
Alana yang merasakan adanya sentuhan jari Luke di pundaknya, segera menoleh sesaat pada pria itu dengan tatapan bingung. Tapi sedetik kemudian, Alana harus membalikkan padangannya kembali ke arah depan kelas.
Karna sekarang, guru mata pelajaran matematika sedang menerangkan materi pembelajaran disana.
Tahu kalau Alana merasa sedikit kesulitan untuk berbicara dengannya, Luke berinisiatif menuliskan apa yang ingin dibicarakannya dengan Alana, pada secarik kertas notes.
Alana melihat kertas yang diletakkan Luke ke atas mejanya dengan rasa penasaran, sama halnya dengan Nadira. Kedua gadis itu pun langsung membuka dan membaca isinya.
Luke: "Apa kamu bisa membantuku?"
"Astaga, Luke ternyata bisa bertingkah imut seperti ini juga yah. Ayo cepatan balas Alana, di kertas yang sama" ucap Nadira gemas.
"Balas apa?"
"Ini nih, sifat yang paling aku tidak suka dari semua orang yang sedang jatuh cinta. Karna tanpa ada gejala apa pun, kepintaran mereka menurun drastis dan berubah menjadi lemot. Mau yang pintar seperti ilmuan sekalipun, pasti tetap akan berubah jadi lemot!"
"Sudah? Sudah selesai hina-hina akunya? Kayaknya mulutmu itu suka sekali yah kalau bicara sesuatu yang jahat" cibir Alana kesal.
"Hehehe, habisnya kamu sih kenapa pakai acara bertanya segala haru balas apa, yah jelas saja aku emosi. Padahal dari surat Luke, dia meminta bantuan padamu, tapi tidak tahu bantuan dalam hal apa, jadi sudah pasti kamu harus membalasnya dengan bertanya apa yang bisa kamu bantu!"
"Yah kan bisa kasih taunya biasa saja seperti orang pada umumnya, tidak usah pakai acara menghina segala"
"Aduh, iya, iya, aku minta maaf. Sudah cepat balas suratnya sana!"
"Nadira! Kamu ini selalu saja, setiap jam mata pelajaran ibu pasti kamu yang paling ribut dan tidak bisa diam. Kali ini apalagi yang sedang kamu bicarakan disitu, atau jangan-jangan kamu sedang mengganggu Alana yah?!" tegur guru mereka, yang mendapati Nadira sedang tidak memperhatikan pelajaran.
"Ti_tidak kok bu, justru Luke sama Alana yang menggangguku sampai tidak bisa fokus. Iya kan, ayo cepatan kalian berdua mengaku!"
"Loh, kok aku sama Alana yang disalahin? Aku dan Alana kan dari tadi tidak melakukan apa pun sama kamu"
"Hah, yang benar saja! Ini semua kan karna surat yang kamu tuliskan untuk Alana, kalau kamu tidak mengirimi Alana surat, aku pasti tidak akan mendapat teguran dari guru!" jelas Nadira dengan suara pelan.
"Siapa suruh kamu penasaran dan ikut-ikutan lihat suratku buat Alana, itu kan bukan buat kamu. Jadi kalau guru menengurmu, itu karna salahmu sendiri"
Mendapat jawaban mutlak dari Luke yang tidak bisa lagi disangkal olehnya, membuat Nadira mendenguskan nafas berat.
Gadis yang tidak pernah bisa dikalahkan saat debat itu, malah harus kalah telak dengan sang murid baru, dan pasrah saja saat disruh maju ke depan kelas untuk mengerjakan soal yang ada di papan tulis.
Alana: "Bantu apa?"
Balas Alana ketika semua mata para murid tak lagi memandang ke arah bangkunya dan Nadira.
Luke: "Mengejar semua materi mata pelajaran yang sudah diajarkan sebelum aku pindah le sekolah ini. Wali kelas kita menyarankanku supaya meminta tolong padamu"
Alana: "Aku pikir membantu apa, ternyata membantu untuk hal itu. Tenti saja aku bisa, dengan senang hati malahan"
Luke: "Yang benar? Terima kasih banyak Alana. Untuk jadwal dan tempatnya, selesai pelajaran baru kita bahas saja. Bagaimana?"
Alana: Sama-sama Luke. Boleh saja"
Senyum mengembang dibibir Luke, saat membaca balasan dari Alana. Akhirnya apa yang ingin disampaikan pada Alana bisa tercapai juga, meskipun tadi sempat ditahan karna ulah Mike.
Sedang Mike yang terus mengamati interaksi Alana dan Luke dengan kedua mata elangnya dari baris depan, hanya bisa memberegut kesal. Tapi tiba-tiba, sebuah ide muncul di otak pria itu.
"Hahaha, kena kamu Luke! Enak saja kamu mau mengambil waktu Alana untuk dirimu saja, sudah pasti aku tidak akan membiarkan hal itu sampai terjadi!" batin Mike licik.
*****
Setelah dua jam berkutat dengan pelajaran yang paling banyak menguras otak yaitu matematika, akhirnya semua murid kembali bernafas lega saat terdengar bunyi lonceng istirahat.
Mike yang tidak ingin membuang waktu lagi, langsung menarik tangan Nadira menuju ke sudut kelas untuk menjalankan rencana yang sudah disiapkannya.
"Bisa tidak kecilkan volume suaramu itu, teligaku rasanya mau meledak tahu!"
"Yah, siapa suruh kamu main tarik-tarik aku ke sudut kelas! Awas saja kalau bukan karna ada hal penting yang ingin kamu bahas, akan aku kuliti seluruh kulit yang menempel ditubuhmu sampai tersisa tulangnya saja!"
"Yah makanya, dengar dulu!"
Dengan terpaksa, Nadira mendekatkan dirinya ke arah Mike untuk mendengarkan apa yang ingin dikatakan oleh pria itu. Tak butuh waktu lama, wajah kusam itu langsung berbinar menjadi ceria lagi.
Setelah sepakat bersama, keduanya pun berjalan ke arah tempat duduk Alana dan mulai ikut mendengar pembicaraan antara gadis itu dengan Luke.
"Kelihatannya kalian sedang serius sekali, memangnya lagu bahas apaan sih?" tanya Nadira pura-pura tidak tahu.
"Cuman lagi bahas jadwal kosongku untuk bisa membantu Luke, mengejar beberapa materi mata pelajaran yang sudah diajarkan sebelum dia pindah ke sekolah kita"
"Wah, jadi kalian bakal belajar bersama dong kalau begitu? Beruntung sekali jadi Luke, bisa dengan gampang belajar sama kamu. Aku dan Mike yang padahal sudah lama menjadi sahabatmu saja, bahkan tidak pernah sekali pun belajar bersamamu"
"Kenapa kamu tiba-tiba menjadi lebay dan dramatis seperti itu sih, Nadira?" tanya Alana bingung, melihat tingkah sahabatnya yang tidak seperti biasanya.
"Aku rasa yang dibilang oleh Nadira barusan, tidak ada yang salah. Kan memang benar kalau selama ini, kami tidak pernah belajar bersama denganmu" timpal Mike cepat.
"Entah mengapa, aku merasakan adanya sebuah rencana licik dari dua manusia ini. Apa mereka sedang berniat menggagalkan rencanaku supaya bisa berduaan dengan Alana?" batin Luke curiga.
"Astaga, ada apa sih dengan kalian berdua hari ini? Tidak mungkin kan kalau kalian bilang kalian sedang cemburu pada Luke, karna dia mendapat kesempatan belajar bersamaku?!"
"Kami memang cemburu padanya!" jawab Mike dan Nadira kompak.
"Hah?"
"Aku dan Mike memang sedang cemburu pada Luke sekarang! Bagaimana bisa kamu menjadi pilih kasih seperti itu, hanya karna dia lebih tampan dariku dan juga Mike!"
"Benar!"
"Seharusnya kamu mendahulukan aku dan Mike dari padanya, karna kami adalah dua sahabatmu yang paling setia!"
"Benar!"
"Kami protes! Belajar bersama ini harus segera dihapuskan, supaya tidak ada lagi kecemburuan sosial diantara kita!"
"Benar!"
Melihat tingkah absurd Mike dan Nadira, Alana hanya bisa memijat keningnya pasrah. Entah apa rencana kedua orang itu, Alana tidak tahu.
Tapi yang pasti, jika keinginan keduanya tidak segera dituruti, mereka pasti akan terus melakukan tingkah-tingkah absurd itu tanpa henti hingga membuat semua orang merasa terganggu.
"Baiklah! Karna kalian terus memprotes, ya sudah sekalian saja kalian juga ikutan belajar bersamaku dan Luke!" putus Alana pada akhirnya.
"Yeiyyy! Kamu memang yang terbaik Alana, terima kasih banyak sahabatku. Aku tidak akan pernah melupakan kebaikan hatimu yang mulia ini"
"Iya sama-sama, Nadira. Kamu tidak masalah kan Luke, kalau Nadira dan juga Mike ikut belajar bersama dengan kita berdua?"
"Ah, tidak Alana" jawab Mike terpaksa.
Mendengar jawaban Luke, Nadira dan Mike langsung melempar tatapan serta terseyum kesenangan, karna rencana yang telah mereka susun berjalan lancar.
"Hah, sudah kuduga kalau akhirnya akan seperti ini. Dasar pria kekanak-kanakan yang sangat licik!"
Bersambung...