Tiger Vs Miss Kitty

Tiger Vs Miss Kitty
Ayah Siti



Seketika Andrew menyambar bagian depan baju Rudi. Dia mencengkram kuat dan menarik tubuh Rudi untuk mendekat ke wajahnya.


Dengan menampilkan wajah garang, Andrew menatap tajam Rudi dan berkata, "Bagaimana bisa putriku hilang?"


Rudi gelagapan. Meski di desa dia adalah seorang ketua RT, tapi jika berhadapan dengan Andrew seketika nyali Rudi menciut.


"S-siti biasa berkemah di hutan. Dan biasanya dia selalu pulang pagi harinya, tapi sampai siang ini dia belum juga pulang," terang Rudi dengan suara yang bergemetar karena takut.


"Lalu kamu nggak berusaha mencari anakku?"


"Aku sudah berusaha," bantah Rudi dengan cepat. "Ini juga aku akan mencari lagi Siti."


Andrew mendengus keras dan melepaskan cengkraman tangan. Seketika Rudi menghela nafas lega. Namun begitu, dia masih gelagapan berhadapan dengan Andrew.


Tepat saat itu juga, Rihana yang hendak keluar melihat ada seorang berpenampilan eksekutif langsung terdiam. Dia merapatkan diri ke balik pintu untuk menguping.


Rihana penasaran sebab sangat jarang ada orang memakain jas rapi di desa terpencil seperti desa Rawuh.


"Aku nggak bisa terima, Rud. Aku sudah menitipkan Siti padamu, tapi kamu malah nggak menjaganya dengan benar."


"Aku minta maaf. Tapi aku yakin, Siti akan baik-baik saja. Dia itu pandai dalam bertahan hidup di alam liar."


Lalu Andrew membuka jas yang melekat di tubuhnya. Dia melemparkan jasnya itu ke kursi.


"Aku akan ikut mencari Siti dan setelah itu, aku akan membawa dia untuk tinggal bersamaku, ayah kandungnya."


Sontak Rihana yang menguping langsung melongo lebar. Bahkan dia sampai menutup mulutnya saking tak percaya pada informasi yang baru dia dengar.


"Siti ternyata bukan anaknya Pak RT, tapi anaknya orang kaya itu?" terka Rihana dengan suara menggumama. "Aku harus kasih tahu Brian."


Rihana mengintip dari celah pintu dan dia melihat Pak RT bersama sang tamu itu berjalan dengan langkah yang terburu-buru.


Setelah itu, Rihana keluar dari tempat persembunyiannya. Dia berlari kecil menuju rumah Pak Mansur.


Sesampainya di rumah Pak Mansur tampak Brian dan Farhan sedang mengobrol di depan rumah. Namun, yang menjadi perhatian Rihana adalah sebuah mobil yang dia yakini adalah mobil milik orang tua Tiger.


Seketika Rihana tersenyum cerah. "Calon mertuaku datang?"


Rihana berjingkrak sambil memekik riang. Dia ingin sekali bertemu dengan orang tua Tiger, akan tetapi lengan Rihana dicekal oleh Farhan.


"Hai, calon istriku, kamu mau kemana?"


"Idih. Calon istri?" cibir Rihana pada Farhan seraya membebaskan tangannya. "Aku itu calon istrinya Tiger. Bukan calon istri kamu."


Rihana hendak melanjutkan langkah kakinya. Namun, sekali lagi tangan Rihana ditahan oleh Farhan.


"Apaan sih? Aku mau ketemu sama calon mertua aku," kata Rihana pada Farhan yang selalu saja menahan dirinya.


"Orang tua Tiger lagi bicara dengan Pak Mansur. Nggak bisa diganggu."


Rihana berdecak dan menghentakan kaki ke tanah. Dia sangat kesal karena tidak bisa bertemu dengan Ayana dan Elang.


Akan tetapi ketika dia melempar pandangan dan melihat Brian, Riahana menjadi ingat akan tujuan utamanya. Rihana pun berjalan mendekati Brian.


"Brian, aku punya rahasia yang bakal bikin kamu tercengang," kata Rihana tersenyum penuh makna.


Brian yang sedang malas meladeni Rihana. Hanya menghela nafas sambil melipat tangan di depan dada.


Rihana mendekatkan diri ke telinga Brian. Lalu dia berbisik, "Siti itu bukan anaknya Pak RT. Dia hanya anak angkat dan coba tebak siapa ayah kandungnya Siti?"


"Siapa?"


Rihana terdiam beberapa saat. Wajahnya mengerut tampak berpikir. Lalu dia berkata, "Aku juga nggak tahu sih. Tapi ayahnya Siti itu orang kaya."


Detik berikutnya, Rihana melihat bibir Brian melengkung membentuk senyum. "Kamu tahu orangnya?"


Rihana mengangguk sebagai jawaban.


"Kalau begitu, kenalkan aku dengan ayahnya Siti!"


"Oke, come on."


Rihana menarik tangan Brian dan pergi begitu saja meninggalkan Farhan. Merasa tak mau ditinggal begitu saja, lantas Farhan pun berteriak memanggil Brian dan Rihana.


"Brian, kamu bawa calon istriku kemana?"


*


*


*


"Tiger, Tiger," Siti terus memanggil nama Tiger seraya menepuk-nepuk pipi pria itu. "Tiger, please, jangan mati! Jangan mati di sini!"


Siti semakin bertambah panik tatkala tak ada respon dari Tiger. Pria dari kota itu terbaring di tanah dengan mata terpejam tenang bak orang yang sedang tertidur.


Jantung Siti berdebar tak karuan. Akhirnya dia berteriak minta tolong, meski dia tahu caranya itu tak akan mengatasi masalah.


Akan tetapi Siti sangat berharap ada orang yang akan mendengar teriakannya.


"Tiger, bangun dong! Jangan mati di sini!"


Isak tangis Siti semakin kencang. Dia pun menjatuhkan kepalanya di atas dada Tiger dan menumpahkan semua air matanya di sana.


Setelah beberapa saat menangis, Siti merasakan ada sebuah tangan yang mengusap kepalanya dan dia juga merasakan dada Tiger yang bergetar.


Sontak Siti menghentikan tangisannya lalu mendongak. Siti membulatkan mata sempurna dengan perasaan tak percaya ketika dia mendapati Tiger yang sedang menahan tawa.


"Kamu khawatir aku mati ya?" tanya Tiger dengan rasa bersalah.


Siti pun tersadar jika dirinya sedang menjadi korban prank dari kejahilan Tiger. Seketika Siti berdiri dan menjaga jarak dengan Tiger sambil memasang wajah acuh.


"Jangan ge-er! Aku nggak mau kamu mati karena nantinya kamu bakal ngrepotin aku. Cuma itu saja."


Tiger bangun terduduk lalu dia mengulum senyum memandang Siti. "Yakin cuma itu? Nggak ada maksud lain?"


Dahi Siti mengerut bingung. "Maksud kamu?"


Tiger berdiri, menyusir rambutnya yang kotor oleh dedaunan kering lalu dia berkata, "Kamu nggak lagi cinta sama aku kan?"


"Idih. Pede banget."