
"Nah ini dia." Siti mengambil dompet yang tertinggal di dalam mobil.
Dia baru saja membanting menutup pintu ketika tiba-tiba saja Brian datang entah dari mana. Siti pun terkejut akan kehadiran pria itu. Terlebih Brian datang sambil membawa buket bunga.
"Aku dengar kamu sedang ada di restoran ini. Jadi aku mampir sambil bawakan ini buat kamu," Brian menyodorkan buket bunga merah.
Siti menerima buket bunga mawar yang dengan perasaan yang canggung. Sebelumnya dia tak pernah mendapat bunga dari seorang pria.
Ehem.
Terdengar suara orang berdeham di belakang Siti. Dia membelalakkan mata saat mengenali suara tersebut.
Siti pun menoleh dan mendapati Tiger ada di belakangnya. Pria itu benar-benar Tiger. Pria yang mampu membuat tidurnya tak tenang.
"Tiger?" sapa Siti yang terkesan seperti suara orang kaget.
Mendadak suasana menjadi canggung. Siti melirik Brian dan Tiger secara bergantian. Buket bunga mawar merah yang dibawa oleh Brian tergenggam di tangannya.
Siti menggigit bibir bawahnya. Dia merasa sangat khawatir akan hubungan Tiger dan Brian yang duanya kini sudah mengibarkan bendera perang.
"Mau apa kamu di sini?" Tiger bertanya dengan tatapan sinis.
"Aku cuma mau kasih Siti bunga," sahut Brian singkat dan santai. Sebuah seringai tipis tercetak di bibirnya. "Kamu sendiri?"
"Aku ada urusan pekerjaan dengan ayahnya Siti."
Kemudian Tiger dan Brian kembali terdiam meski tatapan keduanya saling memberi makna yang hanya bisa dipahami mereka berdua.
Tak ingin Brian mengganggu acara pertemuan pertama dengan Siti, lantas Tiger mengambil pergelangan tangan gadis itu dan membawanya pergi.
"Ayo, Sit. Kita sudah ditunggu ayah kita," perkataan Tiger ditunjukan untuk Siti namun Tiger tetap menatap Brian dengan pandangan tajam.
Brian tersenyum atau lebih tepatnya menyeringai dengan dua tangannya masuk ke dalam saku celana.
"Siti, besok aku boleh kan main ke rumah kamu," kata Brian yang ingin memamerkan kedekatannya dengan Siti.
Siti yang hawa perang yang membumbung di sekelilingnya menjadi tidak tenang. Dia bingung harus berbuat apa. Maka dia mengusap tengkuk dan mengangguk memperbolehkan.
Tiger hanya melirik sekilas pada Siti. Lalu menyeret lengan gadis itu dengan sedikit paksaan.
Di dalam dirinya terdapat perasaan tak terima jika Siti dekat dengan Brian.
Hingga saat mereka telah masuk ke dalam restoran, Tiger ingat jika Siti masih menggenggam buket bunga pemberian Brian. Seketika dia pun merebut buket bunga itu dan melemparkannya ke dalam tempat sampah.
"Lho kenapa dibuang?"
"Jangan bawa buket bunga! Daddy aku alergi bunga," bohong Tiger supaya alasan membuang bunga pemberian Brian masuk akal.
"Jadi, rekan bisnis Papa aku itu Daddy kamu?" Siti bertanya yang pasrah saja ketika tangan ya diseret oleh Tiger.
Kini mereka berada di sebuah lorong yang sepi dan di ujung lorong adalah ruangan VIP dimana ayah mereka sedang berbincang.
Tiger menghela nafas sejenak. Menetralkan pikirannya yang berkecamuk antara senang bertemu Siti kembali dan marah karena kedatangan Brian yang mengganggu.
Dengan gerakan cepat, Tiger mendorong tubuh Siti ke sebuah celah sempit di sisi mereka. Celah itu tak begitu diperhatikan oleh orang yang lewat.
Tempat itu juga temaram minim pencahayaan. Pasti saat cocok untuk Tiger bisa mencium Siti.
Seketika ingatan Tiger melayang saat mereka berciuman di hutan. Bibir Siti yang hangat lagi lembut membuat Tiger menginginkan lagi masa-masa itu.
"Aku ingin kita tersesat lagi di hutan. Kalau perlu kita tinggal di sana. Seperti Tarzan dan Jane," Tiger meracau dengan mata yang tak lepas memandang bibir merah milik Siti yang terpoles lipstik.
Tiger memajukan kepala untuk bisa menyatukan bibir mereka berdua. Namun baru satu detik, Siti langsung mendorong tubuh Tiger hingga pria itu mundur dua langkah.
Tiger mengerutkan dahi bingung. Lantas dia pun mengerti jika dirinya belum menjadi siapa-siapanya Siti.
Kemudian dia pun menangkap kedua pipi Siti. Dipandanginya Siti dengan tatapan dalam tapi wanita itu justru menghindari kontak mata dengannya.
Satu pertanyaan besar di kepala Tiger. Kenapa?
Sikap Siti berubah, pikir Tiger. Apa karena Brian? Apa mungkin pria itu sudah lebih dulu merebut hati Siti?
"Aku..." Suara Tiger terhenti. Dia menelan salivanya dengan susah payah. Begitu pula dengan kata yang akan keluar di lidahnya.
Padahal Tiger selalu mudah mengatakan cinta pada semua wanita cantik. Namun kali ini dia merasakan panas dingin sangat ingin mengutarakan pada Siti.
"Aku kangen kamu, Sit. Aku selalu kepikiran kamu. Sampai-sampai aku nggak bisa tidur. Nih coba lihat!"
Tiger menunjuk kantung matanya yang menghitam. Maksud hati ingin mencari perhatian dari Siti tapi justru Tiger terkesan manja dan kekanak-kanakan.
Siti tetap terdiam. Dia pun mengutarakan hal yang sama namun dia memilih diam. Dia tak berani menatap Tiger, takut jantungnya berdebar tak karuan.
"Aku suka sama kamu, Siti," Tiger mengusap lembut pipi Siti menggunakan ibu jarinya. "Dan kamu belum jawab pertanyaan aku saat di hutan."
"Pertanyaan yang mana?" Siti pura-pura lupa.
Tiger membisu sejenak. Dia tak percaya Siti lupa akan kenangan mereka saat di hutan. Padahal hubungan mereka sangat dekat kala itu.
Bahkan Tiger sampai pernah melihat punggung polos Siti.
"Kamu mau kan jadi pacar aku? Aku cinta sama kamu," ucapan itu meluncur begitu saja dari bibir Tiger.
Kali ini Siti menggerakkan kepala untuk dapat menatap Tiger. Sepasang bola mata indah itu terlihat berbinar tapi Tiger sadar ada sesuatu yang berbeda dari Siti.
"Aku nggak bisa, Tiger," jawab Siti yang mencoba melepaskan diri dari cengkraman Tiger.
Namun, Tiger tetap menangkup pipi Siti. Bahkan dia semakin memajukan badan, menghimpit Siti ke tembok yang ada di belakangnya.
Dia tak mau pergi begitu saja tanpa memberi alasan.
"Kenapa? Beri aku satu alasan!"
Siti menghela nafas. Dia kembali mengalihkan pandanga. Seakan tak ingin menjalin kontak mata dengan Tiger.
Hal itu membuat Tiger semakin yakin jika Siti sedang menyembunyikan sesuatu.
"Kamu nggak akan sakit hati jika aku jawab jujur?"
Tiger menggelengkan kepala dengan sedikit keraguan. Namun begitu, di sisi lain dia juga penasaran akan jawaban Siti.