
Flashback.
Sepanjang perjalanan dari desa Rawuh menuju kota, Ayana berusaha mencari kontak Siti. Dia sesekali melirik ke belakang untuk melihat Tiger yang tidur selama perjalanan.
Diam-diam Ayana mengambil ponsel Tiger untuk mencari tahu siapa sosok Siti itu. Hingga akhirnya Ayana mengetahui jika Siti yang dimaksud Tiger adalah seorang wanita yang menjadi content creator.
Ayana tersenyum puas. Seorang content creator pasti sangat mudah untuk menemukan kontak atau akun sosial medianya.
Ayana menuliskan sebuah pesan dan tak sampai lima belas menit, wanita itu membalas pesannya.
"Lang, dia mau ketemu sama kita," lapor Ayana pada Elang yang setia menyetir selama beberapa jam.
"Oh ya kalau begitu, atur waktu supaya kita bisa ketemu sama Siti tapi jangan sampai Tiger tahu," Elang melirik melalui kaca spion untuk mengecek Tiger yang masih tertidur seperti kerbau.
"Iya, oke. Dia mau ketemu sama kita besok."
Dan waktu yang dijanjikan pun tiba, Siti meminta izin pada ayahnya untuk keluar rumah dengan alasan ingin mencari udara segar.
Andrew tak tahu Siti akan bertemu dengan Ayana. Dia hanya diberitahu Siti ingin jalan-jalan. Maka dari itu, Andrew meminta bantuan Brian untuk menemani Siti.
Sebagai ayah, tentu saja dia khawatir harus membiarkan putri satu-satunya keluar sendirian. Terlebih Siti baru pertama kali berada di kota.
Mereka bertemu di sebuah cafe. Ayana sudah memilih tempat duduk untuk tiga orang karena Elang tak bisa ikut bersamanya.
Ayana, Siti dan Brian duduk di meja bundar. Awalnya mereka sama-sama gugup. Ayana tak tahu jika Siti akan datang dengan ditemani oleh Brian. Dia menjadi tidak enak hati tapi misi yang dia rancang bersama Elang harus berhasil.
Ayana sudah tidak tahan lagi melihat kelakuan Tiger yang sering main-main dan tak pernah serius dengan mas depannya.
"Begini, Siti. Tante ngajak ketemu kamu karena Tante butuh bantuan kamu," Ayana melirik sekilas pada Brian dengan sedikit tak enak hati. "Kamu bisa bantu Tante?"
"Bantu bagaimana ya, Tante?" Siti bertanya pada wanita cantik yang merupakan ibu dari Tiger.
"Tapi sebelumnya, Tante ingin bertanya dulu. Ini agak privasi, kalau kamu nggak mau jawab juga nggak apa-apa," Ayana kembali melirik Brian dengan tak enak hati.
Ayana tahu Brian adalah teman Tiger sejak mereka kecil dan juga orang tua Brian merupakan sahabat Elang. Namun kali ini dia harus bisa bijaksana.
Jika jawaban Siti tidak seperti harapan Ayana pun tak masalah. Dia hanya butuh sedikit bantuan dari gadis itu.
Dan apabila ternyata jawaban Siti sesuai dengan harapan Ayana, maka dalam hal ini Brian yang harus bersikap dewasa.
"Bertanya apa, Tante?" Siti bertanya semakin penasaran.
Pertanyaan Ayana yang lembut itu membuat Siti sedikit tersentak lalu melamun. Dia menunduk dengan pandangan mata yang kosong.
Brian yang menyimak perbincangan dua wanita berbeda usia itu kini menjatuhkan pandangan ke wajah Siti yang tampak sedang melamun.
Di bawah meja, Brian mengepalkan tangan. Dia juga memiliki perasaan pada Siti dan kini saatnya dia mendengar dari mulut Siti langsung apakah wanita itu menyukai pria lain yang juga adalah sahabatnya sendiri.
Tak disangka, Siti menoleh pada Brian. Dari tatapannya, Siti tampak seperti meminta permohonan maaf dari Brian.
Lantas Brian pun mengangguk. Dia paham akan apa yang dikatakan Siti pada Ayana.
"Aku nggak apa-apa. Katakan saja dengan jujur!"
Setelah mendengar perkataan Brian, lalu Siti menatap Ayana. Lalu di mengangguk dengan pipi yang seketika bersemu merah.
"Iya, Tante. Aku sayang sama Tiger tapi..."
"Dia juga sayang sama kamu," kata Ayana cepat seraya menggenggam tangan Siti yang mengepal di atas meja.
"Tapi Tiger menurutku dia terkesan hanya main-main. Aku khawatir dia cuma menjadikan aku pemuas hasratnya saja," Siti terjsadar jika dirinya telah berbicara terlalu jujur. Maka dia pun menarik sudut bibirnya membentuk senyum kaku kepada Ayana. " Maaf ya, Tante. Aku blak-blakkan."
"No problem. Justru itu maksud Tante minta bantuan kamu," Ayana tersenyum pada Siti dan menarik nafas lega.
Ternyata gadis itu juga memiliki perasaan yang sama dengan Tiger. Itu artinya cinta anaknya tak bertepuk sebelah tangan.
"Bantuan apa, Tante?"
"Sini," Ayana mengibaskan tangannya memberi isyarat agar Siti mencondongkan tubuhnya. Lalu mereka berbisik padahal rencana mereka tak akan diketahui sekalipun mereka berbicara dengan berteriak. Sebab orang yang mereka bicarakan tidak ada di sekitar sana.
Brian yang penasaran juga ikut membungkuk. Dia tersenyum begitu mendengar rencana Ayana. Seketika ada sesuatu di dalam dirinya untuk ikut dalam misi kali ini.
Misi Ayana ialah meminta Siti untuk mengabaikan segala bentuk pesan atau telepon dari Tiger. Siti harus bersikap cuek dan seolah tak menginginkan Tiger.
Maka Tiger pasti akan berusaha mencari cara agar bisa mendapatkan Siti dan di saat itulah kesempatan agar Tiger mau bekerja di perusahaan Elang dan berhenti main perempuan.
"Aku boleh gabung dalam misi ini, Tante?" ucap Brian begitu selesai mendengar penjelasan dari Ayana.
"Boleh. Boleh banget malah," Ayana semakin bersemangat dengan bergabungnya personil baru.
"Tiger pasti semakin kebakaran jenggot kalau aku deketin Siti."