
Mike yang kesal melihat Luke mengagalkan rencananya untuk bisa duduk sebangku dengan Alana, hanya bisa menatap tajam ke arah pria itu.
Namun Luke yang ditatap, malah dengan santainya mengedikkan kedua bahunya dan bersikap masa bodoh. Mike yang tak ingin kalah dari seorang anak baru, berniat untuk menghampirinya dan memberikannya sebuah pelajaran.
Bunyi langkah kaki yang memasuki kelas, membuat niat Mike terpaksa harus terhenti saat itu juga. Pria itu hanya bisa mengepalkan kedua tangannya sebagai pelampiasan.
Pelajaran pun berlangsung dengan tenang dan lancar, tanpa ada satu pun gangguan, hingga bel tanda istirahat berbunyi sebagai pertanda pelajaran berakhir saat itu juga.
"Alana" panggil Mike cepat, seolah takut akan keduluan oleh orang lain.
"Iya, ada apa Mike?"
"Aku hanya ingin bertanya tentang ayahmu, apa dia tidak keberatan kalau aku datang ke rumah kalian pada siang hari setelah pulang sekolah, dan bukannya pagi hari lagi?"
"Ah, tentang pekerjaanmu itu? Aku rasa ayah tidak akan mempermasalahkannya. Lagipula ayahku juga tahu kalau waktu itu kamu bisa datang pagi, karna sedang dihukum oleh pihak sekolah"
"Benar juga sih katamu, tapi aku hanya ingin memastikannya lagi padamu. Kalau begitu, apa kamu mau pulang sekolah bersamaku?"
"Aku rasa tidak bisa. Soalnya aku sudah ada janji kencan dengan ayahku hari ini, untuk melakukan suatu hal yang aku sukai"
"Ah benar, ini kan hari ulang tahunmu! Tunggu sebentar, aku punya sesuatu yang sudah ku siapkan untukmu"
"Kamu menyiapkan hadiah untukku? Kenapa repot-repot seperti itu, padahal hanya dengan ucapan saja sudah cukup buatku"
"Tidak repot kok, lagi pula kamu kan selalu memberikanku hadiah setiap tahunnya, masa aku tidak melakukan hal yang sama juga"
Alana baru saja ingin kembali memprotes tindakan Mike yang menyiapkannya hadiah, tapi pria itu sudah duluan kembali ke mejanya dan mulai mencari-cari sesuatu dalam tas.
Meskipun adalah pria tampan yang terkenal dengan sikap dinginnya dan juga nakal, tapi Mike selalu bersikap hangat hanya kepada Alana seorang.
Bahkan ketika Alana pertama kali masuk ke sekolah dasar, Mike adalah orang pertama yang dengan senang hati mendekati dirinya dan mau menjadi teman Alana.
Mike juga selalu berusaha keras agar bisa tetap satu sekolah dengan Alana. Meskipun pilihan sekolah Alana adalah sekolah yang bergengsi dan sangat sulit untuk dimasuki, tapi nyatanya Mike tetap bisa berada satu sekolah dengan gadis itu.
Oleh karna kedekatan keduanya, Wim pun menjadi menyukai Mike dan menawarkannya pekerjaan untuk berjaga di depan pintu kamar Alina selama beberapa jam dirinya tidak berada di rumah.
"Ini, bukalah" pinta Mike sambil mengulurkan sebuah bingkisan kecil berwarna putih ke arah Alana.
Sambil tersenyum manis, Alana mengambil bingkisan itu lalu perlahan membukanya. Ternyata yang ada di dalam adalah sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu berwarna putih, yang tampak sangat indah.
"Bagaimana? Apa kamu menyukai hadiahku? Kalau tidak suka, aku bisa menggantikannya dengan hadiah yang lain"
"Tidak usah Mike, aku sangat suka sekali dengan hadiah yang kamu berikan. Maaf tidak langsung memberikan respon, karna tadi aku sangat terpana melihat jepit yang indah ini. Pasti harganya mahal, bukan?"
"Kamu tidak perlu tahu berapa harganya. Yang harus kamu tahu adalah, aku membelikannya dengan segenap hati menggunakan uang yang selama ini sudah ku kumpulkan dengan susah payah"
"Terima kasih Mike"
"Sama-sama Alana. Apa kamu mau aku juga sekalian memakaikannya di atas rambutmu? Kamu pasti akan terlihat jauh lebih cantik lagi kalau memakainya sekarang"
"Boleh"
Wajah Mike seketika menjadi cerah berseri saat mendengar jawaban Alana. Mike bahkan sempat-sempatnya menjulurkan lidah ke arah Luke yang masih tetap berada dibangkunya, dan kembali dikelilingi oleh para gadis.
Luke yang melihat hal itu, hanya memutar kedua bola matanya malas. Entah mengapa, aura permusuhan diantara kedua pria itu langsung berkumandang setelah beberapa saat baru bertemu.
"Apa aku bilang, kamu pasti jadi tambah cantik kalau memakai jepit rambut pemberian dariku! Kamu sekarang terlihat sangat mirip dengan para bidadari surga!"
"Astaga, kalau memang Alana secantik itu, kenapa kamu tidak langsung menyatakan cinta saja padanya! Kenapa malah menebar cinta tanpa hubungan yang jelas?!" sindir Nadira teman sebangku Alana, sekaligus juga adalah sahabat Alana.
"Gawat Alana, sepertinya aku punya indera keenam! Buktinya, barusan tadi aku seolah mendengar suara tanpa wujud, apakah itu suara mahkluk halus?"
"Dasar pria kurang ajar, awas saja kalau kamu meminya bantuanku lagi untuk mendekati Alana! Bahkan sampai air mata darah keluar dari kedua matamu itu, aku tetap tidak akan mau!"
"Ya sudah, aku tinggal minta bantuan Alana saja langsung, untuk mendekatkanku dengan dirinya. Simpel bukan?"
"Bocah gila! Aku sumpahin, semoga Alana jadiannya sama yang lebih ganteng darimu, yang lebih tinggi, yang lebih kaya, pokoknya yang lebih segalanya darimu!"
"Kok malah jadinya, kamu seperti berharap Alana jadian sama Luke sih? Kan semua yang baru kamu sebutkan tadi, adanya hanya di dirinya Luke" celetuk seorang teman Alana.
Mendengar celetukkan itu, Nadira pun tanpa malunya segera berbalik dan mengamati Luke dari atas kepala pria itu, hingga ke bawah kakinya.
Membuat semua orang yang ada disana menanti dengan penasaran, apa yang akan keluar dari mulut Nadira. Pasalnya, Nadira itu adalah salah satu anggota pasukan TPSTJ, alias pasukan tipe pacar selangit tapi jomblo.
"Yah lumanyanlah, kalau dibandingkan sama Mike, masih jauhan kamu diatas dari segala segi. Dari pada sama Mike, mendingan sama Luke saja, gimana Alana?"
"Nadira, jangan seperti itu. Nanti kalau dia jadi tersinggung bagaimana? Kan kita baru saja kenal sama dia, masa sudah diajak bercanda soal pacar-pacaran"
"Jadi, kalau semua itu bukan bercanda, kamu tidak akan mempermasalahkannya?" tanya Luke tanpa terduga.
"Astaga! Dia membalasnya dengan serius teman-teman, apakah dia menyukai si Alana kita yang adalah siswi tercantik di kelas ini?" seru Nadira heboh.
"Nadira, hetikan. Lebih baik sekarang kita pergi ke kantin saja, sebelum jam istirahatnya berakhir!" ajak Alana cepat, untuk keluar dari pertanyaan Luke.
"Aku ikut Alana!"
"Maaf Mike, kami mau ke toilet dulu sebelum ke kantin. Kalau tidak keberatan, apa boleh untuk hari ini kamu ke kantinnya sama teman cowok yang lain saja?"
"Ah, baiklah"
"Sekali lagi terima kasih untuk hadiah jepit rambutnya, bye"
Mike yang tidak diijinkan ikut ke kantin, hanya bisa menatap punggung milik Alana dan juga Nadira yang berjalan menjauh dengan tatapan sedih. Untuk melampiaskannya, pria itu dengan beraninya menendang salah satu kaki meja milik Luke.
"Sepertinya kamu sangat tidak menyukaiku, apa aku sudah melakukan suatu kesalahan padamu?"
"Tentu saja! Alana buru-buru pergi ke kantin barusan, itu kan karna ulahmu yang tiba-tiba memberinya pertanyaan aneh! Waktu itu juga, kamu mengagalkan niat Alana yang ingin pindah tempat duduk disampingku! Apa kamu menyukai Alana?"
"Kalau benar aku menyukainya, memangnya kenapa? Apa kamu ingin melakukan sesuatu padaku?" tanya Luke santai.
"Jika kamu benar menyukainya, maka cepat hilangkan rasa sukamu itu padanya, karna dia adalah punyaku! Aku yang lebih dulu suka padanya sejak lama!" pinta Mike tegas, lalu bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu keluar.
"Aku tidak mau. Lagian, kamu juga bukan pacarnya, jadi kamu tidak ada hak apa pun untuk melarangku menyukainya"
Mendengar jawaban Luke, hati Mike menjadi panas seketika, namun ia tidak bisa berkata apa-apa untuk membantah ucapan itu, karna semuanya adalah fakta.
Mike hanya bisa melanjutkan langkahnya keluar dari kelas dalam ekspres diam yang mengerikan.
"Ya ampun, lagi-lagi Alana terus yang para pria rebutkan. Memangnya apa bagusnya sih, cewek berkulit pucat itu!" cibir seorang gadis yang berada di deretan paling belakang.
"Aku jadi kesal, kenapa semua pria tampan selalu jatuh hati padanya? Tidak Mike, tidak si anak baru itu, semua diambil sama Alana!" timpel gadis disebelahnya.
Bersambung.