. Sedang Alana yang ditinggal sendiri oleh pria itu, enggan untuk beranjak dari sana dan tetap memperhatikan kepergian Luke, hingga menghilang di perbelokan jalan.


Yang Alana tak tahu, ada sepasang mata yang sudah memperhatikan keduanya sedari tadi. Dia ternyata adalah Mike, melangkah keluar dari persembunyiannya dibalik tanaman milik ibu Alana, dan mendekati gadis itu secara perlahan.


"Ehem!"


"Ya tuhan, Mike! Kamu membuatku menjadi sangat terkejut tahu! Dan kenapa kamu masih berada di rumahku, padahal ini sudah lewat satu jam dari jam pulangmu?"


"Menurutmu kenapa? Yah tentu saja itu karna kamu yang belum pulang juga padahal sudah lewat dari jam pulang sekolah, dan membuat tante Alice menjadi sangat khawatir!" jelas Mike dengan wajah kesal.


"Ah itu, maafkan aku Mike. Tadi setelah jam pulang sekolah, ada hal penting yang harus aku lakukan hari ini juga"


"Aku juga tahu, kalau ada hal penting yang harus kamu setelah pulang sekolah. Tapi bukannya itu adalah kencan yang harus kamu lakukan bersama om Wim, kenapa tiba-tiba om Wimnya berubah jadi si anak baru itu?"


"Kalau soal itu, sebenarnya diluar dugaanku juga. Karna saat aku menunggu ayah, dia juga ingin menunggu bersamaku. Dan setelah beberapa menit, ayahku menagabari kalau dia tidak bisa datang, jadi rencana kami terpaksa harus batal. Tapi tanpa terduga, Luke malah menawarkan diri untuk menggantikan ayah pergi bersamaku"


"Lalu, kamu mau saja begitu?"


"Awalnya aku tolak karna takut merepotkan Luke. Tapi karna dia juga memaksa, jadi aku mau tida mau mengiyakan ajakannya"


"Astaga Alana, kenap sih kamu yang pintar soal semua mata pelajaran, malah tidak pintar dalam kehidupan nyata?! Bagaimana bisa kamu mau saja menerima ajakan orang asing, yang baru kamu kenal selama beberapa jam begitu saja?! Kalau dia melakukan hal yang jahat padamu, bagaimana?!"


"Orang asing apanya, dia kan juga teman kita, jadi bukan orang asing Mike. Lagipula aku percaya kalau Luke tidak mungkin memiliki niat jahat padaku"


"Hah, terserah kamu saja lah! Bela saja dia, mentang-mentang satu negara kalian!" putus Mike kesal, dan berlalu pergi dari sana.


"Apa hubungannya sama negara kami? Mike ternyata kadang-kadang suka aneh juga yah, lain dari pada yang lain"


Alana pun memutuskan untuk segera masuk ke dalam rumahnya. Supaya cepat tiba di kamar sang adiknya, Alana pun memilih untuk lewat pintu yang berada disamping rumah saja.


"Hai mom" sapa Alana pelan.


"Hai? You say hai to me? Where have you been Alana Partison! I've been waiting and calling you for a long time, but i didn't any new's from you! Are you deliberately trying to make your mother angry?"


Alana yang mendengar ibunya kini berbicara dalam bahasa inggris, menyadari kalau ia sekarang berada dalam masalah besar. Karna Alice tidak pernah menggunakan bahasa inggris lagi sejak dirinya sudah fasih bahasa indonesia.


Tapi akan menjadi lain ceritanya, jika wanita itu sedang dalam kemarahan dan perasaan kesal yang teramat sangat. Bahasa inggris lah yang akan selalu digunakannya ketika sedang dalam situasi seperti itu.


"Tidak bu. Alana tidak mungkin dengan sengaja ingin membuat ibu marah, dan Alana juga punya alasan kenapa bisa pulang hingga seterlambat ini"


"No matter what the reason, you should still call mom! Do you understand?" tegas Alice, tak ingin mendegar alasan dari Alana.


"Ya mom"


"Good! Sekarang duduk, dan segera jelaskan pada ibu, apa yang menjadi alasanmu sampai bisa melakukan sesuatu yang tidak pernah sekalipun kamu lakukan!"


Alana yang takut jika dirinya bicara akan bisa didengar oleh Alina, segera mengeluarkan semua foto yang telah diletakkannya di dalam sebuah kotak kecil, dan menunjukkannya kepada Alice.


Alice yang penasaran lalu membuka kotak tersebut, dan mulai melihat satu persatu foto yang ada. Alice juga melihat sepucuk surat yang bisa ditebaknya sebagai surat yang ditulis tangan sendiru oleh Alana.


Tapi yang membua Alice merasa terharu, ialah dua buah nama sebagai sang pembuat kado yang tertulis dibagian bawah surat. Ada nama Alana dan juga sang suami, Wim.


"Terima kasih, sayang" ucap Alice tanpa suara ke arah Alana, yang langsung dibalas dengan anggukan kepala oleh gadis itu.


Setelah itu, Alana pun meminta ijin untuk segera memberikan kadi tersebut kepada Alina. Dengan perlahan, Alana mengetuk pintu kamar adiknya.


"Alina, apa kamu sedang tidur?"


"Aku tidak sedang tidur, ada apa Alana? Apa kamu ingin mengadu padaku karna ibu baru saja memarahimu?"


"Ternyata kamu juga mendengar. Tapi kamu tenang saja, kali ini aku tidak akan mengadu padamu. Karna biar bagaimana pun juga, aku memang bersalah, jadi wajar saja kalau ibu menjadi marah"


"Hum, baiklah. Terserah saja. Lalu ada apa kamu sampai datang ke kamarku?" tanya Alina penasaran.


"Aku ingin memberikan sebuah kado ulang tahu istimewa yang telah ku persiapkan, untukmu. Aku harap kamu bersedia untuk bisa menerimanya"


"Masukkan saja ke dalam kamar, nanti akan ku lihat sendiri apa isinya.


"Baiklah"


Alana pun segera menuruti apa yang disuruh oleh Alina dan segera memasukkannya ke dalam kamar. Awalnya perasaan Alina senang saya melihat semua foto itu.


Tapi seketika wajah senangnya berubah menjadi muram ketika mendapati ada sebuah foto yang berbeda sendiri dari foto lainnya. Itu adalah sebuah foto yang menampilkan wajah Alana dan juga Luke.


Alina pun meremasnya sekuat tenaga dan membuangnya begitu saja ke bawah tempat tidur. Ia tiba-tiba merasa sangat membenci pria yang ada dalam foto tersebut.


Bersambung...