Twins But Different

Twins But Different
Niat Alana



Sejak saat itu, hubungan antara Alana dan Alina menjadi jauh. Meskipun mereka hidup dalam satu rumah, tapi kehidupan keduanya menjadi berbeda satu sama lain.


Alana yang telah diizinkan untuk bersekolah oleh Wim, menjadi semakin sibuk dengan semua aktifitasnya diluar rumah bersama teman-teman barunya. Apalagi kini usianya hampir akan menginjak, 17 tahun.


Sedangkan Alina, masih sama seperti dulu, menghabiskan tiap harinya dengan terkurung di dalam kamar seorang diri.


Alina yang menjadi sangat kesepian tanpa kehadiran Alana yang selalu menemaninya berbicara tentang segala hal, pun mencari sebuah kesenangan untuk mengisi waktunya.


Apalagi Wim yang semakin ketat dalam mengurung Alina, mencari seseorang yang dapat dipercaya untuk terus berjaga di depan pintu kamar Alina selama 12 jam penuh.


Sebenarnya bisa saja Wim mempercayakan Alina kepada Alice, tapi mengingat kasih sayang wanita itu yang berlebihan kepada Alina, Wim menjadi ragu. Dan karna dirinya sudah mulai bekerja dengan membuka usahanya sendiri, Wim tidak bisa mengawasi putrinya itu di waktu pagi hingga sore hari.


Hanya malam lah waktu yang bisa digunakan oleh Wim untuk mengawasi Alina secara langsung.


"Nyonya Alice, ini sudah tepat jam 6 sore. Aku ingin pamit pulang dulu sekarang, besok aku akan datang lagi seperti biasa" pamit seorang pria muda, yang dipekerjakan oleh Wim.


"Ah, benar juga. Terima kasih untuk kerja kerasmu hari ini, Mike"


"Sama-sama nyonya"


Setelah memastikan Mike telah benar-benar pergi jauh, Alice dengan panik segera berlari ka arah belakang rumah untuk mengambil sesuatu dari sana, kemudian menghampiri kamar Alina.


Tok... Tok.. Tok...


"Alina, ibu membawakan pesanan yang kamu inginkan nak. Apa kamu ingin ibu masukkan ke dalam kamarmu sekarang?"


"Wah, ibu memang yang terbaik. Cepat lah bu, masukkan kesini sebelum ayah pulang. Aku sudah tidak sabar untuk melihatnya"


"Baiklah sayang. Tapi kamu harus janji pada ibu, kalau yang kali ini jangan sampai mati lagi seperti yang sebelum-sebelumnya"


"Aku janji bu, tenang saja"


Alice pun membuka kunci pintu kamar Alina dan mendorong masuk sesuatu yang baru saja diambilnya di belakang rumah, setelah itu ia kembali mengunci pintu.


Melihat sesuatu yang dimasukkan oleh sang ibu barusan mulai bergerak pelan dan juga berjalan kesana kemari, Alina menjadi sangat senang dan langsung memasang senyuman jahat di wajahnya.


Ternyata itu adalah seekor kelinci kecil yang adalah hewan peliharaan Alana. Kelinci itu berbulu putih bersih, dengan sedikit warna coklat kecil di bagian telinganya yang menjadi sebuah tanda lahir.


Dengan kedua tangan terbuka lebar, Alina secara perlahan mulai mendekati kelinci itu untuk menangkapnya. Kemudian, gadis itu meraih sepotong pecahan kaca yang telah disembunyikan olehnya sedari awal, dibalik kasur.


Baru saja ia akan mendekatkan pecahan itu ke arah leher si kelinci, tiba-tiba telinganya menangkap suara selain suara ibunya dari luar kamar. Ternyata itu adalah suara ayahnya yang baru saja pulang dari bekerja.


Dengan kesal, Alina terpaksa menghentikan aktifitasnya untuk sementara waktu. Pecahan itu kembali disembunyikan dibalik kasur, dan kelinci yang malang, diikat menggunakan kain seprei supaya tidak bisa bergerak.


"Dimana Mike? Apa dia sudah pulang?" tanya Wim, sambil menuangkan segelas air untuk diminum olehnya.


"Iya, ini kan memang sudah waktunya untuk pulang kerja. Dia bahkan belum terlalu lama perginya, saat kamu tiba juga di rumah"


"Benarkah? Harusnya aku bisa lebih cepat lagi untuk sampai di rumah. Ya sudahlah, kan masih ada hari esok. Besok kalau dia ingin pulang, katakan padanya untuk menungguku"


"Memangnya ada apa? Apa yang ingin kamu lakukan dengan menahannya untuk lebih lama berada di rumah ini? Kasian Alina, dia bahkan tidak berani untuk bersuara sama sekali saat Mike masih berjaga disini"


"Karna itu, besok aku akan menceritakan pada Mike tentang semua fakta mengenai Alina, supaya dia bisa lebih ketat lagi mengawasi dan juga lebih berhati-hati"


"Yang benar saja Wim! Bagaimana kamu bisa menceritakan tentang Alina pada orang asing yang baru bekerja padamu selama beberapa waktu, apa tidak cukup kamu mengacaukan semuanya dengan memberitahu Alana yang sebenarnya tentang Alina?!" Alice menjadi marah seketika.


"Utuh? Keluarga ini memang masih utuh Wim, tapi tidak dengan hubungannya! Dari hari ke hari hubungan kita semakin jauh antara satu dengan yang lain"


"Tidak masalah hubungan kita menjauh, yang terpenting kita semua masih bisa bernafas dan tidak bernasib sama seperti Albert, yang kini harus terbaring kaku untuk selamanya di halaman belakang rumah ini"


"Kenapa kamu selalu saja mengungkit hal itu setiap kita berdebat tentang Alina? Itu hanya kesalahan seorang anak kecil yang tidak tahu apa-apa Wim, tolong lupakanlah!"


"Terserah padamu saja. Yang pasti, aku akan tetap melakukan apa yang ingin aku lakukan demi menjaga anak itu tidak lagi membunuh orang lain, selain Albert"


"Bagaimana kalau dia tidak bisa dipercaya, dan malah menceritakannya pada orang lain tentang Alina?"


"Aku yang akan memastikan hal itu tidak akan pernah terjadi, kamu tenang saja" Wim pun berjalan pergi menuju kamar, meninggalkan Alice sendiri.


Alice yang masih merasa marah karna apa yang dikatakan olehnya tidak lagi didengarkan oleh Wim, dan sekaligus merasa sedih karna telah gagal memberikan kehidupan yang layak untuk putrinya, hanya bisa melempar semua barang yang ada dihadapannya untuk menjadi pelampiasannya.


Alana yang ternyata sedari tadi telah berdiri tak jauh dari kamar Alina, ikut mendengar semua pembicaraan kedua orang tuanya. Perasaan untuk bisa kembali dekat dengan Alina yang selama ini dipendamnya, perlahan mulai muncul.


Alana yang telah tumbuh menjadi gadis berhati lembut dan penuh kasih sayang itu, seketika menjadi sangat sedih dan terluka hatinya, saat melihat betapa menyedihkan kondisi Alice saat ini.


Dengan perlahan, Alana berjalan ke arah Alice dan langsung memeluk tubuh ibunya dari belakang, membuat Alice menjadi terlonjak kaget.


"A_Alana?" panggil Alice tak percaya, saat tahu bahwa putri sulungnya lah yang sedang memeluk dirinya.


Pasalnya, setelah kejadian Alina membunuh Albert dan Alana mengetahui kebenaran tentang Alina, gadis itu enggan untuk menjadi dekat lagi dengan Alice.


Alana hanya akan berbicara seperlunya saja pada Alice, dan meskipun sudah berulang kali Alice menangkap gerakan dan juga niatan dari sang putri untuk kembali mendekatkan diri padanya, namun semua itu tidak pernah sampai benar-benar terjadi.


Baru sekarang lah, Alana berani melakukan apa yang selama ini ingin dilakukannya pada Alice, yaitu mendekatinya dan juga memeluk sang ibu dengan sepenuh hati. Membiarkan semua kekecewaan dan sakit hati, hilang dari dalam dirinya.


"Alana minta maaf bu, maaf karna selama ini Alana menjauhkan diri dari ibu dan juga Alina. Hanya saja, Alana belum sanggup waktu itu untuk bisa menerima kenyataannya"


"Tidak apa-apa sayang, ibu bisa mengerti apa yang kamu rasakan. Terima kasih karna kamu sudah mau mendekati ibu lagi, dan berbicara tentang isi hatimu"


"Sama-sama bu. Apakah Alana masih bisa tetap dekat dengan ibu dan juga Alina seperti dulu lagi?" tanya Alana dengan tatapan penuh harap.


"Ka_kamu, kamu ingin kembali dekat lagi dengan Alina?"


"Iya bu, apa boleh?"


"Tentu saja boleh nak! Tapi, ibu tidak yakin apa Alina bisa menerima dirimu untuk dekat dengannya seperti dulu lagi, karna ibu rasa dia sudah banyak terluka hatinya"


"Biar Alana sendiri yang akan berbicara pada Alina bu, Alana yakin bisa membujuknya. Jadi ibu tidak perlu cemas"


"Itu yang ingin ibu dengar darimu, Alana. Terima kasih, terima kasih sayang. Kamu mau kan menjaga adikmu bersama-sama dengan ibu?" Alice menggenggam kedua tangan Alana erat.


"Iya, aku mau bu"


Ketika mendengar jawaban Alana, Alice pun menjadi sangat senang hingga tak bisa lagi berkata-kata. Membayangkan kedua putrinya menjadi dekat kembali, adalah impian dan hal yang selalu dimimpikannya selama beberapa tahun ini.


Dan setelah sekian lama menunggu dengan sabar, akhirnya hal itu bisa tercapai dan tak lagi menjadi sesuatu yang mustahil. Semua berkat uluran tangan dari Alana, Alice pun mengecup dahi putrinya berulang kali dengan sayang.


Bersambung..