Tiger Vs Miss Kitty

Tiger Vs Miss Kitty
Misi Berhasil



"Iya, katakan saja!"


Tiger menatap dalam lurus ke sepasang mata yang kini memancarkan rasa ragu. Pandangannya lalu turun ke bawah bibir Siti yang kini tengah tergigit kuat.


"Aku..." ucap Siti ragu.


"Apa?" Tiger tak sabar menunggu jawaban lengkap dari wanita yang beberapa hari ini hampir membuatnya gila.


Siti menarik nafas panjang sebelum dia mengatakan, "Aku... sakit perut. Aku mau ke toilet dulu."


Segera Tiger melepaskan cengkraman tangannya. Dibiarkan Siti pergi darinya berjalan menuju toilet.


Tiger hanya bisa menunggu Siti dari luar pintu tak mungkin dia ikut masuk hanya untuk menunggu jawaban dari Siti. Di saat tengah menunggu, Tiger merasakan kecurigaan jika Siti hanya sedang berusaha menghindar darinya.


Wanita selalu lama kalau sudah berada di dalam toilet. Entah apa yang tengah dilakukan wanita itu di dalam sana.


Hingga akhirnya, Tiger melihat Siti keluar dari pintu toilet wanita. Wajah Siti tampak tenang dan biasa saja. Bahkan dia berjalan melewati Tiger seolah dia adalah benda tembus pandang. Sungguh, hal itu membuat hati Tiger tampak teriris.


"Sit," Tiger menahan lengan Siti yang hendak pergi.


"Apa?"


"Kamu belum ngasih jawaban," kata Tiger mengingatkan.


"Oh."


Satu kata 'Oh' yang keluar dari bibir Siti sangat ringan sekali. Seolah keseriusan Tiger dianggap angin lalu


Siti kembali menghela nafas. Wanita itu tampak melirik ke arah lain sebelum berkata pada Tiger.


"Begini, Tiger. Aku sekarang pengin menjalin hubungan dengan laki-laki yang serius..."


"Aku juga serius," kata Tiger cepat. Dia mencengkram kedua lengan Siti agar wanita itu bisa melihat keseriusan di wajahnya. "Aku serius sama kamu. Dua rius malah."


"Ck, Tiger, aku nggak suka main-main. Aku lebih suka laki-laki yang pekerja keras, nggak manja, dan nggak main perempuan. Tapi sepertinya kamu nggak memenuhi syarat tadi."


Siti berusaha melepaskan cengkraman tangan Tiger dari bahunya. Lalu dia mengalihkan pandangan ke arah lain seakan tak ingin menatap langsung pada Tiger.


"Jadi hanya karena itu?" Tiger bertanya dengan wajah hampa.


Dan Siti menjawab lewat anggukan masih tak mau menatap langsung pada Tiger. Mereka masih berdiri di depan pintu toilet wanita.


Beberapa orang keluar masuk ke dalam toilet dan melirik sekilas pada sepasang anak manusia yang sedang berbincang serius.


Tiger dan Siti sama-sama terdiam hingga akhirnya Tiger berkata dengan menggenggam tangan Siti.


"Kalau begitu, beri aku kesempatan."


"Kesempatan apa?" Kali ini Siti mendongak untuk bisa melihat wajah Tiger.


"Kesempatan untuk membuktikan jika aku bisa menjadi laki-laki yang kamu mau. Selama ini aku nggak tahu tujuan hidup aku untuk apa. Makanya aku lebih sering main dan nggak pernah serius. Tapi kali ini aku tahu tujuan hidupku," Tiger menarik genggaman tangan Siti untuk dia letakan di dadanya. "Tolong beri aku kesempatan. Akan aku buktikan jika aku benar-benar serius sama kamu. Aku nggak mau kita cuma pacaran, tapi aku pengin kita menikah."


Mendengar kata menikah, tampak berbedaan di pancaran mata Siti. Namun wanita itu hanya menghembuskan nafas pelan.


"Kalau begitu, aku mau lihat keseriusan kamu, baru aku akan pertimbangkan lagi."


Tiger mengulum senyum sambil menatap Siti lekat. Saat itu dia ingin sekali merengkuh tubuh Siti dan membawanya ke dalam dekapan.


Namun, Tiger tak dapat melakukan hal itu sebab Siti langsung pergi meninggalkannya.


Siti masuk ke dalam ruangan VIP bergabung bersama Andrew dan Elang. Disusul oleh Tiger. Dia berdeham saat menjatuhkan bokongnya ke kursi.


Sesaat Tiger melirik pada Siti. Wanita itu tampak cuek dan seperti tak mengenalinya sama sekali.


Tiger menyeringai. Baru kali ini dia tidak dipedulikan oleh wanita. Membuat jiwa laki-laki Tiger semakin ingin menaklukan hati Siti.


Pertemuaan itu, berakhir setelah makan siang. Elang dan Andrew sepakat akan memperpanjang kontrak kerja sama bisnis mereka.


Mendengar hal itu, Tiger hanya bisa tersenyum dalam hati. Artinya, ada kesempatan perusahaan ayahnya dan perusahaan ayah Siti mengadakan pertemuan.


Seketika otak Tiger memikirkan cara agar dia dapat bertemu dengan Siti lebih sering dengan dalih pekerjaan.


Selepas itu, Siti dan Andrew sudah berada di mobil. Mereka berencana untuk kembali ke kantor. Tepat saat itu juga, ponsel Siti berdering menandakan ada sebuah pesan masuk.


Siti membaca pesan yang ditulis oleh seseorang dan seketika dia mengulum senyum. Secepat mungkin, jemari Siti menggulirkan kalimat jawaban.


"Kenapa, Kitty? Kamu seperti senang banget gitu?" Andrew berkata setelah melirik Siti sekilas.


Dia menyadari putrinya itu tampak berbeda setelah bertemu dengan Elang dan anaknya, Tiger.


"Oh, nggak apa-apa. Cuma dapat pesan lucu dari teman," ucap Siti beralasan.


Sementara itu, hal yang serupa terjadi antara Tiger dan Elang di dalam mobil. Elang menoleh pada anaknya yang bermuka serius.


"Tiger, kamu mau pulang atau ke kantor dulu?" tawar Elang yang hafal betul anaknya itu tak suka bekerja terlalu lama.


"Apa? Pulang?" Tiger menggelengkan kepala. "Enggak. Aku mau langsung ke kantor. Dad, mulai sekarang aku akan kerja bareng Daddy. Oke? Delapan jam selama enam hari."


Dahi Elang mengerut heran. Akan tetapi dia tak bisa menyembunyikan senyum di bibir.


"Kalau ternyata jam kerja Daddy lebih dari itu?"


"Nggak masalah, Dad. Daddy mau kasih tugas apapun akan aku sanggupi."


Elang sontak tertawa dan mengangguk. Dia menatap wajah Tiger dengan lekat untuk melihat keseriusan dalam diri sang anak.


"Oke, Daddy pegang janji kamu," kata Elang yang seketika mengeluarkan ponsel dari dalam saku jas.


Tanpa disadari Tiger, Elang mengetikkan pesan pada Ayana.


'Misi kita berhasil.'


Di seberang sana, Ayana terlonjak gembira begitu melihat pesan dari Elang. Namun, buru-buru Ayana menutup mulut. Dia mengedarkan pandangan dengan tatapan malu bercampur bahagia.


Detik berikutnya, Ayana mengetik sebuah pesan. Namun bukan untuk membalas pesan Elang. Melainkan untuk memberitahu pada Siti jika misi mereka berhasil.