Tiger Vs Miss Kitty

Tiger Vs Miss Kitty
Perseteruan Sahabat



Tiger makan dengan lahap malam itu. Dia yang memang tak terbiasa berada di hutan, akhirnya dapat makan makanan layak versi dirinya.


Ayana dan Elang membawakan banyak makanan untuk makan malam bersama. Namun, sepertinya acara makan malam bersama itu lebih cocok dikatakan makan malam khusus Tiger. Sebab Tiger sudah menghabiskan setelah dari menu makanan yang tersaji di meja.


Farhan hanya makan dengan porsi seperti biasanya. Rihana meringis melihat Tiger makan. Baru pertama kali itu dia melihat Tiger makan tanpa memperdulikan sikap elegan dan cool yang biasanya melekat pada pria itu.


Sedangkan Brian sudah lebih dulu meninggalkan meja makan dengan alasan mengantuk.


"Setelah makan, kemari barang kalian! Besok kita pulang ke kota," titah Ayana yang menatap bergantian pada Tiger, Farhan, dan Rihana.


"Harus besok banget. Aku masih capek," keluh Tiger dengan mulut penuh nasi.


Rihana bergidik melihat tingkah Tiger. Terbesit di pikirannya untuk putus dengan Tiger. Namun, detik berikutnya dia ingat jika Tiger adalah anak orang kaya.


"Harus besok," kata Tiger menegaskan. "Kita sudah kapok menitipkan kamu di sini. Ya ada kamu malah bikin ulah."


"Bikin kepala kita mau pecah," tambah Ayana.


"Dan bikin dompet Daddy tambah kering," Elang menambahkan lagi.


Tiger menggigit ayam goreng sambil menatap kedua orang tuanya. Lalu menguyah dengan perlahan.


Melihat wajah kecewa kedua orang tuanya, membuat Tiger berpikir. Apa sebegitu tidak berguna dirinya?


"Ya, sudah kalau begitu Mom sama Daddy bikin anak lagi aja. Yang lebih berguna dariku, yang lebih bisa membanggakan kalian," ucap Tiger murung sambil menunduk menatap nasi liwet yang masih menggunung.


"Nah," seru Elang. "Ide bagus."


Elang menyeringai seraya menoleh pada Ayana. "Ayo, Ay. Kita bikin anak lagi."


Ayana berdecak kesal. Melirik tajam pada Elang dengan bibir yang mengerucut.


"Kamu tuh ya. Pikirannya bikin anak mulu. Kita didik satu anak saja belum bener."


Kemudian Ayana melesat pergi masuk ke dalam kamar yang sudah dipersiapkan untuk dirinya dan Elang.


Elang menghembuskan nafas lesu. Namun, detik berikutnya, pintu kembali terbuka dengan kepala Ayana yang menyembul keluar.


"Ayo, katanya mau bikin anak," Ayana berseru masih dengan menampilkan wajah cemberut.


"Yes." Elang mengepalkan tangan saking gembiranya. Dengan langkah yang ringan dia berjalan menyusul sang istri.


Farhan yang melihat adegan sepasang suami istri absurd hanya meringis, lalu melempar senyum pada Tiger.


Farhan merasa tak menyangka pasangan aneh Ayana dengan Elang akan menghasilkan manusia sama anehnya seperti Tiger.


Kemudian, pandangan Farhan beralih ke Rihana. Sejak tadi wanita itu selalu diabaikan oleh Tiger. Menjadikan Farhan berpikir, inilah saatnya menebar pesona agar Rihana bisa jatuh hati padanya.


"Ri, aku bantu beresin barang bawaan kamu ya?"


"Nggak perlu. Aku bisa sendiri," ketus Rihana langsung bangkit berdiri dan melangkah pergi keluar rumah.


Tersisa Tiger di meja makan. Dia melanjutkan makannya dengan santai dan tanpa rasa berdosa. Dia memang sengaja membuat Rihana ilfeel agar wanita itu tak lagi mengejarnya.


Setelah dirasa cukup kenyang, Tiger berjalan ke dalam kamar. Di dalam sana, Brian sedang berbaring sambil memainkan ponsel.


Tiger menutup pintu dengan perlahan, berjalan dan duduk di tepi kasur. Brian merasa seperti tak ada orang. Dia sama sekali tak menyapa atau sekedar basa-basi.


Begitu pula dengan Tiger. Dia duduk dengan pandangan menghadap ke tembok.


"Aku tahu kamu suka sama Siti, kan?" Tiger tiba-tiba berkata dengan wajah yang masih menghadap ke tembok.


Brian menurunkan ponsel dan duduk tegak. Dia menatap punggung Tiger dengan lekat.


"Kalau iya, kenapa?"


"Aku juga suka sama Siti. Jadi aku harap kita bisa bersaing secara adil."


"Oke, siapa takut."


Di dalam hati, Brian merasa optimis. Sebab dia satu langkah lebih maju dari Tiger. Brian sudah mengenal ayah kandung Siti dan begitu pula Andrew yang sudah mengenal Brian.


Sedangkan di dalam hati Tiger, dia juga merasa telah menaklukan hati Siti. Andai saja, dia memiliki waktu sedikit saja berdua dengan Siti. Tiger ingin mendengar jawaban Siti atas ungkapan hatinya.


"Besok kita temui Siti sama-sama."


Dahi Brian mengerut. Dia tahu jika besok Siti akan dibawa pergi oleh Andrew. Namun, sepertinya Tiger belum mengetahui apapun tentang ayah Siti.


Brian menggelengkan kepala. "Aku nggak mau. Aku bakal pulang ke kota lebih awal dari kalian semua."


Tiger menoleh menatap Brian. Sungguh satu wanita sudah membuat sikap sahabatnya itu berubah total.


Baru kali ini Brian tidak mau bergabung bersama. Jika dulu Brian dan Farhan akan selalu menempel kemana pun Tiger pergi, tapi tidak dengan sekarang.


Pandangan mata Tiger menangkap tas ransel yang sudah mengembung. Dia mendengus. Ternyata benar apa yang dikatakan Brian. Pria itu akan pergi besok pagi.


*


*


*


"Tiger! Kamu sudah kemas-kemas?" Ayana berteriak pada anaknya yang pagi hari itu sudah terbangun dan berlari ke luar rumah.


"Belum. Nanti. Gampang," jawab Tiger tanpa menghentikan langkah kaki.


Ayana berdecak dengan tangan menggenggam sebuah mangkok berisi bubur ayam. Lalu mangkok itu dia letakan di hadapan sang suami yang sudah menunggu sarapan sejak tadi.


Pagi itu, semua orang di dalam rumah sibuk dengan urusan masing-masing. Ayana sibuk mengemas barang dan memasak sarapan sebelum pergi. Farhan terus menempeli Rihana siap untuk menerima tugas dari wanita itu.


Namun Rihana terus menolak tawaran bantuan dari Farhan. Sehingga Rihana memilih untuk pamit terlebih dahulu.


"Aku pulang satu mobil sama kamu ya? Biar bisa gantian nyetir mobil," Farhan tersenyum pada Rihana yang sudah siap membuka pintu mobil.


Rihana menarik nafas panjang. "Enggak usah." Dia melanjutkan membuka pintu mobil dan siap masuk.


Lagi-lagi, Farhan menahannya. "Kalau gitu aku aja yang menyetir. Kamu cukup diam saja selama perjalanan pulang."


Jujur, Rihana malas menanggapi ocehan Farhan. Namun kali ini tawaran Farhan ada untungnya juga. Dia bisa tidur selama di dalam mobil. Biar Farhan saja yang lelah menyetir mobil sampai mereka sampai di kota.


"Oke, kamu boleh masuk." Kata Rihana yang mempersilahkan Farhan masuk ke dalam mobilnya. Sedangkan dia berjalan memutar untuk duduk di kursi belakang.


Sementara itu, di tempat lain. Tiger berlari tergesa-gesa menuju rumah Pak RT. Dia harus bertemu dengan Siti dan mendengar jawaban dari dari gadis itu sebelum pulang ke kota.


Setibanya di depan rumah Pak RT yang sepi, Tiger mengetuk pintu dengan tidak sabar.


"Siti," panggil Tiger terus mengetuk pintu.


Hening tak ada jawaban dari dalam. Membuat Tiger berdecak kesal dan handak mengetuk pintu sekali lagi.


Namun tepat saat itu juga pintu mengayun terbuka. Sehingga ketukan tangan Tiger malah mengenai kepala Pak RT.


Tuk.


"Aw."


"Eh, Pak RT, maaf," Tiger cepat-cepat menarik tangan yang menempel di kening Pak RT. Tanpa berbasa-basi dia langsung bertanya, "Siti ada, Pak?"


"Siti sudah pergi ke kota. Dibawa sama ayahnya. Memang ada perlu apa?"


Tiger membulatkan mata lebar. Dia sangat terkejut dan tak akan menyangka Siti telah lebih dulu pergi. "Apa? Siti ke kota?"