
Motor besar Tiger berhenti di depan rumah Farhan. Dia menyalakan klakson membuat seorang ART yang sedang menyiram tanaman tersentak kaget.
Tiger meringis dari balik helm saat seorang wanita tua yang menjadi pelayan di rumah Farhan itu melirik sebal padanya.
Meskipun begitu, si ART itu tetap membukakan gerbang untuk Tiger. Setelah mematikan mesin motor, Tiger turun dari motor dan melangkah masuk ke dalam rumah.
Dia bersiul riang tanpa dosa dan dia dapati Farhan beserta keluarganya sedang menikmati makan siang.
"Eh, ada Tiger," ucap Hani, Ibu Farhan, yang tak sengaja melihat Tiger sudah ada di ambang pintu.
Farhan dan ayahnya, Farel, pun ikut melirik ke arah pintu. Lalu Farhan menghela nafa berat sambil membungkukkan badan.
"Pasti mau minta nasi," sungut Farhan yang langsung dipukul pundaknya oleh Tiger.
"Siapa bilang aku ke sini cuma minta nasi. Emang di rumahku nggak ada nasi apa?" Tiger duduk di kursi samping Farhan.
"Terus kamu ke sini mau apa? Biasanya juga kan minta makan kalau ke sini."
"Ya, nggak apa-apa, Farhan. Memang apa salahnya kalau Tiger minta makan ke rumah kita," kata Farel penuh kebijaksanaan tersenyum pada Tiger yang merupakan anak sahabatnya sejak SMA.
Tiger menoleh sebentar pada Farel untuk memberikan senyum sekilas. "Nggak masalah, Om. Aku ke sini juga cuma minta bantuan Farhan doang kok."
"Jangan gitu dong! Makan aja sama kita. Biar makin rame, makin enak," Hani langsung mengambil piring dan menyendokan nasi untuk dihidangkan pada Tiger. "Nah, kamu ambil sendiri lauknya."
Tiger terkekeh memandang segunung nasi yang disajikan oleh Hani, lalu melirik sekilas pada Farhan. "Katanya kalau rezeki itu pamali ditolak. Jadi aku makan dulu. Oke? Minta bantuannya nanti."
Farhan menggelengkan kepala pelan. Dia memang sudah tak heran dengan kelakuan sahabatnya itu.
Siang itu mereka melewati makan siang dengan obrolan ringan. Selepas itu, Farhan dan Tiger memisahkan diri ke sudut kolam renang yang ada di samping rumah.
Farhan duduk di sebuah kursi taman sambil melipat tangan kemudian menatap Tiger dengan sorot mata jengah.
"Kamu minta bantuan apa?"
"Aku mau ketemu Siti," jawab Tiger singkat dengan wajah yang kembali terlipat menyedihkan.
"Kalau kamu mau ketemu Siti kenapa dateng ke sini. Emang ini rumahnya Siti?" kata Farhan ketus. Dia memalingkan muka karena kesal dengan Tiger.
Seharusnya Farhan ada janji dengan Rihana. Dia sudah berjuang mati-matian agar wanita itu mau jalan berdua dengannya.
Namun saat dia sudah ada janji, Tiger justru datang dan meminta bantuan yang pasti akan menguras waktu dan tenaga.
Melihat ekspresi tak menyenangkan dari Farhan, Tiger langsung mengerti jika ada yang salah dari temannya itu.
"Kamu kenapa? Nggak mau nolong nih? Setelah aku memberikan Rihana ke kamu?"
Farhan menarik nafas panjang. Dia menatap lurus pada Tiger dengan muka datar.
"Aku mau jalan sama Rihana hari ini. Tapi kamu malah ganggu. Emang mau minta bantuan apa sih?"
Tiger menjatuhkan bokongnya di kursi samping Farhan. Dia membisikan sesuatu di telinga Farhan lalu tersenyum penuh arti.
Kemudian Farhan merogoh saku celananya untuk menelepon Brian. Sambungan telepon lumayan lama dijawab oleh Brian tak seperti saat Tiger menghubunginya beberapa menit lalu.
"Halo, Brian. Kamu di mana? Jemput aku dong!" kata Farhan sesuai dengan keinginan Tiger. Dia berpura-pura meminta dijemput agar mengetahui dimana Brian berada.
"Aduh. Nggak bisa, aku lagi ada urusan penting. Ini mau jalan."
"Emang mau kemana sih? Sekalian dong kalau searah. Kamu masih di rumah kan?"
"Nggak bisa," ucap Brian tegas. "Aku ada urusan penting. Memang mobil kamu dimana?"
"Di bengkel," Farhan berbohong sambil melirik pada Tiger yang menyimak di sampingnya.
Tampak Tiger jika melirik Farhan dan layar ponsel secara bergantian. Lalu bibir Tiger menyunggingkan senyum licik.
"Pesan taksi aja kenapa? Ribet amat sih. Sampai minta ****** segala."
"Oh iya yah. Aku baru kepikiran," Farhan mengepal dahi berpura-pura menjadi bodoh.
Detik berikutnya, panggilan telepon langsung dimatikan oleh Brian. Tampaknya pria itu benar-benar sedang terburu-buru pergi.
Tiger langsung menepuk pundak Farhan seraya bangkit berdiri. Dia berjalan cepat menuju halaman depan setelah pamit kepada orang tua Farhan.
Dia kembali menaiki motor besarnya, memakai helm full face dengan kaca hitam yang tidak akan menampakan wajahnya. Dia sengaja memakai helm itu agar Brian tak tahu dirinya membuntuti.
Hanya dalam hitungan menit, motor besar Tiger sudah melesat di jalanan. Dia menyalip beberapa kendaraan agar cepat sampai di rumah Brian.
Benar saja, mobil yang biasa ditumpangi Brian baru saja melewati gerbang komplek. Tiger langsung mengarahkan motornya mengikuti kemana mobil Brian pergi.
Meskipun begitu, Tiger tetap menjaga jarak agar Brian tidak menyadari keberadaan dirinya.
Namun, Dewi keberuntungan sedang tidak berpihak pada Tiger. Sebab, Brian yang sedang mengendarai mobil saat itu sempat melirik kaca spion.
Brian tersenyum sekilas saat melihat bayangan motor besar yang tampak tidak asing. Meski pengendara motor itu memakai helm dengan kaca hitam yang menghalangi wajah, tapi Brian tetap mengenali motor milik Tiger.
Brian dan Tiger sudah bersahabat sejak lama. Tentu saja dia hafal barang-barang milik Tiger, terutama motornya.
Dia yang awalnya akan mengunjungi rumah baru Siti, sepertinya harus mengurungkan niat agar Tiger tak bisa tahu dimana Siti berada.
Brian meraih ponselnya yang kebetulan dia letakan di atas dashboard mobil. Dia menelepon nomor Andrew lalu memasang earphone ke telinga.
"Halo, Om. Sorry, aku sepertinya nggak jadi ke sana. Aku ada kepentingan mendadak, Om," kata Brian sambil tetap menyetir dan pandangan mata lurus ke depan.
"Yah, sayang banget lho. Om sama Kitty padahal sudah siap-siap lho ini. Jadi kamu kapan akan ke sini?"
Brian bergumam seraya kembali melirik ke kaca spion untuk melihat keberadaan Tiger.
"Nggak tahu, Om. Nanti aku kabarin lagi deh."
"Oke kalau begitu. Kalau mau main ke sini kapan saja boleh. Tinggal kabari saja. Pintu terbuka lebar dua puluh empat jam untuk kamu, Brian."