Tiger Vs Miss Kitty

Tiger Vs Miss Kitty
Melamar



Tiger terus menarik tangan Siti hingga ke halaman cafe. Lalu Siti mengibaskan tangan agar bisa terbebas dari Tiger.


Amarah belum padam dalam diri Tiger sehingga dia berbalik badan dan menatap Siti dengan sorot mata yang tajam. Namun begitu melihat wajah Siti yang meringis kesakitan memegangi tangannya, mendadak hati Tiger melunak.


Dia merasa kasihan pada wanita itu. Apa mungkin dia terlalu keras pada Siti?


Tiger menghela nafas, sadar bahwa kelakuannya sudah keterlaluan. Dia sadar dirinya bukan siapa-siapanya Siti. Lalu untuk apa dia marah dan sampai memukul Brian?


"Sit, aku minta maaf."


Siti melirik Tiger dengan sinis. "Harusnya kamu minta maaf sama Brian. Bukan sama aku."


Tiger memijat pangkal keningnya. "Ya, sorry. Nanti aku bakal bilang maaf ke dia kok."


"Aku makin tambah nggak enak sama Brian. Niat aku cuma minta bantuan sama dia supaya bantu bilang ke Papa kalau pria yang aku suka itu kamu," ucap Siti yang kelepasan berbicara saking geramnya dengan keadaan yang terjadi.


Kini semuanya bertambah kacau. Siti makin malu untuk meminta bantuan Brian. Sepertinya harus dia sendiri yang berbicara pada sang ayah.


Mendengar ocehan Siti barusan, Tiger mengerutkan dahi. Dia tampak bingung sekaligus senang.


"Kami bilang apa tadi? Kamu suka sama aku?"


Detik berikutnya, wajah Siti mendadak tegang. Dia mengalihkan pandangan agar tak bertatapan langsung dengan Tiger. Dia menggaruk tengkuk yang sebenarnya tidak gatal.


"Siapa yang bilang? Aku cuma..."


Tiger menarik bahu Siti agar wanita itu menatap dirinya. "Kamu bilang begitu tadi. Jangan berpura-pura! Aku tahu kamu juga suka sama aku."


Siti menarik nafas panjang. Sudah tak ada guna dia menutupi kebohongannya lagi. D


Kini dia harus jujur pada Tiger akan apa yang telah terjadi.


"Iya, aku memang suka sama kamu," Siti mengakui pada akhirnya.


"Sejak kapan? Dan kenapa kamu nggak terus terang aja waktu itu?" tanya Tiger dengan menatap Siti penuh selidik.


"Aku bekerja sama sama ibu kamu," Siti menceritakan semua yang terjadi antara dirinya dan Ayana. Apa yang telah mereka rencanakan agar Tiger bisa menjadi pria yang lebih dewasa.


Sebenarnya Tiger sangat marah karena orang terdekatnya telah berbohong dan merencanakan sesuatu padanya. Tapi kemarahan itu tersiram reda oleh rasa bahagia menyadari jika cintanya tak bertepuk sebelah tangan.


Cup.


Satu kecupan lembut mendarat di bibir Siti begitu dia selesai bercerita. Disusul dengan pelukan hangat nan erat yang membuat Siti serasa terbang melayang.


Siti memejamkan mata sambil membalas dekapan Tiger. Lalu dia kembali membuka mata dan melepas pelukan.


"Tapi masalahnya, Tiger, sekarang Papa aku salah paham. Dia mengira pria yang aku cintai itu Brian, bukan kamu."


Raut wajah Tiger berubah serius. Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling lalu bertanya, "Tadi kamu ke sini naik apa?"


"Naik mobil sama sopir. Tuh di sana," Siti menunjuk salah satu mobil diantara deretan mobil di tempat parkir.


Seketika Tiger langsung memegang tangan Siti dan menariknya mendekati mobil tersebut.


"Eh, eh, tunggu! Kita mau ke mana?" Siti yang tak tahu apa yang dipikirkan Tiger, menjadi bingung saat pria itu kembali menarik tangannya.


"Kita ketemu Papa kamu. Aku mau melamar kamu sekarang juga," kata Tiger penuh keseriusan.


Kemudian Tiger membukakan pintu mobil agar Siti bisa masuk. Tapi Siti malah tetap berdiri mematung karena terkejut dengan niat lamaran Tiger yang sangat mendadak.


"Tapi, Tiger..."


"Nggak usah banyak tapi-tapi. Ayo, masuk aja."


Tiger menarik Siti ke dalam mobil. Lalu dia memerintahkan supir untuk membawa mereka ke kantor perusahaan Andrew.


Selama perjalanan, jantung Siti berdebar dengan cepat. Dia tak akan menyangka Tiger akan sampai seserius itu. Dia belum siap memperkenalkan Tiger pada ayahnya.


"Tiger, bagaimana kalau besok aja? Aku belum siap," tawar Siti pada Tiger yang duduk di sampingnya.


"Enggak. Pokoknya hari ini aku akan menemui Papa kamu," sahut Tiger tegas.


Siti mendesah pasrah sambil minat keningnya yang terasa pening seketika. Bahkan sampai rasa pening itu semakin bertambah saat kakinya menapaki lantai kantor ayahnya.


Sekretaris Andrew yang sudah mengenal Siti mempersilahkan Siti dan Tiger untuk masuk ke dalam ruangan Andrew. Pria paruh baya itu sedang duduk membelakangi pintu.


Tiger berdeham agar Andrew menyadari keberadaannya dan untuk mengusir rasa gugup di dalam hati.


"Permisi, Om," kata Tiger pada Andrew yang duduk membelakanginya.


Siti bertambah tegang. Dia melirik Tiger dan Andrew secara bergiliran. Keringat dingin meluncur di kening dan ujung jemarinya pun mulai bergemetar.


"Aku datang kemari untuk melamar putri Tuan Andrew. Saya benar-benar mencintainya dan ingin menjadikan dia istriku," Tiger berucap dengan sedikit kepayahan.


Entah kenapa menyatakan diri untuk melamar anak orang tidak semudah yang terlihat di film-film. Mendadak dada Tiger seperti di ikat oleh tali yang membuatnya sesak nafas.


"Tapi aku kurang setuju," sahut Andrew masih menghadapkan wajah ke jendela.


"Tapi, Tuan. Saya pasti akan berusaha sebaik mungkin untuk menjadi suami Siti. Saya siap melakukan apapun, asal Tuan merestui hubungan kami," Tiger melangkahkan satu kaki untuk mendekat ke meja Andrew.


"Aku mohon, Tuan."


Beberapa saat berlalu hanya hening yang tercipta. Tak ada sahutan dari Andrew. Pria itu diam seperti orang yang tertidur.


Sehingga Siti pun ikut melangkahkan kaki mendekati meja ayahnya. Namun, baru satu langkah dia tak sengaja menyenggol vas bunga yang mengakibatkan vas itu jatuh ke lantai.


Suara jatuhnya vas membuat Andrew sedikit terlonjak. Sontak dia memutar kursi dan wajahnya tampak terkejut dengan kehadiran Siti bersama Tiger.


"Lho, Kitty? Tiger? Sejak kapan kalian di sini?"


Siti dan Tiger saling berhadapan dengan raut wajah yang heran. Namun, detik berikutnya mereka saling paham begitu melihat sebuah earphone terselip di telinga Andrew.


Rupanya Andrew sedang menerima telepon dari seseorang. Bahkan pria itu tak tahu jika Tiger masuk dan berbicara dengannya.


Andrew melepas earphone lalu meletakan ke atas meja. Dia menatap Tiger dan Siti dengan alis yang dinaikan menunggu jawaban dari salah satu orang.


Tiger kembali berdeham. Dia harus terlihat keren di depan calon mertuanya.


"Begini, Tuan. Kedatangan saya kemari untuk melamar Siti. Saya ingin menikah dengan putri Tuan."


Andrew melirik pada Siti. Lalu kembali menatap Tiger sambil mengusap dagunya.


"Tapi Siti akan saya jodohkan dengan pria lain dan..."


"Enggak," kata Siti cepat memotong ucapan Andrew. Seketika Siti tersadar dan segera menundukkan kepala meminta maaf. "Maaf, aku menyela Papa. Tapi pria yang aku cintai itu Tiger. Bukan Brian. Brian sudah aku anggap seperti sahabatku saja, Pa."


Wajah Andrew mengerut tampak kebingungan sekaligus terkejut akan pengakuan Siti. Rupanya dia salah paham dengan keinginan Siti tempo hari.


"Jadi pria yang kamu maksud waktu itu..." Andrew menunjuk Tiger. "Pria ini?"


Siti mengangguk. Sorot matanya menatap Andrew penuh harap. Layaknya sepasang mata anak kucing yang meminta kasih sayang.


Tatapan itu membuat Andrew tak bisa menolak apalagi membentak putrinya. Lalu dia pun menarik nafas panjang dan berkata, "Baiklah. Kalau dia memang pilihanmu, Papa akan setuju."


"Benarkah?" tanya Siti dengan nada gembira.


Andrew mengangguk jawabannya. Detik berikutnya, Siti menghambur ke dalam pelukan Andrew. Dia sangat berterima kasih pada ayahnya yang ternyata tak mempersulit hubungan dia dengan Tiger.


"Tapi..."


Perkataan Andrew membuat Siti mendongak untuk menatap sang ayah. Begitu pula Tiger yang semula tersenyum lebar, kini mendadak berubah serius.


"Tapi apa, Pa?"


"Tapi yang Papa dengar, Tiger ini pria playboy, Kitty. Jadi kalau dia macam-macam sama kamu. Apalagi bermain api di belakang kamu..."


"Oh, itu nggak mungkin, Tuan Andrew," potong Tiger dengan cepat sambil menggelengkan kepala. "Saya sudah pensiun menjadi playboy kok. Tenang saja. Saya akan berusaha untuk setia bersama Siti."


Tiger melirik pada Siti dan dilihatnya wanita itu tersenyum padanya. Tapi tidak dengan Andrew. Pria itu tetap mempertahankan wajah dingin.


"Jaminannya apa?"


"Jaminannya dia harus disunat dua kali, Pa," celetuk Siti dengan senyum yang semakin mengembang.


Lantas Tiger menoleh pada Siti dengan mulut sedikit ternganga. Lalu sorot matanya berpindah ke bawah. Melirik ke celana dan mulai membayangkan bagaimana jika pusakannya benar-benar disunat dua kali.


Membayangkan saja membuat Tiger merasa ngilu.


"Bukannya Papa punya kenalan dokter bedah kan?" Siti sengaja bertanya untuk menakut-nakuti Tiger.


"Nggak perlu bantuan dokter. Papa sendiri yang akan memotong belalai Tiger kalau dia berani selingkuh darimu, Sayang."


Tiger menggelengkan kepala secepat mungkin. "Nggak. Jangan! Saya akan berusaha setia. Saya janji, Tuan."


Siti dan Andrew seketika tergelak melihat ekspresi wajah Tiger. Suasana yang tadi menegang berubah menjadi hangat seiring obrolan yang tercipta diantara mereka.