
"Nah, Tiger, perkenalkan ini Celine. Dia akan bekerja sebagai sekretaris mu mulai hari ini."
Elang memperkenalkan Tiger dengan seorang wanita yang memakai blazer hitam dan juga rok pendek. Wanita itu tersenyum dan mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.
Namun, Tiger hanya menghela nafas sambil memutar bola matanya malas. Dia mengambil setumpuk berkas di meja dan memberikannya pada Celine yang tangannya masih menggantung di udara.
Seketika Celine menyeringai. Maksud hati ingin membuat kesan ramah, tapi malah gagal total. Sepertinya anak bosnya itu tidak tertarik pada wanita.
Tak mau ambil pusing Celine menggelengkan kepala sambil berlalu pergi ke meja kerjanya. Waktu berlalu dengan cepat hingga tak terasa sudah memasuki jam makan siang.
Usaha Celine untuk mendekati Tiger tak pupus begitu saja. Dia berusaha mendekat ke meja kerja Tiger yang masih berkutat menatap layar laptop.
"Tuan, mau makan siang bareng, nggak? Ada cafe baru yang makanannya enak banget lho," kata Celine dengan nada bicara selemah lembut mungkin.
Tiger sama sekali tak melirik pada Celine. Dia terus menatap layar laptop sambil jarinya sibuk mengetik di papan ketik.
"Boleh. Tapi kamu yang traktir," jawab Tiger singkat.
"Lho kok saya sih. Kan harusnya dimana-mana itu Bos yang traktir bawahan," Celine memanyunkan bibir agak sedikit kesal dengan Tiger yang sangat cuek padanya.
Seketika Tiger melirik tajam pada Celine. Membuat Celine terlonjak kaget karena ditatap dengan begitu dingin.
"Kamu yang tawarin aku makan siang kan? Ya kamu lah yang traktir."
Celine menarik napas panjang. Berusaha untuk tetap sabar menghadapi sikap Tiger.
"Iya, oke deh. Untuk kali ini aku yang traktir."
Tiger tersenyum menang. Lantas dia bangkit dari duduk dan melesat ke luar gedung. Mereka berdua menaiki mobil milik Celine dan dikendarai juga oleh wanita itu.
Dalam perjalanan, Celine mendesah kecewa sebab bosnya itu sangat tidak gentleman. Dia yang mentraktir, dia juga yang harus menjadi sopir.
Tak terbayang nanti jika bosnya itu memiliki kekasih atau istri.
Sesampai di sebuah cafe tempat tujuan Celine, Tiger lebih dulu keluar dari mobil. Dia memilih duduk di dekat jendela yang memiliki penerangan lebih jelas.
Namun, saat duduk, Tiger dikejutkan dengan keberadaan Brian dan Siti. Terlebih tepat saat itu juga, Tiger melihat dengan mata kepalanya sendiri Brian yang mencium tangan Siti.
Api amarah Tiger langsung terpecik dan berkobar di dalam dada. Dia tak memperdulikan keadaan sekitar. Dia hilang kendali dan sontak memukul pipi Brian.
Dia mengira dengan memukul Brian amarahnya akan tersalurkan akan tetapi dia salah besar. Justru amarahnya semakin naik karena Siti terlihat sangat peduli dengan Brian.
Tiger mendengus, menarik lengan Siti lalu membawa wanita itu untuk keluar dari cafe.
Tiger sadar betul bagaimana pun juga Brian adalah temannya sejak lama. Di dalam dirinya ada sedikit kekhawatiran jika terjadi sesuatu pada Brian.
"Baik, Tuan Tiger. Tapi..."
Belum selesai Celine berbicara, Tiger sudah lebih dulu melesat pergi membawa Siti. Membuat Celine menghela nafas dan menggelengkan kepala.
Baru kali ini Celine bekerja dengan orang yang seperti Tiger. Mau tak mau, dia harus mengurus pria yang baru saja ditonjok oleh bosnya.
"Tuan, anda tidak apa-apa? Biar saya bantu," Celine meraih lengan Brian untuk membantu pria itu berdiri.
Ganteng juga. Pikir Celine dengan senyum kecil mengembang di bibirnya kala mengamati wajah Brian.
Secepat kilat, Celine menggelengkan kepala untuk menyadarkan diri dari ketertarikan memandang Brian.
"Aduh. Itu pasti sakit banget ya?" Celine menunjuk pipi Brian yang membiru. "Saya minta maaf atas perilaku tak menyenangkan bos saya, Tuan."
"Sudah biasa," ucap Brian dengan santai sambil mengelap sudut bibirnya yang berdarah. "Waktu kami kecil juga sering main pukul-pukulan."
Wajah Celine mengerut bingung. "Jadi Tuan dengan Tuan Tiger sudah bersahabat lama?"
Brian melirik sinis pada Celine. Wanita yang sama sekali tak dikenal tapi dari penampilannya sepertinya dia seorang pekerja kantoran dan dia datang bersama Tiger. Maka Brian menyimpulkan bahwa dia adalah bawahan Tiger.
Brian menepis tangan Celine yang masih menetap di lengannya. Seketika Celine terperanjat tersadar jika sejak tadi dia memegangi lengan Brian.
"Mau saya antar ke rumah sakit, Tuan?" Celine menawarkan bantuan begitu melihat Brian yang tak diam tak menanggapi dirinya.
"Nggak perlu," jawab Brian singkat.
Kemudian Brian memanggil pelayan wanita untuk meminta makanan yang dia pesan dibawa pulang. Sedangkan Celine merasa kecewa pada Brian yang bersikap dingin padanya.
Tak mau menyerah, Celine membuntuti Brian begitu pria itu berjalan ke area parkir. Lalu secepat mungkin Celine masuk ke dalam mobil milik Brian tanpa rasa bersalah.
Brian menatap tajam pada Celine yang menyunggingkan senyum penuh ceria. Dia tentu saja tak senang ada wanita yang masuk begitu saja ke dalam mobilnya.
"Ngapain kamu masuk ke mobil aku?"
"Saya numpang sampai ke kantor ya, Tuan. Habisnya saya ditinggal sama bos Tiger," ucap Celine berbohong agar dia memiliki alasan dapat berduaan dengan Brian. Padahal sebenarnya Celine membawa mobil sendiri.
Brian menghela nafas berat. Dia sedang tidak ingin berbicara panjang lebar terlebih pada seorang wanita. Maka dia pun menyalakan mesin mobil dan melajukan kendaraannya menuju jalanan.
Di dalam hati, Celine menjerit senang. Lima belas menit selama perjalanan kembali ke kantor tak akan dia sia-siakan. Dia harus mendapat nomor ponsel pria tampan yang sedang menyetir di sampingnya.