
Siti hanya terdiam. Memang karena lelah dan mengantuk, Siti juga bingung akan apa yang terjadi.
Sejak tadi tatapan mata gadis itu seolah menuntun penjelasan pada pria yang mengaku sebagai ayahnya.
Bagaimana bisa? Kenapa? Beribu-ribu pertanyaan bersarang di benak Siti.
Namun bibirnya tetap mengatup rapat. Melangkah dengan menundukkan kepala di samping Andrew.
Sementara Tiger berjalan tak jauh di belakang Siti. Dia terus menatap punggung Siti dengan pandangan kosong.
Lalu pandangan Tiger teralihkan ke arah Brian yang berjalan bersisian dengan Andrew. Tiger menyeringai. Dia sadar jika Brian juga mengincar Siti dan sedang mencari muka di depan pria yang mengatakan dirinya adalah ayah kandung Siti.
"Woi, Bro," Farhan menyenggol lengan Tiger. Membuat Tiger sedikit terhenyak karena terkejut. "Kamu habis ngapain aja sama Siti. Hayo ngaku? Kita susah-susah nyari kamu. Kamu malah enak-enakan berdua sama Siti."
Sekali lagi Tiger hanya menyeringai. Tak menjawab dengan sepatah katapun. Tak sampai satu detik, lengan Tiger yang satu lagi sudah dirampas oleh Rihana.
Wanita itu bergelayut manja di lengan Tiger. Berharap pria yang dicintainya itu akan menoleh dan mengeluarkan rayuan gombal.
Akan tetapi senyum termanis milik Rihana harus redup seketika saat Tiger melepaskan lengannya dari cengkraman Rihana. Kemudian Tiger mempercepat langkah mendahului Farhan dan Rihana.
*
*
*
"Jadi, dulu Tuan Andrew ini bosnya ayah," terang Pak RT kepada Siti.
Mereka sedang berkumpul di rumah. Tepatnya di ruang tamu.
Siti menoleh pada pria yang disapa Tuan Andrew. Dia menatap dengan sorot mata yang sulit diartikan. Lalu dia kembali menoleh pada Pak RT yang baru dia sadari jika selama ini beliau hanyalah ayah angkatnya.
"Kamu nggak marah kan? Papa dulu ninggalin kamu juga ada alasan yang tepat. Bukan karena Papa nggak sayang sama kamu," Andrew buru-buru menjelaskan begitu melihat raut wajah Siti yang menunduk lesu.
Andrew takut putrinya berpikir dia adalah anak buangan.
"Kalau begitu, kenapa aku sampai di titipkan?" Siti bertanya masih dengan wajah yang menunduk.
Kedua tangan Siti mengepal kuat meremas ujung kaos yang baru dipakai dan masih tercium harum sabun.
Andrew menghela nafas panjang. Siap untuk memulai cerita. Cerita kelam masa lalunya yang tidak ingin terulang kembali di masa depan.
"Jadi, Papa dulu dituduh menggelapkan uang perusahaan dan Papa dipenjara selama sepuluh tahun."
Siti terperanjat dan langsung mendongak menatap Andrew. Pria itu buru-buru meraih tangan Siti, meminta agar gadis itu tenang serta mendengar penjelasan darinya secara lengkap.
"Tapi Tuan Andrew ini difitnah. Beliau dijebak oleh rekannya, Siti," Pak RT ikut bersuara.
"Ya, dan saat itu kamu masih sangat kecil. Kamu masih bayi. Ibu kamu sudah nggak ada. Papa bingung harus menitipkan kamu ke siapa. Sampai akhirnya, Papa memutuskan untuk menitipkan kamu ke Pak Rudi."
Hening. Beberapa menit berlalu, semua orang terdiam. Terlebih Siti yang seakan sedang berusaha menerima jika dirinya bukan putri seorang ketua RT. Melainkan putri dari seseorang yang pernah mendekam di penjara.
"Sepuluh tahun. Papa dipenjara selama sepuluh tahun. Lalu kenapa baru sekarang Papa menjenguk aku?" Siti bertanya masih menunduk. Dia belum berani menatap Andrew dengan menampilkan mata yang berair.
Siti tak melihat bibir Andrew yang menyunggingkan senyum tipis. Di dalam lubuk hatinya, Andrew bahagia karena dengan cepat Siti mau memanggilnya dengan panggilan Papa.
"Keluar dari penjara, Papa nggak punya apa-apa. Papa malu jika harus menemui putri kecil Papa dengan kondisi Papa yang miskin dan menyandang status mantan narapidana," Andrew menelan salivanya. Lidah Andrew terasa kelu saat harus menceritakan masa-masa dia keluar dari penjara.
Dia memilih menahan rindu bertemu dengan putrinya dan memutuskan membuka bisnis baru. Awal memulai bisnis pun tidak mudah dia jalani.
Andrew benar-benar memulai hidupnya mulai dari nol. Hingga saat ini dia merasa pantas untuk bertemu dengan putrinya dan berencana membawa Siti ke kehidupan yang lebih layak.
"Tunggu!" Sela Siti yang terhenyak teringat sesuatu.
Andrew yang menceritakan kisah hidupnya mendadak berhenti. Dahi Andrew mengernyit melihat Siti yang mengeluarkan sebuah kalung.
"Apa kalung ini dari Papa?"
"Kalung itu dari ibu kamu. Nama kamu sebenarnya Kitty. Nama pemberian dari mendiang ibu kamu," sahut Andrew menatap kalung yang dulu dia berikan pada Rudi saat menyerahkan Siti.
"Tapi nama Kitty ini terdengar aneh di lidah orang kampung. Makanya seiring berjalannya waktu, banyak orang yang terbiasa panggil kamu Siti," Pak RT kembali membuka suara untuk menjelaskan.
"Jadi, ini dari ibu." Gumam Siti mengusap kalung yang berada di genggaman tangannya. Dia tersenyum dan air di pelupuk matanya semakin menggenang.
"Kamu mau kan ikut Papa tinggal di kota?" Andrew bertanya secara tiba-tiba. "Besok pagi kita akan langsung berangkat."