
Sebuah cafe dengan nuansa abu-abu berpadu dengan warna feminin, sudah menjadi tempat pilihan pertama keempat remaja itu untuk memulai kesenangan mereka.
Layaknya suasananya, cafe itu menyediakan berbagai macam minuman dan juga kopi yang disukai oleh banyak orang. Tak hanya itu, disudut lainnya terdapat dua etalase kaca besar yang berisi berbagai macam kue dan juga puding.
Hal itu langsung membuat air liur Nadira dan Alana, mau tidak mau hampir mengalir keluar dari mulut keduanya. Meskipun anak orang kaya, tapi Alana yang jarang mengekspor dunia luar tentang aneka kulinernya, memang wajar jika bereaksi seperti itu.
Sedang Nadira, karna gadis itu merupakan pemburu makanan-makanan enak yang siap disantap, apalagi kalau endingnya itu adalah makanan gratis.
"Sudah, sudah. Cukup melihat-lihat kuenya dengan tatapan ngiler begitu, sekarang ayo kita cari tempat duduk!" pinta Luke, menyeret kedua gadis itu pergi.
"Bagaimana kalau kita duduk di lantai duanya saja? Ada rooftop disana, yang langsung berhadapan dengan pemandangan di kota" usul Mike, yang memang sudah pernah ke cafe itu sebelumnya.
"Wah, yang benar? Kalau begitu, kita tidak boleh melewatkannya! Ayo Alana, kita pergi kesana dan berfoto sebanyak mungkin!"
Dengan secepat kilat, Nadira menarik paksa tangan sahabatnya itu untuk menuju ke lantai dua meninggalkan Mike dan juga Luke begitu saja, tanpa berniat mengajak kedua pria itu.
Luke yang sudah mulai terbiasa dengan tingkah laku Nadira yang luar biasa aneh dan juga semangatnya yang over, hanya bisa menghela nafas prihatin dan mulai menaiki tangga menyusul kedua gadis itu.
"Permisi, mau pesan apa? Ini daftar menu yang ada di cafe kami" sapa seorang pelayan wanita sambil menyerahkan buku menu, ketika mereka bereempat sudah mendapat tempat duduk.
"Sabar yah mba. Nah mari kita lihat, apa yang harus kita pesan yah? Oh iya, karna hari ini kita ditraktir oleh Luke, jadi tidak masalah kan kalau aku memesan banyak menu?" tanya Nadira, dengan tatapan penuh harap ke arah Luke.
"Yah, silakan pesan apa saja yang ingin kalian makan, aku pasti akan tetap membayarnya. Tapi yang penting, kalian bisa menghabiskan makanan itu"
"Oh tentu saja aku bisa menghabiskannya, mau seberapa banyak pun itu. Jadi kamu tak perlu khawatir, karna gadis yang sedang duduk di depanmu ini, adalah gadis yang bisa memakan segala makanan yang ada di dunia"
"Kalau dia bilang seperti itu, maka kamu harus mempercayainya. Karna jika kamu tidak percaya, maka nanti dompetmu sendiri yang akan menangis" bisik Mike
"Tenang saja. Isi dompetku tidak setipis isi dompetmu kok, jadi aku pasti bisa membayar sebanyak apa pun makanan yang nantinya akan dipesan oleh Nadira"
"Huh! Dasar orang kaya sombong!" cibir Mike kesal ke arah Luke yang duduk disampingnya.
"Ahahahaha. Dua kali sudah kamu kalah telak darinya Mike! Eh tidak, bukan dua kali saja melainkan sudah tiga kali berturut-turut kamu kalah. Astaga, aku jadi dilema harus memilih mendukung siapa diantara kalian berdua"
"Diam kamu! Lebih baik pesan saja apa yang ingin kamu makan, bila perlu borong saja semua isi cafe ini sekalia!"
"Tanpa kamu suruh, aku juga memang telah berniat melakukan itu. Oh iya mba, aku pesan makanannya kue yang ini, ini, ini, lalu untuk pudingnya, aku pilih yang ini, ini, ini yah. Oh iya, minumannya aku pesan yang dua ini saja. Terima kasih"
"Baik dek. Kalau untuk temannya yang lain? Apa yang mau dipesan?"
Luke, Mike, dan Alana pun secara bergiliran menyebutkan minuman dan makanan apa yang ingin dipesan oleh mereka bertiga kepada pelayan tersebut.
Sambil menunggu pesanan disiapkan, Nadira mengajak Alana dan yang lainnya untuk mengambil foto pada ponsel masing-masing secara bergantian.
Setelah menunggu kurang lebih selama lima belas menitan, akhirnya pesanan keempat remaja itu pun datang. Dan tentu saja, yang paling banyak adalah milik Nadira.
"Astaga Nad, itu seriusan bisa kamu makan habis seorang diri? Itu makanannya banyak sekali, bagaimana kalau tidak habis dimakan, kan sayang nanti dibuang"
"Aduh Alana, masa kamu meremehkan apa yang menjadi kemampuan andalanku sih? Lagipula kalau tidak habis, kan bisa diminta ke pelayannya buat dibungkus terus tinggal aku bawa pulang saja. Gampang kan?"
"Memangnya bisa dibungkus bawa pulang yah? Kok aku baru tahu, padahal biasanya kalau aku dan ayahku makan diluar, banyak yang sisa tapi dibiarkan begitu saja"
"Apaan sih Nad? Aku bukan orang kaya deh, yang kaya itu seperti Luke, yang bisa bayarin makanan kita bertiga. Kalau aku mana pernah bayarin temanku makan, uang jajannya lebih banyak ku tabung"
"Uang jajanmu berapa sehari?"
"Biasanya dikasih standarnya sama ayahku, 200 ribu. Tapi kalau lagi ada acara di sekolah, bisa sampai 500 ribu dikasihnya"
"200 ribu?! 500 ribu?! Itu kamu tabung semuanya?" tanya Nadira terkejut.
"Iya. Memangnya mau dibuat apa lagi kalau bukan ditabung? Siapa tahu nanti ayahku jatuh miskin dan tidak punya uang, kan bisa pakai uang tabunganku untuk mulai buka usaha lagi" jawab Alana jujur.
"Tidak salah sih jawabannya, tapi kok aku jadinya kesal sendiri yah dengarnya? Ini aku saja yang bermasalah, atau memang Alana yang kebanyakan sisi polosnya yah?! Si paling berbakti sama orang tua nih!"
Melihat wajah Nadira yang seketika berubah menjadi kesal karna jawaban jujur dari Alana, membuat Luke dan Mike tidak bisa menahan tawa keduanya.
Sedang Alana yang tidak mengerti kenapa kedua pria itu tertawa, dan Nadira yang kesal, hanya menatap ketiga temannya itu dengan tatapan bingung.
"Nad, memangnya ada yang salah yah dari jawabanku tadi? Kok kamu kelihatan kesal sih, Luke dan Mike juga tiba-tiba saja tertawa tanpa alasan yang jelas"
"Tidak kok Alana. Tidak ada yang salah sama sekali dengan jawabanmu barusan, yang salah itu takdirku sendiri yang tidak terlahir di dalam keluarga kaya. Jadi kamu tidak salah sama sekali, oke?"
"Gitu yah?"
"Hemm, iya"
Alana yang percaya-percaya saja kalau tidak ada sesuatu yang terjadi, kemudian mulai menikmati makanan dan minuman yang tadi dipesan olehnya.
Melihat hal itu, Nadira pun melakukan hal yang sama dan mulai menikmati semua yang sudah dipesan olehnya hingga habis tak bersisa sedikit pun.
"Aduh, akhirnya perutku kenyang juga. Terima kasih yah Luke, atas traktiran makannya, kalau bisa sering-sering lah seperti ini" pinta Nadira tak tahu malu.
"Aku sih bisa saja mentraktirmu lagi. Asalkan habis dari cafe ini, kita lanjut lagi pergi ke taman hiburan untuk bermain, tanpa ada satu orang pun yang tidak ikut" jawab Luke, sambil melirik ke arah Alana.
Seolah tahu maksud dari ucapan Luke itu, Nadira langsung melemparkan tatapan penuh permohonannya kepada Alana. Yang memang sudah sedari awal berniat langsung pulang begitu acara makan mereka selesai.
Mike yang juga berharap bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersama Alana, turut melakukan hal yang sama dengan yang telah Nadira lakukan.
"Bukannya tadi katanya hanya makan di cafe saja yah, kenapa tiba-tiba mengajak ke taman hiburan juga sih?"
"Yah kan biar acaranya semakin seru dan lengkap Alana. Lagian, kita juga tidak pernah pergi ke taman hiburan bersama-sama. Jadi mumpung sudah disini, sekalian saja kita juga pergi kesana. Bagaimana?"
"Benar kata Nadira. Dan kalau kamu takut pergi karna alasan orang tuamu, aku bisa kok meminta ijin lagi sama om Wim"
"Astaga, kalian ini! Ya sudah terserah saja, yang penting pulangnya jangan sampai kemalaman!" putus Alana, pada akhirnya sekali lagi menuruti ajakan ketiga temannya.
Gadis itu seolah telah lupa kalau di rumah, ada Alina yang telah menunggunya dengan setia. Menunggu waktunya yang sudah ia janjikam untuk dihabiskan hanya bersama dengan sang kembaran.
Bersambung...