Tiger Vs Miss Kitty

Tiger Vs Miss Kitty
Rindu



Hari itu Tiger lewati hanya dengan berbaring di atas kasur. Harusnya tidur di kasur empuk di dalam kamarnya sendiri menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Tiger.


Tapi Tiger tak merasa bahagia sama sekali. Dia merasa jenuh. Beberapa kali ponselnya berdering dengan nama Miranda, Rihana, Tasya, dan nama-nama wanita lain.


Tiger sudah lupa berapa kali dia mengencani wanita dalam satu tahun terakhir. Hingga kini nomor teleponnya dibanjiri oleh banyak panggilan masuk.


Namun sekali lagi Tiger malas untuk mengangkat satu telepon pun dari para wanita itu. Tiger mengharapkan Siti yang menelepon. Akan tetapi tampaknya hal itu sangatlah mustahil.


Tiger mengalihkan pandangan ke layar laptop di mana sepanjang hari dia disibukan menatap foto Siti. Dia juga telah meninggalkan pesan di laman media sosial milik Siti, meski sampai detik ini belum ada balasan dari gadis itu.


Pintu kamar Tiger berderit terbuka menampilkan sosok Elang yang mendesah begitu menatap sang anak. Elang berjalan masuk ke dalam kamar dan duduk di tepi ranjang.


"Hey, Boy, seharian ini kamu tidur mulu. Apa nggak bosen?"


Tiger menghela nafas panjang sambil melingkarkan bola mata. "Dad, aku lagi malas."


"Kalau kamu mencintai seseorang, seharusnya kamu berjuang untuk bisa mendapatkan dia. Bukan malah tidur sepanjang hari begini?" Elang melirik sinis pada badan Tiger yang terbungkus selimut di atas ranjang.


"Terus aku harus apa, Dad?" ratap Tiger. "Aku benar-benar nggak tahu harus bagaimana."


Elang kembali menghela nafas lalu menggelengkan kepala. Dia tahu jika Tiger adalah seorang playboy. Namun, anaknya itu malah balik bertanya harus bagaimana mendapatkan seorang wanita.


"Bukankah kamu itu terkenal dengan julukan playboy cap Tiger? Kenapa masih tanya sama Daddy?" Elang mengulum senyum tak mampu menahan tawa geli. "Satu hal yang harus kamu tahu, wanita itu akan menyukai pria yang bekerja. Maka dari itu mulai besok kamu ikut Dad bekerja di kantor. Oke?"


Tiger berdecak. Tak heran pasti pembahasan sang ayah tidak akan jauh dari hal bekerja.


Meskipun malas, tapi Tiger tetap mengangguk menyetujui. Kemudian, Elang tertawa puas sambil menepuk bahu Tiger.


"Dad pegang janji kamu untuk ikut bekerja besok," ucap Elang yang kini berada di ambang pintu sesaat sebelum dia keluar dari kamar.


Selepas kepergian sang ayah, Tiger kembali menyandarkan kepalanya ke bantal. Dipandanginya langit-langit kamar yang berwarna putih polos.


Samar-samar bayangan wajah Siti seolah terlukis di langit-langit kamar tidur. Tiger tak pernah seperti ini pada seorang wanita. Merasakan rindu yang amat sangat.


Detik berikutnya dia bangkit terduduk di atas tempat tidur. Otaknya baru saja menemukan ide agar dia bertemu dengan Siti.


Pertama-tama, yang harus Tiger lakukan adalah mengetahui keberadaan Brian. Sahabatnya itu sudah kenal dengan ayah kandung Siti dan kemungkinan dia juga tahu alamat rumah Siti di kota.


Begitulah pemikiran Tiger saat ini. Dia segera menelepon Brian dan tak butuh waktu lama, panggilan telepon langsung tersambung.


"Brian, kamu di mana?" ucap Tiger to the poin.


Terdengar suara mengeluh dari seberang sana. "Aku lagi di rumah. Kenapa memang?"


Dari nada bicara Brian, Tiger tahu jika sahabatnya itu sedang berbohong. Mereka sudah bersahabat sejak mereka bayi, jadi Tiger sudah hafal bagaimana gelagat suara Brian jika sedang berdusta.


"Oke. Kalau begitu aku ke rumah kamu sekarang. Aku ada urusan," sahut Tiger beralasan.


"Jangan! Jangan!" Brian terdengar gelagapan. "Aku lagi nggak enak badan. Ee... Aku lagi nggak mau diganggu dulu. Tolong kamu ngerti ya?"


Tiger menyeringai. Sebagai playboy sejati, dia tahu Brian sedang mencari cara agar Tiger tak datang ke rumahnya. Tentu saja alasan Brian itu sudah sangat familiar. Bahkan sering dipakai Tiger dalam mengelabuhi para pacarnya.


"Kalau begitu, kapan kita bisa ketemu?" Tiger bertanya tetap memaksa Brian untuk bertemu.


"Aku ada urusan," jawab Tiger singkat.


"Urusan apa? Katakan saja di sini!"


"Aku nggak mau. Nggak enak ngomong di telepon. Aku pengin ngobrol langsung."


Brian menggumam tampak ragu-ragu. "Apa soal Siti? Aku nggak tahu dia dimana, Tiger?"


Tiger seketika itu tertawa puas. "Padahal aku nggak lagi bahas itu. Kok kamu langsung nyambung ke Siti, sih? Dan kamu sepertinya tahu Siti ke kota. Padahal aku belum cerita lho."


Dapat Tiger bayangkan, saat ini pasti wajah Brian memerah karena malu. Brian buru-buru menutup telepon dengan alasan dia sedang sakit dan tidak konsentrasi mengobrol untuk saat ini.


Tiger menarik nafas panjang. Mengerjai Brian ternyata memberikan dia suntikan semangat.


Lantas dia pun bangkit dari tempat tidur, meraih jaket dan memakainya. Tak lupa Tiger menyambar sebuah kunci motor.


Tiger berjalan melewati Ayana yang sedang duduk bersama Elang di ruang keluarga. Ayana saat itu tengah menuangkan teh ke dalam cangkir melirik sekilas pada putranya.


"Mau kemana?" Ayana bertanya tetap menunduk memperhatikan tuangan air teh.


"Cari udara segar."


"Maksud kamu, cari cewek lain? Secepat itu kamu melupakan Siti?" Elang ikut bertanya sambil menaikan alisnya.


Elang tahu persis jika Tiger pergi dengan alasan mencari udara segar, itu artinya Tiger sedang ingin mencari mangsa baru alias menebar pesona pada para wanita.


Tiger berhenti melangkah sejenak. Lalu dia memutar badan untuk melihat sang ayah.


"Bukan, Dad. Kali ini aku benar-benar mau cari udara segar," kata Tiger yang kemudian melanjutkan langkah kaki menuju gudang, tempat motornya tersimpan.


Sementara itu, Ayana dan Elang saling menoleh dengan wajah penuh keheranan. Namun, sekilas tersungging senyum di bibir keduanya.


"Sepertinya kamu berhasil memotivasi Tiger deh, Lang. Kamu hebat," ucap Ayana memuji sang suami.


Elang semakin melebarkan senyum. Lalu menyesap teh dengan rasa bangga luar biasa. "Elang gitu lho."


*


*


*


Tiger sengaja membawa motor besarnya. Sudah hampir satu tahun penuh dia tak memakai motor itu lagi. Debu pun sudah menempel tebal karena selama satu tahun itu pula motor kesayangannya tersimpan di gudang.


Tiger terbatuk sambil mengibaskan tangan di depan wajah, seakan kibasan tangannya mampu menghalau debu masuk ke hidung.


Setelah menyalakan mesin, Tiger melajukan motornya keluar dari rumah besar dan melesat ke jalanan.


"Hari ini aku harus ketemu sama Siti. Titik."