Tiger Vs Miss Kitty

Tiger Vs Miss Kitty
26 Pacaran Yuk



Dada Siti naik turun diakibatkan oleh nafasnya yang memburu cepat seiring dengan amarah yang membuncah.


Siti sadar bukan salah Tiger sepenuhnya kenapa pria itu sampai mempermainkannya. Siti juga salah karena dia lah yang pertama kali memancing hasrat Tiger.


Namun meskipun begitu, seperti wanita pada umumnya, Siti tidak mau disalahkan. Dia beberapa kali memukul setiap jengkal tubuh Tiger dan mengucapkan kalimat umpatan.


Sementara Tiger hanya mengangkat tangan. Pasrah tubuhnya ditinju oleh Siti. Bukan tak bisa melawan, melainkan karena Tiger justru menikmati setiap pukulan dari Siti yang tak meninggalkan rasa sakit sedikitpun.


"Otakmu itu nggak pernah dicuci atau gimana, hah? Kotor mulu pikiranmu."


"Aduh, ampun, Siti," ucap Tiger yang berpura-pura kesakitan. "Salah kamu juga mancing-mancing pakai buka baju segala."


"Mancing... Mancing..." Sungut Siti. "Siapa yang mancing? Orang aku kesakitan kok."


Siti terus saja membela diri. Rasa sakit akibat gigitan semut sudah terlupakan karena luapan emosi.


Siti mendengus lalu membuang muka seraya melipat tangan di depan dada. Sedangkan Tiger menggaruk kepalanya terlihat salah tingkah hendak berbicara sesuatu.


"Siti..." Tigger memanggil Siti dengan suara yang mengambang.


"Jangan bicara sama aku lagi! Ngerti?" ketus Siti tanpa menatap langsung pada Tiger.


"Tapi..."


"Aku nggak mau ngomong sama kamu. Titik. Aku tuh masih marah," Siti menaikan nada bicaranya. Pertanda dia serius dengan ucapannya.


"Oke kalau begitu," gumam Tiger yang akhirnya memutar badannya menghadap ke api unggun yang kini nyala apinya mulai mengecil.


Beberapa saat mereka berdua duduk bersila dengan saling memunggungi. Rasa kantuk Siti kembali menyapa. Meskipun dia tak ingin membarungkan tubuh.


Siti sudah cukup kapok tidur di tanah dan berakhir digigit semut.


"Mungkin aku terlalu manis. Sampai-sampai tidur pun digerayangi semut," gumam Siti pelan dan penuh percaya diri.


Tiger yang mendengar ucapan Siti hanya menarik senyum seringai sambil melirik punggung wanita itu yang tadi sempat dia lihat tanpa penghalang.


Tak berselang lama, terdengar samar-samar suara orang yang memanggil namanya dan juga Tiger.


Bola mata Siti membulat lebar. Rasa bahagia langsung merayap ke sekujur tubuhnya sampai dia tak tahu harus berkata-kata.


"Heh, Tiger, kamu dengar?"


Tiger hanya terdiam.


"Tiger?" Siti menoleh pada pria yang duduk bersila di belakangnya.


Laki-laki kota itu hanya diam memandang perapian, meski sudah Siti panggil beberapa kali. Bahkan Siti sampai melempar batu kecil ke arah Tiger.


"Ck, hei, aku lagi ngomong. Jawab dong!" Ucap Siti yang saking kesalnya dia sampai menarik dagu Tiger untuk memaksa pria itu menatapnya.


Dan perbuatan Siti membuat tatapan mereka bertemu. Wajah mereka sangat berdekatan dengan satu tangan Siti masih bertahan menyentuh dagu Tiger.


"Tadi kamu bilang nggak mau ngomong sama aku," kata Tiger dengan raut wajah yang mendadak serius.


Sementara itu, sayup-sayup telinga Siti semakin jelas mendengar beberapa orang berteriak memanggil namanya. Dia tahu pasti mereka adalah para penduduk yang sedang berusaha mencarinya.


Namun, suara itu Siti abaikan karena seluruh perhatiannya terpusat pada wajah tampan Tiger.


Begitu pula dengan Tiger yang tatapannya tak lepas mengamati setiap senti lekukan wajah Siti. Menurutnya, Siti adalah wanita yang berbeda dan unik.


Dengan pencahayaan dari api unggun yang hampir redup, Tiger menatap lekat pada bibir Siti yang terlihat penuh dan menggoda.


Di dalam diri Siti sudah terbesit niat untuk menonjok pipi Tiger atau menendang pusaka pria itu. Akan tetapi, dia kalah cepat. Sebab tanpa menunggu jawabannya, Tiger sudah lebih dulu menarik tengkuknya.


Lalu bibir mereka bertemu. Siti tertegun dan tak bergerak sama sekali saat lidah Tiger mulai memasuki rongga mulut.


Ciuman yang sangat lembut dan hangat.


Siti sampai lupa kalau seharusnya dia menampar Tiger. Dia malah memejamkan mata dan mulai menyambut ciuman Tiger.


"Tigerrr!"


"Sitiiii!"


Suara itu semakin jelas. Tiger yang sangat mengenal suara Brian, seketika membuka mata.


Terpaksa Tiger melepas ciuman. Lalu bibir Tiger tersenyum seraya mengusap bibir Siti yang basah akibat ulahnya menggunakan ibu jari.


"Mereka sedang mencari kita. Ayo!"


Tiger bangkit dan meraih tangan Siti untuk membantu gadis itu berdiri. Siti terdiam tak berbicara. Dia masih gugup dan tak percaya akan apa yang telah baru saja dia lakukan bersama pria yang selama ini dia anggap menyebalkan.


Siti berjalan lesu di samping Tiger.


Melalui ekor matanya, Tiger memperhatikan cara berjalan Siti.


"Kamu capek? Mau aku gendong?" Tiger bertanya dengan suara yang lembut dan pelan. Bahkan hampir tak terdengar.


"Hah? Apa?" Siti mendongak menatap Tiger. Lalu dia buru-buru menggelangkan kepala. "Nggak usah. Aku bisa jalan sendiri kok."


"Sit."


"Hm?"


"Kita pacaran yuk?"


Siti menatap lekat bola mata Tiger. Ingin mencari titik kebenaran pada pertanyaan yang baru saja lolos dari bibir pria di depannya.


Merasa kesungguhan dalam diri Tiger, Siti membuka mulut untuk memberikan jawaban. Akan tetapi tepat saat itu juga...


"Siti?"


Sebuah suara yang memanggil namanya, membuat Siti refleks terlonjak kaget dan seketika menoleh. Seorang pria paruh baya tapi masih terlihat gagah menatap Siti dengan tatapan yang penuh arti.


Siti mengernyitkan dahinya sebab dia tak mengenal pria itu. Tapi pria itu tahu akan namanya.


Belum terjawab kebingungan Siti, tiba-tiba pria itu berjalan cepat menghampiri Siti dan memeluknya erat.


Kerutan di dahi Siti semakin terlihat jelas. Begitu pula dengan Tiger yang bingung akan sosok pria yang telah merusak suasana.


"Akhirnya ayah menemukan kamu, Nak. Kamu nggak apa-apa kan? Apa ada yang luka?" tanya pria itu sambil melepas pelukan.


"Aku nggak apa-apa," jawab Siti dengan wajah datar dan pancaran bola mata yang masih menyiratkan sejuta pertanyaan.


Kemudian, Siti sedikit terlonjak ketika sadar jika pria paruh baya yang memeluknya mengucapkan kata 'ayah'.


"Anda siapa?"


Pria itu tersenyum lebar dengan satu tangan mengusap pipi Siti. "Kamu pasti bingung ya? Aku ini ayah kandung kamu. Tapi ceritanya nanti saja. Kita pulang dulu yuk."