
Setelah puas bermain bersama Nadira, Luke dan juga Mike, Alana pun baru bisa pulang ke rumahnya saat waktu menunjukkan pukul 9 malam tepat.
Dari arah luar, Alana tidak mendengar satu suara dari dalam rumah, yang membuatnya berpikir mungkin saja semua orang telah tertidur di kamarnya masing-masing.
Gadis itu mengeluarkan ponselnya dan baru saja akan menghubungi sang ayah untuk membukakan pintu, saat pintu itu tiba-tiba saja terbuka dengan sendiri secara perlahan.
Saat pintu itu sudah terbuka sepenuhnya, Alana baru bisa melihat siapa orang yang telah membukakan pintu untuknya. Ternyata itu adalah Alice, sang ibu.
"Loh, ibu? Kenapa ibu belum tidur, biasanya kan jam segini sudah waktunya ibu tidur" tanya Alana, sedikit terkejut.
"Tidak usah banyak tanya, masuk lah saja. Tidak baik seorang gadis berada diluar rumah pada jam semalam ini" jawab Alice datar.
"Baik bu"
Alana yang melihat ada yang aneh dengan ekspresi ibunya, hanya bisa mengikutinya dengan patuh tanpa memprotesnya sama sekali.
Melihat Alice yang bukannya masuk kembali ke dalam kamarnya tapi malah duduk di sofa ruang tamu, entah mengapa membuat Alana juga mengikuti hal tersebut dan duduk di sofa yang berseberangan dengan Alice.
"Ibu, apa ibu sedang marah padaku? Ekspresi wajah ibu muram dan tidak seperti biasanya, ibu juga tidak berbicara banyak denganku" tanya Alana hati-hati.
"Untuk apa ibu marah padamu? Ibu kan tidak mempunyai hak sama sekali atas apa yang kamu lakukan dengan setiap waktu yang ada dalam kehidupanmu. Mau berapa lama dan apa pun yang ingin kamu lakukan diluar sana, hanya ayahmu saja yang boleh mengetahui dan memutuskan ijinnya"
"Astaga ibu, siapa yang mengatakannya kalau ibu tidak mempunyai hak atas hidupku? Kalau pun ibu ingin marah karna aku pulang di jam segini, maka marah lah bu. Aku tidak akan mempermasalahkannya"
"Kamu mungkin tidak, tapi ayah yang akan mempermasalahkannya" jawab Wim, yang tiba-tiba berjalan masuk ke ruang tamu dan bergabung dengan pembicaraan antara Alice dan juga Alana.
"Ayah, kenapa ayah bicara seperti itu? Kalau Alana melakukan sebuah perbuatan yang salah, tentu saja ibu berhak untuk menengur dan memberikan hukuman padaku. Kenapa ayah malah ingin mempermasalahkannya?"
"Yah, kalau kamu memang benar bersalah, tapi kalau tidak bersalah dan tetap dimarahi, jelas ayah tidak setuju Alana. Apa kamu tahu kenapa ibumu memasang ekspresi semuram itu padamu?"
"Memangnya kenapa ayah?"
"Itu karna ibumu tidak suka jika waktumu dihabiskan dengan bersenang-senang diluar rumah bersama para teman sekolahmu. Dia lebih senang jika kamu berdiam diri dalam rumah ini, dan ikut terkurung seperti saudara kembarmu!" ucap Wim kesal.
"Apa salah kalau aku ingin kedua anakku menghabiskan waktu mereka bersama-sama lebih banyak, dari pada waktu yang mereka habiskan dengan orang lain?"
"Bukan, aku tahu betul bukan itu maksud dari keinginanmu Alice. Kamu memang dengan sengaja ingin mengurung Alana di dalam rumah ini, supaya kehidupannya terlihat sama seperti Alina!"
"Kamu selalu saja merasa yang paling benar dalam segala hal, Wim. Aku bahkan merasa tidak punya hak sama sekali di rumah ini atas kehidupan Alana. Apa karna aku yang ingin mempertahankan Alina untuk hidup, maka sebagai gantinya aku tidak boleh mengatur kehidupan Alana? Dia juga anakku Wim!" jawab Alice sakit hati.
"Iya, memang seperti itu seharusnya! Karna mempertahan Alina dalam hidup kita semua, adalah sebuah kesalahan yang tidak akan pernah bisa kamu perbaiki. Jadi kamu juga tidak berhak atas Alana"
Alana yang mendengar pertengkaran antara Wim dan juga Alice untuk kedua kalinya dalam sehari ini, hanya bisa membuang nafas dengan kesal.
Menjadi alasan atas pertengkaran itu, Alana merasa sangat tak nyaman. Apalagi kalau sampai telinganya harus mendengar semua perkataan jelek dari ayahnya, yang tak pernah menginginkan Alina hidup.
Namun karna diri Alana sudah ditanamkan untuk selalu bersikap baik, dan tidak pernah mencampuri urusan kedua orang tuanya, membuat Alana hanya bisa memilih diam.
"Dasar wanita gila! Apa kamu kita semua yang ada dalam rumah ini benar-benar mati diatas tangan anak itu? Apa kamu lupa kalau dia adalah seorang vampire?!" marah Wim.
"Yang benar saja Wim, kenapa kamu setega itu berbicara tentang putrimu sendiri? Hanya karna dia pernah membunuh seorang anak waktu kecil, bukan berarti dia juga berniat untuk membunuh kita semua!"
"Meskipun dia anak yang lahir karnaku, tapi tetap saja dia mempunyai insting membunuh seperti kaumnya. Tidak peduli seberapa baik kamu merawatnya dengan kasih sayang, tapi saat insting itu menghampiri dirinya, ia akan membunuhmu hanya dalam satu gigitan!"
Sakit hati, itulah yang kini Alice rasakan dalam dirinya ketika mendengar semua perkataan Wim tentang Alina, yang selama ini selalu dipertahankannya untuk tetap dapat diberikan kesempatan hidup oleh pria itu.
Alice memang tahu keinginannya untuk membuat Alana menghabiskan setiap waktu luangnya di dalam rumah bersama Alina mungkin berlebihan, dan akan terasa seperti kurungan bagi gadis itu.
Tapi setiap kali dirinya mendengar ucapan sedih dari Alina yang mengatakan bahwa ia merasa kesepian, hati Alice ikut menangis dan turut merasakan penderitaan sang putri.
Hidup terkurung di dalam kamar selama bertahun-tahun, pastinya bukanlah hal yang mudah diterima bagi Alina yang saat ini telah menjadi seorang gadis.
Hanya dengan menyuruh Alana menemani Alina dari luar pintu, Alice tahu perasaannya akan langsung membaik tanpa ada perasaan kesepian lagi.
"Kalau begitu, biarkan Alana yang akan memutuskannya sendiri akan menghabiskan waktunya seperti apa. Bukannya dia sudah cukup besar untuk bisa memutuskan sesuatu yang baik bagi hidupnya?" usul Alice tak ingin menyerah begitu saja terhadap larangan yang diberikan oleh Wim.
"Baiklah. Kita biarkan Alana yang akan memutuskan seperti katamu, dan apa pun yang nanti Alana pilih, kita berdua harus bisa menerimanya"
"Tidak masalah, karna aku siap menerima apa pun itu keputusan Alana, karna aku tahu dia bisa memilih sesuatu dengan tepat. Jadi apa pilihanmu, Alana?" tanya Alice penuh harap.
Dihadapkan dengan pilihan yang tiba-tiba saja diberikan padanya, membuat Alana menjadi kebingungan. Disisi lain, dia tidak ingin membuat ayahnya kecewa dengan apa yang akan dipilihnya, dan sebaliknya dia juga tidak ingin melihat sang ibu yang kecewa.
Tapi ketika ingatan miliknya kembali pada beberapa jam lalu yang dihabiskannya bersama dengan ketiga temannya, membuat Alana merasa sayang jika harus mengikuti keinginan Alice.
Jujur saja, Alana lebih ingin berada diluar dan menghabiskan waktunya seperti remaja lain pada umumnya, dan bukannya terkurung bersama dengan Alina atau pun sang ibu.
"Maaf ibu, aku rasa hatiku lebih ingin memilih untuk mengikuti pilihan ayah. Aku merasa jauh lebih bahagia saat menghabiskan waktu luangku dengan bermain diluar bersama teman-temanku" jawab Alana pada akhirnya.
"Jadi maksudmu, kamu tidak merasa bahagia saat menghabiskan waktumu bersama ibu dan juga Alina? Kenapa kamu menjadi sangat berubah seperti ini Alana?"
"Bukan begitu ibu. Bukannya aku tidak merasa bahagia saat bersama ibu dan juga Alina, aku merasa bahagia bu. Tapi rasanya tidak adil saja jika aku harus menghabiskan masa remajaku dengan berdiam diri di rumah saat remaja lain seusiaku bersenang-senang diluar sana"
"Kalau kamu saja yang masih bisa pergi ke sekolah dan berjalan keluar dari rumah ini bisa merasakan perasaan tak adil seperti itu, lalu bagaimana menurutmu dengan apa yang dirasakan oleh saudara kembarmu, yang bahkan tidak bisa berjalan keluar dari dalam kamarnya? Apa itu bukan namanya egois?"
"Hentikan Alice! Bukannya kamu sendiri yanh ingin Alana memilih jalan hidupnya, kenapa sekarang kamu malah ingin meributkannya lagi?" potong Wim cepat.
"Ibu, meskipun Alana memilih menjalani hidupku seperti perkataan ayah, tapi aku pasti akan berusaha meluangkan waktu lebih untuk bisa bersama Alina dibandingkan dengan saat bersama teman-temanku"
"Lupakan Alana, kamu tidak perlu lagi membuang waktumu untuk ibu atau pun untuk Alina!" tolak Alice, kemudian berlalu pergi dari sana.
Bersambung...