Twins But Different

Twins But Different
Penghubung



Alina yang mendengar bahwa Alana ingin kembali dekat dengan dirinya, menjadi marah seketika. Untuk melampiaskan perasaan marahnya, ia pun menyelesaikan apa yang sebelumnya ingin dilakukannya.


Tanpa belas kasihan, Alina mengencangkan ikatan seprei yang ia ikatkan ke tubuh kelinci peliharaan Alana, hingga kelinci itu menjadi tak berdaya dan akhirnya tak bergerak sama sekali.


Melihat kelinci yang menggemaskan itu telah mati, Alina pun tersenyum puas dengan ekspresi yang mengerikan. Kini dia membawa tubuh kelinci itu mendekat ke arah pintu kamarnya, dan membuangnya begitu saja.


Tok.. Tok.. Tok..


Alana dengan perasaan cemas dan takut akan ditolak, mencoba untuk mengetuk pintu kamar kembarannya itu dengan pelan.


"Siapa?" tanya Alina ketus.


"Alina, ini aku Alana. Apa kamu bisa bicara sebentar saja denganku?"


"Untuk apa kamu meminta ijin bicara padaku? Bukannya kamu takut berada dekat denganku dan juga bicara padaku, yang berbahaya dan berbeda dari dirimu ini?"


"Aku tahu, perkataanku ketika kita masih kecil memang keterlaluan dan pastinya sudah melukai hatimu, jadi wajar saja kalau kamu sampai menyimpan marah padaku. Karna itu, aku datang untuk meminta maaf atas semua kesalahan yang telah ku perbuat. Apa kamu mau memaafkanku, Alina?"


"Setelah aku memaafkanmu, apa kamu juga ingin supaya kita bisa menjadi dekat lagi seperti dulu?"


"Aku tahu permintaanku terlalu banyak untuk dipenuhi olehmu, tapi aku sangat merindukan semua kedekatan kita di masa lalu dan ingin sekali lagi mengulanginya"


"Lalu, apa kamu akan menjauhi dan takut padaku lagi, jika mengetahui suatu rahasia yang menyeramkan tentangku? Atau, saat aku membunuh orang lain?"


Alana yang mendengar pertanyaan ambigu dari mulut Alina, menjadi sedikit ragu untuk menjawabnya. Entah mengapa, ia merasa seperti akan ada sesuatu yang buruk terjadi.


Namun dengan cepat Alana mengenyahkan pikiran itu, dan berpikir bahwa pertanyaan tersebut hanyalah sebuah pertanyaan cobaan yang diberikan Alina untuk dirinya.


"Aku janji tidak akan seperti itu lagi, Alina. Aku sadar, waktu kasus yang menimpa Albert terjadi, itu hanyalah ketidaksengajaan yang disebabkan oleh ketidaktahuan dirimu yang masih kecil"


"Benarkah? Senang rasanya jika kamu benar berpikir seperti itu. Tapi aku punya satu hal yang harus kamu lihat, dan dari reaksimu aku akan memutuskan apa kamu sungguh ingin kembali dekat denganku atau tidak"


"Apa itu?"


"Sebentar, aku akan mengeluarkannya dari dalam kamarku, supaya bisa dilihat jelas olehmu. Apa kamu bisa tolong membukakan pintu kamarku?"


"Baiklah"


Alana dengan cepat memutar kunci yang mengantung, dan terbukalah pintu kamar tersebut. Bersamaan dengan itu, tangan Alina terulur untuk mendorong sesuatu yang terbungkus seprei putih, keluar dari kamarnya


Setelah itu, pintu kembali dikunci oleh Alana. Sedang Alice yang sedari tadi senantiasa berdiri dibelakang putri sulungnya itu, tampak bisa menebak apa yang ada di dalam kain tersebut.


Ekspresi wajah Alice berubah menjadi pucat seketika, dan perasaan takut menyelimuti hatinya. Alana yang penasaran dengan apa yang diberikan Alina, segera membukanya.


Dan betapa terkejutnya dirinya, saat melihat yang terbungkus itu adalah kelinci peliharaan miliknya yang sudah mati. Dengan terpukul, Alana mundur beberapa langkah seolah tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya


"A_apa maksudnya ini Alina? Kenapa kelinci milikku bisa ada di dalam kamarmu? Siapa yang memasukkannya kesana?"


"Itu, ibu yang memasukkannya ke dalam kamar Alina karna katanya dia bosan sendiri terus disana. Jangan marah Alana, ibu yakin Alina tidak sengaja membuat kelinci milikmu mati" Alice bergegas menjelaskan.


"Apa kamu tidak percaya pada apa yang baru saja dikatakan oleh ibu? Jangan bilang saat ini kamu sedang mencurigai, kalau akulah yang sengaja membuatnya mati?"


"Bukan seperti itu Alina, hanya saja timingnya sangat pas dengan kamu yang ingin menguji ketulusan hatiku"


"Kelinci itu sudah mati sedari tadi, Alana. Tapi aku tidak bisa langsung mengeluarkannya, karna sedari tadi ada ayah yang berada diluar kamarku. Lalu saat kamu bilang ingin kembali dekat denganku, ide itu tiba-tiba saja muncul di otakku"


"Ibu percaya pada apa yang dikatakan oleh Alina, kamu juga harus mempercayainya sayang. Karna tidak mungkin adikmu itu bisa tega melakukan hal kejam seperti ini, dan juga berbohong kepada kita"


Alana yang mendengarkan penjelasan dari Alina, dan juga perkataan Alice, hanya bisa menghela nafasnya dengan pasrah. Alana tak ingin hal itu menjadi bertambah besar.


Lagipula itu hanyalah seekor kelinci yang dipeliharaan olehnya, dan bisa kapan saja ia mencari gantinya. Sedangkan Alina adalah saudari kembarnya, yang sampai kapan pun tak akan bisa digantikan.


"Maafkan aku karna sempat mencurigaimu, Alina. Lagipula yang adalah adikku adalah kamu dan bukan kelinci ini, jadi seharusnya aku tidak bereaksi seperti itu"


"Tidak apa-apa Alana, justru aku yang harus minta maaf karna tidak bisa menjaga kelinci milikmu dengan baik"


"Tenang saja, aku bisa mencari kelinci lain untuk dipelihara. Atau kamu juga mau untuk memeliharanya bersama denganku?"


"Kedengarannya menarik, apalagi jika kelinci yang kita pelihara jumlahnya ada banyak. Jadi kalau ada satu yang mati, bisa digantikan oleh kelinci lainnya, bukan begitu Alana?"


"Ah? I_iya, mungkin bisa saja seperti itu juga" jawab Alana ragu.


"Jadi, apa sekarang kalian berdua telah resmi berbaikan, dan akan menjadi dekat kembali seperti dulu?" Alice dengan cepat sengaja mengalihkan pembicaraan.


"Tentu saja bu. Aku juga berharap, semoga Alana bisa menjadi penghubung yang akan menghubungkanku dengan segala sesuatu yang ada di dunia luar. Kamu bersedia kan melakukannya untukku?"


"Tentu saja aku mau. Bahkan setiap kali aku melihat suatu hal yang baru dan terkesan menakjubkan bagiku, ingin rasanya aku juga memperlihatkannya padamu. Tapi jangan khawatir, aku akan mengambil fotonya lalu menunjukkannya padamu"


"Wah, rasanya aku jadi tidak sabar untuk melihat semua yang telah kamu lihat selama ini. Apa kamu juga akan memperlihatkan bagaimana sekolahmu, dan juga siapa saja teman-temanmu padaku?"


"Kalau kamu mau, aku pasti akan melakukan semua itu untukmu. Mulai besok, aku akan membeli kamera dan mulai mengambil foto semua hal yang ingin ku perlihatkan"


"Hahahaha, kalau seperti ini, bukannya aku jadi memiliki mata lain di dunia luar. Dengan begitu juga, aku bisa mengetahui apa saja yang kamu lakukan"


Entah mengapa, tawa Alina yang masuk ke dalam telinga Alana, terasa sangat dingin dan juga menyeramkan. Seolah suara tawa itu bukalah milik adiknya, melainkan milik orang lain yang juga tinggal di dalam kamar sang adik.


Namun sekali lagi, Alana terpaksa harus mengenyahkan pikiran seperti itu dari dalam otaknya, karna tak ingin membuat hubungan mereka kembali menjadi jauh.


Sedangkan Wim yang mendengar bahwa kedua putrinya sudah berbaikan, hanya bisa mengepalkan kedua tangannya erat, seolah sedang berusaha meredam semua amarah yang dirasakannya saat ini.


Karna sebenarnya, Wim telah mengetahui bahwa Alina kini menjadi semakin berbahaya dengan semua tingkah lakunya yang dari hari ke hari bertambah aneh.


Meskipun Alice berusaha menyembunyikan semua itu dari Wim, namun Wim bukanlah seorang pria yang bodoh. Hanya dengan mengamati wajah lelah sang istri, Wim bisa langsung menyadari semuanya.


Bersambung...