Twins But Different

Twins But Different
Bertengkar



Sejak malam Alana mengucapkan janjinya pada Alina, sejak saat itu juga Alana harus siap merelakan semua waktu luangnya untuk bisa beraktifitas diluar rumah, menjadi hanya untuk menemani Alina seorang.


Bahkan Alana dengan terpaksa berhenti untuk mengikuti les tambahan di beberapa tempat yang telah dibayar penuh olehnya, dengan menggunakan uang hasil ikut setiap lomba yang diadakan di sekolahnya, atau pun diluar sekolah.


Awalnya semua berjalan lancar seperti apa yang diinginkan Alina. Namun Wim yang diam-diam memperhatikan Alana lebih sering berada di rumah, merasa ada yang aneh.


Seperti sore hari ini yang adalah jadwal Alana pergi mengikuti les matematika, namun gadis itu malah asyik bercerita di depan kamar sang kembarannya.


"Alana, kenapa kamu masih di rumah saja? Ayah pikir, hari ini bukannya kamu ada les matematika yah?" tanya Wim heran.


"Ah ayah. Alana memang ada les matematika hari ini, tapi sepertinya Alana tidak akan pergi karna kurang enak badan"


"Tidak enak badan? Tapi ayah lihat, kamu bukan seperti seseorang yang sedang tidak enak badan tuh. Kamu bahkan bisa asyik bercerita dan tertawa bersama adikmu"


"Aku benar-benar tidak enak badan, ayah. Tapi kalau hanya untuk sekedar duduk di depan kamar Alina, aku rasa masih sangat sanggup melakukannya" Alana mencoba menyakinkan sang ayah.


"Jangan bohong Alana, apa ada sesuatu yang membuatmu tidak bisa datang les? Karna beberapa hari ini, ayah menerima telepon dari guru-guru lesmu yang menanyakan kabarmu, karna kamu tidak lagi datang les serajin dulu"


Wim membeberkan hal itu, sambil tangannya menunjukkan beberapa riwayat telepon di layar ponselnya, yang memang berasal dari guru-guru les Alana.


Alana tidak menyangka kalau gurunya akan sampai mrnghubungi Wim segala, hanya karna dirinya tidak datang ke tempat les. Tapi dengan cepat, Alana memutar otak untuk bisa menjawab perkataan ayahnya.


"Ah itu, itu karna Alana punya alasan kenapa tidak bisa datang ayah. Tapi bukan berarti harus ada sesuatu yang terjadi padaku, yang bisa membuatku tidak ingin pergi les"


"Apa alasannya?"


Ditanya apa alasannya, Alana langsung diam seribu bahasa dan tidak tahu harus berkata apa. Gadis itu tidak mungkin memberitahu Wim, alasannya tidak pergi les adalah karna Alina lah yang memintanya.


Yang ada, Wim yang sudah sejak dulu tidak menyukai kehadiran Alina di keluarga mereka, malah akan semakin tidak menyukai gadis itu, dan Alana tidak ingin sampai itu terjadi.


"Memangnya kenapa kalau Alana tidak ingin pergi les lagi? Itu kan hak Alana untuk pergi les dan tidaknya, lagian Alana itu adalah anak yang pintar. Tanpa les sekalipun, aku yakin dia pasti bisa tetap menjadi juara kelas. Iya kan sayang?" ucap Alice tepat waktu.


"I_iya bu"


"Bagaimana bisa kamu bilang itu bukan suatu masalah? Apa kamu sebagai ibu Alana tidak merasa khawatir saat melihat anakmu yang biasanya rajin pergi ke tempat les, tiba-tiba saja menjadi enggan untuk pergi bahkan hanya sehari saja?" tanya Wim marah.


"Siapa bilang aku tidak cemas? Aku juga pasti cemas melihat perubahan perilaku Alana yanb seperti ini, tapi aku tidak mungkin akan memaksanya melakukan sesuatu yang tidak disukai olehnya"


"Alice, anak sulungmu itu bukannya tidak suka datang ke tempat les, melainkan ada sesuatu yang menahannya supaya tidak pergi kesana! Apa kamu mengerti?"


"Memangnya apa yang menahannya? Jika


"Kamu dengar kan kata ibumu? Coba katakan saja apa yang membuatmu tidak bisa pergi ke tempat les. Apa itu karna Alina lah yang sudah menahamu untuk tidak pergi, untuk bisa menemaninya di rumah?" tebak Wim tepat sasaran.


"Bu_bukan ayah. Bukan Alina yang menjadi penyebab aku tidak mau pergi ke tempat les, tapi karna memang aku sedang tidak enak badan saja"


"Kamu dengar kan, Alana itu cuman sedang tidak enak badan saja, kenapa kamu malah melimpahkan kesalahan kepada Alina? Dia itu selalu berada dalam kamarnya, bagaimana mungkin dia bisa membuat Alana tidak bisa pergi ke tempat les!"


"Kalau memang kamu merasa tidak enak badan, maka akan ayah antar kamu ke dokter untuk diperiksa. Jadi pergi siap-siap sekarang dan kita berangkat berdua"


Sontak saja Alana menjadi kelabakan sendiri, karna jika sampai dirinya dibawa ke dokter dan diperiksa, maka Wim pasti akan langsung tahu bahwa dirinya berbohong tentang tidak enak badan.


Karna badannya kini terasa sangat sehat sekali, bahkan jika disuruh lari sebanyak 10 putaran keliling rumah, Alana juga sanggup melakukannya.


"Tidak perlu sampai harus dibawa ke dokter segala ayah, aku hanya tidak enak badan biasa saja. Dibiarkan istirahat sebentar juga akan membaik, jadi ayah tidak usah cemas" tolak Alana cepat.


"Ya sudah kalau kamu tidak ingin pergi ke dokter, berarti ayah akan menunggu sampai gejala tidak enak badanmu itu membaik, baru kita pergi ke tempat lesmu. Ayah nanti akan mengabari gurumu juga, kalau kamu mungkin akan datang sedikit terlambat. Tapi jika dalam waktu sejam kamu tidak juga membaik, maka kamu harus ikut ayah pergi ke dokter" putus Wim tegas.


"Astaga, kenapa kamu bereaksi berlebihan sekali terhadap Alana? Dia hanya sakit biasa saja Wim, bukannya sakit parah! Apa salah kalau dia ingin istirahat seharian di rumah, ini kan juga rumahnya!"


"Aku tidak bereaksi berlebihan Alice, aku hanya merasa ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh Alana. Dan jika dia mau beristirahat seharin di rumah, tidak masalah bagiku. Tapi tidak dengan berhari-hari, dan mengabaikan jadwal semua lesnya!"


"Itu cuman perasaanmu saja Wim. Padahal tidak ada apa pun yang Alana sembunyikan darimu, yang harusnya lebih kamu perhatikan itu adalah tentang masa depan Alina!"


"Ada apa dengan masa depannya? Apa yang harus aku lakukan untuk masa depannya, bukannya kamu lah yanh sudah memutuskan untuk msmbiarkannya hidup? Jadi itu adalah tanggung jawabmu!"


"Yang benar saja Wim! Kenapa kamu bisa bicara sekasar itu, Alina juga anakmu, dan dia berhak untuk mendapat kasih sayang serta perhatian darimu. Tidak mungkin selamanya kamu mengurungnya di dalam kamar seperti tawanan, dia juga berhak menentukan akan seperti apa masa depannya"


"Berhak menentukan masa depan? Apa yang kamu maksudkan itu dengan membiarkannya bebas berkeliaran diluar, dan dengan sengaja mulai membunuh semua orang yang ia temui satu persatu?" tanya Wim, mencibir.


Melihat pertengkaran diantara sang ibu dan ayahnya yang semakin memanas, Alana mau tidak mau harus mencaru cara supaya bisa menghentikan keduanya.


Disaat Alice baru saja akan membalas apa yanh dikatakan oleh suaminya, Alana dengan cepat menghentikannya.


Alana tidak ingin pertengkaran itu malah akan membuat hati Alina menjadi semakin hancur, setelah fakta dirinya harus berada di balik pintu yang terkunci rapat untuk selamanya.


"Hentikan ayah. Jika ayah sangat ingin aku pergi ke tempat les, maka bawa saja aku ke tempat les itu. Tidak usah ayah sampai harus berkata kasar, tentang adikku"


Setelah berkata seperti itu, Alana berjalan pergi meninggalkan kedua orang tuanya untuk mengambil perlengkapan lesnya dan masuk ke dalam mobil sang ayah.


Bersambung..