Tiger Vs Miss Kitty

Tiger Vs Miss Kitty
Berduaan



Tiger menatap intens Siti yang membuat wanita itu terasa tidak nyaman diperhatikan terus. Lalu Siti memalingkan muka dan berkata untuk mengalihkan perhatian Tiger.


"Aku menemukan mata air, kamu mau ikut, nggak?"


Tanpa menunggu jawaban Tiger, Siti langsung berjalan menuju tempat di mana tadi dia menemukan sumber mata air. Sedangkan Tiger membuntuti Siti dari belakang.


"Sit, aku mau tanya. Kamu itu kan anaknya Pak RT kan? Tapi kok wajah kamu nggak mirip sama bapak kamu? Apa kamu itu anak pungut ya?" Tiger mencecar pertanyaan tanpa memperhatikan perasaan Siti.


Tiger tidak melihat bahwasanya Siti menghela nafas kala mendengarkan ucapannya. Tanpa disadari pula, kedua tangan Siti mengepal kuat.


Hati Siti mendadak merasa panas. Sebab pertanyaan seperti itu bukanlah pertama kali yang dia dengar.


Sudah banyak orang yang berbicara pada Siti jika dirinya tidak mirip dengan ayahnya dan sebagian dari mereka mengejek Siti dengan sebutan anak pungut.


"Memang kalau aku anak pungut, apa urusannya denganmu?" tanya Siti tanpa menoleh pada Tiger.


Wanita itu terus menatap lurus ke depan dengan raut wajah menahan marah.


"Ya, aku cuma ingin menanyakan hal yang mengganjak di otakku aja. Memang salah?" sahut Tiger masih dengan gaya yang santai. "Tapi intuisiku sepertinya benar deh. Kalau kamu itu cuma anak angkatnya Pak RT."


Tak dapat menahan amarahnya lagi, Siti memutar badan dengan gerakan yang cepat. Lalu dia mendorong dada Tiger menggunakan tenaga penuh.


Sontak Tiger pun terkejut akan sikap Siti. Dia menautkan alis dan menatap kedua bola mata Siti yang kini telah dipenuhi oleh api kemarahan.


"Bisa nggak mulut kamu itu disaring pakai saringan santan?" teriak Siti meluapkan segala amarah di dada.


"Baper banget sih. Santai aja kali," kata Tiger yang tidak mau disalahkan.


Karena geram, Siti pun semakin mendorong dada Tiger hingga pria itu mundur beberapa langkah. Sementara Tiger terus berusaha menahan amukan tangan Siti.


Mereka terus beradu mulut tanpa memperhatikan tanah yang mereka pijak. Mereka tidak sadar jika di belakang Tiger terdapat jurang yang lumayan dalam.


"Aku nggak suka kamu bilang aku anak pungut," bentak Siti.


"Kalau kamu yakin kamu bukan anak pungut ya, santai saja lah. Nggak perlu ngegas."


Siti menggeram marah dan hanya dalam sekali gerakan, dia mendorong tubuh Tiger hingga membuat kakinya tergelincir di tepi jurang. Tepat saat itu, Tiger pun memegang erat tangan Siti.


Sehingga tak dapat terelakan lagi, Siti dan Tiger terjatuh ke jurang. Siti menjerit saking kagetnya. Begitu pula dengan Tiger yang menjerit sambil memeluk tubuh Siti.


Tubuh mereka berguling di tanah dengan posisi saling berpelukan. Mirip seperti di banyak adegan-adegan film india.


Hingga mereka berada di dasar jurang, Siti merasakan sakit di seluruh tubuhnya. Dia mengerang kesakitan sambil berusaha berdiri.


Kemudian Siti mengedarkan pandangan ke sekeliling dan dia dibuat tercengang karena mereka berdua kini semakin tersesat jauh ke dalam hutan.


"Sial. Ini gara-gara kamu tahu," teriak Siti menuduh Tiger yang juga sedang berusaha berdiri.


"Dasar wanita, bisanya menyalahkan wanita terus," gumam Tiger yang terus memegangi pinggangnya yang terasa sakit sekali.


"Ya iya lah ini salah kamu. Kita jatuh ke jurang dan menjadi semakin tersesat."


Tiger menoleh menatap wajah Siti yang hidungnya kembang kempis karena marah. Namun, Tiger justru tersenyum penuh makna sambil berjalan mendekat.


"Ya, bagus dong. Kita jadi bisa berduaan di hutan."