
Alana yang merasa takut melihat apa yang ada di depan matanya, secara perlahan mulai mundur menjauh dengan teratur. Gadis kecil itu malah mengira kalau kedua orang tuanya lah, yang telah melakukan pembunuhan itu pada Albert.
Wim yang menyadari arti dari tatapan Alana, dengan cepat menggelengkan kepalanya dan segera menarik tubuh putrinya itu masuk ke dalam pelukannya.
"Ayah tahu apa yang kamu pikirkan Alana, tapi semua ini terjadi bukan karna ayah atau ibu yang melakukannya. Ini semua karna Alina, kembaranmu itu"
"Wim! Apa yang kamu lakukan, kenapa kamu memberitahukan hal iti pada Alana?!" Alice terkejut, mendengar ucapan suaminya.
"Lalu, mau sampai kapan kamu berniat untuk menyembunyikannya dari Alana? Apa sampai Alana juga akhirnya menjadi sama seperti Albert saat ini?"
"Itu tidak mungkin terjadi Wim. Aku yakin Alina tidak mungkin akan melakukan hal yang jahat pada kembarannya, dia juga tahu yang mana musuh dan yang mana keluarganya"
"Jadi menurutmu, Alina membunuh bocah tak berdosa ini, karna dia adalah salah satu musuhnya? Yang benar saja Alice, aku tahu kalau kamu sendiri juga menyadari kalau bukan seperti itu fakta sebenarnya! Itu terjadi karna instingnya sebagai seorang vampire yang haus akan darah, secara perlahan sudah mulai muncul!"
"Va_vampire? A_Alina, Alina vampire? A_apa maksud ayah, apa semua itu benar?" Alina memandangi bergantian wajah kedua orang tuanya dengan penuh tanda tanya.
"Iya nak, kembaranmu itu adalah seorang vampire yang berbahaya dan haus akan darah manusia. Itu sebabnya kamu tidak boleh lagi berada dekat-dekat dengan kamarnya, karna kapan saja dia bisa keluar dan membunuhmu seperti yang dilakukannya pada Albert"
"Oh tuhan, tolonglah Wim! Apa tidak bisa kamu berhenti memberitahukan semuanya kepada Alana? Dia masih anak kecil, tidak seharusnya dia mengetahui semuanya!"
"A_aku takut"
"Apa Alana? Apa yang kamu katakan barusan, ibu tidak mendengarnya karna suaramu kecil sekali. Ada apa sayang?"
"Aku bilang aku takut! Aku takut berada dekat dengan Alina! Kenapa ibu tidak memberitahu aku tentang siapa Alina sebenarnya, apa ibu ingin aku menjadi tumbalnya?"
Betapa terkejutnya Alice mendengar semua ucapan penuh rasa marah dan ketakutan yang baru saja keluar dari mulut putrinya itu. Bukan seperti ini yang Alice inginkan, Alice ingin kedua putrinya tetap aku meskipun mereka berbeda.
Tapi kini semua keinginannya leyap sudah bersamaan dengan ucapan Alana yang takut berada di dekat Alina. Alice bahkan tidak tahu apa yang harus ia katakan, supaya bisa membuat Alana menarik kembali ucapannya.
"Alana, bagaimana kalau kita pergi saja dari sini dan kembali masuk ke kamar Alana lagi? Ayah akan menemani Alana"
"Tidak mau. Alana masih ingin mendengar mendengar jawaban dari ibu, apa semua ini adalah perbuatan ibu hingga Albert bisa ada di dalam kamar mandi kita?"
"Alana hentikan, nak. Jangan kamu bertanya lagi tentang sesuatu yang belum bisa kamu pahami artinya dengan baik"
"Alana bisa mengerti bu. Tiap hari Alana belajar dengan keras semua mata pelajaran yang diberikan oleh ibu, demi bisa bersekolah seperti anak-anak lainnya. Ibu juga tahu kan, kalau otak Alana lebih pintar dari anak lain pada umumnya?"
"Kamu mungkin pintar soal pelajaran, tapi tidak dengan perasaan Alana. Semuanya yang terjadi, karna berdasarkan insting dan kasih sayang seorang ibu pada anaknya"
"Apa mengurung Alana yang bukan vampire seperti Alina di dalam rumah ini selama 24 jam, juga termaksud insting dan kasih sayang ibu pada Alana? Atau, semuanya itu hanya untuk Alina seorang?"
Deg.
Jantung Alice seketika seolah berhenti untuk berdetak. Dipandangi wajah putri sulungnya itu dengan tatapan sendu, tak tahu harus menjawab apa.
Wim yang melihat keadaan sudah tak bisa lagi dikendalikan oleh sang istri, hanya bisa menghela nafas dengan perlahan lalu berjalan ke arah kamar Alina untuk mencabut kunci yang masih tergantung disana.
"Berhentilah untuk berusaha membuat Alana dekat dengan Alina, Alice. Kamu juga tahu kalau itu tidak akan bisa terjadi, dan hanya akan membuat Alana berada dalam bahaya. Lalu mulai besok, aku akan membawa Alana dan mendaftarkannya masuk sekolah"
"Benarkah ayah? Jadi Alana juga akan pergi sekolah seperti anak-anak lain, yang biasa Alana lihat itu?"
"Tidak Wim, aku mohon kamu untuk tidak melakukan semua itu. Kita harus tetap hidup seperti ini supaya keberadaan Alina tidak di ketahui oleh orang lain, dan Alana harus tetap di rumah menemani adiknya"
"Aku tidak mau, aku juga ingin hidup bebas seperti orang lain bu. Alina tidak bisa hidup bebas, karna ini memang bukan dunia yang diciptakan untuknya"
"Diam kamu Alana! Apa kamu tidak bisa memikirkan betapa hancurnya perasaan Alina saat ini, ketika mendengar semua ucapanmu itu?" seru Alice marah.
"Alana tahu apa yang Alana katakan terkesan kasar dan akan menyakiti perasaan Alina, tapi itu semua karna Alana juga merasakan sakit yang sama, saat mengetahui bahwa selama ini Alana dikurung dalam rumah hanya untuk menjadi teman Alina saja supaya tidak merasa kesepian"
Setelah berkata seperti itu, Alana kemudian memeluk tubuh Wim erat dan mulai terisak pelan disana. Tubuh gadis kecil itu bergetar, karna mencoba meredam suara tangisnya.
Seketika hati Wim bagai terluka saat melihat keadaan putrinya yang begitu menyedihkan. Pria itu langsung membawa Alana ke dalam gendongannya, dan segera berlalu pergi dari sana meninggalkan Alice seorang diri.
Namun yang mereka semua tidak ketahui dan sadari, Alina yang telah mendengar semua percakapan dan fakta yang sebenarnya tentang dirinya, menjadi sangat terluka dan juga marah.
Namun entah mengapa, sebuah perasaan asing juga mulai menyusup masuk ke dalam hati Alina, membuat dirinya membayangkan kesenangan apa yang bisa dilakukannya pada ketiga anggota keluarganya itu.
Perasaan itu adalah perasaan benci dan ingin membunuh, yang secara cepat mulai tumbuh dan menguasai Alina. Gadis kecil itu seolah telah dibuat candu dengan pembunuhan yang baru saja dilakukannya pada Albert.
"Aku ingin lagi, aku ingin lagi. Ah, rasanya aku ingin mengulanginya lagi. Memukul kepala itu hingga mengeluarkan darah, menggigit leher mereka hingga dagingnya menempel pada lidah dan bibirku"
Alice yang merasakan adanya suara-suara bisikan dari dalam kamar Alina, dengan cepat berjalan mendekat ke arah kamar putrinya itu dan duduk bersimpu disana.
"Alina?" panggil Alice pelan.
Mendengar suara lembut milik Alice yang memanggil namanya, Alina seolah tersadar dari pikiran mengerikan yang sedari tadi terus memenuhi kepalanya.
"A_apa, apa yang sudah aku pikirkan dan katakan barusan? Kenapa aku tiba-tiba tanpa sadar bertingkah seperti itu?" tanya Alina pada dirinya sendiri.
"Alina sayang? Apa kamu bisa mendengar suara ibu, nak? Kalau kamu mendengarnya, tolong jawab lah"
"I_iya bu, Alina mendengarnya"
"Alina, ibu ingin Alina melupakan semua yang baru saja dikatakan oleh ayah dan juga Alana yah? Karna sebenarnya mereka juga sangat menyayangi Alina, sama seperti ibu"
"Iya bu, Alina mengerti"
"Terima kasih banyak sayang. Ibu janji, akan membuat Alana bisa kembali dekat dengan Alina dan tetap mau tinggal di dalam rumah ini, seperti yang biasanya"
"Iya bu. Alina harap Alana tidak akan pergi kemana-mana dan tetap bersama denganku di dalam rumah ini, supaya aku tidak merasa kesepian. Aku juga tidak ingin ayah berbaur dengan kehidupan disini, dan membuat keberadaanku diketahui oleh semua orang. Ibu bisa mewujudkan semua itu bukan?" bisik Alina, seolah sedang menangis. Namun yang malah sebaliknya, bibirnya kini dihiasi dengan senyuman jahat.
"Tentu, ibu pasti akan melakukan seperti apa yang kamu inginkan. Bagaimana pun caranya, akan ibu lakukan. Sekali pun harus memakai cara lama, untuk membujuk ayahmu"
"Terima kasih bu. Hanya ibu satu-satunya yang Alina punya, yang bisa mengerti dengan semua keadaan yang Alina alami"
"Sama-sama nak"
Bersambung...