Tiger Vs Miss Kitty

Tiger Vs Miss Kitty
Teringat



Tiger merasa jenuh mengikuti mobil Brian selama hampir satu jam. Terbesit di pikirannya, Brian sedang sengaja berputar-putar untuk mengelabuhi.


"Jangan-jangan Brian tahu aku lagi buntutin dia," gumam Tiger melihat sejak tadi mobil Brian tak berhenti ke suatu tujuan.


Hingga akhirnya mobil Brian berhenti di sebuah cafe. Tampak Brian turun dari dalam mobil dan langsung melesat masuk ke dalam.


Tiger menghentikan motornya di seberang jalan. Dia melihat Brian berbicara dengan seseorang namun bukan Siti. Melainkan seorang pria bertubuh gemuk dan kepala botak.


Brian hanya berbicara sebentar. Lalu dia menerima sebuah benda tampak seperti map dan dia pun pergi, masuk kembali ke dalam mobil.


"Ternyata dia benar-benar ada urusan. Bukan mau ketemu Siti rupanya."


Tiger berdecak kecewa. Harapannya untuk bertemu dengan Siti pupus sudah. Dia melihat lagi ke arah ponselnya. Berharap pesan yang dia tinggalkan di media sosial Siti sudah dibaca.


Namun, Tiger harus kembali menelan kekecewaan. Pesan darinya tak ada yang dibaca satu pun.


*


*


*


Sementara itu di tempat lain, Siti menuruni tangga yang dilapisi karpet mahal. Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling rumah barunya dengan ekspresi datar.


Sebuah gaun biru muda melekat pas di tubuhnya. Meskipun begitu, Siti merasa tak biasa memakai pakaian model itu.


Semua kehidupan Siti berubah total seratus delapan puluh derajat. Dia yang biasa hanya memakai kaos sederhana, kini dituntut untuk selalu terbalut pakaian mewah.


Samar-samar Siti mendengar ayahnya berbicara di telepon dengan seseorang. Siti tak tahu siapa tapi yang jelas, raut wajah Andrew sedikit kecewa.


"Siapa, Pah?"


Andrew tersentak begitu menutup telepon karena suara Siti mengejutkannya. Dia segera menoleh ke belakang di mana putrinya sudah berdiri menatap penuh tanda tanya.


"Oh, ini. Brian. Dia janji akan ke sini, tapi nggak jadi. Katanya ada urusan penting."


Siti hanya mengangguk. Masih dengan wajah datar. Meski dia sedikit heran, karena kini Brian terlihat sangat gencar mendekatinya.


Melihat wajah sang anak yang tampak tidak bahagia, membuat Andrew mengerutkan dahi kebingungan.


"Are you oke, Kitty?"


Siti menarik sudut bibirnya untuk membentuk sebuah senyuman. Meski senyuman itu terlihat jelas dipaksakan.


"Aku nggak apa-apa."


"Tapi kamu seperti murung begitu. Kamu perlu apa, Sayang? Katakan saja sama Papa! Apapun yang kamu mau Papa pasti akan berikan."


Siti menundukkan kepala menatap kedua kakinya yang memakai sepatu dari brand ternama. Pandangan Siti mulai kosong, pancaran matanya mengisyaratkan dia yang sangat kesepian.


"Aku jenuh," ungkap Siti jujur.


"Ya, sudah kalau begitu, kita jalan-jalan keluar, bagaimana?"


Siti mendongak menatap Andrew dengan mata berbinar. Dia berkata penuh semangat, "Ayo, Pa. Tapi kita mau kemana?"


"Kemana saja yang kamu mau. Mumpung Papa lagi libur karena besok Papa sudah harus masuk kerja pagi, Sayang."


Dan hari itu, Siti lewati dengan berbelanja, makan dan menonton film dengan ayah. Bagi orang asing yang melihat mereka berdua, mungkin akan berpikir jika Siti dan Andrew adalah sepasang kekasih.


Andrew bercerita banyak hal tentang perusahaannya kepada Siti. Sedangkan Siti hanya menanggapi ucapan-ucapan singkat karena jujur, Siti merasa ada sesuatu yang kurang.


Mungkin bagi banyak orang, kehidupan Siti kini sudah sangat sempurna. Ayah yang baik, harta yang melimpah, tapi dia merasa bahagia.


Saat di tengah perjalanan menuju rumah, mobil yang tumpangi Siti berhenti di sebuah lampu merah. Siti melepas pandangan ke luar jendela mobil.


Tepat saat itu Siti melihat pengendara sepeda motor yang juga sedang menunggu lampu merah. Pengendara motor itu hanya berjarak satu meter dari mobilnya.


Siti menyipitkan mata, postur tubuh pengendara itu tampak tidak asing. Dia terus menatap lekat si pengendara motor yang memakai helm sehingga wajahnya sulit untuk dipandang.


"Kitty, kamu lagi lihatin apa?" tegur Andrew menoleh pada anaknya yang sejak tadi seperti sedang mengamati sesuatu.


Siti melirik sekilas pada ayahnya. Lalu menoleh lagi ke arah si pengendara motor. Namun, pengendara motor kini sudah mulai melaju dan terhalang oleh kendaraan lain.


"Enggak," jawab Siti gugup. Entah kenapa jantungnya tiba-tiba saja berdegup dengan kencang. "Enggak ada apa-apa. Tadi aku lihat seseorang yang mirip sama temen aku."


Andrew tertawa kecil. Lantas dia mengusap puncak kepala Siti dengan penuh kelembutan.


"Papa tahu, pasti berat bagi kamu untuk meninggalkan kampung halaman kamu kan? Kamu pasti kangen sama temen-temen kamu."


Siti hanya terdiam. Terbesit keinginan dalam diri Siti untuk menceritakan tentang Tiger, tapi Andrew lebih dulu berbicara.


"Besok, Papa akan minta Brian datang ke rumah. Dia akan temenin kamu selama Papa kerja ke kantor. Biar kamu nggak kesepian berada di rumah. Bagaimana?"


Siti langsung menggeleng cepat. Meski sebenarnya, Siti bisa saja bertanya tentang Tiger pada Brian. Tapi dalam hati kecil Siti merasa tidak nyaman jika harus berduaan bersama Brian di rumah.


"Aku nggak mau, Pa. Mending besok aku ikut Papa saja ke kantor."


Andrew mengangkat alisnya. Seolah tak percaya dengan ucapan sang anak. "Yakin mau ikut ke kantor?"


Siti mengangguk. "Iya yakin lah. Kan aku harus banyak belajar supaya bisa jadi penerus Papa."


"Good girl," Andrew mencubit hidung anaknya dengan gemas. "Oke, besok kamu ikut Papa. Kita akan ketemu rekan bisnis Papa, namanya Tuan Raynar tapi sering dipanggil Tuan Elang."


Siti terkekeh mendengar nama rekan bisnis ayahnya. Nama yang diambil dari salah satu jenis hewan. Sama persis seperti nama Tiger.


Lagi-lagi Siti teringat lagi dengan Tiger. Saat tadi dia melihat pengendara motor, Siti berpikir itu Tiger. Sekarang dia teringat kembali pada pria itu.


Pria yang sudah menciumnya ketika tersesat di dalam hutan.


Tak disadari Siti menyentuh bibirnya tatkala mengingat ciuman panas waktu itu.