
Siti tak tahu kalau rekan kerja yang dimaksud ayahnya adalah Tuan Elang, ayah dari Tiger. Dia semakin bertambah terkejut dengan kedatangan Brian membawa buket bunga.
Namun, begitu menyadari keberadaan Tiger, Siti sadar jika ini merupakan bagian dari misi yang di rencanakan Ayana.
Dia menerima saja bunga dari Brian. Lalu dia tak tahu lagi apa yang terjadi. Dia terlalu bahagia bisa melihat kembali pria yang sangat dia rindukan.
Siti sepenuhnya sadar saat Tiger memojokkan dirinya di sebuah tembok di salah satu sudut restoran yang sepi. Pria itu menciumnya. Tapi lagi-lagi, Siti harus bisa menahan diri.
Dia mendorong dada bidang Tiger. Pria itu mengucapkan perasaannya dengan penuh keseriusan.
Bibir Siti ingin sekali berkata jujur. Namun, dia menggigit bibir bawah dan mengatakan sesuatu yang berkebalikan dengan isi hati.
Siti tak mampu menahan diri. Jantungnya berdegup kencang dan lututnya terasa lemas. Dia beralasan ingin pergi ke toilet.
Dan Tiger pun membuntuti Siti hingga ke depan pintu masuk toilet wanita. Di dalam sana, Siti mematung di depan cermin wastafel. Berkali-kali dia menarik nafas panjang dan menghembuskannya lewat mulut untuk menenangkan diri.
Tepat saat itu, ponsel Siti bergetar. Satu pesan masuk dari Ayana yang mengatakan jika dia juga sedang berada di restoran yang sama.
Siti membulatkan mata dengan sempurna. Jadi sejak tadi pergerakan Siti dan Tiger diawasi oleh Ayana. Siti menjadi malu. Dalam benaknya bertanya-tanya, mungkinkah Ayana melihat saat Tiger ingin menciumnya tadi.
'Ini saat, Ti. Ini saatnya. Kamu katakan saja sama Tiger. Kata-kata yang menyakiti hati biar Tiger sadar.'
Pesan singkat terbaru yang dikirim oleh Ayana. Mendadak Siti menjadi ragu. Padahal saat mendiskusikannya dengan Ayana kemarin lalu, dia tak setegang ini.
'Apa nggak apa-apa, Tante? Kalau Tiger beneran sakit hati, gimana?'
'Biarin. Biar tahu rasa dia.'
Siti meringis membaca pesan dari Ayana. Baru kali ini dia menemukan ibu yang rela anaknya disakiti.
Mungkin kelakukan Tiger memang sudah tidak ditoleransi oleh Ayana. Sehingga Ayana berbuat seperti itu. Pikir Siti.
Sekali lagi, Siti memandang wajahnya di cermin. Dia rapikan pakaiannya dan memasukan ponsel ke dalam tas.
Siti berjalan keluar dengan mengabaikan keberadaan Tiger yang menunggunya sejak tadi. Pria itu menahan lengan Siti, kembali mereka membahas percakapan yang sempat tertunda tadi.
Posisi Ayana berada di belakang punggung Tiger sehingga pria itu tak sadar jika mereka sedang diawasi. Tampak Ayana memberi isyarat agar Siti menjalankan misi mereka sesuai dengan rencana semula.
Maka Siti pun memberikan alasan kenapa dia menolah Tiger. Pria itu tampak kecewa namun juga ada semangat yang mendadak berkobar dalam dirinya.
Tiger berjanji akan membuktikan diri. Dalam hati Siti sangat bergembira bukan main. Tiger benar-benar tampak serius dengannya.
Terlebih saat dia mengatakan kata menikah, membuat hati Siti bergetar.
*
*
"Pah, kalau aku menikah, Papa akan kasih restu nggak?"
Siti bertanya saat dia dan Andrew berada di dalam mobil selepas pertemuan dengan Elang dan juga Tiger.
Adrew terkekeh lalu mencubit hidung anaknya. "Ya, tentu dong. Memang kamu sudah mau menikah? Sama siapa? Kalau sama Brian, Papa setuju."
Mendadak senyum di bibir Siti menghilang lenyap diganti dengan wajah yang terpahat kekecewaan.
"Bukan Brian, Pa. Tapi ..."
Ucapan Siti terjeda karena suara dering ponsel di dalam saku jas Andrew. Segera pria itu mengambil ponsel dan mengangkat telepon dari salah satu bawahannya.
Siti mendengus pelan. Perhatian Andrew sedang terbagi, tak memungkinkan jika Siti bercerita pada sang ayah tentang Tiger.
Keinginan Siti untuk berbincang mengenai pria pilihannya ternyata harus ditunda entah kapan. Sebab, Andrew baru mendapatkan kabar jika kantor cabang yang ada di luar kota mengalami masalah.
Dia harus pergi saat itu juga untuk menangani masalah. Maka mereka berubah rencana. Yang tadinya akan kembali ke kantor, kini Andrew membawa Siti pulang ke rumah.
Lalu dia langsung berangkat ke luar kota dengan membawa sedikit baju.
Siti berdecak kesal ditinggal sendirian di rumah besar hanya ditemani oleh pembantu. Meski Andrew menawarkan agar Brian datang ke rumah, Siti menolak. Dia tak mau memberikan harapan palsu pada Brian.