Twins But Different

Twins But Different
Cemburu



Alina berjalan kembali ke arah meja makan, dimana tempat ibunya berada dengan wajah yang terlihat kesal.


"Oh, Alina. Kamu sudah kembali ternyata. Jadi bagaimana, apa kamu menyukai berkeliling melihat keadaan rumah kita?" tanya Alice bersemangat.


"Aku tidak ingin membahasnya"


"Ada apa nak? Apa ada sesuatu yang sudah terjadi, yang membuat perasaanmu tak senang? Kalau memang ada, coba ceritakan saja pada ibu"


"Ibu, aku ingin masuk kembali ke kamarku. Jadi tolong jangan lupa untuk menguncinya lagi, takutnya kita akan ketahuan oleh ayah dan juga Alana" jawab Alice ketus.


"Alina, ada apa sebenarnya sayang? Apa kamu tidak ingin menceritakannya pada ibu? Ibu janji akan membantumu untuk mengatasi apa pun masalahmu"


Alina yang entah apa sedang dipikirkannya, tanpa memperdulikan bujukan sang ibu lagi, langsung berjalan masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya dengan keras.


Bunyi pintu yang dibanting itu seketika langsung mengema di seluruh penjuru rumah dan membuat Alana beserta teman-temannya merasa sedikit terkejut.


Sedang diluar pintu, sosok Alice masih terus berusaha untuk membujuk Alina supaya mau menceritakan apa yang sudah terjadi pada gadis itu, namun tetap tak ada jawaban.


"Jangan pernah berpikir untuk masuk ke dalam kamarku sekarang bu. Karna aku tidak tahu hal apa yang bisa aku lakukan pada ibu" ancam Alina, saat melihat pergerakan pada gagang pintu yang kini sedang digenggam oleh Alice.


"Ada apa sebenarnya nak? Tidak biasanya kamu bersikap seperti ini, bahkan sampai mengamcam akan mencelakai ibu segala!"


"Sudahlah bu, lupakan. Sebaiknya ibu kunci pintu kamarku, dan biarkan aku sendirian disini. Aku sungguh membutuhkan suasana yang tenang, untuk beristirahat"


Baru saja Alice ingin kembali memprotes ucapan Alina, ketika di dengarnya ada suara langkah kaki yang sedang mendekat ke arahnya.


"Ibu?" panggil Alana pelan.


"Ah, iya Alana. Ada apa?"


"Tidak ada apa-apa bu. Aku hanya datang untuk mengecek keadaan di ruangan ini, karna tadi aku mendengar suara teriak-teriak dan juga suara pintu dibanting"


"Astaga, apa suaranya sampai ke ruang tamu dan mengganggu acara belajar bersama kalian? Ibu minta maaf yah, tolong sampaikan juga permohonan maaf ibu pada temanmu"


"Kami tidak masalah kok bu. Hanya saja, aku khawatir dengan ibu. Apa ibu baik-baik saja? Soalnya tadi, aku seperti melihat bayangan manusia asing di dalam rumah kita" tanya Alana terlihat cemas.


"Bayangan? Bayangan apa yang sedang kamu bicarakan, ibu sedari tadi duduk disini tapi tidak melihat apa pun"


"Entahlah bu. Jelas-jelas tadi aku melihat bayangan itu dibalik kain pintu, tapi ketika aku membuka kainnya, ternyata tidak ada siapa pun disana"


"Berarti kamu sudah salah lihat sayang. Atau mungkin, karna saking lelahnya belajara, kamu menjadi tidak fokus dan malah tanpa sadar berhalusinasi" tebal Alice asal.


"Yah mungkin saja bu"


Mendengar jawaban putri sulungnya yang setuju dengan penjelasannya, entah mengapa Alice langsung menghembuskan nafas lega, seperti terbebas dari sesuatu.


Hati Alana yang masih dipenuhi oleh rasa curiga, tanpa sadar memperhatikan setiap sudut pintu kamar Alina dengan saksama.


Saat tatapannya sampai pada ujung pintu, Alana pun langsung tersadar, kalau pintu itu tidak sedang dalam keadaan terkunci sama sekali.


"Ibu? Kenapa ibu tidak mengunci pintu kamar Alina, dan malah membiarkannya tertutup biasa saja seperti itu?"


Deg!


Dengan kesal, Alice mengutuk dirinya sendiri berulang kali di dalam hati, karna tidak langsung menuruti kata-kata Alina untuk mengunci pintu kamar anak bungsunya itu.


"Tidak terkunci, masa sih? Perasaan ibu, ibu sudah menguncinya dengan baik tadi" jawab Alice, berpura-pura tidak tahu.


"Pintunya benaran tidak terkunci bu. Kalau tidak percaya, ibu bisa mencoba memutarkan kuncinya ke arah membuka. Pasti tersendat, karna memang pintunya sudah terbuka"


"Ya ampun, sepertinya ibu lupa menguncinya kembali sejak terakhir masuk ke dalam untuk mengantarkan makanan pada adikmu. Akan ibu kunci sekarang"


"Tidak usah bu, biar Alana saja yang akan menguncinya. Takutnya nanti ibu kelupaan lagi" cegah Alana cepat.


"Ah, baiklah. Terserah kamu saja"


Sambil menatap wajah ibunya tajam, Alana mengerakkan tangan kanannya untuk memutar kunci kamar Alina dengan tegas.


Seolah sedang menyampaikan kecurigaannya pada sang ibu dan juga adiknya, Alana lalu berjalan kembali ke ruangan tanpa berbicara sepatah katau pun lagi.


"Ya tuhan! Aku yakin, dilihat dari tatapannya tadi, dia pastinya sudah menaruh curiga padaku! Atau hanya perasaanku saja?"


"Apa ibu pikir Alana sebodoh itu?"


"Alina?"


"Alana itu sangat pintar bu, tidak mungkin kalau dia tidak menyadari ada sesuatu yang aneh dari pergerakan ibu. Dia bukanlah anak yang bisa ibu bohongi dengan mudah"


"Apa bayangan yang dimaksud Alana tadi, adalah kamu? Dan apa kamu ingin bilang kalau Alana tahu itu adalah kamu?"


"Itu memang aku, Alana juga pasti telah menyadarinya dengan jelas. Hanya saja, aku bingung kenapa dia tidak langsung bertanya pada ibu"


"Mungkin karna dia memilih untuk tidak percaya kalau itu adalah benar sosok dirimu. Kamu kan tahu sifat Alana seperti apa, dia selalu menaruh semua pikiran positifnya pada setiap orang yang ditemuinya"


Benae juga. Kamu dan hatimu itu lah yang me jadi masalah utama dirimu, Alana. Hati yang berbeda dari hatiku, hati yang lemah!" gumam Alina pelan.


"Apa? Apa yang kamu katakan barusan Alina, ibu tidak bisa mendengarnya sama sekali karna suaramu yang terlalu kecil"


"Tidak ada apa-apa bu. Aku hanya ingin tidur dulu sekarang, jadi tidak bisa berbicara lagi dengan ibu"


"Ah, baiklah. Ibu akan membiarkanmu sendiri, supaya kamu bisa lebih leluasa beristirahat. Selamat beristirahat sayang"


"Terima kasih bu"


Alice yang mengira suasana hati Alina sudah kembali menjadi baik, mengunci pintu kamar tersebut, dan pergi dari sana menuju ke arah kamarnya sendiri.


Tapi yang tidak diketahui oleh Alice adalah, Alina kini sedang menatap wajah Luke pada sebuah foto yang menempel pada sebuah papan kayu di dinding kamar gadis itu.


Tatapan yang tersorot keluar dari kedua mata Alina, menyiratkan ada kebencian dan juga kemarahan yang teramat sangat pada Luke, seolah pria itu telah melakukan suatu kesalahan besar pada Alina.


"Dasar pria kurang ajar, beraninya kamu mendekati saudara kembarku! Kamu dan dua temanmu itu, bisa membuat waktu Alana yang seharusnya menjadi milikku seutuhnya, malah harus terbagi dengan kalian! Lihat saja, aku tidak akan membiarkan hal itu sampai terjadi. Bila perlu, Alana harus terus bersama denganku selamanya!"


Sambil tersenyum licik, Alina pun mengambil sebilah pisau dari balik bantalnya, dan langsung membuat sebuah tanda silang pada foto Luke tersebut.


Bersambung...