
"Brian, aku lihat kamu itu sangat pemberani ya?" komentar Andrew di saat dirinya berjalan berdampingan bersama Brian.
Brian hanya tersenyum sebagai respon dari perkataan Andrew. Dia tidak mau ingin terlihat menonjol, meski sebenarnya Brian ingin sekali Andrew terus memujinya.
Mereka berdua berjalan di depan. Sedangkan Farhan dan Rihana ada di belakang sambil terus adu mulut.
Namun, perdebatan Rihana dan Farhan tak membuat Andrew terusik. Dia terus memperhatikan Brian melalui lirikan mata.
"Kamu tinggal di kota?" tebak Andrew yang melihat penampilan Brian yang bukan penampilan anak kampung.
"Iya, Pak. Saya anak kota," jawab Brian singkat sambil menyalakan senter karena suasana hutan semakin gelap dan sulit untuk melihat jalan setapak.
Kemudian giliran Brian yang berbicara, "Sejak saya datang ke desa ini. Saya terkesan dengan putri Bapak."
"Oh ya?" Andrew terkesiap dengan ungkapan Brian. Dia langsung menoleh cepat pada Brian dan menatap wajah pria itu.
Meski dalam keadaan gelap, Andrew masih bisa melihat wajah Brian yang penuh keseriusan.
"Dan sepertinya Siti juga memiliki perasaan yang sama dengan yang saya rasakan," kata Brian berbohong. "Kami sudah dekat hanya dalam beberapa hari berkenalan."
Sekilas di bawah sinar rembulan terlihat Andrew yang melengkungkan bibir membentuk senyuman tipis. Dia tak menyangka putrinya yang dia titipkan beberapa tahun silam, kini sudah berubah menjadi gadis dewasa dan telah mulai mengenal cinta.
"Itulah kenapa saya bertekad mencari Siti, Pak. Karena saya ingin mengungkapkan perasaan saya padanya," terang Brian.
Andrew semakin melebarkan senyumnya. Namun kali ini senyum Andrew tampak seperti senyum getir.
"Ya, aku juga sama. Aku ingin segera menemukan Siti karena aku ingin menjelaskan bahwa aku ayah kandungnya."
"Kalau begitu kita punya tujuan yang sama, Pak," kata Brian.
Andrew mengangguk. Beberapa selang berlalu, mereka berdua terdiam. Kaki mereka terus menapaki tanah lembab sedangkan suara Farhan dan Rihana yang berdebat di belakang masih terdengar samar-samar.
Menandakan jika Farhan dan Rihana tertinggal jauh di belakang sana. Namun, Brian tak peduli. Yang dia pedulikan adalah mendapatkan simpati dari Andrew.
"Brian," panggil Andrew tiba-tiba. Menjadikan Brian seketika menoleh pada Andrew. "Jika kamu berhasil menemukan Siti. Maka aku akan menikahkan kalian berdua secepatnya."
Detik itu juga, Brian serasa ingin melompat girang. Apa yang dia inginkan ternyata begitu mudah untuk diraih.
Namun, Brian lebih memilih untuk tetap diam dan tenang. Dia harus menjalankan rencananya dengan sangat baik dan rapi. Tidak boleh ada lagi kesalahan dalam rencananya kali ini.
*
*
*
Di tengah hutan yang gelap, Siti duduk di depan api unggun yang sudah susah payah Tiger buat. Dia merentangkan tangan untuk mendapatkan kehangatan.
Lalu Tiger muncul dari balik semak. Wajah lega terpancar dari pria itu karena baru saja menuntaskan hajatnya.
Lantas Tiger duduk di sebelah Siti. Dia mengambil satu buah yang tampak aneh olehnya.
Bentuknya kecil dan hijau. Tiger memperhatikan buah itu dengan sangat teliti karena baru pertama kali ini Tiger melihat buah seperti yang ada di tangannya.
Siti yang melihat sikap Tiger pun menjelaskan, "Itu cimplukan. Makan saja. Nggak akan beracun."
Tiger pun memakan buah yang dinamakan ciplukan itu tanpa pikir panjang. Dia sangat lapar dan tak ada satu pun makan yang masuk ke perutnya kecuali ciplukan yang dibawa oleh Siti.
"Huek, kok rasanya aneh," Tiger mengernyitkan wajah menahan rasa cimplukan yang bagi lidahnya terasa aneh.
Tapi Siti tak menanggapi serius akan keluhan Tiger. Dia hanya menatap kosong pada api yang menyala-nyala sambil memeluk lututnya.
Perlahan Siti menoleh pada Tiger yang kini sama-sama merenung. Dahi Siti mengerut bingung karena jarang sekali dia melihat Tiger mengucapkan kata maaf.
"Maaf untuk apa?"
"Kalau tadi aku nggak bilang kalau kamu anak pungut, mungkin kita nggak akan tambah tersesat dan bermalam di hutan seperti ini," ungkap Tiger penuh penyesalan.
Tiger kini sadar akan sikapnya yang sudah berlebihan pada Siti dan mengakibatkan mereka berdua harus bermalam di hutan dengan kondisi yang seadanya.
Melihat kesungguhan Tiger dalam mengakui kesalahannya, Siti pun menjadi lunak hatinya. Dia menghela nafas dan kembali menatap kosong ke perapian.
"Ini juga salah aku," ucap Siti dengan suara yang lesu. "Aku yang terlalu bawa emosi. Sehingga kita jatuh ke jurang dan kita semakin tersesat."
Mereka berdua terdiam selama beberapa saat. Hingga Siti menarik nafas panjang dan menengadah ke atas melihat langit malam yang dipenuhi bintang.
"Kadang, aku merasa kalau aku ini memang anak pungut," kata Siti yang perlahan kedua manik matanya berkaca-kaca.
Tiger menatap Siti dan entah kenapa ada perasaan iba pada wanita itu. "Kok kamu bisa berpikir begitu?"
"Setiap kali aku melihat bayanganku di cermin, aku melihat wajahku nggak mirip sama kedua orang tua aku," Siti mengerjapkan mata sambil mendongak sebagai usahanya agar tidak ada air mata yang keluar.
Siti tak mau ada orang lain yang melihat dirinya menangis. Namun, wajah sedih tak dapat disembunyikan oleh Siti. Tiger tetap bisa melihat kesedihan di raut muka Siti.
"Positif thinking aja, Sit. Siapa tahu, ketika ibu kamu hamil pernah benci ke seseorang. Jadi kamu mirip sama orang yang dibenci sama ibu kamu," jelas Tiger dengan maksud menghibur Siti.
Meski Tiger sendiri tidak percaya pada mitos-mitos seperti yang dia sebutkan, tetapi ucapan Tiger mampu membuat Siti mengulas senyum tipis.
"Iya kali ya," kata Siti yang kemudian memaksakan diri untuk tertawa.
Tak lama, Siti dan Tiger sama-sama terdiam. Lalu Tiger berusaha mencari topik pembicaraan yang lain untuk mengusir rasa canggung.
"Kalau aku boleh tahu, kenapa kamu buat konten dengan nama samaran 'Miss Kitty'? Apa karena kamu suka kucing?"
Siti terdiam sejenak. Lalu dia mengeluarkan kalung yang tersembunyi di balik bajunya.
Kalung itu memiliki gantungan dengan deretan huruf yang membentuk kata, 'Kitty'.
"Selain karena aku suka kucing, karena aku punya kalung ini. Kata ayah aku, kalung ini sangat berharga dan nggak boleh ilang."
Tiger mengangguk. Dia melihat wajah Siti yang sudah tampak lelah sehingga dia menyuruh Siti untuk tidur terlebih dahulu.
Mereka sepakat untuk tidur secara bergantian. Siti yang akan tidur lebih dahulu sementara Tiger akan berjaga.
Siti setuju dengan usulan Tiger. Dia masuk ke dalam bivaknya namun, baru beberapa menit berbaring, dia berteriak sambil segera keluar.
Melihat Siti berteriak histeris, Tiger pun berdiri menghampiri Siti yang sedang mengibas-ngibaskan tangan di beberapa bagian tubuhnya.
"Kenapa, Sit?"
"Ada semut," kata Siti sambil mengaduh kesakitan karena tak kuat dengan gigitan semut di bagian punggung.
Lantas Siti membuka bagian belakang kaos dan menghadapkan punggungnya yang setengah telanjang ke arah Tiger. Rasa sakit membuat Siti tidak sadar akan tindakan yang sedang dia perbuat.
Bahkan Siti meminta tolong Tiger untuk mengusir semut yang ada di punggungnya.
Sedangkan Tiger membulatkan mata kala disunguhi pemandangan punggung mulus putih dari seorang Siti.
Tiger menelan salivanya dengan susah payah. Berbeda dengan sesuatu yang ada di bawah sana yang dengan mudahnya berdiri tegak.